Perayaan HUT RI Dalam Catatan

Setiap tahun HUT RI diselenggarakan, tiap perayaan diramaikan dengan aneka kegiatan, seperti jalan sehat, lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, balap karung, tarik tambang dan banyak kegiatan lainnya.

Tak ketinggalan adalah hiburan musik dangdut menghiasi setiap acara. Apa yang salah dari menyetel musik dangdut di sebuah perayaan HUT RI?.  Bukankah ini membuat kegiatan semakin asyik dan menarik?.

Hm, bagi orang dewasa, bernyanyi dan berjoged dangdut sepertinya tak masalah. Tapi, jika itu  dilakukan oleh anak-anak sementara syair lagunya adalah syair dewasa, bagaimana menurut teman-teman?.

Anak-anak, disuruh maju berjoged dangdut dan yang paling bagus jogednya dapat hadiah. Sementara orang dewasa menyaksikan sambil tertawa, bahkan ada yang bangga karena anaknya tampil bernyanyi dangdut dengan joged asoy mirip penyanyi dangdut ibukota. Lagu yang dinyanyikan pun lagu dewasa.

Dalam acara malam tirakatan juga demikian. Tak sedikit dari orang dewasa itu berprofesi sebagai guru. Justru turut mendukung anak-anak itu berjoged.

Hari Minggu yang lalu saya menghadiri kopdar bersama teman-teman IIDN di sebuah rumah makan. Bersamaan dengan acara kami, ada sebuah paguyuban orangtua murid mengadakan acara halal bihalal. Hiburan yang ditampilkan juga menyajikan musik dangdut dan aneka goyangan.

Lagi-lagi anak-anak menjadi objek hiburan. Mereka disuruh tampil, dan menerima saweran. Acara ini dihadiri oleh para orangtua dan guru kelas mereka lho. Tepok jidat deh, anak-anak goyang oplosan bersama.

Sepertinya lagu anak-anak tidak lagi menarik buat mereka, sedih. Saya hanya bisa geleng kepala. Padahal bisa dipilih lagu perjuangan saja sebagai musik penghibur. Ini lebih tepat dengan momen perayaan HUT RI. Atau lagu religi dan lagu anak-anak untuk acara halal bi halal.

Syairnya juga bisa membangkitkan semangat kemerdekaan daripada lagu dangdut jaman sekarang yang seringkali syairnya nggak ada manfaatnya untuk didengar.

Coba kalau musik dangdut Roma Irama, syairnya bagus, mengajak pada kebaikan dan nggak perlu goyang sampai heboh untuk berjoged dengan musiknya Bung Roma.

Beratnya jadi orangtua itu ketika nilai-nilai yang ditanamkan di rumah tabrakan dengan nilai yang ada di luar. Ketika masyarakat sekitar menganggap wajar saja jika anak-anak goyang oplosan, goyang itik, joged cinta satu malam dll, bisa apa saya?.

Nggak tega melihat wajah polos anak-anak tiba-tiba jadi bermimik dewasa sambil goyang seperti orang dewasa. Ayolah, biarkan mereka menikmati masa anak-anak yang ceria melalui aktifitas yang sesuai untuk usia mereka.

 

4 Replies to “Perayaan HUT RI Dalam Catatan”

  1. Kemarin pas lomba 17an anak-anak disuruh joget pakai lagi macem buka titik joss jadi elus dada

    1. Tuh kan, ini fenomena di banyak tempat. Prihatin ya Mak Ika..

  2. Di Desa saya no joged2 dong. Kecuali lomba joged balon dg backsound lagu2 daerah.

    Acara2 agustusan di desa itu kan sebenernya kesepakatan, Mba. Pastu udah dirundingkan dulu sblm acara digelar. Iya kaaaan? 😀

    1. Nggak tahu soal kesepakatan Idah, saya bukan panitia.
      Lagu banyumasan ya? hahaha, mestine rame lan gayeng banget ya

Leave a Reply