Ketika Ibu Doyan Nulis

Awalnya saya berpikir kalau saya ini cuma doyan makan. Dari beberapa kali pindah kota, yang paling saya ingat ya makanannya. Ketika di tinggal di Cimahi, saya suka batagor dan siomay. Saya juga sempat ngefans sama makanan rakyat yang namanya “cimol”, waktu itu ngehits banget di Cimahi, Bandung dan sekitarnya. Setelah pindah ke Palembang, banyak pula makanan yang saya suka, empek-empek beserta turunnya, pindang patin, pindang tulang, martabak, lapis kegit, engkak ketan, kue delapan jam, srikayo dan teman-temannya. Setelah kenal IIDN Interaktif (Ibu-ibu Doyan Nulis Interaktif), saya baru menyadari kalau ternyata saya doyan nulis.

Sebelumnya sih saya menulis di blog pribadi tapi ya masih angin-anginan, kalau yang datang angin good mood ya nulis. Sebaliknya jika yang datang angin bad mood, ya tidak menulis. Parahnya durasi angin bad mood itu lebih panjang, jadi deh absen dulu ngisi blognya. Nah, di IIDN Interaktif inilah saya mendapat suntikan semangat untuk terus menulis.

Kini, dalam sebulan saya bisa menghasilkan tulisan antara 6 hingga 12 tulisan di blog pribadi, ditambah beberapa tulisan untuk dikirim ke media cetak walaupun tidak selalu dimuat. Sehari saja tidak menulis, tangan rasanya gatal, maunya menulis terus. Kalau tidak ingat kewajiban, bisa-bisa seharian cuma nulis saja. IIDN Interaktif bukan sekedar sarana belajar, bagi saya itu adalah sarana untuk menjaga konsistensi dalam menulis. Ya begitulah IIDN Interaktif telah membuat saya doyan nulis.

Efek dari doyan nulis adalah saya sering ikut lomba menulis dan beberapakali tulisan saya dimuat di media cetak. Sudah puas? tentu saja belum, saya masih haus ilmu dan haus karya. Satu cita-cita yang belum tercapai adalah bisa menulis buku. Hehehe, walaupun kadang rasa tidak percaya hinggap, apa iya saya bisa menulis buku? memang mau menulis buku apa? memang ada gitu materi yang dikuasai?. Huhuhu, yang begini kalau diladeni bakal membuat mental ciut dan konsentrasi buyar.

Jadi sekarang saya mau berpikir yang positif saja. Setiap orang berhak punya cita-cita toh? begitupun saya. Seorang Hee Ah Lee yang hanya memiliki empat jari mampu menjadi pianis handal. Padahal memainkan piano kan membutuhkan kelincahan jemari, tapi nyatanya dia bisa. So, tidak ada yang tidak mungkin. Yang penting bagi saya adalah berusaha seoptimal mungkin, berdoa dan tawakal. Semua yang tidak mungkin, saya serahkan saja pada yang Maha Kuasa. Makanya, saya tetap aktif di IIDN Interaktif supaya doyan nulis terus.

IIDN Interaktif And The Founder

indari
The Founder

Mba Indari Mastuti sang founder IIDN  Interaktif memang sosok hangat yang selalu berbagi ilmu dan semangat. Beliau senantiasa menyemangati seluruh anggota dengan tips 3M nya, yaitu menulis, menulis, dan menulis. Saya, awalnya sempat berpikir apa iya cuma itu saja untuk bisa menulis dengan baik. Soalnya waktu itu, saya sih sudah menulis terus. Ternyata, proses menulis saya memang belum seberapa jika dibanding beliau. Mba Indari sudah doyan menulis sejak SD dan konsisten menulis hingga sekarang , sedangkan saya, waktu itu belum ada setahun dan angin-anginan pula. Hihihi, ternyata tidak bisa instan.

Menulis memang sebuah keterampilan yang bisa dikuasi dengan terus berlatih. Latihannya ya dengan menulis. Sedangkan sebagai seorang ibu rumahtangga, saya punya banyak kesibukan, yaitu pekerjaan mengurus rumah dan anak-anak. Pekerjaan yang kelihatan sepele namun menguras tenaga dan pikiran. Jika sudah capek, saya kehabisan tenaga untuk menulis. Di sinilah manfaatnya bergabung di IIDN Interaktif. Ketika semangat saya sedang turun, tinggal di charge di grup, caranya dengan aktif di kelas maupun membaca karya teman-teman yang tembus ke media cetak ataupun sebuah buku. Setelah itu semangat untuk menulis kembali menyala.

