Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Parenting Tips

Ingin Anak Gemar Membaca? 5 Langkah Ini Bisa Dilakukan Orangtua

ingin-anak-gemar-membaca

Memiliki anak gemar membaca adalah keinginan saya sejak dulu. Kenapa ya? Jika ditanya alasannya, jawaban saya sederhana saja, karena membaca itu jalan untuk tahu banyak hal. Nggak pula muluk harus jadi kutu buku, sih!. Minimal, anak-anak saya itu nggak alergi sama buku, syukur-syukur bisa mencintai buku. Alhamdulilah, mereka akhirnya gemar baca buku. Setiap bulan, beginilah yang terjadi:

“Mi, beliin buku cerita lagi, dong!”

“Aku, juga!”

Itu kebiasaan kedua anak saya kalau lagi pengin baca buku, tapi buku yang ada di rumah sudah tamat dibacanya. Kalau sudah begini, biasanya saya akan melihat isi dompet, memungkinkan enggak untuk membelikannya buku bacaan lagi. Kalau masih longgar, bisa nih masing-masing dapat jatah satu buku bacaan lagi. Jika tidak, mereka akan meminjam buku bacaan di perpustakaan sekolah.

Saya sih, senang, melihat anak-anak gemar membaca buku. Ini berarti, apa yang selama ini diupayakan mulai nampak hasilnya. Soal ini saya sudah melakukannya sedari mereka bayi. Yang membuat saya happy, mereka bakal anteng, ikut saya kemana-mana bahkan menunggui saya beraktfitas asal di tangan mereka ada buku bacaan. Meskipun untuk itu harus ada pengeluaran untuk membeli buku bacaan mereka. Buat saya ini sih, bentuk tanggungjawab dan rasa sayang pada mereka.

foto: pixabay
foto: pixabay

Flash back ke masa kecil saya. Dibandingkan dengan saya, anak-anak lebih beruntung karena mudah mendapatkan buku bacaan. Saat saya kecil orangtua tidak menyediakan buku-buku bacaan di rumah. Beruntungnya, saya memiliki teman yang rutin dibelikan majalah Ananda dan Bobo. Ia dengan senang hati membolehkan saya turut membaca majalah-majalah tersebut.

Dari majalah Ananda dan Bobo, saya mengenal dongeng Putri Salju, Deni Manusia Ikan, Putri dan Kacang Polong (The Princess And the Pea), Si Sirik dan Juwita atau cerita tentang Paman Gembul yang legendaris.

Saya suka berimajinasi lho, seolah-olah saya adalah salah satu tokoh dalam cerita yang saya baca. Apalagi dongeng-dongengnya Hans Christian Andersen, saya suka. Membayangkan saya sedang berada di pegunungan di tanah Eropa yang putih tertutup salju, qiqiqi. Khayalan khas anak-anak.

Selain membaca buku dari modal meminjam teman, sejak SD saya kerap meminjam buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku cerita terbitan Balai Pustaka jadi teman akrab kala itu. Terutama buku cerita fabel dan cerita rakyat. Belum banyak pilihan sih kala itu, karena penerbit buku cerita anak belum sebanyak sekarang.

Kembali ke pembicaraan di awal tadi, setelah menikah saya sudah meniatkan untuk menyediakan buku-buku bacaan di rumah. Tapi, untuk membuat anak gemar membaca kan tidak cukup hanya itu. Setidaknya ada 5 hal yang saya lakukan agar anak-anak saya gemar membaca buku, yaitu:

  1. Mengenalkan buku sedari bayi. Beruntung anak-anak saya lahir di jaman ini, dimana buku tersedia dalam banyak pilihan. Termasuk diantaranya buku untuk bayi. Biasanya buku untuk bayi itu terbuat dari kain atau karton yang tebal sehingga tak mudah sobek. Isinya sih cuma gambar doang, dan hanya beberapa lembar saja. Saat itu yang saya lakukan membacakan buku saat dia terjaga. Ketika sudah bisa duduk, saya biarkan anak-anak membuka buku sendiri.

