Kearifan Lokal : Cara Berdamai Dengan Bencana

“Enggel mon sao surito (dengarlah sebuah kisah), inang maso semonan (zaman dahulu kala).

Manoknop sao fano (tenggelamlah sebuah desa), uwilah da sesewan (begitulah dituturkan).

Unen ne alek linon (gempa yang mengawali), fesang bakat ne mali (disusul ombak raksasa).

Manoknop sao hampong (tenggelamlah seluruh negeri),tobo-tibo maawi (secara tiba-tiba).

Angalinon ne mali (jika gempanya kuat), dek suruk saoli (disusul air yang surut)

Maheya Mihawali (segeralah cari tempat), fano me senga tenggi (dataran tinggi agar selamat).

Ede smong kahanne (itu smong namanya), turiang de nenekta (sejarah nenek moyang kita).

Miredem teher ere (ingatlah ini betul-betul), pesan dan navi da (pesan dan nasehatnya).”

Syair tadi bukanlah sembarang syair, yang didendangkan ketika menidurkan anak. Syair dalam bahasa Devayan itu merupakan sebuah pesan. Kala alam memberi tanda bahaya maka segeralah mencari perlindungan.

Dendangan syair (nandong) di atas biasa dilakukan oleh masyarakat Simeulue, Aceh. Untuk mengingatkan tanda-tanda datangnya ombak besar yang naik ke daratan (smong). Syair ini juga memberikan tuntunan, apa yang harus dilakukan ketika smong datang.

Syair smong dituturkan dari generasi ke generasi. Didendangkan setiap saat hingga pesannya melekat kuat di ingatan warga Simeulue. Syair tentang smong ini menjadi sistem peringatan dini datangnya ombak besar bagi warga Simeulue. Kultur yang hidup sejak ratusan tahun lalu.

Kebiasaan mendendangkan syair yang berisi tentang smong kemudian dikenal sebagai kultur smong. Kultur ini mengomando setiap warga Simeulue ketika gempa besar terjadi dan air laut surut untuk segera pergi ke bukit agar tak terbawa ombak besar.

Ketika gempa besar dan tsunami melanda Aceh pada tahun 2004 silam, warga Simeulue yang hidup dengan kultur smong tanggap terhadap tanda-tanda tsunami. Terbukti, jatuhnya korban jiwa di Simeuleu berjumlah 7 orang.

Lebih sedikit dibandingkan dengan korban di wilayah lain padahal Simeulue dekat dengan pusat gempa. Ketujuh orang tersebut menjadi korban karena memutuskan kembali ke rumah untuk menyelamatkan harta benda mereka.

Memetik pelajaran dari sistem peringatan dini bencana berupa kearifan lokal kultur smong

“sistem peringatan dini, yang disosialisakan dengan cara sederhana, dilakukan secara terus menerus dari generasi ke generasi telah mampu meminimalisir jatuhnya korban jiwa”

Hidup Di Wilayah Rawan Bencana

Menurut UNISDR (United Nation International Strategy for Disaster Reduction), sebuah badan PBB yang berkonsentrasi pada pengurangan resiko bencana, Indonesia adalah wilayah dengan kerawanan terhadap bencana yang tinggi.

Ancaman bencana meliputi gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, longsor, kekeringan dan kebakaran hutan. Bahkan untuk bencana gempa bumi dan tsunami Indonesia dinyatakan sebagai wilayah yang paling rawan.

Pakar geologi bahkan menyatakan jika ada 13 wilayah di Indonesia yang rawan gempa tektonik karena berada di pertemuan 3 lempeng yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik.

Ketiga lempeng tersebut merupakan jalur gempa yang paling aktif sehingga disebut sebagai jalur cincin api pasifik. Posisi ini menimbulkan resiko bencana gempa dan tsunami.

Ditambah lagi kerusakan alam yang terjadi semakin parah. Penggundulan hutan, pembukaan hutan untuk lahan perkebunan, kebakaran hutan menyumbang terjadinya bencana alam.

Jumlah gunung berapi sebanyak 129 buah di Indonesia juga menimbulkan potensi bencana letusan gunung berapi. Bencana ini beresiko membuat kerusakan harta benda bahkan mengancam jiwa manusia yang tak sedikit.

Gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 silam memakan korban jiwa hingga 220.000 orang. Bencana letusan Gunung Merapi tahun 2010 menimbulkan lebih dari 190 jiwa meninggal akibat terjangan awan panas. Masih banyak korban bencana alam lain yang kerap terjadi di Indonesia.

Fakta tersebut seharusnya membangkitkan kesadaran kita agar siap menghadapi bencana yang sewaktu-waktu datang.

Berdamai Dengan Bencana

Masih lekat dalam ingatan Saya, melalui sebuah video yang ditayangkan di televisi, bagaimana saudara-saudara di Aceh berlarian kesana-kemari menyelamatkan diri dari tsunami yang datang tiba-tiba. Tak ada peringatan, tak ada komando kemana harus menyelamatkan diri apalagi jalur evakuasi.

Masing-masing berlari mengikuti naluri. Jika beruntung mereka akan sampai ke tempat tinggi dan selamat. Mereka yang kalah cepat dengan tsunami maka akan terbawa air bah itu. Tak mengherankan jika korban jiwa meninggal amat banyak.

Kejadian ini harus dipetik pelajarannya. Ketiadaan sistem peringatan dini bencana dan jalur evakuasi serta tempat pengungsian yang siap dan memadai telah membuat banyak jiwa melayang.

Hidup di wilayah bencana membuat kita tak mungkin bisa mengelak dari ancaman bencana. Namun kita bisa berdamai dengan bencana yaitu dengan berupaya meminimalkan dampak yang timbul akibat bencana seperti menekan jumlah korban jiwa. Hal ini dituturkan oleh Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Humas BNPB.

Upaya meminimalkan dampak bencana bisa dilakukan dengan mitigasi bencana. Meliputi pembangunan fisik, penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, seperti disebut dalam Pasal 1 Ayat 6 PP. No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

Beberapa hal yang dilakukan dalam mitigasi bencana adalah adanya pengenalan resiko bencana, peringatan dini terhadap datangnya bencana serta penanganan saat dan setelah bencana terjadi.

Berguru Pada Nenek Moyang

Pengenalan resiko bencana dan sistem peringatan dini bencana harus melibatkan seluruh masyarakat. Tujuannya agar jatuhnya korban jiwa bisa ditekan sesedikit mungkin.

Untuk hal yang satu ini kita bisa belajar dari nenek moyang. Kultur smong di Simeulue terbukti efektif sebagai peringatan dini bencana dan upaya penyelamatan diri.

Apakah hanya kultur smong yang ada sebagai kearifan lokal?. Tidak, di wilayah lain juga ada kearifan lokal dalam menghadapi bencana. Masyarakat Jogyakarta, mengenal Janji Merapi, yang akan mengingatkan masyarakat di sekitar Merapi agar waspada jika gunung itu sewaktu-waktu meletus.

Masyarakat pesisir Maluku Utara mengenali gejala alam berupa naiknya ikan-ikan dalam jumlah besar di perairan. Fenomena ini diyakini sebagai tanda datangnya gempa.

Masyarakat Dayak meyakini munculnya bintang-bintang tertentu secara periodik merupakan pertanda air pasang maupun surut. Masyarakat sekitar Merapi mengenal tanda gunung itu akan meletus ketika harimau dan kera mulai turun ke perkampungan.

Masih banyak kearifan lokal yang dimiliki masyarakat di wilayah lain. Kearifan lokal dalam menghadapi bencana sebaiknya disepakati sebagai cara dini mendeteksi bencana.

Menurut Mantan Kepala Badan Geologi PVMBG, Surono, kearifan lokal bisa menjadi kekuatan tangguh dalam menghadapi bencana.

Belajar Pada  Kultur Smong

Hidup ditengah-tengah teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat kadang membuat kita ragu akan kebenaran pengetahuan yang dimiliki nenek moyang.

Tidak up to date, susah ditentukan parameternya, cuma dongeng, beberapa alasan menolak keberadaan kearifan lokal. Namun, faktanya di Simeulue, kearifan lokal justru menyelamatkan banyak jiwa manusia ketika bencana gempa dan tsunami datang.

