Dimuat di “Buah Hati” Republika, Membangun Rasa Percaya Diri

DSC_04961Lama sudah tidak pernah mengirim tulisan ke rubrik Buah Hati di koran Republika. Sekitar dua tahunan. Akhirnya pertengahan Desember, saya coba menulis lagi untuk rubrik tersebut. Tulisan saya kirim tanggal 18 Desember 2014 dan akhirnya dimuat pada tanggal 30 Desember 2014.

Kalau tulisan yang pertama dulu bercerita tentang anak pertama saya maka kali ini anak kedua yang saya ceritakan. Temanya tentang percaya diri. Idenya berawal dari kondisi anak kedua saya yang pemalu dan tidak percaya diri.

Dalam tulisan itu saya ceritan kondisi anak saya dan upaya yang saya lakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Mengapa? karena anak kedua saya susah berpisah dari saya bahkan untuk sekolah harus ditunggu didalam kelas. Dia tidak bicara jika tidak ditanya dan suaranya itu lho, lirih. Nyaris tak terdengar.

Hal ini menurut saya tidak boleh dibiarkan. Kawatir ini akan menghambatnya dalam menerima pelajaran maupun dalam pergaulan.Β Prinsip saya rasa malu itu harus ada tapi harus muncul pada saat yang tepat. Inilah yang coba saya latih pada anak kedua saya.

Berikut ini tulisan yang berjudul “Membangun Rasa Percaya Diri”

Memiliki anak pemalu itu sempat membuat saya kawatir. Bagaimana tidak? Saat banyak anak lain bergembira bermain, anak saya hanya melihat dari kejauhan. Hari pertama masuk sekolah, anak lain langsung bisa beradaptasi, anak saya masih harus ditemani di dalam kelas. Jika ada yang bertanya, pasti dia menjawabnya dengan suara lirih, nyaris tak terdengar. Zahira memang membutuhkan usaha dan waktu adaptasi lebih lama dibandingkan anak lainnya ketika berada di lingkungan yang baru.

Saya bertekad akan berusaha agar rasa malu pada diri Zahira berkurang. Semua ini dilakukan agar Zahira memiliki rasa percaya diri. Bukan berarti menghilangkan rasa malu sama sekali. Pada kondisi tertentu, rasa malu tetap dibutuhkan. Saya ingin agar Zahira bisa memunculkan rasa malu pada saat yang tepat.

Upaya itu dimulai dengan memberi pemahaman bahwa kita harus punya rasa malu tapi itu untuk hal yang dilarang Alloh seperti membuka aurat. Zahira kan berpakaian lengkap, rapi dan bersih jadi Zahira tidak boleh malu, begitu kata saya.

Saya paham, upaya ini harus dilakukan dengan sabar, tidak boleh terburu-buru apalagi dengan paksaan. Ketika awal sekolah Zahira masih minta ditemani di dalam kelas, saya menurutinya. Sembari pelan-pelan saya menjauh, awalnya di dalam kelas, kemudian di depan pintu kelas hingga akhirnya saya hanya perlu mengantar dan menjemput saja.

Ketika di rumah, saya mengajaknya untuk bergaul dengan banyak teman. Awalnya dia tidak berani ngobrol. Hanya bicara jika ada temannya yang bertanya, itupun pendek saja jawabnya. Perlahan-lahan Zahira mulai mau ngobrol, suara mulai terdengar sewaktu bermain.

Jika dulu temannya yang selalu menjemput untuk bermain, sekarang Zahira sudah berani mengajak temannya bermain. Zahira pun sekarang kerap memberi ide bermain pada teman-temannya. Kemajuan yang melegakan buat saya.

Secara periodik saya memantau perkembangan Zahira di kelas. Berkat bantuan guru-gurunya, Zahira sekarang lebih percaya diri. Dia bisa bersuara keras ketika di kelas, bersedia tampil di depan kelas, dan dia pun mau memimpin teman-temannya berbaris.

Apresiasi senantiasa saya berikan ketika Zahira membuat kemajuan. Dari hal yang paling sederhana seperti memberikan dua jempol atau pelukan hangat sampai hadiah kecil. Saya berharap dengan ini membuatnya merasa dihargai dan bertambah semangat untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Bahagia rasanya melihat upaya saya selama ini membuahkan hasil. Zahira beberapa kali menari dalam acara-acara pentas sekolah. Dia juga kerap ditunjuk mewakili sekolahnya untuk mengikuti berbagai perlombaan beregu. Baru-baru ini Zahira dan timnya berhasil meraih juara dua.

