Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Competition,  Health

Perlindungan Imunisasi MR, Asa Memutus Rantai Rubella

Tangisnya  pecah ketika menyampaikan pesan untuk putrinya. Dengan berlinang airmata, Ia memberikan motivasi agar putrinya tegar dalam menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Perempuan itu pun menyiapkan jawaban jika suatu hari putrinya bertanya akan kondisinya yang berbeda dengan adiknya.

Grace Melia atau Gesi, begitu saya biasa menyapanya adalah perempuan yang saya ceritakan tadi. Di setiap pertemuan kami, kesan yang saya tangkap dia seorang yang ceria, lincah, ramah dan easy going. Rupanya, perempuan ini pandai menyembunyikan kepahitan dalam hidupnya. 

Kisah ini diawali dari ketidaktahuan yang ternyata mahal harganya. Saat itu tahun 2011 Gesi bekerja sebagai seorang English Trainer di sebuah pertambangan di Kalimantan Timur. Suatu hari ia mengalami sakit. Badannya demam, pusing dan merasa lemas. Di hari ketiga muncullah bintik-bintik merah muda, tidak menonjol dan nampak seperti di bawah permukaan kulit.

sakit kepala

Setelah diperiksa dokter umum, dokter menyatakan tak ada sesuatu yang perlu dikawatirkan. Sementara bintik merah adalah gatal biasa akibat dari adaptasi di lingkungan baru. Padahal Gesi tak merasakan gatal. Memang, setelah bintik merah muncul, beberapa hari kemudian sakitnya berangsur sembuh. Tapi, rupanya sakitnya menjadi sebab atas apa yang dihadapinya saat ini.

Gesi kemudian memutuskan kembali ke Jogjakarta saat mengetahui dirinya hamil. Seperti perempuan hamil lainnya, dia rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dia juga rutin meminum vitamin yang diresepkan dokter. Melalui pemeriksaan USG, kandungannya nampak baik-baik saja.

Di akhir masa kehamilannya, Gesi harus melewati proses persalinan yang panjang. Menahan sakit kontraksi selama 18 jam. Tapi kemudian dokter memutuskan melakukan operasi sesar karena kondisi janin yang malposisi dan ada pengapuran. Gesi akhirnya melahirkan dengan selamat. Begitupun dengan putrinya, yang diberi nama Aubrey Naiym Kayacinta (Ubii).

Tapi, kebahagiaan sebagai ibu baru harus terjeda ketika dokter spesialis anak mendiagnosa ada kebocoran pada jantung Ubii berdasarkan pemeriksaan stetoskop. Rasa bahagia berubah menjadi kesedihan. Gesi tentu kawatir akan kondisi putri pertamanya itu. Dokter menyarankan pemeriksaan USG jantung untuk memastikan kondisi jantung Ubii.

Setelah pulang dari rumah sakit, Ubii kerap rewel, selalu menangis kecuali ketika sedang menyusu. Saat berusia dua bulan, Ubii dinyatakan positif mengalami kebocoran jantung tipe PDA dan ASD. Meskipun kata dokter kebocoran jantung yang dialami Ubii bukan tipe yang berat, kenyataan ini tetap membuat Gesi kawatir.

Sementara itu kerewelan Ubii tak kunjung mendapat jawaban. Hingga suatu hari Gesi menyadari Ubii terlalu pasif. Tidak pernah bergerak layaknya bayi-bayi lain. Ubii kerap mendongakkan kepalanya ke atas. Puncaknya ketika Gesi meletuskan balon di telinga Ubii, putrinya tak bereaksi sama sekali.

Melihat kenyataan ini, Gesi segera membawa Ubii ke dokter. Dia bahkan sampai memohon agar dokter bersedia melakukan tes apapun untuk pendengaran Ubii. Dengan segenap pertimbangan akhirnya dokter memutuskan agar Ubii menjalani tes BERA.

BERA (Brain Evoked Response Audiometry) yaitu tes untuk memprediksi ambang pendengaran dan untuk mengetahui jenis gangguan pendengaran di otak maupun jalur otak.

