Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Health

CerVIX, Metode Deteksi Dini Kanker Serviks : Sebuah Harapan Baru

Deteksi dini akan mengurangi angka kematian akibat kanker (WHO)

Hari itu, saya meniatkan diri untuk melakukan deteksi dini kanker serviks. Kebetulan ada program pemeriksaan pap smear gratis. Setelah beberapa kali melewatkan program sejenis sebelumnya, akhirnya hari itu saya berhasil menjalani pemeriksaan. Sekuat tenaga saya singkirkan perasaan risih, dan takut. Gimana ya, melihat alatnya saja sudah bikin saya ngilu. Ditambah lagi munculnya pikiran negatif tentang hasilnya. Ya, sempat maju mundur cantik kek Syahrini, gitu.

Adakah teman-teman yang memiliki problem seperti saya ketika akan melakukan deteksi dini kanker serviks?

Rasa tak nyaman dan takut sakit maupun takut akan hasil tes nggak hanya dialami saya seorang. Di luar sana banyak wanita yang belum pernah melakukan skrining menyatakan takut kalau harus pap smear. Padahal, selain pap smear, ada juga skrining dengan metode IVA yang lebih sederhana. Namun, ternyata masih banyak yang belum melakukan tes IVA dengan berbagai alasan.

Padahal, pernyataan dari WHO yang saya tulis di awal tadi, menggambarkan pentingnya deteksi dini penyakit kanker, termasuk kanker serviks. Angka kematian akibat kanker serviks tinggi.

“Data WHO menyebutkan dari 92.000 kematian wanita, sejumlah 10,3 % meninggal akibat kanker serviks”

Saat ini, kanker serviks juga menjadi ancaman paling mematikan untuk wanita Indonesia. Menurut Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof Aru Wicaksono :

“20 dari 40 wanita di Indonesia yang menderita kanker serviks meninggal dunia setiap harinya akibat kanker serviks”

Duh, banyak juga, ya!
Jumlah tersebut bisa berkurang, dengan deteksi dini kanker serviks. Semakin dini terdeteksi, makin cepat pula ditangani. Jika ditemukan telah stadium lanjut, peluang sembuhnya semakin kecil.

HPV (Human Papillomavirus) Penyebab Kanker Serviks

HPV bukanlah virus yang baru. HPV merupakan virus yang menyebabkan kutil di tubuh. Ia ditularkan melalui hubungan seksual maupun kontak langsung antara kulit, membran mukosa, oral sex maupun pertukaran cairan tubuh. Ada banyak jenis HPV, namun tidak semua HPV berbahaya. Bahkan, HPV kerap muncul tanpa gejala sehingga orang tak menyadari terkena virus ini.

Siapa saja sih yang beresiko terjangkit HPV?

Ternyata, siapa pun bisa beresiko terna HPV. Termasuk mereka yang pernah kontak seksual dengan penderita HPV, baik pria maupun wanita bisa terjangkiti HPV. Ada dua tipe HPV yang dikenal berbahaya, yaitu HPV tipe 16 dan 18 karena beresiko mengakibatkan kanker serviks.

Human papiloma virus
HPV
Sumber : Wikipedia

Meskipun tak semua jenis HPV menimbulkan masalah kesehatan namun tetap harus diwaspadai. Sifatnya yang datang secara diam-diam tanpa gejala, justru harus menjadi perhatian.

Jika tak ingin terkena HPV, bisa dilakukan pencegahan dengan vaksinasi. Memang sih, biaya vaksinasi HPV saat ini masih mahal. Untuk yang satu ini saya juga belum kesampaian ikut vaksin HPV.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker serviks?

Deteksi ini harus jadi pilihan. Bisa dengan pap smear ataupun IVA test (Inspeksi Visual Asetat). Kedua metode ini dilakukan dengan memeriksa organ genital. Cara seperti itu ternyata membuat banyak wanita enggan melakukan deteksi dini karena malu.

Sebagian lagi beralasan takut sakit. Ada juga yang tak siap dengan hasilnya. Sebagian yang lain merasa belum sempat karena kesibukan.

Tempo hari saya coba melakukan survei kecil kepada teman-teman saya. Saya bertanya kepada 10 orang teman, tentang sudahkah melakukan skrining dengan pap smear ataupun IVA test, ternyata:

* 5 orang belum pernah melakukan tes karena takut sakit
* 1 orang belum pernah karena belum siap dengan hasil tes nya.
* 4 orang lainnya menyatakan belum sempat melakukan tes.

Hasil survei kecil ini, ternyata mengonfirmasi fakta yang sering diungkap para tenaga kesehatan tentang minimnya minat untuk melakukan deteksi dini kanker serviks.

Metode Deteksi Dini Kanker Serviks Berbasis DNA, Semoga Bisa Jadi Solusi

Edukasi terus menerus harus dilakukan agar kesadaran untuk skrining makin meningkat. Selain itu upaya penemuan metode pemeriksaan baru harus didorong.

