Sabun Pembersih Vagina, Perlu Atau Tidak?

Sabun pembersih vagina, saat ini banyak beredar di pasaran bahkan bisa didapatkan secara bebas tanpa resep dokter. Iming-iming, mendapatkan vagina yang kesat, bersih dan wangi membuat banyak perempuan rutin memakai sabun pembersih vagina untuk merawat organ intimnya. Namun kabarnya, penggunaan sabun pembersih vagina dalam jangka panjang tak dianjurkan. Apa sebab?

Saat itu saya sedang belanja bulanan di minimarket dekat rumah. Mata saya kemudian tertuju pada sabun pembersih vagina. Sempat sih, tangan ini mengambilnya dan membaca komposisinya. Hati saya ragu, antara tergiur dengan promonya yang bikin bersih, kesat dan wangi dan ragu dengan keamanannya. Yah, maju mundur cantik gitu! Akhirnya sih mundur teratur, tidak jadi membeli karena merasa ada hal yang perlu saya cari tahu lebih dulu.

Sudah nalurinya perempuan ya, suka dengan hal yang bersih dan wangi. Pun berkaitan dengan kondisi organ intimnya. Sebagian perempuan ada yang merasa jika adanya cairan di organ intim tersebut dirasa menganggu. Apalagi bagi mereka yang telah menikah. Sst, konon, para suami juga nggak suka kondisi yang demikian. Jadilah, demi alasan menjaga keharmonisan hubungan suami istri maka para perempuan ini juga memilih memakai sabun pembersih vagina.

Nggak salah sih, dengan alasan tersebut karena hubungan suami istri yang harmonis kan salah satu upaya menjaga kelanggengan berumahtangga. Hanya saja, caranya perlu ditinjau lagi. Apakah menggunakan sabun pembersih vagina itu aman?

sabun-pembersih-vagina3

Kenali Kondisi Vagina

Vagina adalah alat reproduksi perempuan yang secara alamiah memang memiliki cairan dalam bentuk lendir. Fungsi dari cairan ini adalah untuk menjaga kebersihan vagina itu sendiri. Jadi, yang perlu digaris bawahi adalah cairan pada vagina itu normal.

Saat-saat tertentu, produksi cairan akan meningkat. Biasanya, saat menjelang siklus menstruasi, saat ovulasi maupun saat hamil.

Dalam kondisi normal cairan vagina itu bening, tidak berbau dan tidak menimbulkan rasa gatal.

Secara kasat mata, cairan tersebut mirip putih telur. Jika sedang banyak, cairan memang bisa membasahi pakaian dalam. Kondisi ini memang kadang bikin para perempuan seperti saya merasa tak nyaman.

FYI, dalam cairan vagina terdapat bakteri, yaitu bakteri baik berupa Lactobacillus dan bakteri patogen.

Komposisi dari bakteri tersebut adalah 95% berupa lactobacillus dan 5% berupa patogen.

Layaknya sebuah ekosistem, vagina juga membutuhkan keseimbangan. Kondisi seimbang adalah saat vagina berada dalam kondisi asam dengan PH antara 3,8-4,2. Kondisi inilah yang membuat bakteri baik Lactobasillus tumbuh subur, sementara itu patogen akan mati.

Jika kondisi seimbang itu terganggu, misalnya, terjadi penurunan keasaman maka akan menyebabkan turunnya imunitas vagina. Bakteri patogen akan mudah menyerang sehingga timbulah penyakit.

Penyebab kondisi tak seimbang bisa bervariasi, antara lain disebabkan karena konsumsi kontrasepsi oral, sperma, darah haid, douching (menyeprotkan cairan ke dalam vagina), masalah hormon, menopause maupun kehamilan.

sabun-pembersih-vagina4

Kenali Ketidaknormalan Cairan Vagina

Jika cairan vagina itu normal adanya dan jumlahnya yang banyak pada saat tertentu juga normal, lalu kapan sih, perempuan seperti saya harus waspada?

Menurut dr. Muliani Sukiman dari tim Alodokter, menyebutkan bahwa perempuan perlu waspada ketika cairan yang keluar dari vagina memiliki ciri-ciri seperti ini:

Berwarna kuning atau kehijauan, berbau dan menyebabkan rasa gatal

Kondisinya tersebut adalah keputihan tidak normal, ini tentu akan menganggu. Sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk bisa mendapatkan pengobatan yang tepat. Hal ini demi menghindari, resiko terkena penyakit yang lebih serius.

Jaga Kebersihan Vagina

Menjaga cairan vagina tetap dalam kondisi normal harus dilakukan agar tidak terkena infeksi. Cara bagaimana? Tentu dengan menjaga kebersihan seputar vagina. Untuk sehari-hari, membersihkan vagina cukup dengan air bersih. Mengapa? Karena vagina memiliki mekanisme membersihkan diri melalui cairan yang ada di sana. Dengan begitu, keseimbangan flora yang ada di vagina tetap terjaga.