    ingin_anak_gemar_membaca
    buku jaman mereka bayi
  2. Membacakan dongeng sebelum tidur. Sejak bayi pula saya membacakan dongeng saat anak-anak hendak tidur. Mereka senang bahkan suka minta dibacakan dongeng lainnya jika satu dongeng telah selesai saya ceritakan. Jadi, saya berupaya selalu mendekatkan anak-anak dengan buku.
  3. Membuat perpustakaan keluarga. Menyediakan buku-buku bacaan di rumah. Wah, harus keluar duit banyak dong kalau begitu?. Nggak selalu kok, saya kerap menyiasatinya dengan membeli buku saat ada pameran buku dimana banyak diskon. Banyak pula buku-buku yang dijual dengan harga miring. Bisa juga dengan membeli buku-buku bekas. Jika tinggal di kota Solo bisa kunjungi kios-kios buku di belakang stadion Sriwedari.
  4. Kenalkan anak dengan perpustakaan. Jika anak belum sekolah bisa mengajak mereka mengunjungi perpustakaan daerah, sekalian jalan-jalan, gitu. Kalau sudah sekolah lebih mudah lagi, biasanya tiap sekolah ada perpustakaan. Sarankan anak untuk meminjam buku di sana. Alhamdulilah, tiap hari Zahira meminjam satu buku dari perpustakaan sekolah. Kalau Mba, karena sudah kelas lima dan banyak tugas tidak setiap hari meminjam bukunya.
  5. Menjadi orangtua yang gemar membaca. Paling mudah mengajak anak berbuat sesuatu itu ketika kita sebagai orangtua sudah lebih dulu melakukannya, termasuk membaca buku. Terbiasa melihat saya membaca buku membuat mereka akhirnya gemar membaca juga. Jadi, sebisa mungkin jadi teladan gemar membaca buat anak-anak.

    ingin_anak_gemar_membaca
    asyik membaca

Mungkin ada yang bertanya, anak gemar membaca apa itu berarti harus bisa membaca lebih dini?. Tentu saja tidak berarti demikian. Anak-anak saya lancar membaca itu ketika sudah duduk di kelas 1 SD. Jadi mulai membaca buku sendiri, ya saat itu. Bagi Zahira misalnya, kegemarannya membaca buku itu bermanfaat dalam memperlancar kemampuan membacanya.

Saya pernah menuliskan kemampuan membaca anak-anak saya di sini

Praktis sebelum sekolah SD, yang dilakukan anak-anak saya itu membaca gambar melalui buku. Bukan membaca kalimat yang ada dalam buku tersebut. Buat saya sih, nggak masalah, yang penting mereka bisa akrab dulu dengan buku-buku itu. Setelah akrab tentu mudah bagi mereka untuk bisa gemar membaca nantinya.

Sekarang, acara ke toko itu menjadi hal yang wajib dilakukan. Masing-masing mendapat jatah dua buku, bisa lebih jika pas ada diskonan atau ada bazaar buku. Kalau sudah di toko buku, pasti nggak bisa sebentar, milihnya lama, maunya dibeli semua, hahaha. Saya selalu bilang, doakan orangtuamu banyak rejekinya jadi bisa beli buku lebih banyak lagi.

Anak-anak saya sedang menggemari buku-buku karya teman sebayanya seperti KKPK, PCPK maupun komik KKPK. Tema ceritanya seputar keluarga dan pertemanan. Belakangan, anak-anak mulai membaca cerita detektif dan cerita horor.

ingin_anak_gemar_membaca
pilih-pilih buku

Dari kegemarannya membaca, mulai nampak nih kemampuan verbal Zahira meningkat. Bicaranya mulai tersusun rapi kata-katanya, nggak kebalik-balik lagi seperti dulu. Sementara Mba nya, sekarang suka sekali mendongeng untuk adiknya. Peristiwa yang dialaminya di sekolah, dia ceritakan kembali dengan penuh ekspresi kepada adiknya.

Hal ini dilakukannya sebelum tidur. Adiknya pun bersemangat mendengarkan cerita Mba nya, bahkan kadang hingga tertidur. Hihihi, jadi Mba Nisrina sekarang mengambil peran saya dalam mendongeng. Saya senang saja melihatnya, aktifitas itu sekarang jadi ritual sebelum tidur. Meskipun kadang Mba suka kesal ketika cerita belum selesai, eh adiknya sudah tertidur.