Tes BERA dilakukan dengan menaruh elektroda di kepala Ubii. Agar bisa mendapatkan hasil yang tepat, tes dilakukan saat Ubii tidur. Elektroda inilah yang merekam aktivitas otak Ubii. Dari sini bisa diketahui respon otak terhadap suara.

Hasilnya? Lagi-lagi Gesi harus menerima kenyataan yang menguras kesabarannya. Ubii dinyatakan dalam kondisi profound hearing loos (gangguan pendengaran sangat berat). Ubii hanya bisa mendengar suara yang amat keras seperti suara mesin pesawat terbang. Namun, dengan tingkat kedengaran tak sekeras saat kita mendengar suara tersebut.

Tidak sampai di sini saja, Gesi harus menemui kenyataan pahit lainnya saat melakukan Kuisioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).

KPSP adalah sebuah alat untuk mengukur perkembangan anak, normal atau ada keterlambatan atau penyimpangan. Hasil dari kuisioner itu nilainya hanya 6. Artinya ada keterlambatan pada tumbuh kembang Ubii.

Berbekal hasil KPSP tersebut Gesi membawa Ubii ke dokter spesialis anak dan kemudian dirujuk ke dokter spesialis syaraf. Dilakukanlah USG kepala, dan hasilnya ditemukan bercak putih di otak Ubii. Gesi memang sudah lebih siap menerima kenyataan ini meskipun air matanya tak terbendung saat mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Ubii.

ruam kulit akibat rubella
ruam kulit akibat virus rubella sumber : kemenkes

Inilah untuk pertama kalinya, dia mendengar istilah Rubella. Dokter syaraf tersebut menduga jika Gesi pernah terkena Rubella saat hamil. Untuk mendapatkan kepastian diagnosa. Selanjutnya Ubii menjalani tes darah IgG dan IGM Rubella. Hasil tes menunjukkan jika Ubii positif Rubella.

Gesi dan suami pun segera mencari bantuan. Yang dibutuhkan Ubii adalah dokter spesialis anak dengan sub spesialis syaraf. Bertemulah mereka dengan Prof dr. Sunartini Hapsara Sp.A (K). Dari beliaulah diketahui jika Ubii mengalami Congenital Rubella Syndrome (CRS).

Congenital Rubella Syndrome (CRS) merupakan sekumpulan gangguan/kelainan bawaan lahir karena virus rubella yang ditularkan ibu hamil ke janinnya.

Infeksi virus rubella ditandai dengan munculnya demam, bintik-bintik merah, kepala pusing dan pembesaran kelenjar getah bening. Ternyata, sakit demam, pusing dan munculnya bintik-bintik merah kala itu adalah tanda jika Gesi terinfeksi Rubella. Fatalnya, saat itu usia kandungan Gesi ada di trimester pertama. Akibatnya, janinnya mengalami CRS.

Ubii kemudian mendapatkan penanganan intensif dengan pemberian obat dan fisioterapi secara rutin. Ya, kondisi tubuh yang kaku dengan skala kekakuan 3 membuat Ubii selalu rewel. Fisioterapi akan mengurangi kekakuan tubuh Ubii. Hal ini berlangsung sejak diagnosa di usia 5 bulan hingga sekarang saat usia Ubii 6 tahun. Di usianya ini Ubii belum bisa berjalan dan untuk melakukan semua hal masih dibantu orang lain.

Kebayang kan, betapa sulit jalan yang harus dilalui Gesi dalam merawat Ubii. Tidak hanya tenaga dan pikiran yang terkuras. Demi kondisi yang lebih baik, obat dan terapi harus terus dilakukan. Pun dengan kebutuhan alat bantu yang menunjang kebutuhan Ubii, seperti alat bantu dengar, kursi roda dan lain-lain. Semua itu membutuhkan biaya yang besar. Dan ini berlangsung terus menerus.

