Sego Wiwit : Tradisi Hidangan Para Petani

Indonesia dikenal kaya akan masakan tradisional. Sego Wiwit adalah salah satunya. Menu yang satu ini belum lama Saya kenal namanya. Setelah mencoba memesannya di sebuah restoran, ternyata menu Sego Wiwit terdiri dari beberapa item yang sudah akrab di lidah Saya. 

Wilayah Indonesia memiliki area pertanian yang luas. Fakta sebagai wilayah agraris telah mempengaruhi budaya masyarakatnya. Salah satu diantaranya tradisi makan Sego Wiwit.

Tradisi Sego Wiwit ini  dikenal di beberapa wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogyakarta dan Jawa Timur. Ada  yang menyebut tradisi makan Sego Wiwit itu dilakukan saat akan memulai menanam padi. Di tempat yang berbeda Sego Wiwit dilakukan saat memulai panen padi.

Sego Wiwit berasal dari Bahasa Jawa, terdiri dari kata “sego” yang artinya nasi dan “wiwit” atau “miwiti” yang berarti memulai. Biasanya sebelum masa tanam atau ditempat lain sebelum masa panen dilaksanakan, para petani akan menandainya dengan makan Sego Wiwit bersama-sama

Tradisi Sego Wiwit ini dimaksudkan sebagai doa dan rasa syukur kepada Tuhan atas dimulainya masa tanam maupun masa panen padi. Sebelum makan biasanya didahului dengan doa bersama.

Petani tentu berharap jika padi yang mereka tanam akan menghasilkan panen yang melimpah. Mereka juga berharap agar hasil melimpah itu akan membawa berkah bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Relijiusitas merupakan salah satu sifat dari masyarakat Indonesia. Dalam setiap tindakan, selalu menyertakan Tuhan. Begitupula dalam tradisi sebelum menanam dan ketika panen padi.

Pada awalnya, tradisi ini memang dipersembahkan kepada Dewi Sri, sang Dewi Padi/Kesuburan. Namun, ketika Islam masuk ke tanah Jawa tradisi itu mengalami perubahan. Tradisi Sego Wiwit bukan lagi sarana untuk mempersembahkan sesaji namun untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan YME.

Sego Wiwit yang biasa dimakan para petani biasanya terdiri dari nasi putih, gudangan (urap), telur rebus, pelas, ikan asin kadang ada yang menambahkan kedelai yang sudah ditumbuk.

Sementara itu Sego Wiwit yang Saya nikmati di restoran itu terdiri dari nasi putih, gudangan (urap), tempe goreng yang dipotong kecil-kecil, telur rebus, kedelai tumbuk dan ikan asin (gereh). Sedikit berbeda ya.

Sebuah menu sederhana yang sudah akrab di lidah. Saya sudah biasa makan sego gudangan (nasi urap) tapi biasanya menunya pakai rempeyek. Ketika makan Sego Wiwit ada sensasi rasa yang lebih kaya karena ada tempe, telur dan ikan asin.

Jika melihat paduan menunya bisa dibayangkan bukan rasa Sego Wiwit?.  Rasa gurih, manis dan pedas bumbu urap berpadu dengan gurih dan kriuknya ikan asin itu pas. Tidak terlalu asin karena dipadu dengan telur rebus dan tempe goreng yang minim bumbu.

Nah, karena makannya di restoran tentu saja ada tambahan menu bisa dipilih untuk makan Sego Wiwit. Ada yang digoreng dan dibakar seperti ayam dan ikan. Hidangan laut seperti udang dan cumi bisa juga jadi pilihan. Makan Sego Wiwit jadi lebih kaya rasa.

Makan Sego Wiwit membuat Saya jadi tambah yakin jika masakan tradisional itu nggak kalah nikmat dengan masakan modern. Tampilan boleh sederhana tapi lidah selalu mencari yang nikmat kok.

Dua jempol deh, buat restoran yang menjual menu sederhana ini. Sebuah upaya turut melestarikan masakan tradisional. Sego Wiwit tak hanya soal masakan semata tapi juga soal tradisi bersyukur. Melestarikan Sego Wiwit berarti juga melestarikan tradisi bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa.

18 Replies to “Sego Wiwit : Tradisi Hidangan Para Petani”

  1. ya ampun. Kayaknya enak :-9

    1. Nikmat Mak Carra… di Jogya juga ada tuh restonya..

  2. sepertinya sego wiwit ini sangat nikmat untuk di coba *belum pernah 🙂
    Kuliner Indonesia memang beragam ya.

    1. Betul Mba Salma, buat lidah Indonesia seperti saya, sego wiwit itu enak.

  3. Ternyata menyantap makanan Sego Wiwit ini ada filosofinya yah mba 🙂

    Dan terlihat menggiurkan sekali nih mba, aku jadi ngiler 🙂

    1. Betul Bibi Titi, ciri khas masyarakat Indonesia.
      Ayo ke Jogya lagi, nanti kita makan bareng spt kala itu..

  4. @ZakiaNurhadi says: Reply

    Jadi lebih tahu tentang tradisi masyarakat tsb mak…

    Kebetulan baru 3 tahunan kami tinggal di daerah yang cukup banyak area persawahannya. Biasanya saat musim tanam dan panen, khadimat di rumah minta ijin tidak masuk karena masak-masak untuk orang2 di sawah. Mungkin seperti ini maksudnya ya 🙂

    1. Saya juga baru tahu Mba Zakiah, setelah makan di resto itu.
      Sama dong Mba, rumahku juga deket area persawahan..

  5. Uti doakan menang biar bisa bancakan di sego wiwit lagi ya..

    1. Amin, makasih banyak Uti.
      Sampai ketemu lagi dibulan Oktober ya..

  6. Ika Koentjoro says: Reply

    Waktu aku kecil dulu sego wiwit dibaginya di sawah mbak. Dulu setiap melihat simbok2 bawa bakul ke sawah di sore hari selalu di serbu anak-anak. Mesti mau bagi sego wiwit. Kenangan masa lalu yang tak mungkin terulang lagi mengingat lahan sudah berubah jadi perumahan 🙁

    1. Wah, Mba Ika beruntung memiliki kenangan tentang sego wiwit. Kenangan yang indah ya Mba.
      Bisa tuh makan sego wiwit di restonya, meski tak sama, lumayanlah buat mengenang masa lalu.

  7. Nikmat sekali dinikmati ketika setelah miwiti nih, di sawah. 😀

    Btw, ditempat sayabsekarang udah ganti pake nasi gurih, Mba. Ada combrangnya.

    1. Huwaaa, kok pada kenal sego wiwit ya,aku baru kenal Idah.
      Sego gurih juga nikmat kok, asal makan bareng menu apapun terasa nikmat.

  8. Penasaran karena belum pernah nyoba…beruntung kemarin nemu di pasar kangen jogja… 🙂

    1. Saya juga baru sekali makan Mas Andana, di sebuah resto di solo.

  9. Oooh gitu ceritanya sego wiwit. Pertama makan di event klaten itu. Trus beli lagi di pasar kangen jogja. Enak

    1. Iya Mak Lusi, saya juga baru tahu ada filosofinya…syukurlah kalau masih mudah didapat..

Leave a Reply