Begitulah cerita tentang pengalaman saya mengajak anak gemar membaca. Barangkali 5 hal yang saya lakukan itu, bermanfaat buat orangtua yang memiliki keinginan yang sama dengan saya.

Teman-teman memiliki pengalaman mengajak anak gemar membaca?. Sharing, yuk, di kolom komentar.

 http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

78 Comments

  • Arinta Adiningtyas

    Ini yang saya lakukan sejak Amay bayi. Mendongeng, baca buku di dekat dia, sering ajak ke toko buku (walaupun kadang ngga beli, tapi suka numpang bacain beberapa buku buat Amay :D), belikan buku/majalah.. Tapi saya belum pernah ngajak ke perpustakaan..
    Alhamdulillah sih, ini juga memudahkan saat mengajari belajar membaca.

  • Agung Han

    Tips yang bermanfaat
    anak saya yang besar mulai suka baca komik, kalau adiknya sudah masih TK tp kelihatan mulai suka baca juga
    salam sehat dan semangat utk keluarga

    • Ety Abdoel

      Wah, bagus tuh Pak, dibimbing saja mengenai bacaan yang boleh dan tidak boleh.

      salam sehat dan semangat juga untuk Pak Agung sekeluarga

  • Akhmad Muhaimin Azzet

    Lima langkah yang oke banget itu kalo menurut saya. Terutama yang ke-5, yakni menjadi orangtua yang gemar membaca. Sebab, anak adalah pribadi yang suka meniru atau mencontoh ya, Mbak 🙂

    • Ety Abdoel

      Betul ustadz, jadi orangtua katanya nggak boleh jarkoni ya.
      Iso ngajari ora iso nglakoni. Jadi ya pegang prinsip itu baik-baik.

  • rani yulianty

    Saya suka membaca tapi suami nggak suka, anak saya, untuk saat ini sepertinya lebih suka beraktivitas fisik, hehehehe …pengen anak suka baca, kayaknya tipsnya bisa dicoba, semoga berhasil

    • Ety Abdoel

      Nggak papa mba, barangkali minatnya memang keaktifitas fisik.
      Tapi, nggak ada salahnya juga jika ingin mengenalkan dengan dunia membaca.

  • Ria

    wah, bagus tuh mak… Mengingat anak sekarang susah banget disuruh baca karena gangguan memang sudah banyak sih… Ada acara tv sama gadget… perjuangan berat utk memaksa mereka mau membaca kalau tidak sejak dini diperkenalkan sama buku

  • Levina Mandalagiri

    Bacaan masa kecilnya sama ya kita, Bobo, si Juwita dan si Sirik, Paman Gembul, Deni Manusia ikan.
    Dulu saya paling suka juga serial 5 sekawan Mbak. Saya ingat itu buku pertama yang dibelikan ayah saya. Dari situ saya jadi ketagihan baca.

  • ruli retno

    Hiks..aku jd ngerasa bersalah mba.. Anakku sering bgt minta di anter ke perpus. Sementara sy gak bs nganter krn ada adiknya yg balita dan sy jg lagi hamil anak ke 3. Pdhl anak sy seneng bgt mbaca.. Tfs mba 🙁

  • @eviindrawanto

    Membaca selain membuka wawasan juga memperkaya vocab ya Mbak Ety. Dengan perbendaharaan vocab anak-anak lebih efisien berbahasa. Aku tuh senang banget melihat anak-anak terpekur di depan buku. Otaknya sedang kerja keras itu 🙂

    • Ety Abdoel

      Betul Mba Evi.
      Jadi saat bicara pilihan katanya makin banyak dan bervariasi.
      Saya juga terkejut ketika anak-anak mengucapkan satu kata baru dan dia paham artinya padahal saya belum pernah membahasnya. Ternyata itu dia dapatkan dari buku yang dibacanya.

  • Eko Nurhuda

    No. 3 dan 4 tidak saya lakukan, karena rumah masih belum milik sendiri. Males ribet pindah-pindah bawa buku berkardus-kardus. Yang ada buku yg sekiranya nggak dibaca lagi dikirim ke temen yang punya project perpustakaan di kampungnya.

