Aksesilibitas Difabel Di Kota Solo, Antara Harapan Dan Kenyataan

Aksesibilitas Difabel

Mengenai kaum difabel, saya jadi teringat peristiwa di tempat kerja suami. Saat itu terjadi kebakaran hebat. Dua orang karyawan terjebak dalam kobaran api. Lalu apa yang terjadi dengan mereka? Mereka mengalami luka bakar serius di wajah dan tangan. Setelah menjalani pengobatan, wajah mereka tak bisa kembali seperti dulu dan salah satu dari mereka, pergelangan tangannya tak bisa ditekuk lagi.

Dilain waktu saya menyaksikan betapa bencana alam, dan kecelakan lalu lintas pun dapat menyebabkan munculnya difabel-difabel baru. Jadi, difabel tak hanya terjadi karena bawaan lahir namun ada hal yang berpotensi mengancam setiap orang menjadi difabel.

Faktanya meskipun jumlah difabel di Indonesia terus bertambah, namun kondisi mereka masih memprihatinkan. Mereka dipandang sebagai orang yang tak bisa apa-apa, menjadi beban maka harus dikasihani. Padahal, jika diberi aksesibilitas yang sama dengan warga normal mereka bisa mandiri dan sukses.

Menjadi difabel akan dipandang jika mampu berprestasi selayaknya orang kebanyakan. Mereka harus menjadi zero to hero person agar bisa dihargai. Padahal sejatinya kita semua setara. Jika saya bisa mendapat akses penuh terhadap fasilitas umum mereka pun seharusnya bisa memiliki aksesibilitas yang sama. Kesetaraan berlaku pada semua bidang kehidupan. Bukan karena mereka berkebutuhan khusus namun karena mereka memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya.

Dengan aksesibilitas yang memadai diharapkan kaum difabel akan mampu mandiri. Mereka bisa menghidupi diri mereka sendiri dengan cara yang bermartabat seperti warga lainnya. Bisa menjadi PNS, karyawan swasta, seniman maupun wirausahawan, yang penting sesuai dengan minat dan kemampuan yang mereka miliki.

Jika ini terjadi, masyarakat kita telah menjadi masyarakat inklusi. Sebuah masyarakat yang mampu menghargai dan menerima perbedaan yang ada diantara mereka serta saling memberi kemudahan antara satu sama lain. Sehingga semua merasa nyaman dan aman.

masyarakat inklusi

Jika mereka masih saja kesulitan untuk memiliki aksesibilitas disemua aspek kehidupan maka selamanya mereka akan jadi beban. Tidak mampu mandiri apalagi mampu memperbaiki taraf kehidupannya.

Disinilah diperlukan sebuah aturan hukum yang akan menjamin hak-hak kesetaraan kaum difabel. Saat ini RUU yang mengatur kesetaraan difabel memang belum usai dibahas di DPR. Kabarnya pembahasan RUU ini telah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Semoga saja cepat dibahas dan disahkan sehingga ada perlindungan hak bagi kaum difabel di negara ini.

Bagaimana Dengan Kota Solo?

Beberapa hari yang lalu, saya sengaja jalan-jalan di seputaran Sudirman hingga Pasar Gede. Jalan? Iya, lah, jalan kaki. Ngapain coba? Saya ingin melihat-lihat aksesibilitas difabel di kota Solo.  Saya dengar, kota ini pada tahun 2014 telah menerima Piagam Kebijakan Inovatif dari Zero Project International selaku penyelenggara nominasi aksesibilitas bagi difabel  yang meliputi bidang transportasi, informasi dan komunikasi. Saya pun ingin tahu lebih jauh tentang aksesibilitas difabel di kota ini.

Kota Solo telah selangkah lebih maju karena telah memiliki peraturan daerah yaitu Perda No 2 Tahun 2008, yang mengatur tentang Kesetaraan Difabel. Didalam Pasal 6 perda tersebut jelas dikatakan bahwa:

“Setiap difabel berhak memperoleh kesempatan yang setara dalam pelayanan publik terkait hidup dan penghidupannya”

Sampai disini saya memahami mengapa Solo termasuk dalam 15 kota di dunia yang ramah bagi kaum difabel. Kota Solo telah memulai langkah positif dengan memiliki perda sebagai bentuk perlindungan hukum dan pengakuan terhadap kaum difabel sebagai bagian dari warga kota yang penting keberadaannya.

