Minum Jamu, Upaya Melestarikan Budaya Indonesia

“Mu, jamu…”, suara Mbok Jamu yang khas memanggil, Ibu saya segera keluar untuk membeli jamu.

Pemandangan ini amat lekat dalam ingatan saya. Sedari kecil, saya melihat Ibu suka minum jamu, bisa dibilang setiap hari jika Mbok Jamu berjualan, Ibu pasti membelinya.

Awalnya, saya hanya memperhatikan saja kebiasaan Ibu minum jamu. Lama-kelamaan, sayapun mencoba mencicipi jamu. Jamu yang saya coba pertama adalah yang rasanya manis. Memang ada? istilahnya legen, biasanya legen ini diminum setelah meminum jamu yang rasanya pahit.

Legen yang saya coba pertama adalah air asam jawa, rasanya asam dan manis, segar dimulut. Percobaan pertama saya langsung suka karena rasanya tidak pahit seperti jamu yang biasa diminum Ibu. Kebiasaan meminum jamu asam ini berlanjut sampai suatu hari Ibu meminta saya meminum jamu beras kencur.

Jika dibanding dengan jamu asam, beras kencur ini lebih mirip jamu. Ada rasa dan aroma kencur yang kuat. Beras kencur terbuat dari campuran beras dan kencur yang direbus dengan campuran gula aren agar terasa manis. Lidah saya saat itu tidak bisa langsung menerima. Pertama mencoba saya hanya mampu mencicipi seteguk saja. Namun, ibu saya telaten membiasakan saya minum jamu sampai akhirnya saya pun terbiasa minum jamu beras kencur. Jamu beras kencur berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan.

Ketika memasuki masa puber ditandai dengan datangnya menstruasi maka lain lagi jamu yang direkomendasikan Ibu. Kali ini jamu berwarna kuning dengan rasa sedikit getir, asam dan manis. Si jamu ini diyakini mampu memperlancar menstruasi, menghilangkan sakit saat menstruasi dan membuat badan segar. Dialah jamu kunyit asam, jamu yang rutin saya minum hingga sekarang.

Tidak hanya itu, dikala salah seorang dari keluarga kami batuk maka jamu kunyit putih menjadi andalan untuk mencapai kesembuhan. Di lain hari ketika badan Ibu kecapaian maka jamu cabe puyang dipilih sebagai penghilang pegal. Ketika adik saya mukanya jerawatan maka dengan telaten Ibu menyediakan jamu temulawak untuk menyembuhkan jerawat.

Pun ketika saya harus melahirkan tanpa bantuan orangtua, saya tetap minum jamu meskipun bukan jamu gendong lagi melainkan jamu produksi pabrik. Maklum, di perantauan saya sulit menemukan jamu gendong. Jadilah, saya meminum jamu habis bersalin produksi pabrik, lengkap dengan pilis dan juga jamu lancar ASI.

Minum jamu memang telah menjadi kebiasaan keluarga yang diwariskan. Saya mewarisi tradisi minum jamu dari Ibu saya. Sementara Ibu mewarisi tradisi minum jamu dari Nenek dan seterusnya. Seperti halnya minum jamu, membuat jamu juga diwariskan dari generasi ke generasi.

Penjual jamu gendong yang menjadi langganan Ibu sejak dulu, menurunkan kemampuan meracik jamu pada putrinya. Putrinya inilah yang meneruskan usaha jamu gendong yang dirintis Sang Ibu hingga sekarang. Sudah puluhan tahun beliau menekuni profesi yang langka ini. Sejak saya kecil, beliau sudah berkeliling kampung menjajakan jamu. Hingga saya menikah dan memiliki anak beliau masih setia berjualan jamu gendong.

Mengapa Jamu?

Jamu adalah obat tradisional yang telah lama ada di negeri ini. Khasiatnya diyakini secara turun temurun mampu mengobati bermacam penyakit. Dahulu tentu belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan khasiat jamu. Kepercayaan masyarakat terhadap khasiat jamu berdasarkan kata orangtua semata. Namun bukan berarti khasiat jamu itu hanya sugesti. Jika tak berkhasiat tidak mungkin jamu menjadi andalan pengobatan masyarakat selama berabad-abad. Keterbatasan pengetahuanlah yang membuat uji klinis terhadap jamu, dulu belum dilakukan.

