Kegeden Empyak Kurang Cagak

Adakah manusia yang terbebas dari keinginan?. Saya yakin tidak ada manusia yang tidak memiliki keinginan. Yang ada keinginan dalam diri manusia itu banyak dan macam-macam pula. Ngaku deh! . Selama keinginan tersebut sebanding dangan usaha mencapai nya sih tidak masalah. Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?.

Peristiwanya sih sudah dua tahun berlalu, menuliskannya membuat Saya selalu diingatkan akan agar berhati-hati dalam mengelola keinginan.

*********

Hari masih pagi ketika tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Sesaat kemudian Saya pun membuka pintu. Seorang tetangga datang bertamu, sebut saja namanya Mba Seri. Seorang Ibu dengan dua orang putri. Mba Seri tutur katanya halus, sumeh (murah senyum) dan grapyak (mudah akrab), termasuk kepada tetangga baru seperti Saya.

Mba Seri datang dengan wajah yang diliputi kecemasan. Tiba-tiba beliau bicara dengan nada memelas.

“Mba, aku mau minta tolong! “

“Minta tolong apa Mba?” Saya iba melihatnya.

“Aku mau pinjem uang, buat berobat anakku!”

“Memang sakit apa Mba? “

“Kanker payudara, butuh uang buat nebus obat! ” Hati Saya tambah trenyuh mendengar hal ini.

“Nanti Jumat aku kembalikan, nunggu Bapakke transfer Mba!”

Uang yang dipinjamnya bukan jumlah yang sedikit buat ukuran Saya. Besarnya setara dengan honor 4 kali menulis resensi di salah satu media. Tidak dipinjami nggak tega tapi dipinjami Saya juga butuh sebenarnya.

Saya iba melihat anak gadis Mba Seri terkena kanker payudara. Setahu Saya ini penyakit mengerikan. Sudah dua kali Saya melihat bagaimana perjuangan penderita kanker payudara untuk bisa sembuh, dan itu berat sekali. Akhirnya, Saya pun meluluskan permintaan Mba Seri. Saya paham, namanya orang hidup pasti ada saatnya kepepet. Kalau kepepet, wajarlah kalau minta tolongnya sama tetangga.

Hari-hari berlalu, sudah memasuki Jumat kelima, Mba Seri tak kunjung menepati janjinya, mengembalikan uang yang dipinjamnya. Saya lihat anak gadisnya pulang ke rumah dalam kondisi sehat. Selama ini, anak tersebut tinggal di kost. Hanya sesekali pulang ke rumah.

Melihat kondisi yang baik ini, Saya pun memberanikan diri menagih karena Saya butuh uang itu. Bukannnya mendapatkan uang kembali, Saya harus gigit jari karena Mba Seri mengaku belum punya uang. Saya mencoba baik sangka padanya.

Sudah 3 bulan, Mba Seri tak jua membayar hutangnya. Hingga suatu saat, seorang tetangga bertanya pada Saya. Apa benar, Saya punya hutang sama Mba Seri. Saya kaget bukan kepalang karena jumlah hutang, yang katanya hutang Saya, jumlahnya sama dengan hutang Mba Seri pada Saya.

Ada apa ini? hati Saya pun bertanya-tanya, mengapa jadi Saya yang disebut punya hutang sama Mba Seri. Saya pun mulai mencium ketidakberesan dalam diri Mba Seri. Seorang tetangga yang dikenal grapyak, sumeh, cantik pula, tutur katanya halus ternyata….argh.

Satu persatu tabir mulai terkuak, seperti apa sosok Mba Seri yang sesungguhnya. Tidak hanya Saya yang menjadi korbannya, beberapa tetangga lain juga bernasib sama. Uangnya belum dikembalikan oleh Mba Seri.

Hidup Mba Seri memang terlihat menyenangkan, punya rumah dengan perabotan lengkap dan bagus. Laptop dan gadget terbaru pun dimilikinya. Motor ada beberapa buah yang menurut pengakuannya disewakan. Seringkali makan di restoran yang mahal. Terlihat menyenangkan dan tanpa masalah.

Suatu ketika, Mba Seri pun tak pernah kelihatan pulang ke rumah, entah pergi kemana. Hari-hari saat itu, banyak orang mencarinya. Beberapa diantaranya, mampir ke rumah Saya dan menanyakan Mba Seri ada dimana kok tidak pulang-pulang. Maklum, Mba Seri itu tetangga depan rumah, jadi wajarlah Saya yang  jadi rujukan para tamunya.

Dari mereka yang datang, Saya jadi tahu banyak tentang tabiat Mba Seri. Mereka datang untuk menagih hutang. Jumlah yang fantastis buat Saya, ada yang 12 juta, 20 juta, motor bahkan mobil. Ada pula yang datang mau mengambil kursi tamu yang nunggak cicilannya.

