Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Profile

Cut Dek Ayi : Menikah Selagi Kuliah? Nggak Papa, Asal..

Menikah selagi kuliah?. Tidak! Hm, itu kan saya banget. Faktanya, saya menikah setelah beberapa tahun lulus kuliah. Berbeda dengan Mom Blogger asal Aceh, Sri Luhur Syastari pemilik cutdekayi.com. Ayi, begitu biasa ia disapa, memang menikah saat masih berstatus mahasiswa. Bukan karena perjodohan dari orangtua melainkan keinginannya sendiri. Hm, disaat mahasiswa lain sibuk dengan urusan kuliah, Mba Ayi malah memilih jalan berbeda. Bagaimana ceritanya menikah selagi kuliah?.

Mba Ayi saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa fakultas Kedokteran Hewan, sebuah universitas negeri di Banda Aceh. Selain sebagai mahasiswa, Ia juga telah berstatus sebagai istri dan seorang ibu. Ditambah lagi statusnya sebagai seorang blogger di cutdekayi.com tentu menambah kesibukannya sehari-hari. Kebayang, deh, betapa sibuk hari-hari perempuan lulusan SMAN 1 Tanjungpinang ini.

Ada hal yang membuat saya penasaran, apalagi kalau bukan soal menikah. Bagi saya, Mba Ayi ini menikah diusia yang muda dan pilihan ini bukan pilihan populer dikalangan anak muda dijaman ini. Saya pun dulu takut buat menikah muda, hehehe. Biasalah, alasannya seputar kesiapan mental dan finansial. Akhirnya saya memberanikan diri bertanya sama Mba Ayi.

Ini dia hasil ngobrol cantik dengan Mba Ayi:

Tentang Niat

Ternyata, niat menikah muda itu karena ingin mengikuti jejak sang Ibunda yang juga menikah muda kala itu. Niat ini sudah  ada di hati sejak kelas 2 SMA. Sedari itu pula Mba Ayi rajin membaca buku tentang pernikahan. Wow, usia segitu saya belum kepikiran deh, soal menikah. Yang ada di otak saat itu lulus SMA mau kuliah di mana. Mainstream banget yak?.

Mba Ayi ini terkesan sekali dengan keharmonisan hubungan Ayah dan Bundanya. Terutama soal betapa lemah lembutnya Sang Bunda ketika berbicara pada Ayahnya. Penasaran? Iya, Mba Ayi ternyata penasaran dengan hal tersebut. Ketika ditanyakan pada Bundanya, ternyata Ayah memang ingin agar Bunda lembut ketika berbicara.

Mba Ayi berkesimpulan, ternyata menikah bisa membentuk pribadi menjadi lebih baik karena itu keinginan untuk menikah muda pun semakin kuat.

Niat yang Dikabulkan

Alloh pun mengabulkan niat baik perempuan ini, diusianya yang ke 20, datanglah seorang lelaki sholeh yang berniat menggenapkan separuh diennya bersama Mba Ayi. Bahagia? Tentu saja, karena ini berarti niatnya menikah muda semakin mendekati kenyataan. Dialah laki-laki itu, seorang teman satu organisasi di kampus telah siap mengambil alih tanggung jawab orangtua atas dirinya.

Meskipun awalnya, ada persyaratan untuk lulus S1 terlebih dulu dari Sang Ayah, namun dukungan Ibunda berhasil meluluhkan hati Ayahnya. Terlebih lagi tak ada alasan menolak lamaran seorang laki-laki sholeh seperti yang dikatakan dalam hadist itu.

Cut Dek Ayi

Proses Yang Mengundang Banyak Tanya

Jika diibaratkan jalan menuju pernikahan, Mba Ayi memilih jalur A yang langsung menikah. Sementara pilihan orang lain mungkin jalur B, melalui pacaran, tunangan dan baru menikah. Pilihan itulah yang kemudian mencuatkan banyak tanya dari orang di sekitar mereka.

Mengapa begini? Mengapa begitu?. Kok, tidak itu saja!. Bagaimana kalau ternyata A, B, C,dan seterusnya. Melakukan pernikahan dengan cara berbeda dari biasanya sudah pasti tak semudah itu untuk bisa diterima apalagi dipahami.

