Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Vacation

Sepanjang Petang di Museum Batik Danar Hadi

Langit kota Solo menjelang sore kala itu masih sangat terang. Sinar matahari menelusup hingga ke bawah bajuku. Bulir keringat pun mengucur tanpa kompromi. Untunglah, laju motor ojol yang kutumpangi melesat cepat menuju ke komplek istana di Jln Slamet Riyadi 261. Saya pun tidak perlu berlama-lama bercengkerama dengan panasnya matahari.

Ini bukan kunjungan pertama ke komplek seluas 3500 meter persegi. Beberapa warsa yang lalu, saya pernah menyambangi resto di tempat ini. Tapi kali ini, saya ingin mengulik bangunan yang terletak tepat di samping Soga Resto. Museum Batik Danar Hadi, kepunyaan pengusaha batik kota Solo, Santosa Doellah.

Bicara batik, tidak akan cukup hanya satu petang saja. Sebagai sebuah karya seni nan luhur, batik memiliki banyak sisi yang menarik untuk ditelisik. Bahkan untuk menorehkan cerita batik di atas kertas mungkin butuh ribuan lembar.

Batik tak sekadar kegiatan menorehkan lilin panas sebagai perintang warna menggunakan canting maupun cap. Namun ada filosofi ditiap motif batik yang diwariskan turun temurun melalui ragam tutur. Kedua aspek ini yang membuat batik diakui sebagai warisan budaya dunia non bendawi.

Sebuah pengakuan yang harus di uri-uri atau dijaga dengan baik. Salah satunya dengan mendokumentasikan batik dari zaman ke zaman di sebuah museum. Tak hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut, wujud batik di masa lalu menjadi mudah untuk disaksikan.

Ini penting agar pengetahuan dan keterampilan membatik tak putus oleh gerusan zaman. Bukan berarti batik tak boleh mengikuti perkembangan zaman. Tentu saja boleh, tetapi harus diingat bahwa sejarah batik baik dari aspek teknologi maupun budaya harus tetap lestari.

ruang lobi museum batik danar hadi

Memasuki ruangan lobi tercium aroma kembang ramping nan eksotik. Kembang ramping bukanlah sesajen. Melainkan ramuan khusus yang berfungsi mengharumkan ruangan sekaligus pengusir jamur alami. Wangi daun pandan, kencur, jeruk purut, minyak srimpi, lengkuas, bunga mawar, bunga kenanga, melati dan cempaka berpadu semerbak ke seluruh ruangan membuat batik  koleksi museum batik ini awet dan lestari.

Berada di ruang lobi saya bisa merasakan aura megah tempo dulu. Diiringi alunan gending Jawa nan syahdu, saya menikmati bangunan bergaya Jawa Kolonial. Nampak suasana klasik ala kerajaan amat kental. Elemen interior dan eksterior sangat berkelas. Lampu kristal, guci porselen dari Cina, karpet khasmir, patung perunggu, cermin besar, meja di tengah ruangan bahkan sofa bergaya art nouveau membuat kesan agung nan wibawa bangunan ini. Mencerminkan citarasa pemiliknya, yang mencintai seni.

ruang-lobi-museum-batik-danar-hadi

Seorang perempuan berperawakan mungil memberi sambutan kepada kami dengan ramah. Beliau adalah Asti Suryo Astuti, Asisten Manajer Museum Batik Danar Hadi yang akan memandu kami menelisik batik yang disimpan di sini.
Di museum ini, saya merasa berada di lorong waktu. Menyusuri setiap sudut ruangan yang penuh dengan koleksi wastra batik dari zaman ke zaman. Tiap zaman memiliki nuansa yang berbeda.

Perkembangan batik pada pola dan warnanya ternyata tidak lepas dari pengaruh zaman dan lingkungan. Apa yang terjadi dimasa itu akan tercermin pada ragam hias kain batik yang dibuat para perajin. Ini menjadi dasar penataan ruang di Museum Batik Danar Hadi.