Serunya, Mba Indari itu memiliki usaha agensi naskah berbendera Indscript Creative. Anggota komunitas memiliki kesempatan untuk bisa menerbitkan buku, baik buku antologi maupun buku solo. Terhitung ratusan buku karya ibu-ibu anggota telah terbit dengan beragam tema, seperti parenting, traveling, kuliner, agama, pertanian, fashion, motivasi, dan inspirasi, keren kan.

Usia IIDN Interaktif memang masih muda, baru tiga tahun, namun usahanya dalam memberdayakan ibu-ibu agar doyan menulis patut diacungi jempol. Lebih dari 6000 an ibu-ibu dari seluruh Indonesia dan beberapa negara telah menjadi anggota. Jumlah yang amat besar, tentu menuntut pengelolaan yang terstruktur dan efektif, agar komunitas ini bisa bertahan dan bisa terus memberi kontribusi bagi seluruh anggota.

Untuk hal yang satu itu saya sebut Mba Indari sebagai Good Manager. Memimpin, mengkoordinir, berkomunikasi dengan orang-orang yang sebagian besar belum dikenal secara langsung itu tidak mudah. Memercayakan tugas pada  orang yang belum dikenal secara fisik, terkesan mustahil, tapi itulah yang terjadi. Saya mengalaminya, diberi amanah oleh Mba Indari, sementara kami belum pernah bertemu. Jalinan komunikasi dilakukan lewat inbox, itu saja. Saya sempat berpikir, bagaimana beliau bisa percaya jika saya mampu mengemban amanah tersebut, bertemu muka saja belum pernah. Dari beliau saya belajar, bahwa seorang manajer yang baik harus mampu menentukan pilihan dengan apapun resikonya.

lygia
The Markom

Dalam perjalananya IIDN Interaktif dihuni ribuan anggota dengan beragam latarbelakang, sifat dan prinsip. Terkadang menimbulkan riak-riak yang mengguncang suasana. Namun, Mba Indari piawai menyelesaikannya sehingga tidak berlarut-larut mengganggu kenyamanan bersama. Beliau memang tidak sendiri menggawangi IIDN Interaktif, salah satu nama yang memiliki peran signifikan dalam menumbuhkan komunitas ini adalah Sang Markom Lygia Pecanduhujan. Gaya Mba Lygia yang komunikatif mampu menghangatkan suasana di antara semua anggota.

Saya yakin, tidak hanya saya yang merasakan manfaat bergabung di IIDN Interaktif. Ibu-ibu yang lain juga merasakan manfaat yang sama, bahkan mendapatkan manfaat yang lebih dari saya. Sebagai sebuah rumah besar, eksistensi IIDN Interaktif amat ditentukan para anggotanya. Bagaimana membuat rumah besar ini nyaman buat setiap anggota.

Akhirnya, di usia yang ketiga ini semoga IIDN Interaktif semakin bermanfaat bagi anggota dan memberi inspirasi bagi ibu-ibu di luar sana, ketika ibu doyan nulis itu maka ibu sedang belajar. Ketika ibu doyan nulis maka ibu sedang menerapi diri. Ketika ibu doyan nulis maka ibu sedang menikmati me time. Ketika ibu doyan nulis maka…hmm silakan dilanjutkan. Setiap ibu pasti memiliki alasan sendiri mengapa ia doyan nulis. satu yang pasti, doyan nulis itu baik.

tart 2

 

 

 

 

 

4 Replies to “Ketika Ibu Doyan Nulis”

  1. saya doakan keampaian impian untuk membuat bukunya mbak Ety..

    sukses buat IIDN. ah andai saya seorng wanita mungkin saya akan gabung juga.. #eh kok saya bayangin diri saya pakai kebaya dan konde yak hahaha

    1. Amin, makasih om Lozz. Ais, jangan sampai ye pakai kebaya dan konde, bakal melambai-lambai nanti..pake kupluk aja.

  2. Saya doyan nulis karena nulis itu hobi saya untuk menuangkan inspirasi. Thanks KEB, kompak terus..

    1. Siip, toss dulu hobi kita sama. Amin, kompak selamanya pokoke.

Leave a Reply