Jamu terbuat dari aneka rempah-rempah. Satu jenis jamu biasanya terbuat dari beberapa campuran rempah-rempah. Takaran dan komposisi bahan disesuaikan dengan khasiat yang ingin didapat. Aneka rempah yang biasanya digunakan sebagai bahan jamu antara lain kencur, kunyit, cabe jawa, cengkeh, temulawak, adas, kunci, brotowali, asam, bangle, beluntas, bidara laut dan masih banyak lagi.

Hasil olahan dari aneka rempah-rempah tadi menghasilkan bermacam jamu dengan khasiatnya masing-masing. Ada jamu kunyit asam yang berkhasiat untuk melancarkan haid, untuk kesegaran tubuh, mengobati panas dalam dan sariawan. Jamu beras kencur diyakini berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan dan mengobati pegal-pegal. Ada juga jamu cabe puyang yang berkhasiat untuk mengobati pegal dipinggang, kelelahan pada kaki, kesemutan dan badan meriang.

Selain itu ada jamu pahitan berkhasiat untuk mengobati gatal-gatal dan menurunkan kolesterol. Jamu kunci suruh untuk mengobati keputihan, menghilangkan bau badan dan menguatkan gigi. Ada juga jamu uyup-uyup yang bermanfaat untuk melancarkan ASI. Masih banyak lagi jamu-jamu lainnya yang juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Bahan dasar jamu yang alami dari rempah dan tumbuhan membuat jamu aman dikonsumsi dari anak-anak hingga orang tua. Trend gaya hidup kembali ke alam (back to nature), salah satunya bisa dilakukan dengan mengkonsumsi jamu untuk menjaga kesehatan tubuh maupun mengobati beragam penyakit.

Hambatan dalam Mengkonsumsi Jamu

Kemajuan dunia kedokteran dan farmasi telah memunculkan pertanyaan kritis yaitu benarkah jamu aman dikonsumsi dan berapa takaran yang tepat untuk mendapatkan khasiatnya. Obat-obat kimia yang diproduksi dalam skala industri biasanya lebih terjamin higienitas dan mutunya itu, lebih dipilih oleh masyarakat yang semakin kritis dan rasional. Jamu pun akhirnya pelan-pelan mulai tersisih sebagai pilihan utama dalam pengobatan menjadi alternatif pengobatan.

Bicara masalah keamanan dalam mengkonsumsi jamu ada dua isu kritis yaitu mengenai higienitas atau kebersihan jamu dan menyangkut  bahan campuran jamu. Jika berbicara mengenai higienitas atau kebersihan dalam proses pembuatan jamu biasanya lebih disoroti pada pembuat jamu gendong.

Jamu gendong biasanya dibuat di rumah-rumah, dengan alat yang masih tradisional. Ada kekawatiran karena dibuat dirumah dengan alat yang sederhana dikawatirkan akan mengabaikan kebersihan. Namun, bukan berarti jamu gendong tidak higienis, persoalannya ada pada standarisasi proses pembuatan dan pengawasannya. Jika ini dilakukan tentu akan mampu menjawab keraguan sebagian kalangan akan higienitas jamu gendong.

Isu kritis yang kedua adalah menyangkut bahan campuran yang digunakan untuk membuat jamu. Beberapa tahun belakangan BPOM disibukkan dengan beredarnya jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Ini berbahaya karena takaran bahan kimia obat itu tidak digunakan secara tepat sehingga justru membawa efek samping yang membahayakan bagi kesehatan tubuh terutama kegagalan fungsi organ tubuh.

beberapa jamu dengan bahan kimia obat
sumber gambar di sini

Masyarakat memang sempat terlena akan khasiat jamu dengan bahan kimia obat yang memiliki efek cespleng. Tidak membutuhkan waktu lama penyakit yang diderita bisa hilang. Padahal dibalik itu efek samping yang mengerikan mengancam para konsumen jamu dengan BKO tersebut. Jamu BKO ini biasanya diproduksi oleh industri jamu skala kecil dan menengah.

Kondisi ini tentu membuat jamu menjadi diragukan keamannya. Perlu pengawasan ektra ketat dan penutupan terhadap tempat produksi jamu dengan BKO agar tidak beroperasi lagi.

Yang tak kalah penting tentu edukasi kepada masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi jamu yang benar artinya jamu tanpa BKO tadi. Supaya tidak ada lagi permintaan pasar yang membuat produsen jamu dengan BKO tidak kapok untuk memproduksi jamu yang serupa.

Pembinaan juga perlu diberikan kepada produsen jamu agar memproduksi jamu secara benar. Hal ini dilakukan supaya mereka juga tidak kehilangan mata pencaharian. Jamu adalah aset budaya yang harus dilestarikan. Sedangkan produsen jamu juga merupakan aset dalam upaya melestarikan jamu sebagai budaya bangsa. Pendekatan seperti ini diharapkan mampu mengatasi persoalan maraknya jamu dengan BKO. Sekaligus sebagai jalan menuju lestarinya jamu di bumi Indonesia.

