Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Vacation

Candi Cetho, Keindahan Berselimut Kabut 

Akhirnya, yeaay, kesampaian juga mengunjungi Candi Cetho. Sudah lama sebenarnya, suami mengajak saya berwisata ke sini. Tapi, cerita horor yang mewarnai keberadaan Candi peninggalan Hindu ini, membuat saya gentar. Apalagi kalau bukan jalan menuju candi yang berkelak-kelok tajam dan menanjak. Serius! Alasan utama saya itu, ya soal ketakutan jika harus menempuh perjalanan itu. Dan hari ini, suami berhasil meyakinkan saya, jika semua akan baik-baik saja.

Berangkat dari rumah masih pagi, sekitar pukul 08.00 WIB. Sengaja, karena jalannya mau pelan-pelan saja. Dari Karanganyar kami masuk jalur Tawangmangu. Setelah beberapa kilometer, kami belok kiri.  Ada papan petunjuk kok, jadi buat teman-teman yang ingin ke Candi tidak akan bingung. Dari sinilah petualangan jalan berkelok-kelok khas pegunungan dimulai. Jalanan sudah beraspal hanya saja di beberapa titik aspalnya tidak rata.  Dibeberapa ruas, nampak ada pengerjaan pelebaran jalan.

Makin naik, pemandangan makin indah dan udarapun terasa dingin-dingin sejuk. Apalagi, setelah memasuki wilayah perkebunan teh Kemuning. Hamparan pohon teh yang hijau, sukses membuat mata merasa dimanjakan dengan view yang indah. Sayang, saya hanya berani sesekali mencuri pandang saja, takut jika harus melihat jurang. Andai saja berani, pengin berhenti sejenak, di pinggir jalan, memotret indah pemandangan. Ya, akhirnya cukup dengan menikmati saja tanpa merekam momennya.

gapura di pintu masuk
gapura di pintu masuk

Saya lihat, memang ada beberapa tikungan tajam. Jika teman-teman berniat kemari, ada baiknya mengecek kondisi kendaraannya agar kuat di tanjakkan dan aman di kelokan. Tetaplah fokus berkendara karena makin naik jalan makin sempit. Berhati-hatilah! karena rawan terjadi kecelakaan. Tapi, tenang, karena pemandangannya indah, jadi terbayarlah, ketegangan selama perjalanan.

Setelah sampai di komplek candi, jangan lupa beli tiket masuk. Harga tiket antara wisatawan lokal dan mancanegara berbeda.

  • Wisatawan lokal: 7 ribu
  • Wisatawan asing: 25 ribu
pakai kain hitam putih dulu ya
pakai kain hitam putih dulu ya

Murah kan, harga tiketnya! Nah, setelah memiliki tiket masuk, kita akan diminta untuk memakai kain motif dengan warna hitam putih. Ini sebagai bentuk penghormatan kita pada tatacara di Candi Cetho. Jangan lupa, beri uang untuk biaya pemeliharaan kain, seikhlasnya, saja. Untuk perempuan, ikatan kain di sebelah samping. Sementara untuk laki-laki, ikatan kain berada di tengah. Jika kain sudah terpasang di badan, maka kita diperbolehkan naik ke komplek candi.

Sesuai dengan namanya, Cetho dalam Bahasa Jawa berarti jelas. Konon maksud dari kata jelas itu adalah dari candi ini pengunjung bisa melihat dengan jelas jajaran gunung yang nampak di kejauhan seperti Gunung Lawu, Gunung Merbabu, maupun gunung kembar Sindoro dan Sumbing. Candi Cetho ini terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karangnyar.

wisatawan-candi-cetho-.jpg.jpeg

Candi Cetho berada di ketinggian 1400 di atas permukaan laut. Untuk mencapai ke pelataran candi, pengunjung harus menaiki tangga yang lumayan tinggi. Gapura depan nampak tinggi dan megah, siap menyambut para pengunjung yang hendak berfoto ria. Pelataran candi bersih, dan rapi. Tak ada sampah sedikitpun. Ketika kami datang, suasana masih sepi pengunjung. Baru ada kami berdua dan para pekerja yang sedang sibuk menyapu dan memotong rumput. Pantas saja, kerapihan rumput dan tanaman amat terjaga.

Candi Cetho, berbeda dengan candi- candi yang pernah saya lihat sebelumnya. Bangunan candi tak besar, dengan struktur bangunannya berteras-teras atau berbentuk punden berundak. Ada 13 teras namun baru 9 teras yang di pugar. Di bagian depan ada gundukan tanah yang didalamnya ada bangunan candi. Kalau dilihat dari dekat nampak bebatuan candi menyembul diantara tanah dan rerumputan yang menyelimutinya. Ada papan peringatan, dimana pengunjung dilarang menaiki gundukan tersebut, agar bangunan candi yang belum dibersihkan dari tanah itu tak rusak.

candi-cetho2.jpg

candi-cetho4.jpg

Nampak pula ada beberapa arca berbentuk manusia maupun hewan, seperti kura-kura, katak dan ketam. Semakin ke dalam,  semakin naik. Di undakan paling belakang terdapat satu bangunan utama candi, yang biasa digunakan untuk pemujaan. Selain bangunan candi, di sana juga terdapat bale-bale yang biasa digunakan sebagai tempat menaruh sesaji saat pemujaan bagi umat Hindu dan Kejawen.

candi-cetho5.jpg
kabut di teras paling tinggi
bale-bale di dekat bangunan utama candi
bale-bale di dekat bangunan utama candi

Suasana Candi Cetho memang syahdu saat kami kesana. Cuaca saat itu cerah tapi ternyata semakin masuk ke dalam suasana jadi berubah. Kabut tiba-tiba turun, membuat suasana jadi agak gelap. Dingin, dan sunyi ! Apa karena kami berkunjung bukan pada hari libur ya?. Memang sih, pengunjung saat itu belum banyak, kami adalah pengunjung pertama. Menurut petugas jaga, Candi Cetho ramai dikunjungi saat hari libur.

Selain wisatawan lokal, saya lihat ada beberapa turis asing. Dari percakapan dengan guidenya yang sempat terdengar, sepertinya mereka itu rombongan keluarga dari Perancis. Tak lama, kami juga bertemu dengan wisatawan perempuan dari Jepang, yang nampak serius memperhatikan bangunan candi dan memotret serta mencatat, seperti sedang melakukan penelitian.

wisatawan Jepang
wisatawan Jepang

Teman-teman ingin berkunjung ke Candi Cetho?.  Silahkan dan jangan lewatkan pula untuk menikmati beragam wisata alam lain seperti Air terjun Parang Ijo, Air Terjun Jumog, Candi Sukuh, Kebun Teh Kemuning maupun menikmati suasana ngeteh di Rumah Teh Ndoro Donker yang akan saya ceritakan di postingan berikutnya

55 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.