Tekwan, Kenangan, Dan Rasa Rindu

Saat tinggal di Palembang, saya punya tempat favorit untuk makan Tekwan. Namanya sih, kalah kesohor dibanding kedai pempek yang lain. Tapi, rasa Tekwannya gurih dan kuahnya sedap. Apalagi, letaknya ada di seberang lorong tempat saya tinggal. Saya pun tambah suka karena tak perlu jauh-jauh untuk bisa menikmati semangkok Tekwan yang lezat.

Akhir tahun 2004, tepatnya sebulan sebelum tsunami Aceh, suami memboyong saya ke Palembang. Mulailah ia mengenalkan aneka makanan Palembang. Sambil menikmati bulan madu kami, diajaklah saya ke sebuah kedai Pempek yang terkenal. Di sini, saya mulai mengenal aneka makanan Palembang, salah satunya, Tekwan. Makanan berkuah bening ini langsung memikat lidah saya.

Entah apa tepatnya yang membuat saya langsung menyukainya. Tapi, yang saya ingat, saat pertama kali menyecap kuahnya, yang tertinggal di lidah adalah rasa gurih tapi ringan. Beda dengan makanan berkuah yang pernah saya rasakan sebelumnya. Gurih tapi pekat dan berminyak.

Selang beberapa waktu, saya tahu kalau sedap dan ringannya kuah Tekwan ternyata berasal dari kaldu udang. Ini hal baru buat saya. Selama ini, saya hanya tahu tentang kaldu ayam dan kaldu sapi. Maklumlah, saya lahir dan besar di sebuah desa, di mana udang susah ditemukan. Yang paling sering ditemui ya, ayam, daging sapi dan ikan air tawar.

 

Seorang teman food blogger, Diah Didi, pernah mengatakan jika kunci kelezatan kaldu udang itu ada pada cara memasaknya. Menurutnya, udang jangan langsung direbus begitu saja. Tujuannya agar tidak ada bau amis, dan sedapnya bisa paripurna.

Gunakan kepala dan kulit udang, setelah dicuci bersih, sangrai hingga berwarna kemerahan. Setelah itu, beri air untuk membuat kaldunya.

Kabar baiknya, saya tidak alergi dengan kaldu udang. Jadi, saya benar-benar bisa puas makan Tekwan kapan pun saya pengin. Penjual Tekwan mudah ditemui di tiap lorong. Kalau mau makan Tekwan di tempat yang nyaman, tinggal kunjungi saja kedai pempek yang ngehits. Di sana pasti juga tersedia makanan turunannya seperti Tekwan.

Tekwan berisi adonan ikan dan tepung sagu yang direbus dan dibentuk kecil-kecil, soun, jamur kuping, sedap malam, bengkuang, daun bawang, seledri, bawang goreng dan isian timun. Biasanya, ada kecap dan sambal cabe rawit yang bisaΒ sebagai pelengkapnya.

Bicara rasa, memang relatif, karena ini soal selera. Kalau saya suka sekali dengan Tekwan, di depan Primkopti Plaju. Nama kedainya Pempek Sentosa. Kedainya kecil tapi rasanya nagih. Rasa bulatannya (sebenarnya sih nggak bulat, anggap saja bulat) gurih ikan tapi nggak amis.

Sementara kuahnya, terasa kaldu udangnya. Andai saja disantap tanpa tambahan kecap manis dan sambal sebenarnya sudah cukup. Tapi, lidah Jawa saya kadang menuntut sedikit rasa manis. Jadi, saya perlu kecap manis. Kalau sambal, ini lebih susah lagi menghindarinya karena saya suka pedas. Ya, paduan rasa gurih, manis dan pedas adalah kesukaan saya.

Sedap malam kering atau disebut kimchan adalah salah satu bahan dalam Tekwan yang unik. Sedap malam kering berwarna kekuningan, berbentuk memanjang. Kerap juga dipakai untuk sajian kimlo.

Awalnya saya pikir, sedap malam kering dalam tekwan, berasal dari bunga sedap malam yang harum baunya saat malam hari. Ternyata, bukan!

Sedap malam kering dalam Tekwan maupun Kimlo berasal dari bunga pisang yang dikeringkan (dried lily flower) (sumber : sukamasak.com)

sedap malam kering
foto pinjem Mak Riweuh

Ini menjawab rasa penasaran saya, tentang sedap malam dalam Tekwan. Teman-teman saya sampai heran mendengar saya mencari sedap malam untuk dibuat masakan.

