Belajar Membatik Di Kampung Batik Laweyan

rp_wpid-dsc_06891.jpgSiapa sih yang nggak mengenal batik?. Cikal bakal batik yang ada sekarang adalah batik tulis. Batik yang dibuat dengan cara melukis kain dengan malam (lilin) kemudian mencelupkannya ke dalam pewarna. Meskipun keberadaan batik tulis disaingi oleh batik cap, tak ada salahnya mengenalkan proses membatik pada anak-anak.

Masih tentang perjalanan Zahira dan kawan-kawannya di TK Al Hadi. Setelah belajar mengirim surat, anak-anak kemudian mengunjungi Kampung Laweyan guna belajar membatik. Perajin batik yang dikunjungi adalah Batik Cempaka.

Proses membuat batik tulis membutuhkan waktu yang lama. Selain itu dibutuhkan ketelatenan dalam melukis dengan malam motif yang telah digambar. Untuk anak-anak ini mereka tidak belajar membatik di atas kain melainkan di atas kipas. Selain lebih sederhana, waktu yang dibutuhkan pun lebih singkat. Anak-anak bisa langsung membawa pulang kipas batik buatannya.

seperangkat alat membatik dipersiapkan
seperangkat alat membatik dipersiapkan

Di sana anak-anak dibimbing oleh para pembatik. Untuk memudahkan mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari 6 orang. Setiap kelompok dibimbing oleh seorang pembatik. Satu buah tungku kecil dan wajan kecil untuk mencairkan lilin disediakan untuk tiap kelompok.

Nah, proses membatik kipas dimulai dengan melukis di atas kipas.Motif yang dibuat berbeda-beda, ada motif zig zag vertikal, zig zag horizontal, motif bunga atau yang lainnya. Mereka diberi kebebasan dalam mengerjakannya. Zahira memilih membuat motif zig zag vertikal.

zahira berkreasi dengan canting
zahira berkreasi dengan canting

Setelah selesai melukis dengan malam, proses selanjutnya adalah mewarnai permukaan kipas yang tidak terkena cairan malam tersebut. Pewarnaan dikerjakan dengan menggunakan cutton bad yang dicelupkan ke pewarna kemudian dioles di permukaan kipas. Aslinya sih jika membatik di atas kain maka proses pewarnaan dilakukan dengan mencelupkannya ke dalam pewarna.

proses pewarnaan nih
proses pewarnaan nih

Zahira nampak antusias lho meskipun sesekali keringat bercucuran karena cuaca hari itu sangat panas. Dia bisa melakukannya sendiri hingga selesai. Akhirnya Zahira bisa membawa pulang kipas batik hasil karyanya. Dia pun senang bisa menunjukkan kipas batik tersebut pada Abi dan Kakaknya.

Belajar di luar kelas memang menyenangkan ya?. Lebih santai dan aktifitasnya yang baru buat mereka bersemangat melakukannya. Kalau jadi anak TK, rasanya ingin belajar di luar kelas terus, hehehe.

sampai keringetan nih
sampai keringetan nih

Bagi teman-teman yang ingin putra – putrinya bisa belajar membatik silahkan berkunjung ke Kampung Batik Laweyan ya. Ada banyak tempat perajin batik yang menerima tamu untuk belajar membatik.
image

 

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

12 Replies to “Belajar Membatik Di Kampung Batik Laweyan”

  1. pasti menyenangkan ya Mbak, bisa menghilangkan kejenuhan anak-anak belajar di dalam kelas 🙂

    1. Iya Mba Ninik, pengalaman baru juga jadi anak saya pun antusias.

  2. mau dong di ajari membatik. mbak kemarin2 aku gak bisa komen 🙂

    1. Ayo main ke solo Mba Lidya. Iya mba,kemarin ada gangguan.

  3. Asyik banget ya mbak, kegiatan seperti ini bisa mengasah kreativitas anak.

    1. Iya Mba, saya juga pengen belajar mbatik. Bisa melatih kesabaran qiqiqi

  4. Wah keren mak belajar bikin batik apalagi sama si kecil, pasti seru!
    @guru5seni8

    1. Iya Mak Tya, ayo cobain belajar membatik.

  5. Memang begini seharusnya ya mak. Mengenalkan seni tradisional, mbatik, sejak dini. Tak hanya mendapatkan pengetahuan, jg menanamkan rasa cinta kpd kesenian bangsa sendiri….100 jempol dah.. 🙂

    1. Betul Mba Inda,membatik itu menyenangkan lho.

  6. Jgnkan anak2 mba…aku aja pgn bgt bisa belajar membatik gini..Padahal kampung halaman suami di Solo, dan kita rutin pulang kampung pas lebaran -__-. Tapi seringnya cuma beli batik2nya aja..

    1. Wah, kalo mudik ke Solo harus nyobain mba belajar membatik. Sekalian sama anak-anak.

Leave a Reply