Cara membasuh vagina itu dianjurkan dari arah depan ke belakang. Hal ini dimaksudkan agar bakteri dari anus tak mencemari vagina. Jangan lupa, untuk mengeringkan vagina setelah dibersihkan agar kondisi vagina tak terlalu lembab. Jika sedang menstruasi, sering-seringlah mengganti pembalut agar kebersihan vagina tetap terjaga.

Bagaimana Dengan Penggunaan Sabun Pembersih Vagina?

Sabun pembersih vagina ada yang terbuat dari bahan-bahan kimia dan adpula yang terbuat dari bahan herbal. Meskipun berbeda bahan, fungsi keduanya sama yaitu membersihkan vagina.

sabun-pembersih-vagina2

Memang membersihkan vagina menggunakan sabun akan jauh lebih bersih ketimbang menggunakan air bersih saja. Kondisi vagina yang terlampau bersih justru bisa menganggu keseimbangan organisme yang ada dalam vagina, seperti disebut dr. Riska Ismalilia Puteri Iskandar dari Redaksi Medis Klikdokter. Alasan inilah yang membuat dokter menganjurkan untuk tidak memakai sabun pembersih vagina dalam jangka waktu lama.

Selain itu pada beberapa perempuan penggunaan sabun pembersih vagina mengakibatkan iritasi. Nah, di sinilah para perempuan seperti saya perlu berhati-hati ya, dalam memilih dan menggunakan sabun pembersih vagina.

So, Perlu atau Tidak Menggunakan Sabun Pembersih Vagina?

Kalau merujuk pendapat dokter di atas, air bersih saja cukup untuk membersihkan vagina. Tapi, kadang kawatir juga kan, air yang kita pakai kurang bersih. Suka parno sama penyakit seperti kanker serviks. Lebih mantap kalau memakai sabun pembersih vagina. Adakah, diantara teman-teman yang beralasan demikian?

Sementara itu, diantara teman-teman saya, ada juga yang membutuhkan sensasi kesat dan wangi supaya nyaman. Apalagi nih, buat yang sudah menikah, pengin dong pengin suami bahagia, uhuuk.

Kalau begitu maunya, ya sebaiknya konsultasi dulu ke dokter, sebelum menggunakan sabun pembersih vagina.

Teman-teman punya cerita tentang menggunakan sabun pembersih vagina? Share yuk!

48 Replies to “Sabun Pembersih Vagina, Perlu Atau Tidak?”

  1. Sabun pembersih V ini kan menjaga kelembapan juga, kalo aku pakai agar lebih bersih. Dan memang benar, kalau cuma air doang emang gpp masalahnya sering khawatir air itu bersih atau nggak. Karena kadang airnya ada kotor dikit gitu >.<

    1. Iya Mak Ranny, kekawatiran yang sama kalau soal air.
      Someday kalau mau pake,saya mau konsul dulu sama dokter.

  2. Kalauu uti cukup pakai sabun antiseptik D saja..untuk tubuh dn keseluruhan kecuali wajah

    1. Siip uti. Gak ada keluhan kan Uti?

  3. Aku ngga pakai apa-apa mbak, air saja. Tapi kadang terasa kurang bersih jg sih

    1. Perasaan yang sama jugaa.

  4. Aku ga pke jg, karena ya itu..takut malah jadi iritasi. Klo pas nggak nyaman, ada gatal…biasanya aku rebus sirih sendiri mbak. Buat diminum atau mbersihin vagina..merasa lebih aman karena make yang alami

    1. Oh ya air rebusan sirih dari dulu dipercaya bisa membersihkan daerah kewanitaan. Saya belum nyoba termasuk yang diminum.

  5. Kalau sedang kondisi yg ekstra ordinary miss V nya, baru pake sabun v. Misalnya terasa gatal sekali karena habis haid yg terlalu lama (efek KB misalnya). Itupun saya milih yg anti bakteri bukan yg pewangi2 gitu… soalnya khawatir itu tadi, cuma iming2 iklan. hehe
    Agak mahal dikit gapapa.

    1. Oke…jadi pake saat tertentu saja ya Mba Iim.
      Iya ya sekarang banyak produk sabun pembersih vagina, jadi bingung milihnya.
      Makasih sharingnya Mbw Iim.

  6. Terkadang aku pakai mba Ety. Tapi nggak sering dan harus cek duu sebelum digunakan.

    1. Iya Mba Rach..lebih baik berhati-hati.

  7. Aq lebih suka pake air rebusan sirih sih mbak..ngerebus sendiri. Hemat..soalnya di kebun banyak..hehehe biar irit.

    1. Huwaaa, senangnya punya kebun. Apa-apa tinggal metik.
      Lebih alami ya Mba Wid.

  8. aku punya sih mbak pembersih ms V, tapi pakainya sekali-sekali aja. nggak rutin. soalnya takut juga kalau sering-sering 🙂

    1. Iya Mba, disesuaikan dengan kebutuhan ya.

  9. Aku suk gatal juga mba, apalagi kalo habis BAK di tempat umum, atau celana sudah basah dipake lagi…tapi itu kayaknya bukan karna cairan apa ya, mungkin kulit vaginaku sensi

    Sekarang aku juga lagi suka ngobrolin hal ini, ama anak gadisku yang bnetar lagi mau gede…supaya dia ngeh ama cairan yang keluar dari vaginanya

    1. Nah itu mba, susah juga kalau di tempat umum ya..harus bawa tisu deh buat mengeringkan. Supaya nggak lembab banget kondisinya.