Koleksi Museum Batik Danar Hadi

Memasuki ruangan pertama kami diajak untuk mengenal batik di masa Kerajaan yaitu Batik Kraton. Kegiatan membatik masa itu lazim dilakukan oleh putri keraton sebagai olah cipta, rasa dan karsa. Dilantaskan dengan penuh kesungguhan melalui laku puasa dan meditasi sebagai upaya memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa.

Jadi ragam hias batik dimasa itu lahir dari proses spiritualitas dan kreativitas yang sarat makna.

Motif-motif yang diciptakan mengandung filosofi luhur. Filosofi yang menuntun manusia sejak di kandungan, lahir hingga kembali kepada Tuhan. Jadi zaman dulu setiap motif batik  dipakai sesuai dengan peruntukkannya.

batik keraton

 

batik-keraton

Perempuan yang sedang hamil 7 bulan dalam prosesi mitoni atau selametan tujuh bulan harus memiliki kain batik.  Salah satu motif batik yang wajib dipakai adalah babon angrem. Dalam Bahasa Indonesia, babon angrem berarti ayam betina sedang mengerami telurnya. Motif ini melambangkan kasih sayang dan kesabaran Sang Ibu.

Sementara itu untuk acara peningsetan atau tunangan maka calon pengantin memakai motif bondet. Motif ini berasal dari kata bundet, atau biar jalinan kasih calon pengantin tidak lepas. Bisa juga memakai motif ceplok dempel, artinya kelet, atau biar lengket. Harapannya jalinan cinta calon pengantin tidak terpisahkan lagi.

Filosofi yang lain misalnya Batik Truntum, memiliki makna bersemi kembali. Batik ini biasanya akan dikenakan oleh orang tua mempelai saat proses panggih sebagai simbol mereka menuntun putra-putrinya dalam meraih cinta yang kekal, membahagiakan dan menenangkan. Jadi tidak boleh keliru memakai jenis motif kopohan karena motif ini untuk wanita yang melahirkan.

Warna ragam hias Batik Kraton dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Budha Sehingga memiliki 3 warna pakem. Untuk keraton Solo warna yang biasa dipakai adalah coklat tua, biru tua dan krem. Sementara untuk keraton Jogja menggunakan warna coklat tua, biru tua, dan putih. Selain warna, pola batik masa itu menampilkan motif garuda, lidah api, pohon hayat dan swastika. 

Sementara itu Keraton memiliki motif batik yang hanya boleh dipakai oleh Raja dan keturunannya. Biasa disebut sebagai motif larangan atau forbiden motif. Motif larangan tersebut adalah motif Parang.

Masuk lebih dalam ke ruangan lain, ada koleksi Batik Belanda yang dibuat sekitar tahun 1840-1910. Batik Belanda bukan batik yang dibuat di negara Belanda. Melainkan batik yang dihasilkan oleh pengusaha Belanda di Indonesia.  Seperti diketahui tahun 1849-1910, Indonesia dibawah penjajahan Belanda. Sehingga motif batiknya dipengaruhi budaya Belanda dan Eropa. Tak mengherankan jika cerita-cerita rakyat Eropa seperti Snow White, Henzel and Gretel, Little Red Riding Hod dan cerita lainnya ditemukan dalam selembar kain batik. Yang mengerjakan motif tetap seniman batik Indonesia namun di bawah arahan noni-noni Belanda.

Begitupun dengan koleksi Batik Cina. Motifnya dipengaruhi oleh budaya Thionghoa. Motif-motif binatang seperti kura-kura, burung hong, kelelawar dan lainnya menjadi warna dari Batik Cina. Dalam ragam hias Batik Cina juga dikenal dengan Batik Tiga Negeri. Batik ini memiliki tiga warna pakem, yaitu warna biru, merah dan soga. Uniknya, masing-masing warna dicelup di tiga tempat yang berbeda. Warna merah dicelup di Lasem. Warna Biru dicelup di Kudus atau Pekalongan. Sementara untuk warna Soga dicelup di daerah Surakarta atau Jogjakarta.

batik-danar-hadi

Tak hanya itu, di Museum Batik Danar Hadi bisa ditemui koleksi Batik Jawa Hokokai, Batik Pengaruh Kraton, Batik Adhikarya, Batik Danar Hadi, Batik Indonesia, Batik Petani dan Sudagaran, dan Batik pengaruh India yang semua tertata apik ditiap ruangan.