    Kalo yang lainnya saya sepakat dan alhamdulillah sudah melakukannya. Malah pernah istri menyebut saya terlalu jauh ke depan visinya. Anak baru beberapa bulan sudah dibeliin buku-buku dongeng nabi. Lah, mumpung ada pameran buku sih, harganya murah-murah, jadi sekalian aja beli. Toh, begitu mereka bisa baca masih kepake juga. Hehehehe.

    • Ety Abdoel

      Hihihi, saya tuh Pak pindah berkali-kali ya ada tiga kardus isinya buku tok. Lha gimana lagi, beli buku itu pake aji mumpung sih.
      Mumpung diskon, mumpung bazar, mumpung ada rejeki lebih, mumpung kebutuhan belum banyak karena anak-anak masih kecil.
      Nggak papa dikasih ke teman kan bisa bermanfaat juga to.

  • Haya Aliya Zaki

    Yang nomor 3 aku ga tahu bisa disebut perpustakaan keluarga atau ga. Tapi yang pasti lemari-lemari di rumah kami penuhnya sama buku, bukan pajangan kristal atau guci hihihi. Belum punya ruang khusus untuk perpustakaan di rumah. Moga-moga bisa terwujud nanti.

    • Ety Abdoel

      Bisa lah mba, wong aku bukunya aja kutaruh di kotak plastik,pede nyebut itu perpustakaan, qeqeqe.
      Habis kata lainnya apa?

  • Hastira

    semua berpulang dai rumah ya, kalau ibunya suka mebaca pastinya dari kecil sudah diperkenalkan dg buku. Begitu juga aku oleh ibuku sejak kecil sudah dibiasakan dg buku. Akhirnya akupun begitu terhadap anak-anakku

  • Usup Supriyadi

    Sangat menyenangkan sekali kalau ada orangtua yang sadar akan pentingnya pembiasaan membaca kepada anak-anaknya, karena hal terpinting dalam pendidikan adalah mengajarkan bagaimana cara belajar, salah satunya ialah dengan membaca.

    Kalau di keluarga saya kebalikkannya, nggak ada yg benar-benar hobi membaca, bahkan kebiasaan saya membaca lebih karena kesadaran sendiri dan sekarang malah jadi agen biar keluarga besar hobi membaca juga hehhe

    • Ety Abdoel

      Wah, keren.
      Yang seperti itu biasanya justru militan, karena biasanya sendirian tanpa dukungan lingkungan.
      Selamat berjuang buat Mas Usup untuk menjadi agen perubahan. Semangat

  • Anne Adzkia

    Saya setuju 1000% dgn kelima poin di atas. Kelima-limanya sudah saya buktikan dan skrg saya kewalahan kalo anak2 jajan buku di gramed. Satu novel tebal bisa habis dibaca dlm 2 hari saja. Bangkrut…bangkrut. Hehehehe

    • Ety Abdoel

      Hahaha, tuh kan bener, kalau udah suka maunya beli banyak buku.
      Tapi senang kan Mba? liat semangat membaca anak-anak.

  • Ranny

    mengenalkan buku sama Athar sudah saya lakukan sejak dini 😀 sering banget buku yang ada gambar-gambarnya, secara suami dan saya suka baca juga. Di rumah juga pengin banget bikin perpustakaan kecil. Semoga makin suka baca Athar-nya.
    Tfs mbak

    • Ety Abdoel

      Iya mba, cowok biasanya lebih suka bacaan bergambar semacam komik. barangkali mulai dari itu dulu mba.
      Dulu teman kecilku yang sering minjemin majalah itu malah cowok mba tapi dia suka banget baca sampai pakai kacamata sejak SD.

  • Nurul Fitri Fatkhani

    Ternyata masa kecil kita sama Mbak! Suka majalah Bobo dan Ananda. Seru ya, mengikuti serial-serial di sana. Dan saya pun juga sering jadi berkhayal, ada di istana yang besar, dikelilingi taman yang indah..hi..hi
    Dan sekarang, kegemaran anak kita juga sama. Anak perempuan saya, juga senang KKPK.
    Semoga anak-anak kita selalu gemar membaca, ya. Aamiin.