Metode smong sederhana, berupa pesan dalam bentuk syair, didendangkan kepada anak-anak, dilakukan secara berulang-ulang, kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebuah pesan jika disampaikan terus menerus dengan cara yang mudah dan menyenangkan seperti bersyair itu akan lebih mudah lekat di ingatan. Jika sudah lekat di ingatan ketika bencana datang maka ingatan itu seperti komando otomatis untuk segera menyelamatkan diri.

Keberadaan kultur smong dan perannya dalam menghadapi bencana telah menarik perhatian seorang peneliti dari Rikko University, Yokohama, Jepang yang bernama Yoko Takafu. Hasil penelitian tersebut akan digunakan sebagai referensi bagi Jepang dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami.

Negara Jepang yang telah memiliki teknologi canggih untuk mendeteksi gempa dan tsunami tertarik dengan dengan kultur smong yang sederhana. Mengapa kita sebagai bangsa yang kaya akan kearifan lokal tidak melakukan hal serupa.

Setiap wilayah memiliki potensi bencana berbeda. Kearifan lokal yang hidup di masing-masing daerah tentunya menyesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Tepat kiranya langkah menghidupkan kembali kearifan lokal di masing-masing wilayah.

Kearifan lokal dikemas sesederhana mungkin, bisa dalam bentuk pantun, syair, ataupun nyanyian. Disesuaikan dengan kultur setempat.

Jawa dikenal dengan geguritan dan mocopat, ini bisa digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan kebencanaan. Di wilayah Sumatera, masyarakat akrab dengan pantun, maka pantun bisa digunakan pula sebagai media penyampai pesan.

Berdamai dengan bencana bisa dilakukan dengan memadukan pengetahuan masa lampau dan pengetahuan masa kini. Bencana tak lagi menjadi musuh namun ia layaknya tamu yang berkunjung sewaktu-waktu.

Ketika ia datang, sebagai tuan rumah kita akan memberikan yang kita miliki untuk menjamunya. Tentu tamu tak selamanya tinggal. Ia akan pulang. Saat itu tuan rumah bisa kembali ke kehidupan seperti sebelumnya. Seperti halnya jika bencana berakhir maka kita akan kembali hidup normal.

Tulisan diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kebencanaan Memperingati 10 Tahun Tsunami Aceh, ‘Berdamai dengan Bencana’.

banner-lomba

Sumber:

http://www.tdmrc.org/id/tdmrc-unsyiah-dorong-ntb-kembangkan-pengetahuan-asli-dan-lokal-untuk-adaptasi-bencana.jsp
http://www.academia.edu/5924641/Kearifan_Lokal_Dalam_Penanganan_Bencana
http://chirpstory.com/li/41968
http://green.kompasiana.com/iklim/2012/04/11/sahabat-tsunami-smong-simeulue-449086.html
http://m.kompasiana.com/post/read/620905/1/smong-kearifan-lokal-masyarakat-simeulue-menghadapi-tsunami.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Simeulue
http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/belajar-dari-gempa-aceh/19122
Indonesia Negara Paling Rawan Bencana Alam
http://nasional.sindonews.com/read/835995/19/ancaman-di-negeri-cincin-api
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/08/110810_indonesia_tsunami.shtml
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=270894:peneliti-jepang-teliti-legenda-smong-di-simeulue&catid=13:aceh&Itemid=26
http://regional.kompas.com/read/2012/04/13/04051023/Warga.Simeulue.Berdamai.dengan.Tsunami
http://piba.tdmrc.org/content/mitigasi
http://microsite.metrotvnews.com/metronews/read/2013/06/13/3/161257/Kearifan-Lokal-Senjata-Tangguh-Hadapi-Bencana
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Drs.%20Hiryanto,%20M.Si./Artikel%20Identifikasi%20Kearifan%20lokal.pdf
http://oase.kompas.com/read/2012/05/26/06490731/TSUNAMI.HIKAYAT.SMONG.PENJAGA.HAYAT

3 Replies to “Kearifan Lokal : Cara Berdamai Dengan Bencana”

  1. semoga sukses mba kontesnya 🙂

    1. Amin,terimakasih Mba Rina

  2. Tak komen ah. Yang paling mengena dari postingan ini adalah paragraf pembukanya. Membawa pembaca terhanyut dalam dongeng. Macam sedang nonton film kolosal. Hehe

Leave a Reply