Tekwan itu nikmatnya disantap hangat-hangat. Paling pas sih, makan di kedainya. Jadi tidak perlu dibungkus kantong plastik. Tapi, kalau saya seringnya makan di rumah. Jarak kedai dengan rumah yang dekat, tak akan membuat Tekwan jadi dingin ketika akan disantap.

Kedai sederhana itu pernah menjadi andalan saya saat hamil anak pertama. Saya masih ingat, saat malas memasak karena mual-mual di trimester awal, Tekwan lah yang bisa berdamai dengan mulut dan perut saya. Untungnya, tinggal berjalan ke ujung lorong, saya bisa mendapatkan seporsi Tekwan untuk makan. Jadi kebutuhan makan selama malas memasak karena mabok tersuplai dari sini.

Selama awal-awal tinggal di sana, saya belum banyak memiliki teman. Jadi, dari pagi hingga pagi lagi hanya diam di dalam rumah. Sampai akhirnya, saya merasa jenuh. Saya butuh aktifitas lain sambil menunggu suami pulang kerja. Akhirnya, saya memilih belajar memasak makanan khas Palembang. Walaupun kalau nggak bisa memasaknya pun, nggak papa. Tinggal beli, pasti beres.

Tapi, saya memang ingin bisa, jika suatu hari tidak tinggal di Palembang lagi maka bukan hal sulit untuk memasak makanan Palembang seperti Tekwan dan Mie Celor. Saya belajar memasak dengan Bu Uus Thabrani, beliau pemilik toko kue dan tempat kursus memasak.

Dulu sih, saya jarang mempraktikan resepnya, karena godaan kemudahan suka bikin saya malas memasak masakan Palembang termasuk Tekwan. Kalau sekarang, saya justru sering memasak Tekwan ataupun pempek karena kalau mau beli, jarang yang jual.

Terus terang, saya suka rindu bisa makan Tekwan lagi. Ada untungnya juga, saya sempat belajar membuat Tekwan. Memasak Tekwan sendiri, mampu menuntaskan rasa rindu akan kelezatan disetiap sesapan kuahnya.

Seperti beberapa waktu lalu, ketika rasa rindu makin tak terbendung, maka upleklah saya membuat Tekwan. Ini masakan yang memerlukan ketelatenan dalam membuatnya. Banyak langkah-langkah yang harus dilakukan, seperti menggiling ikan, membuat tekwannya, membuat kuahnya, merebus isiannya dan menyajikannya. Tapi, sebanding kok, dengan rasa puas karena bisa makan Tekwan lagi.

Kalau teman-teman berminat memasak Β sendiri, berikut ini resep yang saya biasa saya pakai:

Bahan:

  • 250 gram ikan giling
  • 1 butir putih telur
  • 175 gram tepung sagu
  • Garam, merica secukupnya
  • Air secukupnya agar tekstur adonan seperti adonan bakso daging

Pelengkap

  • Soun rebus
  • Seledri
  • Daun bawang
  • Bawang goreng

Kuah

  • 500 gram kepala udang
  • 8 siung bawang merah
  • 5 siung bawang putih
  • Merica secukupnya
  • Kecap asin
  • 30 Garam
  • 50 Gula
  • 4 liter air
  • Jamur Kuping
  • Bengkuang
  • Sedap malam kering
  • Daun Bawang

Cara memasak

  1. Ikan giling, telur, dan garam campur jadi satu.
  2. Masukkan sagu, aduk dan masukkan air, ratakan
  3. Rebus air dengan diberi sedikit minyak goreng, sampai mendidih, lalu masukkan adonan tadi. Cukup bentuk dengan sendok dan nggak perlu bulat karena aslinya tekwan memang nggak bulat.
  4. Rebus sampai mengapung di permukaan panci. Lalu angkat dan tiriskan
  5. Sangrai kepala udang hingga kemerahan lalau beri air. Rebus sampai mendidih, saring, dan buang kepala udangnya, sisihkan.
  6. Haluskan bumbu untuk kuah, tumis sampai harum, masukkan merica, udang, jamur kuping, sedap malam, daun bawang.
  7. Didihkan kembali kaldu tadi, masukkan bumbu yang sudah di tumis.
  8. Masukkan bengkuang yg sudah dicampur dengan gula dan garam.
  9. Masak sampai mendidih. Koreksi rasa.
  10. Tata dalam mangkok, soun rebus, tekwan, bawang goreng dan seledri lalu siram dengan kuah tadi.
tekwan palembang
minus sedap malam kering

