Di Tepinya Sungai Musi

Pernah mendengar lagu keroncong yang judulnya “Di Tepinya Sungai Serayu?. Lagu ini mengingatkan saya pada kampung halaman yaitu Banyumas. Rumah orangtua memang tidak jauh dari Sungai Serayu, cukup naik sepeda lima menit sudah bisa menikmati Sungai yang tenang namun menghanyutkan itu. Lahir dan besar di tepi Sungai Serayu kemudian takdir membawa saya ke tepinya Sungai Musi dan resmilah saya menyandang status sebagai perantau. Mendampingi suami yang bekerja di kota Palembang selama 8 tahun, telah meninggalkan banyak kenangan tak terlupakan. Salah satu kenangan indah itu adalah kenangan tentang Sungai Musi.

Pertamakali melihat sungai yang besar dan penuh dengan kapal yang hilir mudik, ya Sungai Musi ini. Wakaka, ndeso yo?. Saya juga sempat keheranan ada kapal tongkang bersandar dan berlayar di sungai. Maklum biasanya cuma lihat perahu pengangkut pasir.Ya begitulah sungai Musi adalah sungai terbesar yang pernah saya lihat.

naik perahu naga, seru-seru ngeri…
foto:dokumen pribadi

Di Sungai Musi ada kapal barang, kapal pengangkut penumpang, kapal pesiar bahkan perahu-perahu kecil terlihat sibuk setiap harinya. Sungai Musi memang uratnadi kota ini. Selain sebagai jalur transportasi, sungai ini juga pusat ekonomi sekaligus tempat wisata.

Pergi ke tepian Sungai Musi sering saya lakukan. Soalnya selain dekat juga murah. Ngapain aja di tepian sungai?. Di tepian Sungai Musi mah bisa ngapain aja. Saya sekeluarga biasa berjalan-jalan di tepi Sungai Musi, menikmati hilir mudiknya kapal disertai angin yang kadang sepoi-sepoi namun kadang bertiup kencang.

Memandang takjub megahnya Jempatan Ampera yang berdiri membelah sungai ini membuat saya mengagumi nenek moyang yang mampu membuat jembatan sekokoh dan semegah Ampera. Sembari sesekali berfoto mengabadikan momen agar bisa merangkai cerita kehidupan kami.

Puas memandang air, tinggal berbalik badan kami akan menikmati kemegahan Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Baddarudin II. Pokoknya, kalau pergi ke tepi Sungai Musi ada banyak hal yang menyenangkan bisa dilakukan. Memandang riak air sungai Musi tak pernah membosankan.

Sekelumit pengalaman saya di atas adalah cerita menyenangkan sebagai perantau. Namun yang namanya hidup kan tidak senang terus ya, pasti ada sedihnya, ada sakitnya, ada susahnya. Nah, kalau sudah begini, rasanya berat banget jauh dari orangtua dan saudara. Semua dikerjakan sendiri apalagi kalau ada yang sakit, berasa banget perjuangannya.

Cerita di tepinya Sungai Musi masih menari-nari indah di ingatan saya. Sekarang saya memang tidak lagi tinggal di Palembang dan melanjutkan hidup merantau di tempat lain. Rasa kangen akan suasana di tepi Sungai Musi kerap muncul. Semoga saya bisa kembali menikmati Sungai Musi sambil menikmati pempek plus cuko yang nikmat itu, suatu hari nanti.

Postingan ini diikutkan dalam Giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau

4 Replies to “Di Tepinya Sungai Musi”

  1. Saya malah pengen ke sungai Musi mba…. tapi belum kesampean. hiks..hiks… Salam kenal ya, mba……

    1. semoga suatu hari bisa ke sungai Musi ya Mba Susan. salam kenal balik..

  2. waktu di palembang, tinggalnya di sebelah mana? tahun brp? hehehe.. kali aja kenal, soalnya sebelum pindah kami juga tinggal di sekitar BKB juga 😀

    1. kalau saya tinggalnya di di tepian Musi bagian hulu Mba Aisyah, 16 ulu tepatnya dari tahun 2004

Leave a Reply