Melalui infografis ini, saya mengajak kita semua mencermati angka yang ada. Inilah gambaran biaya yang harus dikeluarkan dalam menangani anak pengidap Congenital Rubella Syndrom (CRS).

biaya pengobatan anak congenital rubella syndrome
besarnya biaya untuk menangani anak dengan CRS

Pengeluaran yang amat besar bukan? Padahal ini berlangsung seumur hidup anak. Saya berpikir andai saja kondisinya tidak terkena CRS, uang sebesar itu tentu bisa dialokasikan pada kebutuhan lain, misalnya untuk pendidikan tinggi.

Gesi dan suami termasuk orangtua beruntung. Meskipun berat, mereka memiliki support system yang baik. Ada dukungan keluarga dalam mengatasi masalah Ubii, termasuk dukungan finansial.

Lalu bagaimanakah dengan orangtua yang tak mampu secara ekonomi? Bahkan tidak memiliki support system? Pasti amat berat dalam merawat anak mereka.

Memang sekarang ada BPJS yang membantu. Tapi, BPJS tak mengkover semua biaya. Hanya biaya dokter, obat dan terapi saja yang dikover. Untuk terapi pun dibatasi frekuensinya. Padahal kebutuhan terapi tiap anak bisa lebih dari itu.

Semakin sedih ketika melihat deretan angka kasus Rubella yang ada di Indonesia. Ternyata, angkanya masih besar dan berpeluang untuk terus bertambah jika tak ada upaya pencegahan infeksi virus Rubella.

angka rubella di Indonesia
jumlah penderita Rubella dari tahun ke tahun

Virus Rubella cepat menular lewat liur penderita yang keluar dari batuk dan bersin. Menyentuh benda-benda yang terpapar virus Rubella juga bisa menyebabkan kita tertular. Penting bagi kita untuk menghindari berbagi alat makan yang dipakai oleh penderita, karena kita bisa juga tertular.

Gejala umum yang timbul akibat infeksi virus ini adalah demam, pusing, keluar ruam atau bintik merah pada kulit. Virus ini menyebar ke seluruh tubuh dalam waktu 5 hingga 7 hari. Biasanya virus ini akan menular pada hari pertama hingga kelima setelah munculnya ruam.

Virus ini bisa menginfeksi siapa saja. Baik anak-anak maupun manusia dewasa. Menurut Dirjen P2P Kemenkes RI, Anung Sugihantono, 77% Rubella di Indonesia diderita oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Penyakit ini tergolong ringan. Bisa sembuh dengan sendirinya tanpa intervensi medis khusus. Pengobatan yang dilakukan hanya untuk meringankan gejalanya saja.

Yang berbahaya adalah jika virus Rubella menjangkiti ibu hamil pada trimester pertama.

90 % janin akan mengalami kelainan jantung, buta, tuli, keterbelakangan mental, tumbuh kembang yang lambat bahkan keguguran.

Telah ditemukan sebanyak 1660 suspek CRS. Data tersebut didapat dari 12 rumah sakit sentinel pemantauan kasus Congenital Rubella Syndrom. Pemantauan dilakukan selama 5 tahun terakhir hingga akhir Juli 2018. Ini harus menjadi perhatian kita bersama.

bahaya-rubella-pada-ibu-hamil
bahaya rubella pada ibu hamil

Perlindungan Imunisasi: Mencegah Adalah Upaya Terbaik

Penyakit akibat infeksi virus Rubella belum ada obatnya. Upaya yang bisa dilakukan adalah mencegah agar tak terinfeksi virus ini. Caranya adalah dengan imunisasi atau vaksinasi.

Perlindungan imunisasi dibutuhkan agar tubuh memiliki ketahanan dari virus Rubella. Saat ini WHO, Kementerian Kesehatan dan para akademisi memberikan rekomendasi :

Vaksin MR (Measles Rubella) diberikan kepada anak-anak usia 9 bulan hingga 15 tahun.

Pemberian imunisasi MR pada anak dimaksudkan agar mereka tidak tertular virus Rubella. Selain itu anak-anak tidak menjadi penyebab ibu hamil tertular virus Rubella. Dengan demikian anak-anak Indonesia yang lahir tak terkena congenital rubella syndrome. 

