Indonesia dan Vietnam,Partner Strategis dalam Industri Kopi

credit:civet coffe

Bicara kopi, saya paling suka menghirup aroma kopi tubruk. Aroma kopi tubruk memiliki arti dalam hidup saya. Nenek saya adalah pembuat kopi tubruk skala rumahtangga. Setiap kali membuat kopi tubruk, akan tercium aroma gosong tapi enak. Maklum, nenek memproses biji kopi dengan cara yang sederhana.

Biji kopi  disangan (digoreng tanpa minyak), hingga tingkat kematangan tertentu, kemudian dihaluskan dengan ditumbuk menggunakan lumpang dan alu (alat tumbuk tradisional). Setelah halus, kopi bubuk pun dikemas dalam plastik dan dijual dengan cara dititipkan di warung-warung di sekitar rumah. Kopi, telah menghidupi Nenek saya dan banyak orang di negeri ini.

Sejak dulu saya melihat, begitu mudah mendapatkan kopi maupun warung kopi di mana-mana. Ternyata ini tak lepas dari posisi Indonesia sebagai negara penghasil kopi terbesar nomer 3.

Sebagai negara agraris, Indonesia memang seharusnya mampu menghasilkan komoditas pertanian dan perkebunan yang bermutu. Tanah yang subur dan luas memang menjadi keuntungan tersendiri. Namun ini saja tidak cukup untuk bisa menjadi nomer satu di dunia. Ada hambatan-hambatan yang dihadapi industri kopi di Indonesia, terutama di level petani.

Petani kita membutuhkan dukungan dalam hal mengupdate pengetahuan dan kemampuan dalam menanam kopi sehingga bisa menghasilkan kopi yang berkualitas. Tenaga penyuluh pertanian menjadi penting perannya di sini. Terbatasnya tenaga penyuluh menjadi kendala yang harus segera diatasi agar produktifitas petani kopi bisa meningkat.

kopi indonesia
credit:bumn.go.id

Selain itu, ada kendala pada akses terhadap pupuk. Harga pupuk kerap tidak mampu dijangkau petani. Pemerintah harus mengambil kebijakan tepat sasaran terkait pupuk bagi para petani.

Bagaimana dengan Vietnam? negara anggota ASEAN yang satu ini memiliki peringkat yang lebih baik dibanding dengan Indonesia. Vietnam menduduki peringkat kedua setelah Brazil. Produktifitas kopi di Vietnam jauh lebih tinggi dibanding Indonesia meskipun luas lahan pertaniannya lebih sempit dari negara kita.

coffee farmer, Vietnam
coffe farmer vietnam
credit:J.von Enden

Partner Strategis

Dua negara anggota ASEAN menjadi penghasil kopi nomer dua dan tiga adalah satu potensi besar untuk bisa menguasai pangsa pasar kopi dunia. Caranya tentu dengan bekerjasama dalam rangka meningkatkan produktifitas petani kopi agar bisa melampaui negara Brazil.

Jika selama ini kedua negara ASEAN ini menjadi rival maka saatnya kini menjadi partner. Apa mungkin hal ini terjadi? mungkin saja. Bukankah kedua negara sesungguhnya telah merintis jalan kebersamaan melalui ASEAN?. Bergabung dalam satu komunitas yang sama bisa membuat jalan menuju kerjasama menjadi lebih mudah.

Apalagi kedua negara telah melakukan pendekatan-pendekatan baik dilakukan oleh pemerintah masing-masing maupun diantara pengusaha kedua negara. Pemerintah Indonesia dan Vietnam telah mengadakan MOU dibidang pertanian, tentu ini akan lebih baik jika kemudian secara spesifik diadakan MOU untuk meningkatkan produktifitas industri kopi masing-masing negara dalam rangka memimpin pangsa pasar kopi dunia.

Kedepannya antara Indonesia dan Vietnam bisa bekerjasama dalam hal riset mengenai bibit tanaman kopi yang unggul. Bibit yang unggul tentu akan menghasilkan kopi yang berkualitas. Dengan kopi yang berkualitas maka peluang merebut pasar yang lebih luas semakin terbuka.

Kedua negara juga bisa saling bertukar informasi mengenai kendala yang dihadapi masing-masing negara dan bekerjasama dalam mengatasi kendala-kendala tersebut.

Pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN hendaknya dimaknai sebagai momentum bagi kedua negara untuk bekerjasama secara serius. Indonesia dan Vietnam masing-masing merupakan partner yang strategis, selain kedekatan geografis dan budaya, kedua negara juga telah lama bergabung dalam komunitas yang sama.

Jadi dapatkah mereka bekerjasama? dapat, asal ada political will dari masing-masing pemerintahan. Ditambah lagi ada persamaan persepsi bahwa peluang untuk merebut lebih luas pangsa pasar kopi dunia bisa dilakukan dengan kerjasama kedua negara.

Indonesia-Vietnam, take this chance!

#10daysforASEAN #day 5

12 Replies to “Indonesia dan Vietnam,Partner Strategis dalam Industri Kopi”

  1. lama lama mabok nih dari kemarin kemana mana suguhannya kopi semua, hehe… semoga menang kontesnya bu..

    1. rawins…hehehee, tenang besok kita ngeteh..terimakasih

  2. Kerjasama bilateral memang meliputi berbagai aspek ya jeng. Saya dulu menangani Kersama Internasional khususnya bidang pertahanan.

    Kerjasama kopi sepertinya lebih mengarah kepada bidang perdagangan ya.

    Saya penikmat kopi, baik black coffee maupun kopi instan.

    Terima kasih atas artikelnya yang informatif.

    Salam hangat dari Surabaya

    1. Wah, pengalaman Pakde keren..iya ya Pakde, terimakasih masukkannya. Hm, kalau saya sukanya kopi instan, walaupun suka kangen aroma kopi tubruk buatan Simbah.

  3. Gileeee beneer, tampilan blognya Ety keren abis lho. Gimana ya bisa bikin tampilan yang asik gini nih. Belum lagi postingannya nih yang oke punya. Salut deh sama daya pikir ibu ranum ini, hehehe…

    1. Hahaha, Bunda yati bisa aja, akhirnya bunda ke rumahku..horeee

  4. Nambah nih komen-nya. Itu lho tunggu dari tanah koq masih ada ya. Dimana tuh, Ety? Ngingetin bunda ke jaman buna masih di Cileungsi, umur balita, qiqiqi…. apa itu hasil googling? Kepo banget nih si bunda, ya.

    1. Itu gambar pinjem bude..di rumah orantua ety punya tungku, bikin sendiri. Iya bun, meskipun suka bau asap ya kalau pake tungku.

  5. Nambah lagi, maksudnya “tungku”

    1. wkwkwk, sekali berkunjung komennya borongan..iya bund tungku namanya

  6. yah,,kerjasama dengan slaling menguntungkan kedua negara..

    1. Betul nasphie, simbiosis mutualisme ya..

Leave a Reply