Kala Rezeki Bukan Sebongkah Berlian

ini penampakkannya sumber:wikipedia
ini penampakkannya
sumber:wikipedia

Berlian? sudah pernah lihat bagaimana bentuk dan rupanya teman-teman?. Kalau diriku baru melihat lewat layar monitor berkat bantuan Mbah Google. Kabarnya berlian ini perhiasan yang harganya mahal.

Bagi pecintanya, memilikinya adalah sebuah kebanggaan. Bagaimana tidak bangga jika tak semua orang bisa memilikinya karena harganya yang selangit sementara dia punya.

Saking mahalnya, nggak heran jika orang mengatakan mendapat berlian itu rezeki. Jadi, kalau tiba-tiba ada dari berlian jatuh dari langit, kira-kira pada berebutan gak ya?qiqiqi, lagi mengkhayal nih!

Rupanya yang turun di langitku Jumat kemarin itu bukan sebongkah berlian tapi butiran serbuk berwarna abu-abu dari Gunung Kelud. Mak byur, gak berhenti-henti, hingga menumpuk menutupi apa saja.

Langit gelap dan udara juga pengap karena nggak mungkin buka jendela sementara di luar abu-abu itu masih turun. Dalam hati aku bergumam, begitu hebatnya letusan di sana hingga tempatku yang ratusan kilometer jaraknya harus merasakan juga abunya.

Nggak cuma itu yang terjadi, air pam pun mati. Huhuhu, nggak bisa kemana-mana, dan persediaan air menipis karena semalam aku sengaja mengosongkan bak mandi, paginya mau aku kuras dan diisi kembali. Eh ternyata, baru diisi sedikit saja airnya berhenti mengalir, gubrak!

abu di langitku
abu di langitku

Untungnya, aku sudah sempat masak nasi, jadi tinggal bikin lauk yang nggak ribet dan nggak perlu banyak air. Sarapan pagi cukup dengan nasi goreng plus telor ceplok.

“Hari ini kita makan seadanya ya Nak, nggak bisa request menu!” kataku sambil menyodorkan sepiring nasi goreng.

Anak-anakku hanya manggut-manggut sambil menatap keluar jendela, takjub dengan apa yang sedang terjadi di luar sana. Bagi mereka ini adalah pertamakalinya merasakan hujan abu.

Sementara bagiku, ini adalah yang ketiga, hujan abu kali ini besar seperti hujan abu merapi saat aku tinggal di Magelang dulu. Hm, aku sudah bisa membayangkan bakal panjang hari-hariku besok. Banyak debu sementara tak ada air.

abu menutupi apa saja
abu menutupi apa saja

Magrib aku dengar suara, air,air. Ternyata ada dropping air dari pdam. Semua orang butuh air maka antrian pun terjadi. Diriku mendapat seember plus satu galon air. Lumayan lah, dari pada nggak ada air sama sekali. Ingin mengantri lagi, rasanya tak mungkin, waktu magrib dah hampir habis.

Hujan abu dari gunung Kelud ternyata menyebar sampai jauh. Rupanya arah angin telah membawa abu-abu itu ke arah barat. Kelihatannya abu yang bertebaran ini adalah bencana namun dibalik itu ada hal yang harus dipahami yaitu cara Alloh memberi rezeki pada manusia.

Paling tidak ini yang berhasil kucatat:

  • Abu vulkanik itu bisa menyuburkan tanah, jadi bukankah sesungguhnya Alloh itu sedang memberi rezeki melalui abu? agar tanah-tanah yang terkena abu itu bisa subur dan memberi hasil panen yang bagus.
  • Diriku jadi kuat ngangkat galon yang penuh berisi air dari ujung gang sampai ke rumah. Hehehe, biasanya urusan masang galon di dispenser itu urusan suamiku. Bisa karena kepaksa judulnya. Anyway…aku kuat!
  • Cara mudah mengenalkan pengetahuan pada anak. Tempo hari mereka melakukan percobaan gunung meletus dan hari itu mereka mendapat visualisasi dampak gunung meletus. Oh jadi yang keluar dari gunung meletus tuh abu dan kubilang ya Nak salah satunya abu dan ada material lainnya.
  • Kosakata Si Bungsu bertambah, Gunung Kelud, abu vulkanik, masker, dan mengungsi.
  • Hari-hari ini bersih-bersih terus, ngangkuti air terus, lumayan lah keringetan. Bisa buang lemak walaupun sauprit, hehehe.
bunga tertutup abu
bunga tertutup abu

Mengutip komentar teman beberapa waktu lalu, “see with glass of beauty” yang terjemahan bebasnya, pandanglah dari sisi yang indah agar sesuatu yang semula nampak buruk bisa bermakna. Memang yang turun kemarin itu bukan berlian namun itu juga rezeki kan?