Orangtua tidak perlu kawatir dengan efek samping vaksin MR. Bisa dikatakan hampir tidak menimbulkan efek yang serius. Umumnya hanya muncul demam, ruam merah dan nyeri pada bekas suntikan. Ini normal dan akan hilang dalam hitungan 2 hingga 3 hari.

Pemerintah telah melakukan upaya imunisasi MR melalui dua tahap. Tahap pertama dilaksanakan pada Agustus-September 2017. Sasarannya adalah anak-anak yang tinggal di 6 Propinsi di Pulau Jawa. Hasil positif didapat dari imunisasi MR tahap pertama. Ada hampir 35 juta anak berhasil di imunisasi MR atau sekitar 100,98%.

perlindungan imunisasi MR
program imunisasi MR

Sementara itu program imunisasi MR tahap kedua masih berlangsung. Jadwalnya adalah Agustus-September 2018. Program imunisasi tahap 2 menyasar anak-anak di 28 Propinsi Luar Jawa. Ada sejumlah 31, 9 juta anak harus diimunisasi di tahap kedua. Namun, capaiannya baru sekitar 50, 13 % secara nasional. Bahkan, dari beberapa daerah yang sudah melaksanakan imunisasi MR, capaiannya amat rendah. Padahal sudah mendekati akhir tenggat waktu.

Menurut data per tanggal 23 September 2018, cakupan imunisasi MR terendah ada di wilayah Aceh sebesar 4,94 %. Sementara itu daerah dengan cakupan tertinggi, ada di Papua Barat sebesar 91,83 %. Sedih banget lihat angkanya. Ternyata belum ada yang mencapai angka minimum cakupan.

Padahal cakupan imunisasi MR minimal harus 95 %. Ini adalah syarat agar mendapatkan kekebalan kelompok (herd community).

Adanya herd community maka tidak ada lagi pembawa virus yang akan menulari orang lain terutama ibu hamil. Dengan demikian rantai penularan virus Rubella bisa diputus.

Hal ini sudah dibuktikan. Tercapainya cakupan minimal imunisasi MR tahap pertama berdampak pada penurunan kasus Rubella.

Tahun 2017 suspek campak rubella ada 8099 terdiri dari 2535 poistif campak dan 1549 positif rubella.

Setelah imunisasi MR tahap 1, suspek campak rubella sebesar 1045. Sejumlah 38 positif campak dan 176 positif rubella.

Ini artinya, imunisasi MR terbukti mampu mencegah penyebaran virus Rubella.

Sementara itu jika tidak mencapai target minimal maka upaya imunisasi MR akan sia-sia. Akibatnya kekebalan kolompok (herd community) tidak tercapai maka rantai rubella belum bisa diputus.

Jangan sampai peristiwa yang dialami wisatawan Jepang tertular virus Rubella sekembalinya dari Indonesia terjadi lagi. Keberhasilan imunisasi MR di Indonesia berperan pula dalam memutus rantai penularan Rubella di negara lain.

Upaya pencegahan merupakan upaya terbaik, selain bisa memutus rantai penyakit Rubella, imunisasi pilihan lebih hemat.  Biaya yang dibutuhan untuk mengobati anak CRS mencapai lebih dari 300 juta rupiah per anak.

Jika berbicara tentang beban negara karena pengobatan Rubella, imunisasi lebih rendah cost nya. Dari tahun 2014-Juli 2018 sebesar 5,7 triliun rupiah dipakai untuk penanganan kasus Rubella. Sementara itu biaya yang dikeluarkan untuk kampanye dan vaksinasi MR hanya 29.000 rupiah per anak.

Jika dalam imunisasi tahap 2 ada 31,9 juta anak maka biaya yang dikeluarkan untuk keperluan imunisasi MR sekitar 925 milyar. Ini lebih rendah ketimbang biaya yang dikeluarkan untuk penanganan kasus Rubella.