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Jadi selama ini untuk menyuport gaya hidupnya yang menyenangkan itu Mba Seri hutang sana-sini. Gali lubang tutup lubang. Ketika lubang yang harus ditutup terlalu banyak sementara tidak ada yang buat menutupnya maka dia memilih melarikan diri. Usut punya usut ternyata gaya hidup seperti ini sudah menjadi kebiasaan. Di tempat tinggalnya yang lama pun Mba Seri demikian adanya. Kemudian pindah ke tempat baru, mencari sasaran baru.

Tentu saja untuk memuluskan usahanya, bohong itu hal biasa. Rumah yang ditempatinya ternyata bukan miliknya seperti pengakuannya pada Saya. Anak gadisnya juga ternyata tidak sakit kanker payudara. Motornya yang ada beberapa itu juga bukan milik Mba Seri. Hadeeh, banyak lagi kebohongan lainnya.

*****

Peristiwa ini mengingatkan Saya pada pepatah Jawa “kegeden empyak kurang cagak”. Empyak diartikan sebagai atap sedangkan cagak artinya tiang. Sebuah atap agar bisa berfungsi tentu memerlukan cagak atau tiang. Jika atapnya terlalu berat sementara tiangnya kecil maka akibatnya akan roboh. Tiangnya tidak kuat menahan atap yang berat tersebut.

Sama halnya dengan manusia, yang punya banyak keinginan namun usahanya untuk mencapai keinginan tersebut tidak sepadan. Contohnya kisah di atas. Seharusnya kan, jika punya keinginan memiliki barang harus melihat kemampuan ekonomi. Melihat apakah pendapatannya akan bisa mengkover keinginannya atau tidak.

Jika tidak, silahkan saja tetap memiliki keinginan, dan berusaha meraihnya. Bisa dengan menabung sedikit demi sedikit sampai terkumpul dalam jumlah yang diinginkan atau bisa juga dengan bekerja agar pendapatan bisa bertambah sehingga bisa membeli keinginannya, bukan dengan cara menipu sana-sini. Jika yang dilakukan adalah seperti yang dilakukan Mba Seri maka yang ada kerugian berlipat-lipat seperti nama baik yang hilang dan meninggalkan banyak hutang.

Saya dan teman-teman pasti juga punya banyak keinginan. Sudah punya motor kemudian punya cita-cita bisa punya mobil. Sudah memiliki gadget canggih masih juga kepengin dengan gadget lain yang lebih canggih. Sudah punya rumah, tetap punya keinginan suatu hari bisa beli rumah lagi untuk investasi. Ya, begitulah manusia. Wajar? wajar dong namanya juga hidup.

Hidup itu harus punya keinginan, punya cita-cita. Jika ingin tercapai cita-citanya maka lakukanlah usaha yang seimbang dan benar supaya tidak seperti pepatah kegeden empyak kurang cagak. Keinginannya macam-macam tapi usahanya tidak seimbang, ujung-ujungnya ya gagal. Tak hanya itu, alih-alih bahagia bisa mencapai keinginan, jika salah jalan dalam berusaha meraih keinginan, maka itu akan menjadi bumerang dalam hidup kita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati

 

13 Replies to “Kegeden Empyak Kurang Cagak”

  1. Memang harus dibedakan ya mbak..antara keinginan dan kebutuhan. Jika keinginan yang terus dituruti ya..hasilnya seperti itu.

    1. Iya Mba Nurul..pelajaran buat saya…untuk bisa mengelola keinginan

  2. Terima kasih sudah bertartisipasi. Mohon mengemail file dalam bentuk Ms Word agar kami bisa menghitung jumlaha kata postingan ini. Salam.

    1. Sudah dikirim ya naskahnya. Terimakasih

  3. […] Ety Abdoel, Kegeden Empyak Kurang Cagak […]

  4. Kalo diturutin terus ga ada habisnya ya, harus direm….

    1. Betu Mas Adi…rem harus makan, kalo blong sama saja ujungnya, hehehe

  5. Kalau tidak pandai2 bersyukur, Empyak bisa makin lebar saja ya, Mba. Sedangkan cagaknya blm tau biaa kuat apa ora nyagake. Hehee

    Semoga kamu diberi tambahan rezeki ya, Mba. Sudah bantu2 tetangga. Meski tetangganya–hehehe

    1. Betuuul Idaaaah.
      Hahaha, itu judulnya ketipuuuuu jeeeeng.

  6. Orang yang hoby utang itu suka traveling, maklum takut pulang kerumah karena banyak yang nagih hutang.
    Semoga berjaya dalam Lomba
    Salam hangat dari Surabaya

    1. Hehehe, begitu ya Pakde, ampuuuuun deh.
      Amin.Salam hangat dari Karanganyar

  7. […] Kegeden Empyak Kurang Cagak karya Ety Abdoel berhak mendapatkan Suvenir khas bogor + buku […]

    1. Horeee, alhamdulilah dapat buku dan suvenir..

Leave a Reply