  10. Aku kadang pake air daun sirih yg direbus.
    salam kenal ya Mbak 🙂

    1. Wah, banyak juga yang memakai air rebusan sirih ya.
      Salam kenal Mba Wahyu

  11. Iya mbak, air di rumah belum tentu bersih lho. Saya ini pernah ngalamin air kuning, kecoklatan, sampai yang nyaris kayak kopi. Mesti diendapkan dulu kalau mau pakai.
    Memang sekarang sudah nggak, tapi tetap ada khawatirnya

    1. Duuh, parah banget mba kondisi airnya.
      Ngeri juga ya kalau mau makai. Wajar sih kalau kemudian kawatir nggak bersih

  12. Dulu aku pakai Mba.. Tapi karena baca-baca dan katanya malah ngga bagus, jadi aku hentikan. Ya seperti yang Mba Ety bilang itu..

    Dulu pakainya pas masih gadis. Karena keputihan juga kan..trus katanya kalau pakai sabun pembersih itu bisa mengurangi keputihan. Malah nyatanya makin parah yg aku rasa.

    Jadi aku hentikan aja, toh memang alami yaa keluar cairan seperti itu.

    1. Nah, ini yang dimaksud dokter tadi. Yang terjadi malah Flora di vagina jadi gak Seimbang, lebih banyak yg patogen.
      Makasih sharingnya mba Arinta.

  13. Cukup dengan air bersih ya, Mbak, arahnya dari depan ke belakang. Namun, sesekali memakai sabun pembersih juga tidak apa-apa; kata kuncinya sesekali.

    1. Iya Ustadz, begitulah yg dianjurkan dokter.

  14. Kalo saya sendiri nggak pake pembersih kewanitaan setiap hari, mungkin hanya 2-3 kali seminggu saja 🙂

    1. Iya Mba Kanaya, jaga-jaga saja supaya gak kena efek sampingnya.

  15. Saya juga lebih memilih pakai air aja Mbak, kalaupun ada sabun/ pebersih mungkin ada baiknya konsul dokter aman or gaknya kali ya TFS 😀

    1. Iya Mba April, biar nggak salah pilih.
      Semoga selalu sehat ya mba.

  16. Dulu, waktu sedang hits hits-nya penggunaan sabun vagina ini, jujur saja, saya yang masih bocil waktu itu, tergoda juga menggunakannya. Jiwa remaja saya yang ingin seluruh tubuh termasuk di bagian intim pun wangi (karena terprovokasi iklan), sempat menggunakannya. Efeknya ternyata bagian vagina saya terlalu kering, berujung iritasi dan gatal. Setwlah itu saya hentikan pemakaiannya hingga sekarang. Semoga setelah menikah nanti, saya nggak tergoda lagi untuk menggunakannya. Semoga suami saya kelak, cukup pengertian soal masalah ini. Semoga.

    1. Wah #sebuahtestimoni.
      Mba Akarui terlalu semangat makainya, mungkin terlalu banyak jadi kesat sekali dan malah kering. Jadi harus hati-hati memili dan menggunakan sabun pembersih wanita ya.
      Pengalaman berharga Mba. Makasih sharingnya.

  17. aduh area wanita 😀

    1. Kenapa kesini?
      #sebuahedukasi

  18. Saya sih nyimak saja 😀

    1. Nyimaknya yang lempeng ya Mas Ditya

  19. saya sesekali saja pakainya

  20. Jadi fresh ya Mbak, Vaginanya. Aku belum pernah coba sabun vagina 😉

    1. Saya juga belum coba mba. Lha akhirnya gak jadi beli.

  21. kalau menurutku perlu, apalagi buat yang udah menikah. 😀

    1. Makasih pendapatnya Mba Ila.

  22. oooh gituu.. **manggut-manggut

    1. Hehehe, iyaaa

  23. menurut saya perlu juga , tapi pilihlah sabun pemebersih V yg herbal , karena lebih aman menurut saya

    1. Baik Mas Akhmad, yang herbal ya..dicatet

  24. selamat hari ibu says: Reply

    Aduh kok saya nyasar kesini ya hehe. Ikut belajar boleh kak? Udah masuk umur da. Lagi ngumpulin perbekalan ilmu untuk menghadapi pernikahan nih haha

  25. sabun khusus miss V ini memang banyak yang ditawarkan, betul kita harus berhati-hati, salah-salah pakai malah bermasalah aduh jangan sampai deh, aku terbisa memakainya sekali-sekali saja lihat kondisi saja, dan aku biasanya menyiapkan tisue atau lap kain khusus setiap selesai wawian langsung dikeringkan, untuk menjaga agar pakaian dlm tetap kering

Leave a Reply