Bagaimana kondisi dilapangan? Apakah implementasi perda tersebut telah sesuai dengan tujuannya? karena saya yakin, yang dibutuhkan kaum difabel itu lebih dari sekadar aturan hukum namun pelaksanaan dari aturan hukum itu.

Kali ini saya hanya berbicara masalah aksesilibilitas difabel di bidang transportasi. Setidaknya ada beberapa hal yang harus disediakan di setiap fasilitas umum, diantaranya:

sarana aksesibilitas difabel

Mari simak perjalanan saya

Saya berangkat naik Batik Solo Trans (BST) koridor tiga di sebuah shelter BST samping fly over Palur. Menunggu sambil berdiri karena shelternya berupa tangga, tanpa atap dan tempat duduk. BST yang ditunggu datang saya pun naik dengan hati-hati. Mengapa? karena ada jarak antara bus dengan shelter yang lumayan sehingga harus hati-hati agar tak terperosok di sela-selanya.

shelter bst
shelter tanpa atap dan tanpa ramp

Sepanjang perjalanan, saya sempatkan mengamati shelter-shelter BST  yang dilewati. Beberapa ada yang memiliki ramp tapi lebih banyak yang tanpa ramp, bahkan tanpa atap dan tempat duduk. Shelter dengan ramp diantaranya di shelter Jurug, dekat kampus UNS, panggung, balaikota dan gladak.

shelter dengan ramp
shelter gladak

Saya turun di shelter gladak, dan disini terdapat ramp. Perhatian saya kemudian beralih ke trotoar disana sudah ada guiding block yang terpasang di sepanjang trotoar. Perjalanan berlanjut ke shelter di seberang, disini shelternya tidak ada rampnya. Untuk orang normal saja terlalu sempit apalagi kalau sedang ramai. Para difabel pasti sulit jika harus naik secara mandiri di sini.

Saya terus berjalan di sepanjang trotoar, sesampainya di samping Kantor Pos, ada block yang rusak. Ini membahayakan para tunanetra.

guiding block rusak

Di depan gedung Heritage Bank Indonesia, ada guiding block yang terpotong karena sebagian tembok gedung ini ada yang menjorok ke depan. Sayangnya, guiding block tidak dibelokkan mengikuti jalur jalan.

guiding block

Tiba di shelter depan balaikota saya sempat berhenti sejenak. Di sini terdapat ramp tapi ada hal yang menarik perhatian saya di seberang. Saya pun menuju ke seberang dan lihatlah trotoar dipakai untuk parkir dan menaruh besi, jadi menutupi akses guiding block.

Perjalanan saya lanjutkan ke arah Pasar Gede. Ada suasana baru di sana, tak nampak lagi jajaran becak dan sepeda motor parkir di depan pintu masuk. Ada larangan yang tertulis di sana. Dan ada yang menarik perhatian saya yaitu sebuah pamflet edukasi tentang tersedianya blind track atau jalur jalan untuk tunanetra. Di dalam Pasar Gede sendiri juga telah dilengkapi dengan jalur jalan untuk tunanetra dan ramp.

pamflet edukasi

Lalu bagaimana dengan bus yang ada? Bus yang ada belum ramah difabel. Bus yang membawa saya pulang malah bus model lama dengan model tempat duduk berbaris bukan sejajar dan berhadapan. Jadi ini menyulitkan bagi kaum difabel tidak akan bisa secara mandiri menggunakannya.

