Saatnya Menjadi Konsumen Cerdas

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri pertemuan Paguyuban Orangtua Murid di sekolah anak saya. Ada poin penting yang menjadi pembicaraan antara Wali Kelas dengan kami, para orangtua murid. Wali kelas meminta perhatian kami, sehubungan adanya seorang siswa yang kerap membawa minuman berwarna menyolok. Yang membawa minuman tersebut memang hanya satu orang, namun ternyata banyak murid lain yang ikut meminumnya. Duh, saya sempat kawatir, jangan-jangan anak saya juga suka ikut minum minuman tersebut. Untuk itulah kami para orangtua diminta untuk memperhatikan bekal yang dibawa ke sekolah.

Sumber kerisauan dari masalah tersebut adalah adanya zat yang berbahaya jika dikonsumsi secara terus-menerus. Adanya zat warna pada makanan memiliki efek karsinogenik atau bisa menyebabkan kanker apalagi jika pewarna yang digunakan adalah bukan pewarna makanan. Efek ini memang tidak terasa seketika. Zat tersebut, memiliki efek jangka panjang. Kita mungkin berdalih, ah cuma sedikit kok, nggak papa toh tidak setiap hari. Kita perlu hati-hati sebab sedikit demi sedikit jika berlangsung lama maka akan menumpuk juga.

www.bacain.com
www.bacain.com

Oleh sebab itu sudah seharusnya kita sebagai orangtua memperhatikan betul makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh keluarga termasuk anak-anak. Mengapa? karena ini berhubungan dengan kesukaan anak-anak terhadap warna. Jadi ketika makanan dan minuman itu berwarna, anak-anak akan lebih tertarik. Anak-anak tentu tidak bisa disalahkan karena biasanya tidak tahu. Orangtualah yang harus cerdas memilih.

Dalam memilih makanan dan minuman, orangtua sebagai konsumen harus teliti dalam membaca label. Harus diperhatikan benar zat-zat apa saja yang terkandung dalam makanan dan minuman tersebut. Apakah zat tersebut aman dikonsumsi dan apakah zat tersebut memiliki kadar yang sesuai dengan yang telah ditetapkan. Ini harus dipahami betul oleh para orangtua. Jadi, ketika anak-anak meminta suatu makanan atau minuman tertentu, tidak langsung mengiyakan.

Yang sulit untuk diketahui adalah jika makanan dan minuman tersebut tidak memiliki label, sehingga untuk mengetahui beragam zat yang terkandung didalamnya kita harus mengeceknya ke laboraturium, hm kan repot ya?. Untuk makanan dan minuman yang tidak memiliki label sebaiknya kita hindari saja.

Menjadi konsumen, kita memang harus cerdas, harus bisa memahami hak dan kewajiban kita. Seperti yang sering disosialisasikan oleh Kementerian Perdagangan bahwa konsumen cerdas harus bisa menegakkan hak dan kewajibannya. Kita harus teliti sebelum membeli, memperhatikan label  kartu manual garansi, dan tanggal kadaluwarsa, memastikan bahwa produk tersebut sesuai dengan standar mutu K3L, serta membeli barang sesuai kebutuhan bukan keinginan.

Tak kalah pentingnya adalah sebagai konsumen harus mampu mempertahankan dan meningkatkan tanggungjawab sosial sebagai konsumen dengan cara membeli produk dalam negeri, bijak menjaga bumi dan menerapkan pola konsumsi pangan yang baik.

Hak dan kewajiban konsumen tersebut dilindungi oleh undang-undang. Dengan adanya payung hukum maka ada aturan main yang jelas antara produsen dan konsumen. Jika ada pasal-pasal dalam undang-undang tersebut dilanggar maka perbuatan tersebut akan dikenai sanksi.

Agar undang-undang tersebut bisa ditegakkan tentu diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, produsen dan konsumen. Sebagai konsumen kita bisa turut berpartisipasi aktif dalam melaksanakan isi undang-undang tersebut. Hal ini bisa dimulai dengan hal yang sederhana yaitu membaca label. Jika tidak sesuai aturan sebagai konsumen cerdas kita tentu bisa menhindari membeli produk tersebut.

Kejadian yang terjadi di kelas anak saya menjadi peringatan bagi saya untuk lebih berhati-hati dalam mengawasi makanan dan minuman yang dikonsumsi keluarga saya. Saya selama ini memang biasa membawakan bekal air putih untuk anak saya. Namun ternyata, kesukaan anak berbagi minuman bisa jadi bumerang ketika kita tidak memberi batasan, mana yang boleh diminum dan mana yang tidak boleh diminum.

Edukasi terhadap anak menjadi sangat penting karena sebagai orangtua kita tidak bisa selalu mengawasinya. Ketika anak sudah memiliki bekal pengetahuan yang cukup maka diharapkan dia akan mampu memilih dan bisa menolak jika ada yang menawarkan minuman dan makanan yang tidak aman untuk dikonsumsi. Ayo, saatnya kita menjadi konsumen cerdas yang mampu memilih dengan tepat dan berani menolak jika itu tidak aman bagi kita.

 

Leave a Reply