    • Ety Abdoel

      Iya mba,saya juga suka nimbrung anak kalau pas pinjem majalah bobo di sekolah.
      Wah, tos lagi nih mba Nurul.
      Aamiin YRA.

  • Kang Nurul Iman

    Hmm iya mbak kalau saudara saya nih memang gemar baca buku tapi bacanya bukan buku pelajaran tapi buku tentang begitu mulu buka yang tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran sebenarnya pengen saya nasihati supaya mau membaca buku pelajaran, tapi susah tetap saja bacanya itu lagi itu lagi dan saya biarkan saja kan dia sudah lumayan besar pasti sudah tahu mana yang baik dan tidak baik.

    • Ety Abdoel

      Hm, idealnya harus seimbang..kalau yang saya lakukan saat belajar ya harus membaca buku pelajaran. Di luar itu boleh membaca buku cerita. Orangtua memang harus membimbing agar anak bisa disiplin dengan tugasnya.

  • Aireni Biroe

    Yeah, membeli buku saat pameran atau beli buku bekas merupakan siasat jitu untuk tetap ngoleksi buku dengan biaya minim hehe

    • Ety Abdoel

      Hihihi, ini jurus yang kerap dipakai Mba.
      Hari ini saya dapat diskonan buku karya anak-anak dengan harga miring. Lumayan banget buat bahan bacaan anak-anak.

  • vizon

    Alhamdulillah, kelima tips itu sudah saya terapkan ke anak-anak . Mereka lumayan suka membaca. Bahkan si sulung, betah seharian di rumah, menyelesaikan baca buku setebal 400 halaman yang baru dibelinya.. 🙂

    • Parti Suparti

      Bersukur anak-anak gemar baca diawali dari dongeng, fabel, cerita rakyat akupun berharap anakku suka itu. Kucoba kukenalkan sedari kecil tapi dengan berjalannya waktu dia suka dengan imajinasinya. Lebih memilih dunia tari. Memang di waktu sengangnya dia kembali ke buku-bukunya. Ya mudah- mudahan nela kedepannya ikuti jejak Mba Nisrina sama Mba Zahira, suka baca.

  • sinta yunia setha

    Gimana caranya agar anak-anak juga pandai merawat buku-buku mereka?mereka ingin jadi anggoya perpus khawatirnya bukunya rusak atau ilang pan kita mesti gantiin tuch.

    • Ety Abdoel

      Bukunya diberi sampul plastik Teh.
      Terus anak-anak diajari untuk membaca sambl duduk karena kalau sambil tengkurap atau berbaring cenderung gampang tertindih dan kusut bukunya. Jika habis membaca buku, simpan buku di tempat yang aman misal tas atau meja belajar jadi tidak ketlisut atau rusak ketika akan dikembalikan.
      Memang harus sekaligus mengajarkan tanggungjawab sih.

  • Susindra

    Kelima langkah di atas sudah kulakukan, Mbak… bahkan ngajak piknik ke perpusda juga… tapi belum berhasil mematahkan stigma kliyengan usai baca ala DnB. Hiks…. #curcol

  • rita dewi

    Dulu saya juga langganan ananda. Dedangkan teman yg jg tetangga langganan bobo. Jd setiap majalah datang tiap hr kamis, kita baca masing2 nah hari jumat atau sabtunya kita tukeran deh hehe… jadi langganan satu majalah tp bisa baca 2 majalaj. Apa mungkin dulu ibu kami mmg sdh merencanakan seperti itu kali ya? Hehe…

  • DoNurdians

    yang saya lakukan adalah tidak pelit untuk membelika buku buat si kecil walau mahal harganya…karena ilmu yang bermanfaat lebih mahal

    makasih sharenya mbak….

  • Rena

    Anak-anak sekarang seharusnya lebih pintar ya, karena sudah ada berbagai teknologi yang ga ada zaman saya kecil dulu. dulu ada perpus keliling mampir di desa saja anak-anak senang banget, sekarang perpus dimana-mana tapi sepi pengunjung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.