Alhamdulilah, akhirnya Zahira semakin percaya diri sekarang. Bukan piala sebetulnya yang menjadi tujuan saya. Keberhasilan Zahira dalam mengelola rasa malu dan akhirnya membuat dia memiliki percaya diri itulah keberhasilan sesungguhnya.

Nah, bagi teman-teman yang ingin mengirimkan tulisan ke Buah Hati, bisa mengirimkan ke leisure.rol@republika.co.id. Tulisan yang diminta adalah sepanjang 2500 karakter atau kurang lebih sebanyak 300 kata. Sertakan pula foto dan data pribadi seperti alamat, no hp dan no rekening.

Selamat MenulisΒ http-signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

52 Replies to “Dimuat di “Buah Hati” Republika, Membangun Rasa Percaya Diri”

  1. Selamat ya Jeng
    Saya pernah menulis artikel untuk Republika tak nggak dimuat.
    Mau nyoba lagi ach
    Salam hangat dari Surabaya

    1. Terimakasih Pakde.
      Coba tulis dan kirim lagi Pakde. Semoga bisa dimuat.
      Salam dari Karanganyar

  2. Wah Nailah juga pemalu mba, aku mau coba tipsnya, makasih yaa..selamat sudah dimuat πŸ™‚

    1. Silakan Mba Dedew, semoga bisa membantu Nailah.

  3. Iiih, seneng banget bisa mejeng di koran. Aku pingiiin.

    Selamat ya, mbak! πŸ™‚

    1. Makasih adik Idah Ceris sayang..

  4. Sudah sampai korannya, Mbak?

    1. Sudah, tempo hari saya sms mba Haya. Makasih

  5. Jadi kangen tulisannya dimuat di surat kabar,, mau kirim juga aahh…

    HR e piro mbk?

    1. Ayo nulis lagi Noorma, honornya nanti kubisikan lewat bbm yo

  6. Keren mak. Makasih sdh berbagi info ttg cara kirim tulisan di republikan n sdh berbagi tips membangun percaya diri anak. Sukses y mak.

    1. Sama-sama Mak Inda. Semoga bermanfaaat.

  7. Wah…. bagus tulisannya. Mencerahkan. Saya juga mau coba menulis ah….

    1. Terimakasih Mba Memez. Silakan dicoba,sekali dimuat bisa ketagihan lho.

  8. Selamat mbak… Terimakasih sharenya.. jadi pingin coba juga πŸ™‚

    1. Terimakasih Mba Haya. Silahkan dicoba.

  9. Thank you infonya Mbak. Walau masih bingung mau nulis tentang apa, tapi pengen juga nyoba-nyoba πŸ˜€

    1. Sama-sama mba Heni.
      Coba aja mba, pilih yang paling berkesan juga bisa.

  10. Wah, siiippp bgt infonya…ikut nyoba ah, saya blm pernah nulis utk dimuat di koran. Makasih infonya mak…

    1. Silakan Mba Diti. Sama-sama, kembali kasih

  11. Apa semua anak pertama begitu ya mba? anak pertama saya juga gitu, awalnya pemalu, padahal dia laki2. Tp setelah sekolah lama2 ngga sih..kalo anak kedua justru ngga terlalu.. Apa karena anak pertama itu belum banyak teman di rumah ya jadi keluar rumah jd malu2 gitu?? pikiran saya aja sih

    1. Entah Mba Kania, btw Zahira anak kedua saya. Ada salah tulis di artikelnya.
      Kalau kakaknya Zahira lebih mandiri. Sejak Tk berangkat dan pulang sekolah pakai antar-jemput karena waktu itu ahira masih bayi.
      Ternyata ya lebih mandiri dan berani.

  12. Salam peluk buat Zahira, guru-guru dan Mba Ety. Pengalaman Zahira mengingatkan masa kecil Ima yang super pemalu, kalo sekarang mah malu-maluin, hehehee… Oh, ya, terima kasih yah ilmu kirim tulisannya, kayanya mau coba juga, ah πŸ™‚ cetet!

    1. Wah, Mba Ima bisa ajaa.
      Sama-sama mba, monggo nulis, pasti banyak kan cerita tentang anak-anak.

  13. Waaah…makasih sharingnya Mak. Coba ah mana tau bisa lolos πŸ™‚

    1. Sama-sama Mba Lina. Silahkan dicoba

  14. pengalaman yg hampir mirip dgn buah hati saya bun… skrg udh lbh brani dr pd wkt dia tk, tp wlopun skrg msh sd, tnyta msh ada sisa2 pemalunya, walo kadarnya ga tinggi kyk wkt tk dulu, salam kenal :))

    1. Gitu ya Bunda Ristin, ya memang perlu waktu ya. Kitanya harus telaten menstimulasinya agar lebih pede.
      Salam kenal balik

  15. bagus tulisannya mak…., pengen juga tulisannya dimuat, seneng banget kali ya mak………….mudah2an sy jg bs.

    1. Terimaaksih mba merry, coba tulis aja, dan rasakan sensasinya, hehehe.

  16. senengnya pengen juga bisa dimuat………..

    1. IyaMba Merry, silahkan dicoba

  17. Saya suka saya suka. Makasih ya mbak sharingnya. Si kecil saya sama kayak mbak Zahira. Pas banget infonya. Pas juga untuk nulis tentang anak-anak. Maturnuwun mbak Ety…. *Peluk hangat…

    1. Makasih, makasih, makasih Mba Zakiah. Semoga bermanfaat. Peluk balik.

  18. wah, aku pernah kirim. enggak dimuat. mau coba lagi ah. makasih infonya mbak, dan eh, selamat ya. sampai lupa ngasih selamat nya

    1. Coba aja lagi Mba Rebbelina, nggak semua yang saya kirim dimuat lho.
      Makasih

  19. selamat ya mbak, sy juga baru dpt informasi klo tulisan sy dimuat di leisure tgl 9 des. padahal ngirimnya bln oktober πŸ™‚

    1. Selamat Mba Lathifah, kadang harus menunggu agak lama ya.

  20. Wah, selamat ya Mbak, bisa berbagi via republika.

    Saya dulu kecil juga termasuk anak pemalu seperti Zahira, tapi seiring waktu dan mulai banyak berteman, saya belajar berekspresi. Saya melakukan hal-hal yang saya minati seperti latihan menyanyi dan menari. Melakukan aktivitas yg menyenangkan bisa meningkatkan kepercayaan diri. πŸ™‚

    1. Terimakasih Mba Yanet.
      Iya nih Zahira suka saya perbolehkan untuk ikut kegiatan menari. Selain karena dia suka menari, ternyata hal ini mampu sedikit demi sedikit meningkatkan pedenya.

  21. Selamat ya mak…
    Mengenai honor, berapa lama honornya di kirim ke rekg kita setelah pemuatan tulisannya mak?

    1. Terimakasih, biasannya dua mingguan

  22. Selamat ya mbak, ajari aku dong menulis bagus

    1. Aih Mba Lidya, tinggal nulis aja, seperti nulis di blog.

  23. Udah ngirim beberapa kali, tapi gak kemuat atau memang gak dmuat ya hehe… Membaca ini jadi pengen ngirim tulisan lagi.

    Salam hangat dari Balikpapan…

    1. Silakan di coba lagi Mba. Semoga bisa dimuat.

  24. Selamat sebelumnya, mbak :). keren.
    oh iyah, dik Zahira mengingatkan pada diri saya sendiri, mbak. dulu sewaktu kecil dan sampai SMK pun, saya pemalu. jarang berada di luar kelas ketika bel tanda istirahat berbunyi. kadang beli2 jajan masih minta bantuan teman dekat. parah pokoknya, mbak :D. sampai akhirnya saya merasa lebih percaya diri setelah kuliah dan menjadi perantauan di Malang. gak kebayang, kalau saya masih pemalu dan ketergantuan ke orang lain. jadinya semenjak itu mengubah pandangan saya. alhamdulillah, semakin percaya diri.

    1. Terimakasih Mas Richo.
      Hm, pemalu juga rupanya ya. Itulah yang jadi concern saya, kalau pemalunya terlalu kan repot jadinya.
      Mumpung masih TK, jadi saya stimulasi terus. Semoga semakin bertambah umur dia semakin bisa menaruh rasa malu pada tempatnya.
      Makasih sharingnya Mas Richo

  25. wah namanya sama seperti nama tengahnya Selma, Selma Zahira, hehe.. makasih infonya ya mak, mau coba aah πŸ™‚

    1. Wah, bisa samaan ya Bunda Shidqi, silahkan dicoba.

  26. wah panjenengan memang penulis sejati..lama ndak berkunjung ke blognya bu ety nih πŸ™‚ , sehat bu kabarnya?

    1. Waduuh, saya baru sebatas menceritakan kembali saja Pak Adi.
      Alhamdulilah sehat pak
      Semoga panjenengan sekeluarga juga sehat.

Leave a Reply