Solo memang telah memiliki bus khusus difabel yaitu bus Begawan Abiyasa sejumlah dua unit namun bus ini masih kurang memenuhi standar karena ramp kurang landai jadi difabel masih harus didorong ketika naik. Begitupula ketika turun harus dipegangi supaya tidak nggelontor. Bodi bus yang besar juga menyulitkan operasionalnya karena tidak semua jalanan di Solo bisa dilalui.

bus difabel
bus khusus difabel namun ramp kurang landai foto: soloblitz.co.id

Jadi, apakah kota Solo memiliki aksesibilitas yang baik bagi kaum difabel?

Jika menilik apa yang telah saya lihat, kira-kira kota Solo ini sudah aksesibel belum ya?. Sepanjang penglihatan saya sih terlihat ada upaya untuk membuat Solo itu ramah difabel, diantaranya:

  1. Bisa dilihat dari adanya Perda No. 2 Tahun 2008 tentang Kesetaraan Difabel. Upaya ini harus kita apresiasi sebagai hal yang positif.
  2. Ada upaya mewujudkan amanat perda dengan membuat jalur jalan bagi tunanetra (guiding block), ramp dibeberapa fasilitas umum, dan bus yang aksesibel.

Namun ada beberapa hal nih yang harus diperbaiki ke depannya, diantaranya:

  1. Harusnya penyediaan fasilitas seperti ramp dan sebagainya itu ada di semua fasilitas umum, jangan di tempat-tempat tertentu saja.
  2. Perluasan shelter BST dan semua shelter harusnya memiliki ramp.
  3. Bus khusus kaum difabel kabarnya ada dua, namun operasionalnya terbatas. Jika tidak bisa dioperasikan setiap waktu dan terbatas pada wilayah tertentu, ini menyulitkan mobilitas kaum difabel. Lebih baik agar setiap bus yang beroperasi itu aksesibel buat mereka karena tidak semua difabel terkonsentrasi di panti atau yayasan. Diantara mereka ada yang tinggal di kampung-kampung. Mereka ini pasti kesulitan jika harus bepergian sendiri jika tidak semua bus yang beroperasi aksesibel.
  4. Pembuatan fasilitas untuk akses difabel harusnya memenuhi standar, sehingga tidak mubazir atau menyulitkan ketika digunakan serta masih harus membutuhkan orang lain ketika menggunakan fasilitas tersebut.
  5. Ada edukasi ke masyarakat tentang keberadaan fasilitas untuk difabel sehingga nantinya bisa berfungsi sesuai peruntukkannya. Misalnya tidak dijadikan tempat parkir. Edukasi bisa melalui pamlet dan lain-lain, bahkan blog dan social media bisa digunakan sebagai media edukasi.
  6. Ada edukasi pada masyarakat agar berubah cara pandangnya terhadap difabel. Mereka juga memiliki hak yang sama dengan kita jadi jangan lagi ada tatapan sinis atau perlakuan diskrimininatif terhadap mereka. Biasanya difabel baru dipandang setelah berhasil menjadi sesuatu, berhasil dari zero from hero person. Padahal kesetaraan dalam hukum kan tidak mensyaratkan hal tersebut.
  7. Pemeliharaan fasilitas adalah hal yang mutlak agar keberadaannya terpelihara sehingga fungsinya pun maksimal. Jika ada yang rusak maka harus diperbaiki.

Masih banyak ya yang harus diperbaiki. Apa yang saya lihat kemarin memang baru sebagian kecil wilayah di kota Solo. Tapi menurut berita dibeberapa media yang pernah saya baca, di wilayah lainnya juga memiliki kondisi yang tak jauh berbeda.

Jika dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan saya rasa bisa diwujudkan cita-cita Solo ramah difabel. Memang diperlukan kesadaran bersama pemerintah dan masyarakat kota Solo. Apalagi perda itu kan sudah cukup lama ada, perwujudannya tentu harus ada kemajuan setiap tahunnya.