Kato Wong Plembang

Amun sudah teminum banyu musi, pasti pengen balek lagi ke Plembang

Entahlah! Tapi, ini saya anggap sebagai sebuah harapan. Ada alasan yang mengharuskan saya dan suami kembali ke sana, suatu hari nanti. Mungkin bukan untuk menetap, tapi menengok yang tertinggal.

Saya punya cara untuk menuntaskan rindu terhadap masakan yang sudah lama tidak pernah saya santap. Saya akan memasak sendiri makanan itu, seperti ketika saya rindu dengan Tekwan ini. Mungkin setiap orang punya cara yang berbeda dalam menuntaskan rindu pada makanan. Bagaimana dengan teman-teman?

 

45 Replies to “Tekwan, Kenangan, Dan Rasa Rindu”

  1. Dulu aku paling gak bisa bedain tekwan sama bakwan malang lho. Aku kenal tekwan dr pas acara kondangan πŸ™‚

    1. Wah, padahal beda jauh Mba Oline walau sama – sama berkuah.

  2. Belum pernah makan tekwan jadi pengin deh coba πŸ˜€
    eh eh itu yang sedap malam kalo org Chinese nyebutnya kimchang, itu aku suka pakai kalo bikin tanghun (mirip soun gitu) πŸ˜€

    1. Iya Mak Ranny, tekwan memang terpengaruh makanan Cina.
      Wah, coba deh share resepnya Mak ran, biar bisa coba masak sendiri.

  3. Aku pernah bikin tekwan, dan tetep aja paling enak kalo beli. Hiks

    1. Hehehe, ya udah beli aja Mak Irul, gak repot.

  4. Ah, Mba Ety…jadi ikutan kangen masakan Palembang. Dulu pas masih di Jakarta gampang nyarinya. Tekwan ini dulu sering banget dibikinin sama walimurid yang orang Palembang.
    Yuk Mba Ety kita ke Palembang bereng, nanti nginepnya di rumah Kakakku aja πŸ˜€

    1. Wah, senangnya, ada wali murid yang perhatian gitu. Pasti Nyak, guru kesayangan nih.
      Wah, boleh juga idenya Nyaaak.

  5. Pernah tinggal di suatu tempat dalam waktu yang cukup lama, pasti ada yang tertinggal ya Mba.. Kayak saya juga, suka kangen sama Bogor. Walaupun cuma 4 tahun disana, tapi rasanya hampir separuh hidup saya ada disana.

    Di Bogor juga saya pertama kali makan tekwan. Waktu itu, sama teman-teman ngaji mingguan, saat melingkar disuguhi tekwan.

    Sayangnya saya alergi udang, jadi icip sedikit saja udah..biar ngga keluar gatal-gatalnya. Selanjutnya saya icip pempek aja yang tetap jadi favorit saya. πŸ™‚

    1. Betul Mba Arin, banyak kenangan yang susah buat dilupakan.
      Wah, sedih juga kalau alergi sama makanan tertentu. Kadang kepingin makan tapi nggak bisa.
      Tapi, kalau mau kaldunya diganti saja Mba arin.

  6. Pantesan waktu itu aku coba bikin kaldu udang kan ya. Langsung aja rebus tanpa sangrai. Eh baunya aneh, akhirnya ga saya pake πŸ™ ternyata disangrai dulu….yaaampuun Ipeh….

