Competition

Cinta Rupiah Dan Pelajaran Dari Seorang Teller

Hari masih pagi ketika saya mengambil nomer antrian. Ruangan penuh dengan nasabah. Sayapun rela menunggu giliran. Setelah cukup lama menunggu, nomer antrian dipanggil juga. Sambil menggendong Zahira yang tertidur, saya berjalan menuju meja Teller.  Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat saya kecewa. Tapi, inilah awal kesadaran saya tentang bagaimana sebaiknya uang rupiah itu diperlakukan.

Hari itu saya memang menyetor uang ke bank dalam jumlah yang cukup banyak. Satuan uangnya juga beragam. Semalaman saya dan ibu menghitung dan menyusun uang-uang tersebut agar jumlahnya pas dan tersusun rapi. Ternyata apa yang telah saya dan ibu lakukan masih belum tepat dimata teller. Seharusnya, saya menyusun uang tidak kebolak-balik. Oke, soal ini saya baru tahu. Saya pun minta maaf untuk ketidaktahuan ini.

Awalnya saya kecewa dengan sikap teller yang jutek. Pengalaman ini sempat saya tulis di blog ini juga. Selang beberapa lama setelah tulisan dipublish, ada tanggapan dari pembaca yang berprofesi sebagai seorang teller memberikan pendapatnya. Saya juga mendapatkan pengetahuan mengapa uang harus disusun secara seragam hadap-hadapannya.

“Uang disusun seragam hadap-hadapannya agar memudahkan saat dilakukan pengecekan keasliannya di sinar ultra violet”

Oh, begitu, saya baru tahu, lho. Saya yang awalnya kecewa akhirnya bisa memahami mengapa mba teller jutek sama saya, hehehe.

Cerita lengkap tentang Teller Juga Manusia

Selama ini saya merasa sudah cukup baik memperlakukan uang rupiah yang ada di kantong. Iya, nggak pernah corat-coret uang kertas meskipun hati saya sedang penuh kegalauan. Nggak pernah membuat uang kertas rupiah robek meskipun sering menerima uang dalam kondisi robek.

Paling bikin basah uang karena lupa mengecek kantong ketika merendam pakaian, ups. Maaf, itu dulu, sekarang nggak begitu, kok. Ini sudah bisa disebut dengan cinta rupiah, kan? Apalagi saya nggak punya simpanan mata uang lain. Mata uang yang saya pakai dan simpan, ya hanya rupiah.

uang kertas emisi 2016

Hm, sepertinya cintaku pada rupiah belum teruji. Cinta karena nggak ada pilihan lain. Coba aja kalau saya mendapatkan penghasilan dalam mata uang selain rupiah, apakah saya akan menyimpannya atau menukarnya ke dalam rupiah sebelum disimpan. Kira-kira saya pilih mana? Wkwkwk, inilah ujian yang sesungguhnya.

Mengapa Harus Cinta Rupiah

Istilah cinta rupiah saya dengar pertama kali tahun 1998. Saat itu ada gejolak hebat yang terjadi di negeri ini. Salah satunya adalah krisis moneter dan ekonomi. Kondisi nilai tukar rupian menyentuh angka Rp 16.650 per dolar AS. (Sumber : CNN)

Apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah itu? Salah satunya dengan mencanangkan Gerakan Cinta Rupiah. Pemerintah mengajak masyarakat yang menyimpan mata uang dolar untuk melepasnya dan menggantinya dengan rupiah. Gerakan ini dinilai tak berhasil karena hanya bersifat himbauan. Meskipun setelah melalui proses panjang akhirnya rupiah kembali menguat, peristiwa krisis moneter 1998 dan gerakan cinta rupiah tentu harus menjadi perhatian bersama.

Apalagi, sekarang ini Bank Indonesia kembali gencar mengkampanyekan Cinta Rupiah. Setidaknya ada 3 alasan harus cinta rupiah:

Alasan Yuridis

Dalam Pasal 2 Ayat 2 UU No. 7 Tahun 2011 disebutkan bahwa rupiah adalah alat pembayaran yang sah di wilayah Indonesia. Sebagai alat pembayaran yang sah sudah seharusnya rupiah berdaulat penuh. Ia akan menjadi satu-satunya alat pembayaran dalam setiap transaksi yang terjadi wilayah Indonesia.

Alasan Ekonomi

Makin sering rupiah digunakan, akan semakin kuat nilai tukarnya.  Cara menggunakan rupiah salah satunya Sebetulnya bukan hal sulit kan selalu bertransaksi dengan rupiah? Bagi saya yang sehari-hari punyanya hanya uang rupiah tentu mudah. Apalagi saya belum pernah membutuhkan mata uang lain untuk bertransaksi. Tapi, ada kondisi berbeda yang dihadapi teman-teman yang tinggal di wilayah perbatasan. Contohnya mereka yang tinggal di wilayah perbatasan Papua Nugini, lebih suka menggunakan mata uang Kina ( mata uang Papua Nugini) daripada Rupiah.