Nah, bicara soal penemuan metode deteksi dini kanker serviks, ada berita menggembirakan. Seorang ilmuwan Bioteknologi LIPI, Sukma Nuswantara, telah berhasil menemukan metode deteksi dini kanker serviks berbasis DNA.

Cervik deteksi dini kanker servik
Dr. Sukma Nuswantara dan temuannya
Foto : Hilmi Setiawan (Jawa Pos)

Berbeda dengan metode deteksi dini yang lebih dulu ada, metode temuan Sukma bisa mendeteksi keberadaan HPV berikut jenisnya. Seperti diketahui, HPV tipe 16 dan 18 adalah HPV penyebab kanker serviks. Jika metode ini bisa mendeteksi keberadaan HPV dan jenisnya maka tindakan selanjutnya bisa segera diambil.

Oh ya, sampel yang diambil tidak harus apusan vagina dan serviks. Metode ini bisa dilakukan dengan sampel darah, urine, sekret uretra, apusan serviks, serum, maupun apusan mulut.

Cara kerja metode ini adalah dengan memperbanyak DNA dengan teknik PCR (polimerase chain reaction). Menurut penjelasan beliau,

dengan PCR, satu molekul DNA HPV bisa diduplikasi menjadi 1,5 milyar molekul dalam waktu 2-3 jam. Dengan demikian HPV akan mudah dideteksi lebih jauh.

Apakah alat PCR telah tersedia di banyak fasilitas kesehatan?

Meskipun tidak semua fasilitas kesehatan memilikinya namun sampel dapat dikumpulkan dan dibawa dengan mudah ke fasilitas kesehatan yang memiliki PCR. Bahkan, doktor lulusan Biologi Molekuler dari Hirosima University ini, sedang mengembangkan metode tanpa PCR.

Cervik metode deteksi dini kanker serviks

Saat ini, Sukma telah membuat prototipe hasil temuannya. Berupa kit diagnostik, yang memiliki nama komersil CerVIX. CerVIX ini, terdiri dari 4 jenis tabung kecil yang di dalamnya diberi cairan yang berisi primer cocktail. 4 varian tadi memiliki fungsi yang berbeda.

CerVIX 1, untuk mendeteksi apakah seseorang positif terkena HPV
CerVIX 2, untuk mendeteksi HPV tersebut ganas (penyebab kanker serviks)
CerVIX 3, untuk mendeteksi HPV jinak penyebab Condyloma atau kutil ( genital wart)
CerVIX 4, untuk deteksi pra vaksin HPV. Jika hasilnya positif maka orang tersebut tak perlu di vaksin karena di dalam tubuhnya telah terbentuk antibodi.

Jadi, nantinya kita hanya perlu datang ke laboratorium untuk diambil sampel biologisnya, contohnya: darah. Kemudian darah tersebut dimasukkan ke dalam tabung tadi. Selanjutnya diproses dengan PCR. Kita tinggal tunggu hasilnya.

Kelebihan CerVIX temuan lelaki kelahiran Bandung ini adalah,

1. Bisa mengetahui jenis HPV.
2. Wanita maupun pria bisa dites karena sampel yang diambil tak harus apusan vagina maupun serviks.
3. Bisa mengurangi rasa risih dan takut deteksi dini karena pemeriksaan tak melalui organ genital.
4. Pemeriksaan ini bisa dilakukan ke segala umur bahkan untuk yang belum menikah karena bisa dilakukan tanpa apusan vagina maupun serviks.

CerVIX masih dalam tahap uji klinis dan melengkapi persyaratan legalitas. Kabarnya CerVIX sudah berada di tangan salah satu produsen farmasi. Jadi, produksi massal tinggal tunggu waktu.
Berdoa yang kenceng ya, teman-teman, agar prosesnya dimudahkan.

Jujur, saya sangat berharap agar CerVIX, nantinya bisa diproduksi secara massal. Tujuannya, agar semakin banyak wanita mau melakukan skrining. Jika kesadaran ini meningkat, tentu angka penderita kanker serviks bisa ditekan.

Selain itu, CerVIX adalah hasil inovasi peneliti dari Indonesia. Ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia menunjukkan kemajuan inovasi teknologi kesehatan. Bangga!

Oh ya, yang nggak kalah penting adalah dukungan terhadap hasil inovasi. Caranya dengan menggunakan hasil inovasi tersebut. Contohnya: jika CerVIX telah diproduksi secara massal maka sudah seharusnya semua fasilitas kesehatan bisa memakai metode deteksi dini kanker serviks tersebut.

Dengan adanya dukungan seperti itu, diharapkan akan memacu para ilmuwan lebih produktif lagi melahirkan inovasi teknologi secara terus menerus. Jika ini bisa dilakukan, Indonesia jaya bukan hanya impian.

Sumber:

Interview dengan Dr. Sukma Nuswantara Via Whatsapp

WHO

KEMENKES RI

Radar Malang 

Jawapos

 

31 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.