    1. Masak lagi aja Ipeh, biarnggak penasaran.

  7. mbak Etty samaan ih aku juga jatuh cinta makanan Plembang itu sama tekwan..
    kalau pempek dulu waktu tinggal di sana nggak doyan, doyannya pas udah pindah ha.. ha..
    mau ah nyoba masak tekwan pake resep mbak Etty, trims ya

    1. Wah, sayang Mba Monda, coba sejak awal doyan tekwan, kan bakal puas makannya.
      Silahkan dicoba Mba Monda.

  8. Aku suka tekwan. Di Gresik, dulu ada penjual pempek sama tekwan yang rasanya ueanak gila. Tp, dia udah meninggal. Sayangnya, warungnya tutup. Sejak itu, belum menemukan lagi tekwan yang enak

    1. Wah, sayang nggak ada yang meneruskan ya Mba.
      Coba masak sendiri aja Mba, di gresik banyak udang dn ikan, kan?

  9. Suka tekwan juga ya Mbak?

    Alhamdulillah, di tempat saya juga sudah ada penjual tekwan, pembuatnya asli Palembang. Jadi, kalau-kalau rindu, sudah ada penawarnya ☺

    1. Iya Mba Nurin, banyak makanan Palembang yang cocok di lidah saya.

  10. Waktu msh di aceh dulu, komplek rumahku banyak orang palembangnya. Mama belajar masak pempek, tekwan dan model ama temen2nya ini sampe akhirnya bisa jago :). Skr mama di medan, aku di jkt jd ga bisa sring2 nyobain masakannya.. Jd kalo kangen tekwan, aku k restoran palembang aja.. Tp ttp blm ada yg seenak mama πŸ˜€

    Makanya aku ada planning mau ke palembang mba, abis lebaran mungkin. Mau puas2in kulineran doang πŸ˜€

    1. Wah, masakan Mama memang nomer satu ya Mba Fanny.
      Harus, sering-sering mudik mba berarti, hehehe.
      Sama ih, saya kalau mudik juga kesempatan untuk kulineran makanan khas kampung halaman karena jarang makan jadi kangen.

  11. juara ini mbaa~~ masakan2 palembang itu emang za ampuun :*
    kapan2 pengin bikin juga ah mba, thankyouu yaaa

    1. Sepakat Mba Dilaa, maknyuss pokoknya.

  12. Oh, pantesan nggak wangi…ternyata bunga pisang kering. Gampang malah nyarinya, tinggal ngeringin bunga pisang di kebun hehe

    1. Iya Mba Nana, wah bisa dong pesen ke Mba Nana, qeqeqe,
      Saya nggak punya pohon pisang euy.

  13. Rach Alida Bahaweres says: Reply

    Aku sama skali belum pernah makan tekwan, mba. Padahal udah sering dengar namanya. Kalau pakai olahan dgaing ikan tetap nggak amis ya mba. Terima kasih resepnya mba

    1. Wah, harus nyobain Mba Alida.
      Di Jakarta sepertinya banyak yang jualan pempek dan tekwan.

  14. Bookmark dulu. Praktekin kalau udah pulang. Suwun mb ety resep tekwannya

    1. Monggo Aida

  15. Baru tahu saya mb…Berkotek sama kawan adalah akronim Tekwan

    1. Iya Mba, menurut wikipedia.

  16. Saran saya bagi yang ingin melihat postingan ini lebih baik sudah makan.terlebih dahulu.
    Karena postingan ini dapat menyebabkan rasa lapar. hhe

    1. Wow, maap telah bikin anda lapar. hehehe

  17. aku pernah bantuin mama buat tekwan hasilnya gagal mbaa, keasinan ==; jadi kapok masak sendiri dan lebih sering beli huhuhu

    1. Kalau ada yang jual mending beli aja Mba, nggak rempong.

  18. belum pernah makan tekwan…
    tiap ke penjual pempek, mesti langsung milih kapal selam..hihihi

    1. Sekali-kali cobain Mba Sara. Di kota barat keknya ada yg jual tekwan

  19. Ya Allah, sepertinya emang bener2 mesti cari resep tekwan sekarang. Saya mupeng berat. Tekwan ini cuma cicip pas lebaran, bukan karena bikin sendiri tapi saat berkunjung ke rumah kawan.

    1. Hehehe, bikin sendiri Mba Lidha, biar bisa makan kapan saja. Nunggu lebaran masih lama.

  20. Asyyiiiikkkkk paling suka deh ama Tekwan. Abis ini posting resep Model dong mak..enak juga tuh.

    1. Iya deh, kapan-kapan bikin model

  21. jadi kangen makan tekwan

    1. Ayo Mba masak sendiri.

  22. jadi pengen ke palembang deh heheheh kangen

    1. Wah, segera beli tiket mba, hehehe.

  23. salah satu makanan favorit selain bakso ini bu..kpn dimasakin lg haha

Leave a Reply