meet-and-greet-film-terbang-menembus-langit-solo
Event

Film Terbang Menembus Langit dan 5 Nilai Agar Kita Nggak Gampang Menyerah

Sukses itu tak seperti bikin mie instant, 3 menit jadi!

Poin itu yang paling nempel di otak setelah menonton Film Terbang Menembus Langit garapan sutradara Fajar Nugros. Hahaha, secara saya kadang suka berangan-angan, bisa sukses tanpa repot, errr. Trus sekarang merasa diingetin lagi supaya tetap semangat mewujudkan mimpi. Apapun rintangan di depan, dan berapa kali harus jatuh terjerembab.

Terus terang, ini pertama kalinya saya nonton film di bioskop setelah sekian purnama berlalu, wkwkwk. Kasian, ya. Ya, begitulah faktanya, sejak menikah, dan punya anak, saya belum pernah nonton film di bioskop lagi. Paling banter nonton film ngabisin kuota video dari paket data internet.

Sekalinya dapat undangan Meet and Greet dan nonton bareng, saya mengiyakan untuk hadir. Bukan tanpa alasan sih, karena saya sudah butuh keluar dari sarang wkwkwk, dan filmnya juga menarik. Persepsi awal tentang film ini, saya dapatkan ketika menonton teasernya. Film bertema zero to hero dengan latar belakang kehidupan tahun 1980 -1990 an seorang keturunan Thionghoa.

meet-and-greet-film-terbang-menembus-langit-solo2
suasana meet and greet dengan para pemain

Menjadi menarik karena temanya related dengan kehidupan saya. Selama ini, saya memang tertarik mencari tahu tentang kunci sukses para keturunan Thionghoa dalam membangun bisnisnya. Ini ada kaitannya dengan cita-cita saya dan suami, memiliki bisnis yang sukses. Plus saya tentu bisa dapat suntikan semangat dari film Terbang Menembus Langit.

Begini, karena saya bukan seorang reviewer film, saya nggak akan bahas detil mengenai hal-hal teknis, ya. Saya menyampaikan mengenai nilai yang didapat setelah menonton film dengan pemeran utama Dion Wiyoko dan Laura Basuki ini.

Btw, sebelum ngomongin lebih lanjut soal Film Terbang Menembus Langit, mau cerita dikit aja tentang masa kecil saya.

Saya kecil, punya beberapa teman keturunan Thionghoa. Nggak semua dari teman saya ini, orang kaya. Sebagian kehidupan mereka bahkan sama dengan kehidupan keluarga pada umumnya di lingkungan kami. Bahkan ada yang lebih buruk secara ekonomi.

Jadi, bagi saya sosok Onggy Hianata kecil bukan hal baru, bahwa tidak semua keturunan Thionghoa terlahir kaya. Saya sudah lebih dulu melihat faktanya.

Yang menarik justru bagaimana mereka yang minoritas dengan segala keterbatasan gerak mampu survive bahkan sukses.

Setidaknya nilai-nilai ini yang saya bisa ambil dari Film Terbang Menembus Langit :

  • Sukses Kerap Harus Menempuh Jalan Panjang

Ya, karena ada sih yang beruntung, kaya sejak lahir. Jadi, nggak pernah merasakan yang namanya susah dan sakitnya melepaskan diri dari kesulitan hidup. Tapi, yang ini jumlahnya berapa persen sih?

Faktanya, yang saya lihat, mereka yang sukses harus menempuh jalan yang nggak mudah. Makanya, setelah nonton Terbang Menembus Langit, saya kemudian ingat akan minyak kelapa.

Bisa bayangin, kan? Gimana rasanya jadi kelapa. Membuat minyak kelapa prosesnya panjang. Si kelapa juga harus mengalami rasa sakit yang berulang. Jatuh, dibelah, dicungkil, diparut, dipanaskan dan diperas.

Begitulah gambaran perjuangan Onggy Hianata seorang motivator dan pengusaha yang concern dalam hal membangun karakter. Seminarnya telah sukses diselenggarakan dibanyak negara.

  • Suami Istri Itu Tim

Duh, nggak kebayang jadi istrinya Onggy. Disaat hamil, justru kemalangan bertubi-tubi menghampiri. Bahkan ada tragedi yang hampir saja merenggut bayi mereka.

Meskipun, kehidupan rumahtangga mereka diwarnai dengan konflik, Candra Dewi sang istri tetap mendukung pilihan hidup suaminya.

Inilah yang dibutuhkan seorang suami, dukungan dari istri apapun resikonya.

Ah, saya jadi merasa bahwa apa yang saya lakukan sudah tepat. Ketika suami memilih berwirausaha, saya pun memilih untuk mendukungnya. Meskipun saya sadar, hidup kami bakal lebih dinamis dari sebelumnya, hahaha.

  • Beranilah Bermimpi Dan Mewujudkannya.

