Menikmati Indahnya Lampion Di Pasar Gede

LAMPION DI PASAR GEDE

Ini pertama kalinya saya, suami dan anak-anak melihat lampion dari dekat. Jadi, setelah puas berjalan-jalan di Festival Kampung Tiongkok, kami mampir sejenak di Café Tiga Tjeret untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Setelah perut kenyang, perjalanan dilanjutkan menuju Pasar Gede. Mengapa ke Pasar Gede? karena di sinilah pusat keramaian lampion itu ada.

Banyaknya lampion yang di pasang di seputar Pasar Gede tentu tak lepas dari keberadaan perkampungan Thionghoa atau pecinan yang bernama Balong. Di kampung inilah masyarakat Thionghoa tinggal berkelompok. Sebagian dari mereka mencari nafkah dengan berjualan di Pasar Gede.

lampion pasar gede

Sementara itu di sebelah selatan pasar terdapat tempat ibadah mereka yaitu Vihara Avalokakitesvara Tien Kok Sie. Bisa dibilang seputar Pasar Gede itu memang pusat kegiatan sehari-hari dan ibadah masyarakat Thionghoa. Jadi wajar sekali jika kemudian tempat inilah yang paling semarak dihiasi lampion.

lampion pasar gede

Tiba di Pasar Gede pukul tiga sore, dan suasana sudah ramai oleh para wisatawan lokal seperti saya. Mereka kebanyakan muda-mudi yang asyik berfoto-foto dengan latar belakang lampion yang merah menyala. Setelah dapat tempat parkir, kami berempat berjalan menuju arah jembatan di mana terdapat lampion.

lampion pasar gede

Kalau di sini agak norak-norak bergembira mohon dimaklumi. Baru kali ini anak-anak bisa pegang lampion. Hehehe, kapan-kapan kita bikin prakarya lampion ya, Nak!. Disini ngapain? Saya sok sibuk jeprat sana, jepret sini, maksud hati pengin ambil gambar lampion tapi selalu ada latar belakang orang selfie, qeqeqe.

Nggak tanggung-tanggung, demi sebuah foto bersama lampion mereka rela panas-panasan dan berdiri ditengah jalan raya. Padahal lalu lintas di depan balaikota hingga Pasar Gede selalu ramai. Untung yang bawa kendaraan sabar-sabar ya, kalau ada yang tiba-tiba nyelonong menyeberang diantara padatnya lalu lintas. Kalau tidak,suara klakson pasti sudah bersahut-sahutan.

lampion pasar gede

Yo wes lah, akhirnya saya motret anak-anak saja akhirnya. Biar mereka memiliki sesuatu untuk dikenang nantinya. Puas berfoto di jembatan hingga depan balaikota, kami berempat kembali ke Pasar Gede, mencari tempat sholat. Setelah bertanya pada para pedagang, kami segera menuju lantai atas, karena musholanya ada di sana.

lampion pasar gede

Mushola kecil, di tempat yang terpencil, hehehe. Letaknya di bagian atas setelah tempat penyortiran buah jeruk. Jadi kami harus berjalan di lorong yang sempit di mana beberapa orang masih sibuk menimbang jeruk padahal hari telah sore.

Usai sholat kami keluar Pasar Gede melewati pintu belakang kemudian belok kanan, atau kearah selatan pasar. Lampion menghiasi cantik jalan  di samping Pasar Gede hingga Vihara Avalokitesvara Tien Kok Sie. Di depan Vihara nampak beberapa orang sedang asyik berfoto-foto. Sementara itu saya cukup melihatnya dari seberang sambil memotret Vihara dan mereka yang sedang berfoto ria.

lampion pasar gede

Di depan Pasar Gede kami berhenti sejenak, untuk berfoto-foto dan membeli mainan naga untuk Zahira. Kami terus menyusuri Pasar Gede hingga ujung dan menyempatkan diri melihat patung besar yang ada di sana. Sempat berfoto juga di bawah pohon Meihua, sayang sih karena belum malam jadi pohonnya belum menyala.

lampion pasar gede

Belum puas berada di Pasar Gede, langkah kami bergerak ke seberang. Menuju ke bangunan Pasar Gede yang berada di seberang. Di sini masih nampak kios buah yang buka meskipun hari sudah semakin sore. Kabarnya, pasar ini memang buka selama 24 jam.

