Pelan-pelan Saja

pixabay.com
pixabay.com

Apa kabar teman-teman?. Semoga kalian dalam kondisi baik-baik saja ya. Kelamaan nggak ngeblog gak enak banget ternyata. Tapi ya itu, waktunya sering habis dengan rutinitas lain, tsaaaah alesan ding.

Kali ini pengen banget ngomongin hal yang sebenarnya sudah sering dibicarakan orang. Tapi dipikir-pikir gak papa lah ikutan ngomongin, itung-itung buat ngingetin pembaca blog ini. Ya, saling mengingatkan pada kebaikan, bukankah hal yang dianjurkan?.

Hayo ngacung siapa yang punya motor?. Wuih, pasti banyak yang ngacung nih. Hari ini gitu lho, kasih uang 500 rb bisa bawa pulang motor, pasti aja banyak yang punya. Coba aja tengok di jalan-jalan, pasukan beroda dua itu pasti memenuhi setiap sudut jalan. Ya iyalah, hari ini kebutuhan akan transportasi kan hal yang urgent.

Tapi bukan itu yang jadi masalahnya. Adalah hak setiap orang untuk bisa membeli dan memakai motor. Tapi ingat, ada hak orang lain saat Anda berkendara di jalan umum, yaitu hak untuk selamat. Jadi, tolong perhatikan cara Anda mengendarai motor.

Ini kejadiannya baru kemarin, di komplek sekolah anak saya. Di situ ada sekolah TK , SMP dan masjid yang berada dalam satu komplek. Bangunan sekolah TK yang berada paling dekat dengan pintu gerbang tentu saja selalu ramai dengan motor dan mobil yang berlalu lalang.

Sayangnya, beberapa pengendara tuh sepertinya nggak menyadari atau nggak mudeng saya juga nggak tahu (soalnya nggak sempat nanya), kalau naik motor memasuki komplek kok ya ngebut. Saya beberapa kali harus kasih kode stop pada anakku, ketika dia mau menghampiri saya sementara itu banyak motor bersliweran.

Eh, kok ya kemarin ada anak ketabrak motor di dalam komplek sekolah. Bukan anak saya yang menjadi korban tapi saya tentu ikut kawatir. Si penabrak memasuki gerbang komplek dengan kecepatan tinggi dan Si Anak muncul dari samping mobil dalam kondisi berlari dan bress. Anak itupun tertabrak motor.

Nah, hal ini lho yang suka bikin saya geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya si penabrak dengan cueknya melajukan motornya tanpa melihat kondisi sekeliling. Seharusnya kan dia tahu, ini di  komplek sekolah TK, pasti banyak anak-anak berkeliaran, mbok ya pelan-pelan saja naik motornya.

Kesadaran pengendara akan hal kecil semacam ini sungguh penting. Kelihatan sepele ya? eheh, tapi kalau sudah kejadian begitu, apa nggak nyesel tuh?. Pikirkanlah lagi, bukan cuma Anda yang sedang punya urusan sehingga harus ngebut agar cepat sampai tujuan, orang lain pun sama, seperti juga anak-anak yang bersekolah itu.

Mereka sedang merenda asa, janganlah dibiarkan kuncupnya layu sebelum mereka sempat mekar gara-gara kelalaian Anda dalam berkendara. Memang, kejadian ini jadi bahan perenungan buatku. Seandainya semua orang dalam lingkungan sekolah menjalankan perannya masing-masing dengan baik, hal ini sesungguhnya bisa dihindari.

Saya percaya bahwa setiap kejadian, penyebabnya selalu saja tidak tunggal. Pengendara motor memang salah karena ngebut tapi orangtua juga punya peran (waktu itu bel masuk belum berbunyi), mengapa tidak mengawasi anaknya. Guru pun punya peran, disaat banyak siswanya telah hadir, ah, mengapa baru sedikit saja dari mereka ada di sana.

Pak Satpam yang berada di gerbang komplek juga punya andil karena tak mengingatkan pengendara motor untuk melambatkan laju motornya. Sementara itu diriku? hm, seharusnya ketika orang tua lain sedang sibuk dengan urusannya masing-masing bukankah diriku bisa membantu mengawasi anak-anak mereka?. Ah, semua orang punya andil sebenarnya dalam kejadian itu.

Trus bagaimana ini?. Untung saja anak itu tak terluka serius. Ini membuat lega semuanya. Tapi bagi saya, penting untuk selalu mengingatkan, bijaklah berkendara, nyawa kita cuma satu-satunya. Jarang ada nyowo balen! jaga itu baik-baik.

pixabay.com
pixabay.com

“Anda boleh seperti Valentino Rossi atau Casey Stoner tapiii hanya di arena balap bukan di jalanan umum. Ketika Anda di jalan umum apalagi banyak anak-anak, berkendaralah pelan-pelan saja. Percayalah, itu yang akan membuat Anda dihormati.”

 

 

6 Replies to “Pelan-pelan Saja”

  1. Pakde Cholik says: Reply

    Mudahnya nyicil motor membuat remaja pada ngebut di jalan raya. Ditambah lagi suara knalpot yang memekakkan telinga semakin membuat eneg deh.
    Sesungguhnya bahaya selalu mengintai di jalan raya.
    Oleh karena itu hati2 dan taat UULLAJR sangat diperlukan
    Terima kasih artikelnya sebagai pengingat
    Salam hangat dari Surabaya.

    1. Betul Pakde, gak kaya jaman Bapak saya beli motor, rasanya berat banget ngumpulin Dp sama nyicil. Dibelai-belain cari sampingan..kalau sekarang lain ceritanya.
      Motor dah kayak kacang goreng saja. Cuma ya itu, kok pada banter-banter ya naik motornya. Gak eling, kalau bukan dia aja yang pake jalan.
      di jalan raya yangmulus malah kaya keenakan, wes,wes,wes aja..curhatku karena sering susah nyebrang jalan gara-gara naik motor pada banter-banter, saya takuuuut.
      Salam hangat dari Karanganyar Pakde

  2. Nah itu, Mak. Semenjak jalan depan rumah dibeton, para pengendara motor di tempatku jadi pada sering ngebut. Haduuuh… ngeri, Mak. Aku jadinya lebih overprotektif. Anak-anakku aku larang ke jalan. Kalopun main bareng temen-temennya, paling-paling di gang. Takuttt…

    1. Memang persoalan di mana-mana ya Mak Nia?. Namanya emak, pasti orang yang paling kawatir kalau begitu kondisinya.
      Lebih baik begitu daripada celaka..

  3. Yang namanya di jalan …
    tingkat kewaspadaan memang harus selalu dikedepankan …
    anak saya … kadang berangkat naik ojek …
    pulangnya pun juga naik ojek …
    saya kadang khawatir …

    semoga saja kita semua diberi kewaspadaan … agar tidak terjadi kecelakaan …

    Salam saya Mbak Ety

    (14/3 : 7)

    1. Iya Om Nh, harus selalu waspada bagi siapapun pengguna jalan, mau naik sepeda, naik motor, naik mobil atau jalan kaki harus sama-sama waspada.
      Ingetin aja tukang ojeknya Om supaya hati-hati dan jangan ngebut

      Salam Om Nh

Leave a Reply