Alasan Nasionalisme

Mata uang rupiah tidak hanya sebagai alat pembayaran yang sah. Lebih dari itu ia adalah lambang kedaulatan negara. Menggunakannya sebagai alat pembayaran sebagaimana diatur dalam undang-undang adalah wujud dari kecintaan kita kepada negara ini.

Bahkan menurut Bank Indonesia menggunakan rupiah adalah wujud bela negara tanpa senjata. Yup, sepakat dengan pernyataan ini. Di zaman dimana perang fisik berakhir maka ada wujud lain dari bela negara. Apalagi disaat rupiah melemah dan butuh support maka harus terpanggil untuk turut serta menguatkan. Misal dengan melepas simpanan dolar.

Wujud Cinta Rupiah

Kalau buat saya, yang namanya cinta ya harus dibuktikan dengan perbuatan. Ya, seperti laki-laki yang bilang cinta terus datang untuk ijab kabul. Ini namanya cinta yang terbukti. Bukan sekadar pernyataan di bibir semata. Begitupun dengan cinta rupiah, harus diwujudkan pula dengan tindakan nyata.

Bagi teman-teman yang kondisinya sama dengan saya, nggak ada alasan untuk tidak turut serta. Wujud cinta rupiah itu bermacam-macam. Dari yang sederhana hingga yang berat karena dibutuhkan kerelaan untuk tidak tergiur dengan mata uang lain yang lebih menguntungkan.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk cinta rupiah:

  • Menjaga fisik rupiah dengan baik

Ini wujud cinta yang masih sederhana. Tapi, faktanya kadang suka diabaikan. Menjaga fisik rupiah dengan baik itu diantaranya dengan tidak mencoret-coret rupiah kertas, tidak melipatnya, tidak meremasnya karena jadi kusut dan rusak, tidak mensteples rupiah kertas, atau menjepitnya agar tak robek, dan mencegah agar rupiah kertas tak tercuci karena rentan rusak.

cara-merawat-rupiah
sumber : twitter Bank Indonesia
  • Kenali ciri-ciri uang rupiah asli

Peredaran uang palsu tentu meresahkan kita semua. Nah, salah satu cara meredamnya dengan waspada terhadap uang palsu. Caranya dengan mengenali ciri-ciri uang asli. Jika menemukan uang yang diyakini palsu maka bisa dilaporkan ke pihak yang berwenang dalam hal ini Bank Indonesia dan Kepolisian. Kita memang tak mendapat penggantian atas uang palsu yang kita miliki. Tapi, tindakan melaporkan keberadaan uang palsu bisa membantu menjaga integritas rupiah.

Jika tak memiliki alat sinar UV, maka bisa dilakukan dengan cara sederhana. Pengecekan keaslian rupiah bisa dilakukan dengan teknik 3D yaitu Dilihat, Diraba dan Diterawang. Agar bisa membedakan antara uang asli dan uang palsu, maka kita harus mengenali tanda yang ada diuang rupiah asli. Uang rupiah emisi tahun 2016 memiliki 7 tanda pengaman. Silahkan dicermati:

Hal lain yang bisa dilakukan adalah menata uang kertas rupiah dengan hadapan yang seragam ketika setor di bank. Ini mempermudah pengecekan keasliannya dengan sinar ultaviolet, seperti saran mba teller.

Contoh tanda pengaman pada uang pecahan 100.000

sumber: Liputan6.com
  • Bertransaksi dengan rupiah

Bukankah itu biasa dilakukan? Ya, dan harus terus dilakukan. Setiap transaksi di wilayah negara ini harus memakai rupiah termasuk mereka yang tinggal di wilayah perbatasan maupun mereka yang bergerak di sektor pariwisata.

  • Jika punya simpanan dolar, tukarkanlah ke dalam rupiah.

Bukankah investasi dalam bentuk dolar lebih menguntungkan? Iya betul tapi jika terlalu besar jumlah dolar yang disimpan akan berdampak buruk pada rupiah. Di sinilah dibutuhkan kerelaan teman-teman yang biasa berinvestasi dalam bentuk dolar.

Dari semua tindakan di atas, yang paling berat itu memang yang terakhir. Ibaratnya yang kita lakukan itu adalah sebuah pengorbanan. Kalau cinta mestinya pengorbanan sebesar apapun akan dilakukan bukan?

Mudah buat ngomong begitu karena saya kan nggak pernah pegang uang dolar. Iya sih, setidaknya saya sudah tahu apa yang harus dilakukan agar rupiah terjaga eksistensinya. Bukankah pengetahuan itu awal dari pemahaman dan membangun kesadaran?

Iya, awalnya disadarkan oleh tindakan yang tak mengenakan seorang teller. Akhirnya membuat saya sadar betapa selama ini ada hal yang saya belum ketahui tentang bagaimana mewujudkan cinta rupiah.

 

You may also like...