Jika difabel berpotensi menimpa siapa saja maka  upaya menjadikan Solo sebagai kota ramah difabel harus terus dilakukan secara bersama-sama, karena sejatinya kita sedang memikirkan kebutuhan setiap orang.

 http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

24 Replies to “Aksesilibitas Difabel Di Kota Solo, Antara Harapan Dan Kenyataan”

  1. Jujur …
    memang tidak mudah mempersiapkan sarana yang ramah difable …
    tetapi bukan berarti tidak mungkin …
    Semoga saja … tersedia banyak akses yang memudahkan kawan-kawan difable untuk beraktifitas secara mandiri

    salam saya Mbak Ety

    1. Iya Om Nh, memang nggak mudah.
      Tidak boleh sekadar memenuhi syarat juga.
      Aamiin.

      Salam Om, makasih kunjungan nya

  2. semoga ke depannya Solo menjadi kota yang ramah difabel yaa..aamiin…

    1. Aamiin. Semoga Mba Arin.

  3. Semoga semua kota ramah bagi difable ya…, kalo dosen saya hingga kini concern banget sama Deaf..bahkan beliau sampai belajar bisindo supaya bisa mendampingi para deaf. Salut banget….aku jadi pengen cerita tentang beliau

    1. Aamiin.
      Ayo tulis Mba Ika. Semakin banyak yang mengangkat semoga semakin disadari pentingnya masalah ini.

  4. tidak hanya solo semoga di indonesia memberikan sarana yang tepat untuk para difabel, suadh saatnya keberadaan mereka “dianggep” dengan menyediakan sarananya..

    1. Semoga Mba Nova, karena kaum difabel kan tersebar di seluruh Indonesia.

  5. Terbayang sulitnya teman-teman difable jika kota tidak ramah terkait sarana dan prasarana. Nice info dan tulisan, mba. Smoga tulisan ini di baca pemerintah kota dan juga dilakukan oleh pemerintah lainnya. Tulisan yang apik, mba 🙂

    1. Iya Mba, sangat sulit.
      Aamiin , semoga mba Alida.

  6. Semoga di kota lain juga sama, untuk bisa memiliki sarana dan prasarana bagi para difable.

    1. Betul Mba Liswanti, semoga semakin baik ya kesadaran pemerintah dan kita sebagai masyarakat dalam menerima keberadaan mereka.

  7. Semoga nggak hanya Solo yg ramah dg difabel. Semoga seluruh kota di Indonesia menjadi kota yang ramah pada difabel.

    1. Aamiin, mari kita dorong bersama Mba Hidayah.

  8. Di Solo udah lengkap ya bagi mereka ya difabel…pasti mereka yg difabel terbantu sekali…

    1. Lengkap dari jenisnya tapi belum merata juga mba Dwi.

  9. Boro2 di Jogja. Untuk orang tanpa difabel aja nggak layak.

    1. Semoga segera menyusul Mba Lusi.

  10. Oh yg kemarik ada totol-totolnya itu buat penyandang difabel ya, baru tau, sering lihat ditrotoar-trotoar di Surabaya.
    Semoga bukan cuma di Solo aja yg ramah difabel tapi diseluruh kota diIndonesia tercinta ini aamiin

    #kunjunganbalik
    #salamkenal

    1. Iya Mba, itu jalur khusus difabel sebenarnya tapi memang belum secara luas disadari ya.
      Aamiin mba, semoga.
      Terimakasih kunjungan baliknya.

  11. Ngomongin soal difabel aku jadi inget sama tukang timbang badan yang suka kelilling lewat rumah.Dia harus jalan ditopang dua kruk dikanan kiri. usianya udah sepuh, tapi dia tetap semangat cari nafkah. Pernah kepikiran ini keluarganya pada ke mana dan gimana kalau hujan dia berlari cari tempat berteduh. Selalu kepikiran gitu.

    1. Iya mba Efi, saya kagum sama tukang timbang badan itu. Dan suka gemes sama peminta-minta padahal badannya sehat.
      Semoga beliau diberi kesabaran dan bisa hidup layak.

  12. owalah jadi jalan ber-dot dot itu untuk tunanetra ya. makanya di dalem kantor pemkot surabaya tekelnya dikasih dot dot menonjol dari logam. rupanya juga fungsi serupa.

    1. Iya Pak, syukurlah kalau makin banyak tempat yang memberi kemudahan akses pada kaum difabel.

Leave a Reply