Sambil menunggu sore kami hanya duduk-duduk sambil menyaksikan orang hilir mudik. Anak-anak belum bosan rupanya, mereka asyik bercengkerama sambil menikmati es krim pot sementara saya dan suami asyik berbagi kacang rebus.

Hari mulai petang, suasana semakin ramai, orang-orang mulai berdatangan. Mereka rupanya juga ingin menikmati keindahan lampion seperti kami. Para pedagang juga tak kalah banyak. Segala makanan, minuman dan mainan tumpah ruah.

lampion pasar gede

 

lampion pasar gede

Saat menjelang magrib kami menuju lantai atas tempat mushola berada. Usai sholat magrib kami kembali menikmati lampion dari atas gedeng Pasar Gede. Ternyata lebih asyik melihat dari atas. Kami tentu tak sendiri, banyak juga diantara pengunjung muda-mudi naik ke atas dan mengambil gambar melalui jendela besar di gedung atas.

lampion pasar gede

Hari semakin malam, seputar Pasar Gede semakin penuh orang, hiburan musik juga sudah mulai terdengar. Perut kami juga turut berirama keroncong, hehehe, jadi kami memutuskan pulang. Tentu, sebelum pulang kami mampir makan dulu di Warung SS. Ini andalan kami saat perut lapar, karena bisa puas makan sampai kenyang dengan harga yang ramah di kantong.

Seseruan di Pasar Gede menikmati indahnya lampion ternyata mampu menghibur anak-anak, pengalaman baru, pengalaman seru.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

16 Replies to “Menikmati Indahnya Lampion Di Pasar Gede”

  1. Wah keren banget mba 😀 suasananya seperti di Chinatown luar negeri

    1. Gitu ya Mba Vika..
      Berarti kalau mirip, kemarin saya berasa di luar negeri ya..qeqeqe

  2. Indahnyaaa….di Semarang juga ada di daerah Semawis namanya, tapi selama jadi orang Semarang belum pernah sekalipun kesana..hehe, habis tiap mau keluar pasti hujan jadi males keluar rumah..

    1. Oh ya, Semarang kan juga masyarakat Thionghoanya banyak ya.
      Lha, bulan febuari memang bulannya hujan Mba, qiqiqi

  3. Solo sekarang meriah banget ya mbak kalo imlek. Seru deh. Kemarin ga sempet liat perayaan imlek di semarang.sepanjang jalan muacet pwol mana ujan deres pula ;(

    1. Lumayan meriah Mba Muna.
      Di sini juga hujan terus mba menjelang imlek.

  4. Zahra Rabbiradlia says: Reply

    Kereeen. Di Bandung ada satu jalan khusus yang banyak lampionnya. Namanya jl. Cibadak. Dulu sih sering dibikin cibadak culinary night (sambil liat lampion2 benderang), skrg keknya udah jarang.

    1. Wah, sayang ya kalau sudah jarang padahal bisa jadi sarana edukasi pada anak-anak tentang keberadaan masyarakat Thionghoa.

  5. Cantiknya >.< pas malam langsung terlihat romantis~

    1. Betul, kalau malam lebih terlihat indah-indah romantis gitu.

  6. Kerennn…berasa ada di pecinan china town 🙂
    Senangnya Indonesia bisa hidup rukun dgn multi etnis.

    1. Iya betul.
      Jika berkenan saling menghormati tentu kita bisa hidup rukun.

  7. lewat baru dua kali malah belum sempet ambil gambarnya..

    1. Yaah, ketinggalan lagi nih Pak Danang..

  8. uapik tenaaan ya mbak Ety, penataan lampionnya tampak megah dan elegan sekali. Sayangnya di kotaku Kudus kok gak semarak yang di pasar gede ya *issh protes aja ..hahaha

  9. Suamiku pas di Solo lewat pasar Gede, trus ngambil gambar lampion-lampion itu mbak, maksudnya buat dipamerkan ke saya, jahatnyaaa… Andai aja aku bisa ikut, sayang lagi banyak kerjaan juga di rumah. Tapi aku udah foto2 di semawis juga sih, hehehe

Leave a Reply