****edisi merilekskan diri, setelah bersih-bersih terus***

 

 

 

 

22 Replies to “Kala Rezeki Bukan Sebongkah Berlian”

  1. Salam kenal… Memang ya mak kita harus melihat sebuah peristiwa dari dua sisi. Trus gimana sudah selesaikah bersih bersihnya? Mudah2an mak sekeluarga sehat selalu….

    1. Salam kenal Mak Memez..betul sekali, alhamdulilah sudah, paling tinggal sisa-sisa abu dijalan yang bisa terbang ke rumah kala ada motor, mobil atau angin lewat. Masih berharap hujan turun membersihkan abu..Amin, terimakasih doanya..

  2. Semoga bencana cepat berlalu
    dan kehidupan berjalan normal seperti biasa lagi

    Jaga kesehatan Mbak Ety

    Salam saya

    (17/2 : 2)

    1. Amin..terimakasih Om Nh, ini kemana-mana pakai masker biar nggak kena ISPA.. Salam Om Nh

  3. Haduuuh Mak, pagi – pagi aku lihat genteng udah putiiih semua. Seumur – umur baru sekarang ini lihat debu vulkanik 🙁

    1. Sidoarjo lebih dekat ya…banyak abunya Mak Sari? qeqeqe…seru dong, kan pengalaman pertama..

  4. sampai tanamanpun ketutupan abu ya, mba. iya, moga abis ini tanah2 jadi subur lagi.

    1. Mba Ila, ya mba lumayan tebal, gak cukup sekali membersihkan, harus diulang lagi-diulang lagi..amin.

  5. Saya bari tau kalo abu vulkanik ada manfaatnya buat tanaman, soalnya kalau liat berita malah karena abu tanamannya jadi layu, hehe..
    Tetap semangat … bersih” abunya bu 😀

    1. Awalnya bikin tanaman layu Mak Desti tapi nanti tanahnya jadi subur..Amin..semangat,semangat..

  6. Setiap kejadian ada hikmanya yah mbak. Semoga kita bisa lebih postifi memahami musibah ini dan lekas berakhir sudah 🙂

    1. Betul Mas Richo..tinggal bagaimana kita memandang dan menyikapinya..Amin..

  7. Wuuiiihhh mantab busa ngangkat galon sendiri 😛
    *salah fokus

    1. Mak Munaaaaa, aidah..kalau Mak Muna dah biasa sih ya ngangkat galon..*piss*

  8. Abunya sampai Bandung juga, tapi ngga banyak. Lumayan bolak balik nyapu teras rumah, heheh

    Enam bulan lagi, tanah2 di sana langsung subur ya Mbak.

    1. Masyaalloh, jauuuh banget ya Mak Dey nyampe situ….amin Mak..semoga hasil panen di sini melimpah dan membawa kesejahteraan bagi yang tinggal

  9. Rejeki kita kali ini sangat luar baisa ya Mak… 🙂

    1. Betuuul Mak Reni…masih bersih-bersih ya?

  10. Ini pengalaman kedua aku kena hujan abu mbak. Sialnya aku nggak cek nasi habis dan nasi keburu abis. Walhasil aku makan soto, rendang, ayam bawang dalam bentuk mie instant 😀

    1. Hehehe….ternyata, ada yang senasib. Purworejo tebal juga ya Mba Ika abunya?

  11. Ehmmmm
    Karena kadang, rezeki berawal dari musibah..
    Terus semangat mbak..
    Salam..

    1. Begitulah Om Kopiah Putih, berusaha melihat bencana dari sisi yanglain .terimakasih kunjungannya.

Leave a Reply