Masa ada orang yang takut punya impian tinggi? Ada, hehehe. Untuk bermimpi saja takut. Apalagi untuk mewujudkannya.

Padahal sukses itu berawal dari berani memimpikan sesuatu dan memperolehnya. Onggy berani memiliki impian dan berupaya mewujudkannya meski harus berupaya lebih keras dari orang lain.

  • Habiskan Jatah Gagalmu

Ada adegan menggelitik di film ini antara Achun nama panggilan Onggy, dengan Kakaknya.

“Kamu ndak capek apa to? Gagal terus Chun.”

Ealah, semua orang pasti nggak pengin gagal terus. Bikin usaha A gagal, ganti usaha B gagal lagi, coba lagi usaha C, eh belum berhasil juga.

Pesannya, jangan menyerah ketika kegagalan mendera. Siapa tahu, jarak sukses sebenarnya sudah dekat. Kalau berhenti, rugi dong. Jadi, habiskan saja jatah gagalnya, lalu petik sukses kemudian.

  • Tuhan Sebaik-baik Penolong

Disaat jalan di depan seolah buntu maka kembalilah pada Tuhanmu. Mintalah padaNya agar dibukakan jalan. Ada momen disaat Onggy sudah habis akal. Tak tahu harus bagaimana lagi, akhirnya dia berdoa. Ya, manusia memang harus senantiasa ingat Tuhan dalam kondisi apapun. Sejatinya pertolonganNya amatlah dekat.

Saya jadi ingat ketika beberapa kali usaha kami dibenturkan pada masalah, maka Alloh lah yang menolong kami lepas dari kesulitan.

Nilai-nilai tersebut bisa diadopsi lho, buat teman-teman yang sedang membangun mimpi. Bisa dijadikan motivasi untuk terus berjuang apapun cita-citanya.

Oh ya, overal saya suka sama film yang diproduseri oleh Susanti Dewi ini. Film Terbang Menembus Langit sarat nilai tapi disampaikan dengan cara sederhana.

Ada kesedihan yang berulang, sakit yang tak tertahan tapi nggak bikin saya nangis bombay. Iya, padahal saya aselinya gampang tersentuh. Trus juga mata yuyu alias gampang mbrebes mili kalau melihat sesuatu yang menyedihkan.

Mungkin, karena film ini dibuat lebih menghibur dengan kekocakan Erik Estrada, dan kawan-kawan kost Onggy. Celetukan-celetukan mereka renyah dan berhasil bikin saya ketawa.

Ironi-ironi yang hadir dibeberapa scene disampaikan dengan jenaka. Intinya hidup memang harus fleksibel dan mau kompromi dengan keadaan.

Akting pemain utamanya yaitu Dion Wiyoko dan Laura Basuki bagus. Nampak lebur ke dalam karakter Onggy dan Candra Dewi.

Satu hal lagi, pesan soal pluralitas dalam film ini juga proporsional, gak lebay. Gak berat sebelah, dan nggak terbawa isu mainstream saat ini. Nggak semua orang Thionghoa begini begitu. Pun nggak semua etnis lain begitu begini. Bingung? Hahaha, makanya nonton aja.

foto-bareng-pemain-film-terbang-menembus-langit

Suasana meet and greet dan nobar Film Terbang Menembus Langit, di The Park Mall, Solo, 9 April 2018, sangat ramai. Beberapa pemain film ini hadir menyapa para pengunjung. Ada Dion Wiyoko, Laura Basuki, Ibu Dayu, Erik Estrada, Marcel Darwin, Delon Thamrin, dkk.

Senang akhirnya bisa bertatap muka sekejap dengan Dion Wiyoko. Yaah, walaupun hasil welfinya mengecewakan, qeqeqe. Selain kami dari komunitas Blogger Solo, dan Akademi Berbagi, suasana meet and greet juga diramaikan oleh kehadiran ratusan pegawai pabrik Sritex.

Oke teman-teman, itu tadi beberapa hal yang sempat saya catat dari Film Terbang Menembus Langit. Nggak ada kritik, mak? Soal ini saya serahkan sama teman-teman yang paham tentang dunia film. Saya ambil posisi sebagai penikmat film saja. Mengambil nilai-nilai yang baik sebagai proses pembelajaran.

film-terbang-menembus-langit

Selebihnya teman-teman nonton sendiri aja, Film Terbang Menembus Langit. Catet tanggal tayangnya, mulai 19 April 2018 di bioskop seluruh Indonesia. Oh ya, meskipun film ini inspiratif tapi tetap perhatikan ratingnya, ya. Film ini ditujukan untuk usia 13 tahun ke  atas.

Pesan dari film Terbang Menembus Langit, sukses itu hak dari mereka yang berani bermimpi dan mewujudkannya. Nggak peduli apapun latar belakangnya. Tetap Semangat!

 

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *