Ketika Bersandar Pada Manusia

Beberapa bulan lalu, batinku sempat dirundung pilu. Serentetan peristiwa terjadi dan mengejutkanku. Barangkali tepatlah istilah bagai petir disiang bolong untuk menggambarkan situasi kala itu. Sebetulnya tidak hanya pilu, adapula marah, kecewa, heran dan hampir tak percaya. Meskipun berulang-ulang aku berharap ini hanya mimpi semata tapi percuma karena memang kenyataan yang harus diterima.

Berhari-hari pikiran jadi tidak tenang, makan dan tidur pun tak enak. Tsah, berasa lagu dangdut ya, biarin!. Bangun tidur yang di kepala masalah itu, mau tidur pun masih saja kepikiran hal itu. Hadeh, berasa lagi mikirin pujaan hati.

Semua berawal dari kekagumanku dan kepercayaanku pada mereka. Orang-orang yang menurutku baik, selalu terjaga lisan dan perbuatannya dari hal-hal yang tercela. Rasa kagum itu sepertinya telah mematikan syaraf kritisku. Bahwa mereka itu manusia bisa juga berbuat salah dan khilaf. Tapi, aku terlalu naif mengganggap semua ini tak mungkin terjadi pada mereka yang kupercayai.

Aku lupa bahwa manusia itu akan selalu digoda oleh syetan karena memang begitulah tabiat syetan, sebagai penggoda. Bisa atau tidak manusia melawan godaan itu tergantung pada iman mereka pada saat itu. Ya, kalau Bang Iman nya lagi jalan-jalan orang akan mudah mengikuti apa yang syetan mau. Berbeda halnya jika Bang Iman kokoh menguasai diri dan hati manusia maka godaan syetan, kelaut aje.

Persoalannya sulit menilai keimanan seseorang apakah sedang naik atau turun apalagi sedang dilanda rusuh atau aman terkendali. Buatku ini sesuatu yang tak selalu kasat mata, sulit menentukannya. Apalagi jika yang bersangkutan rajin beribadah, rajin sedekah, rajin menolong orang, dan tutur katanya sopan. Akhirnya, berprasangka baik saja, mereka lebih baik dari segalanya dariku maka selalu baiklah apa yang mereka perbuat.

Kalau sudah pasrah bongkokan seperti ini tak ada ruang untuk mengkritisi apapun yang mereka lakukan. Aku lupa bahwa mereka bisa saja terpeleset bahkan jatuh karena kurang hati-hati. Ketika semua sudah terjadi, aku baru menyadari bahwa selama ini kepercayaanku yang pasrah bongkokan itu alias percaya begitu saja, ternyata berujung pada masalah ini.

Kecewa? tentu dan pakai banget. Namun, aku bersyukur karena dibalik semua peristiwa ini aku kembali diingatkan akan satu hal, bahwa jangan pernah menyandarkan harapan pada manusia karena aku bisa kecewa. Huft, pelajaran hidup memang kadang menyakitkan. Begitulah cara Alloh mendewasakanku. Kini aku bersyukur, kesadaran ini telah membuatku berani mengambil satu keputusan. Keberanian yang dulu tak kumiliki.

Tepatlah nasehat yang pernah kudengar bertahun lalu, “Sandarkanlah semua harapanmu pada Alloh semata maka Dia tak kan mengecewakanmu”.

 

 

4 Replies to “Ketika Bersandar Pada Manusia”

  1. Setuju ! “Sandarkanlah semua harapanmu pada Alloh semata maka Dia tak kan mengecewakanmu”

    1. Begitulah Mba Titis, kalau sama manusia mah, bisa kecewa pakai berat..

  2. itu memang kasus yang sering terjadi…
    orang yang kita anggap terbaik di ujung persahabatan malah membuat kita sakit hati 🙁

    1. Begitulah Mba Kasmini, mereka manusia biasa yang pastinya nggak luput dari khilaf ya. saya aja yang gak mawas diri..Makasih kunjungannya

Leave a Reply