Mengakhiri Polemik Status Halal Vaksin MR demi Indonesia Sehat

Cakupan imunisasi MR tahap 2 yang tak memenuhi target minimal 95 % ditengarai karena ada penolakan dari sekelompok masyarakat. Status vaksin MR buatan SII (Serum of India Institute) yang diproduksi menggunakan unsur haram menjadikan vaksin tersebut ditolak. Bahkan ada Kepala Daerah yang secara terang-terangan menolak pelaksanaan imunisasi MR tahap 2. Sedih!

Perlu diketahui, didunia saat ini baru ada dua produsen vaksin MR yaitu dari China dan India. PT. Biofarma sebagai importir vaksin MR memilih vaksin MR produksi India. Alasannya, vaksin MR dari India memiliki persyaratan yang lebih lengkap. Sudah memenuhi kualifikasi yang ditetapkan WHO dan kapasitas produksinya besar.

Jadi pemilihan vaksin produksi SII (Serum of India Institute) telah melalui kajian komperhensif.

Vaksin produksi SII tersebut telah digunakan di negara-negara muslim lainnya.

Sebagai seorang muslim, saya juga ingin vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh anak-anak saya, benar-benar halal. Namun, saya juga menyadari kondisi saat ini, dimana vaksin halal belum ada.

Sementara itu, ada urgensi untuk mencegah kelahiran cacat anak-anak Indonesia akibat virus Rubella. Dalam situasi seperti ini, saya pikir MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat telah mengambil keputusan yang tepat terkait status kehalalan vaksin MR produksi Serum Of India Institute yang dipakai oleh Indonesia.

Fatwa MUI No. 33 tahun 2018, adalah pijakan yang bisa dijadikan dasar dalam memberikan vaksin MR meskipun dalam proses pembuatannya menggunakan unsur babi. Ini darurat!

Jika kondisi darurat, maka ruksoh atau keringanan seperti ini boleh diambil. Dengan demikian seharusnya jelas, dan tidak diperdebatkan lagi tentang status imunisasi MR.

cegah rubella dengan perlindungan imunisasi MR
mencegah lebih baik

Toh, di sisi lain pemerintah dan produsen vaksin dalam negeri PT. Biofarma terus berupaya untuk bisa memproduksi vaksin yang bebas dari unsur haram. Artinya, sedang ada ikhtiar membuat vaksin MR yang halal. Memang, membutuhkan waktu panjang untuk bisa membuat vaksin tersebut. Kita doakan bersama-sama agar cita-cita ini bisa terwujud.

Sementara itu, marilah kita ikuti apa yang menjadi program pemerintah. Imunisasi MR mencegah kelahiran bayi cacat permanen. Jika bayi-bayi lahir sehat, tentu Indonesia memiliki generasi penerus yang sehat.

Tidaklah bijak jika kita tidak mengikuti program imunisasi MR dengan alasan, sanggup menanggung resiko jika tidak divaksin.

Ingat! Tujuan perlindungan imunisasi MR adalah memutus rantai penularan rubella. Hal tersebut bisa dicapai melalui kekebalan kelompok (herd community). Jika anak kita tertular virus rubella, dia berpotensi menularkan kepada ibu hamil dan membuat anak lain lahir cacat. Berempatilah!

Betapa berat apa yang harus dijalani Gesi dan ibu-ibu yang memiliki anak pengidap Congenital Rubella Syndrom.

Video ini semoga bisa menggugah kesadaran kita akan pentingnya perlindungan imunisasi MR.

Lebih baik kita bekerjasama, memerangi virus Rubella. Pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, praktisi kesehatan, akademisi dan masyarakat harus satu suara, satu langkah demi generasi bangsa yang berkualitas. Indonesia sehat bebas Rubella harus tercapai di tahun 2020.

Sumber :

http://www.gracemelia.com/

http://www.depkes.go.id/article/view/18082400002/fatwa-mui-bolehkan-imunisasi-campak-dan-rubella-kemenkes-fokus-turunkan-beban-dan-dampak-penyakit-te.html

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/

https://www.msn.com/id-id/berita/nasional/bio-farma-vaksin-mr-telah-digunakan-di-negara-negara-muslim/ar-BBLnM4R

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.