Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Motherhood,  Parenting Tips

9 Tips Menjadi Ayah Yang Menyenangkan

9_tips_menjadi_ayah_yang_menyenangkan

Ayah yang menyenangkan itu menjadi dambaan setiap anak, ya atau tidak?. Sebagai orang yang pernah mengalami rasanya menjadi anak-anak, maka jawaban saya adalah, ya. Bahagia rasanya ketika Ayah, tak hanya hadir ketika anak-anak melakukan kesalahan dengan teguran atau hukuman. Tapi, bisa hadir disaat longgarnya dengan sapaan sayang, senyuman dan becanda yang membuat anak-anak merasa memiliki dan dimiliki.

Ayah memang memiliki tugas utama mencari nafkah. Untuk melakukan hal ini Ayah harus pergi sejak pagi dan pulang ketika sore hari. Bahkan banyak diantara mereka yang pulang kerja ketika hari sudah malam (seperti yang dijalani Ayah, anak-anak saya). Sesampainya di rumah, badan pasti lelah dan pikiran juga penat. Tapi, tahukah Ayah? Bahwa ada yang senantiasa merindukan kehadirannya?.

Adakah yang mengalami hal seperti ini:

“Pagi hari saat hendak berangkat sekolah, Ayah sedang membaca koran sambil sarapan. Ketika hendak berpamitan hanya kata “Ya” yang terucap tanpa sedikitpun beranjak dari membaca koran.”

Atau

“Saat hari libur, anak-anak mengajak bermain tapi apa jawaban sang Ayah?.  Ayah capek, mau istirahat. Memang sih, tujuh hari dalam seminggu cuma hari itulah liburnya. Lalu kapan waktu buat anak?”

Kedua hal di atas adalah contoh yang mungkin dialami oleh anak-anak di luar sana. Harus menahan rindu bersama Ayah meskipun sebenarnya mereka tinggal satu atap. Ayah ada namun tiada, begitu menurut Psikolog Elly Risman.

Secara fisik Ayah ada di dalam satu keluarga tapi tak hadir secara hati untuk memberikan perhatian, kasih sayang dan tanggungjawabnya sebagai Ayah di luar tugas menafkahi keluarganya. Paradigma bahwa tugas Ayah adalah semata mencari nafkah harus diluruskan. Ada tugas mendidik anak yang menjadi tanggungjawabnya.

Ayah yang menyadari peranannya dalam mendidik anak-anaknya adalah ayah yang menyenangkan. Dia mampu hadir sebagai orangtua, guru, dan juga teman.  Dengan begitu, anak-anak tentu akan memiliki kedekatan emosional dengan Ayahnya.

Anyone (2)

Atas alasan itulah, suami saya alias Ayahnya anak-anak, berupaya untuk menjadi Ayah yang sebenarnya. Tak hanya hadir secara fisik namun juga mampu hadir dengan perhatian dan kasih sayang sehingga anak-anak merasa kenal dan dekat dengan Ayahnya.

Memang butuh keikhlasan sih untuk bisa menjadi ayah yang menyenangkan. Secapek apapun dengan urusan pekerjaan, anak-anak harus selalu ada di hati Ayahnya. Apalagi suami saya, hari liburnya cuma hari Minggu dan setiap hari pulang malam.

Setelah mandi dan makan malam, Dia pasti akan ngobrol sejenak dengan anak-anak, mengajak becanda atau sekadar main tebak-tebakan. Jika ada kesulitan di pelajaran sekolah yang tak sanggup saya tangani maka Dia pun turun tangan.

Sejauh ini yang saya lihat, anak-anak bahagia dengan itu. Mereka bisa tertawa terbahak-bahak ketika becanda dengan Ayahnya. Dan sepengetahuan saya, Suami selalu sumringah ketika bersama anak-anak meskipun lelah setelah seharian bekerja. Makanya, kalau anak-anak sedang capek dan akhirnya tidur sebelum Dia pulang, suami akan mengelus-elus kepala anak-anak sambil memandanginya sebagai ganti karena tidak sempat bercengkerama.

Apakah sulit menjadi ayah yang menyenangkan?. Menurut saya sih, tidak. Karena setiap Ayah memiliki naluri menyayangi anak-anaknya seperti halnya seorang ibu.

9 tips berikut ini. bisa dilakukan agar menjadi ayah yang menyenangkan. Kesembilan hal ini saya ambil berdasarkan pengalaman pribadi. Antara lain:

  1. Hadir. Kehadiran seorang ayah adalah hal yang penting bagi anak-anak. Pertama tentu hadir secara fisik, agar anak-anak bisa merasakan kehadirannya secara kasat mata. Yang kedua tentu, tunjukkan kasih sayang seorang Ayah, tidak boleh cuek sama anak karena merasa sudah menafkahi. Jika ternyata harus tinggal terpisah dengan anak maka bisa disiasati dengan sering meneleponnya, tanyakan kabarnya, dengarkan ceritanya, keluhannya. Sehingga jarak tak lagi jadi penghalang kehadiran ayah dalam keluarga.
  2. Bermain.Meskipun anak-anak biasanya sudah memiliki banyak teman bermain. Bersama Ayah bermain menjadi pengalaman yang ngangenin. Suami biasanya mengajak anak-anak bermain tebak-tebakan. Sederhana ya? Tapi ini mampu lho untuk menjalin kedekatan antara Ayah dan anak-anak. Pilihan permainan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga. Intinya, luangkan waktu untuk bermain bersama anak-anak.ayah_yang_menyenangkan
  3. Mengajak ngobrol. Mulailah untuk membuka obrolan dengan anak. Suami saya tiap pagi selalu menyapa anak-anak dan mengajak anak ngobrol. Jangan sampai diem-dieman. Bisa jadi si Ayah memang pendiam tapi kalau sama anak-anak biasanya cair aja. Kalau sudah terbiasa mengajak ngobrol nanti anak-anak tanpa diminta bisa nerocos, cerita panjang lebar lho. Karena mereka yakin, Ayahnya mau mendengarkan setiap ocehan mereka.
  4. Becanda. Anak-anak saya justru bisa becanda terbahak-bahak dengan Ayahnya lho ketimbang dengan saya. Tentu, Ayah harus memulainya terlebih dulu supaya anak tak merasa sungkan. Becanda bisa mencairkan suasana dan membangun kelekatan dengan anak-anak. Di sini Ayah bisa menempatkan diri sebagai teman yang menyenangkan.
  5. Pergi dengan Ayah. Suami saya biasanya akan mengajak kedua anak saya bepergian tanpa saya. Sesekali bahkan mengajak mudik masing-masing anak secara bergantian. Tahun kemarin Mba yang mudik ke Surabaya bareng Ayah maka tahun depan giliran Adek. Mereka cuma berdua tanpa saya. Bagi suami ini caranya mengenal pribadi anak-anaknya secara detil. Di saat tanpa saya, suami megurus semuanya sendiri. Manfaatnya adalah anak-anak bisa merasakan kedekatan dengan Ayahnya, sementara Ayah bisa memahami karakter anak-anaknya. Nggak harus pergi jauh, bisa juga mengajak anak-anak sekadar jalan-jalan pagi, pergi ke toko buku dan lain-lain.
  6. Partner Belajar. Menemani anak-anak belajar bukan monopoli tugas saya, sebagai seorang Ibu. Suami juga kerap turun tangan menemani anak-anak belajar. Terutama untuk mata pelajaran yang saya tidak kuasai. Anak-anak akan merasa Ayahnya hadir ketika dia membutuhkan bantuan.
  7. Mengantar atau menjemput sekolah. Kesibukan bekerja memang tak memungkinkan bagi Ayah mengantar dan menjemput. Apalagi jika harus setiap hari. Sesekali, saat memungkinkan Ayah akan mengantar atau menjemput anak-anak. Jika lama tak dilakukan, anak-anak biasanya nagih, minta diantar atau dijemput ketika sekolah. Ini jadi momen yang menyenangkan buat anak-anak.
  8. Mengajari keterampilan fisik. Suami bertugas mengajari anak-anak keterampilan fisik seperti naik sepeda, berenang dan lain-lain. Bagi kami berdua, ini adalah pilihan tepat karena Suami bisa berenang. Sementara itu, untuk belajar naik sepeda suami tahu betul bagaimana caranya. Kalau saya yang ngajari terlalu cerewet, jadi anak-anak malah bete.
  9. Menjadi Teladan. Menjadi orangtua harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Ayah yang mampu jadi teladan akan memiliki wibawa. Anak-anak akan hormat dan merasa tenang ketika tahu bahwa ayahnya adalah sosok yang bisa dijadikan contoh yang baik. Dan anak-anak adalah peniru ulung, maka menjadi Ayah yang baik, semoga anak-anaknya menjadi baik pula.

Suami , Ayah dari anak-anak kita memang bukan sosok yang sempurna. Jika ternyata, Ia masih belum bisa dekat dengan anak-anak nya jangan berkecil hati. Barangkali ia memang butuh waktu untuk bisa berperan sebagai ayah yang menyenangkan.

ayah_yang_menyenangkan

Peran ibu, tentu mengingatkan akan pentingnya kedekatan dengan anak-anak, dengan cara yang paling nyaman buat suami. Nah, kalau yang satu ini masing-masing suami tentu beda. Yang tahu dengan pasti tentu istrinya.

Jika Ayah berhasil menjadi pribadi yang menyenangkan bagi anak-anaknya, maka akan terjalin kedekatan emosional yang dalam. Jika sudah terjalin kedekatan, komunikasi dua arah akan mudah dilakukan. Anak-anak bisa terbuka bicara apa saja tanpa sungkan dan takut dimarahi. Kedekatan ini akan memudahkan para ayah mengontrol perilaku anak-anaknya. Apalagi beberapa studi telah membuktikan manfaat kedekatan antara Ayah dan anak.

Teman-teman punya pendapat atau pengalaman memiliki atau menjadi  Ayah yang menyenangkan?. Hayuk, berbagi pengalaman di kolom komentar.

 http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

55 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.