Mengenai takaran yang tepat dalam minum jamu agar didapat khasiat yang maksimal memang memerlukan penelitian. Jika produsen jamu skala industri telah memiliki laboraturium sendiri untuk meneliti khasiat sekaligus menetapkan takarannya maka tidak demikian halnya dengan pembuat jamu gendong.

Saya sendiri dalam minum jamu, takarannya sesuai dengan kebiasaan saja yaitu memakai gelas. Setiap hari, satu gelas jamu kunyit asam saya minum untuk menjaga kebugaran tubuh. Terkadang jika memerlukan saya meminta campuran air rebusan daun sirih. Nah, takaran ini saya dapat dari penjual jamu gendong.

Persoalan seperti ini tentu harus menjadi perhatian Depkes dalam hal ini BPOM. Perlu penelitian secara menyeluruh terhadap khasiat jamu dan takaran yang tepat dalam mengkonsumsinya. Jika hal ini bisa dilakukan maka pihak-pihak yang semula meragukan khasiat jamu menjadi terbuka pikirannya.

Upaya Melestarikan Jamu

Jika semua upaya yang telah dibahas tadi dilakukan dengan sungguh-sungguh maka jamu sebagai budaya warisan nenek moyang bisa tumbuh dan lestari. Upaya tersebut harus melibatkan banyak pihak yaitu pemerintah, produsen jamu dan masyarakat.

Bagi masyarakat seperti saya, minum jamu adalah andil saya dalam rangka turut melestarikan jamu sebagai budaya Indonesia. Akan percuma bukan, segala upaya memproduksi jamu dengan benar namun tidak dibarengi dengan kebiasaan minum jamu dikalangan masyarakat.

Rasa percaya akan khasiat jamu harus ditumbuhkan dikalangan masyarakat. Upaya mengangkat gengsi jamu melalui penelitian, seminar maupun promosi harus dilakukan. Sehingga masyarakat pun mau mengkonsumsi jamu.

Diperlukan juga kelegaan hati dari kalangan medis dan farmasi dalam menempatkan jamu sebagai sarana pengobatan. Semoga mereka mau terlibat dalam upaya melestarikan jamu melalui penelitian-penelitian yang mereka lakukan. Sehingga tak ada lagi keraguan diantara kalangan medis dan farmasi dalam menggunakan jamu sebagai sarana pengobatan.

Jadi, masih takut minum jamu?. Kalau bukan kita yang minum jamu lalu siapa yang harus minum jamu agar jamu tetap lestari. Mari, budayakan minum jamu agar jamu bisa tumbuh, lestari bahkan mendunia.

Sumber

BCCS Collection Of Biopharmaca IPB

Publication Journal-Biopharmaca IPB

BRC News-Biopharmaca IPB

11 Replies to “Minum Jamu, Upaya Melestarikan Budaya Indonesia”

  1. saya dan istri juga biasa mengkonsumsi jamu biasanya adalah kunir plus madu, dan kencur plus madu yang diparut sendiri jadi lebih terjaga kesegaran dan kebersihannya. Rutin mengkonsumsi jamu, membuat badan lebih segar.

    1. Wah, rajin sekali membuat jamu sendiri, kalau membuat sendiri pastilah yakin akan kebersihannya dan kesegarannya. Memang benar pak Is minum jamu membuat badan jadi bugar.

  2. sukses ya mba kontesnya 🙂

    1. Terimakasih Mba Rina

  3. faktor kebersihan yg emang suka jd masalah, ya, Mbak. Pernah mamah sy buang2 air selama bbrp hari, stlh ke dokter diduga krn jamu yg beli dr tukang jamu langganan

    1. Iya Mba Mira, makanya dibutuhkan pendampingan agar penjual jamu gendong memahami standar kebersihan. Mereka kan butuh makan, jangan sampai mereka kehilangan mata pencaharian. cmiiw

  4. selalu suka dengan ulasanmu mba..mendetil

    1. Aih Mba Sri bisa aja..makasih ya sudah mampir.

  5. waah super detail nih,,, sampe praktek ke kehidupan nyata saat ini juga terbahas.. salut dengan blognya mba,,, cocok jadi jurnalistik 🙂

    1. Terimakasih Mba Ovi, salam kenal.
      Kebetulan saya suka minum jamu

Leave a Reply