Kuatnya keyakinan akan prinsip yang telah dipilihnya membuat langkah Mba Ayi tak goyah. Niat baik, dilakukan dengan baik, akhirnya Alloh pun memudahkan urusan kedua mempelai. Merekap pun akhirnya berhasil menggenapkan separuh agamanya pada 10 November 2014. Alhamdulilah, selamat ya Mba Ayi!

Belajar Tiada Henti

Di awal tadi, Mba Ayi mengatakan ya, jika pernikahan itu bisa membentuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seiring berjalannya waktu Mba Ayi kemudian menyadari kalau menikah bukan soal membentuk pribadi apalagi mau menunjukkan, hey, ini aku nikah muda, lho!.

Pelan-pelan Mba Ayi pun belajar prinsip munakahat, bagaimana pernikahan di dalam Islam dan apa visi misi sebenarnya tiap individu untuk menikah. Bahwa menikah itu bukan ajang coba-coba. Eh, ya ampuun, dibalik wajah imutnya dan usianya yang masih muda ternyata pola pikirnya jauh lebih dewasa dari usianya.

Ibu dari seorang anak laki-laki ini membuat saya kagum. Memang benar kata orang, dewasa itu tidak ditentukan oleh usia namun pola pikir dan sikap. Usia boleh saja muda namun jika ia memilih untuk dewasa itu bisa saja. Mba Ayi buktinya.

Cut Dek Ayi

Menjalani kehidupan pernikahan tentu tak hanya ada cerita bahagia semata. Sepanjang yang saya ketahui selama belasan tahun menikah, ada hal yang tak sesuai harapan, ada kekecewaan, ada kemarahan dan semua  itu bumbu dalam kehidupan pernikahan.

Namanya bumbu tentu porsinya harus pas ya, jika kurang bikin nggak sedap, kelebihan pun jadi tak enak. Makanya, perlu ilmu agar pernikahan bisa berjalan selaras. Apalagi jika menikah di usia muda, dan masih kuliah pula. Bertambah peran tentu harus pandai menyiasatinya. Agar antara kuliah dan pernikahan bisa berjalan beriringan.

Mba Ayi berbagi tips menjalani pernikahan sembari kuliah nih, siapa tahu ada yang berniat menikah meskipun masih kuliah:

  1. Harus tahu tujuan. Menjalani hidup itu ya harus tahu akan kemana. Kita kuliah buat apa? Kita menikah buat apa?. Jangan sampai kita kuliah hanya untuk bergelar semata, atau menikah muda biar dianggap hebat. Padahal ada tujuan suci dari pernikahan itu sendiri. Untuk itu luruskan niat, bersihkan hati. Kita harus tahu tujuan dan manfaat menikah serta kuliah itu untuk apa, jadi nggak semata menjadi pengikut yang taqlid (buta).
  2. Perbanyak Sabar. Banyak hal nanti yang bikin kesabaran kita berkali-kali diuji. Bisa jadi karena tugas kampus yang seabreg. Belum lagi kondisi rumah yang bikin puyeng tujuh keliling. Apalagi jika setelah menikah, tak lama kemudian kita langsung hamil.
  3. Komunikasi dengan suami. Kalau lagi capek, bilang. Kalau lagi ada tugas, bilang. Kalau lagi pengin istirahat, bilang. Jangan didiam-diamkan, nanti jadi baper. Padahal setelah dikomunikasikan, alhamdulilah nggak ada masalah.
  4. Tahu Prioritas. Setelah menikah, prioritas jadi berubah. Kalau sudah tak ada kuliah maka sebaiknya pulang ke rumah.

Cut Dek Ayi

Tuh, kan! Mba Ayi itu wajahnya saja yang imut, sementara pola pikirnya mah dewasa. Bagi yang masih kuliah kok sudah pengin menikah, bisa belajar dari pengalaman Mba Ayi. Menikah selagi kuliah nggak papa, asal paham akan tujuan dan manfaat menikah dan memiliki bekal yang memadai baik ilmu maupun kesiapan mental.

 http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

46 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.