Sebagai sebuah karya seni, batik memiliki nilai yang tinggi. Berawal dari desain motif yang di lukis diatas kertas. Kemudian motif tersebut dipindahkan dengan cara di blak ke atas kain mori. Semakin rumit motifnya maka akan semakin lama prosesnya. Setelah motif selesai, selanjutnya kain mori harus melalui proses panjang untuk menjadi selembar kain batik yang indah. Langkah demi langkah proses pembuatan batik terdokumentasikan di sebuah ruangan. Pun dengan jenis-jenis lilin yang dipakai disetiap proses, beda-beda.

Sungguh mengagumkan jemari para pembatik saat mengayunkan canting untuk menggoreskan lilin panas di atas motif batik. Bukan pekerjaan yang mudah.

Santosa Doellah memiliki koleksi batik sekitar 11.000 kain batik. Namun tak semuanya dipajang dalam satu waktu. Masing-masing akan mendapat giliran untuk dinikmati para pengunjung. Kalau bukan karena cintanya yang sangat dalam terhadap batik, rasanya muskil Santosa Doellah mampu mengumpulkan koleksi batik sebanyak itu.

Pun karena kecintaannya kepada nDalem Wuryaningratan membuat Santosa Doellah tidak sayang merogoh kantongnya dalam-dalam untuk membeli, merenovasi dan menata ulang istana milik K.R.M.H. Wuryaningrat, seorang patih dan menantu Paku Buwono X, Raja Kasunanan Surakarta, yang sempat terbengkalai. Istana tempat batik yang ia cintai dipajang dan menjadi sumber pengetahuan.

Cintanya terhadap batik telah dimulai sejak usia 15 tahun. Mendapat warisan ilmu dari Sang Kakek, RH Wongsodinomo. Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi UNPAD, ia menikah dengan pujaan hatinya Danarsih, putri seorang pengusaha batik kala itu, Hadipriyono. Santosa Doellah merintis usaha batik, dengan modal kain mori hadiah pemberian kakek neneknya. Usaha itu kemudian diberi nama yang elok yaitu Danar Hadi. Paduan dari nama Danarsih, istrinya dan ayah mertuanya, Hadipriyono. Tanda cinta yang manis sekali.

Di awal usahanya, ayah empat anak ini, membuat batik dengan motif Wonogiren. Setelah produksi batiknya yang dijual dalam bentuk jarik laku di pasaran, ia kemudian mengembangkan usahanya ke sektor ritel. Toko pertama tahun 1973, yang kemudian berkembang hingga banyak kota di Indonesia. Danar Hadi tidak hanya merajai sektor ritel. Perusahaan ini kemudian merambah di industri pemintalan benang dan tenun. PT. Kusuma Hadi Sentosa dan PT. Kusuma Putera Sentosa hadir untuk menjamin ketersedian bahan baku batik produksi Danar Hadi.

Anak kelima dari 10 bersaudara ini tidak hanya mewarisi pengetahuan berdagang batik namun juga kemampuan mendesain motif batik. Ratusan motif batik telah lahir dari tangan dinginnya. Layak, jika kemudian Institut Seni Indonesia, Surakarta menobatkan gelar Empu Batik kepada Santosa Doellah. Museum Batik Danar Hadi yang diresmikan pada 20 oktober 2000, menjadi prasasti paripurna  kecintaan Santosa Doellah terhadap batik.

*****

Langit mulai memerah, tanda senja sudah diambang malam. Satu petang memang tak cukup untuk mengenang batik dari zaman ke zaman. Suatu hari, saya akan kembali lagi, mendengarkan cerita tempo dulu yang penuh dengan keluhuran. Saya berharap Museum Batik Danar Hadi tetap kokoh menjaga batik warisan sejarah.

Museum Batik Danar Hadi
Jln. Slamet Riyadi No. 261, Solo, Jawa Tengah
Jam buka 09.00-16.30 WIB
Tiket:
Umum 35.000
Pelajar / Mahasiswa 15.000

 

22 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.