Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
me and coding mum
Event

Komunitas Coding Mum Indonesia, Mendekatkan Perempuan Pada Teknologi

​Seberapa rumit sih, coding itu? Rumit banget ketika belum tahu ilmu dasarnya. Melihat deretan kode html laksana membaca bahasa dari antah berantah. Tapi, persepsi itu bakal berubah kok, setelah ikut coding mum. Setidaknya, melihat deretan kode tak lagi bikin kening berkerut-kerut.

Awal keterlibatan saya dengan Coding Mum itu terjadi tahun 2017. Saya lupa persisnya, dari siapa mendapat link formulir pendaftaran. Singkatnya, setelah melalui proses seleksi, saya lolos jadi salah satu peserta Coding Mum Jogjakarta, tahun 2017.

Saat itu, pelatihan diselenggarakan dalam delapan kali pertemuan. Tujuh kali pertemuan untuk belajar dan satu kali pertemuan untuk presentasi hasil belajar. Pelatihan diikuti sekitar 20 orang ibu-ibu rumahtangga dengan latar belakang, seperti pebisnis online shop, blogger, pengelola yayasan dan lainnya.

gambar-suasana-coding-mum-jogjakarta
Pict by : Dilo Jogjakarta

Selama 7 kali pertemuan, ibu-ibu mendapatkan materi dasar bahasa pemograman secara sederhana sehingga diharapkan ibu-ibu mampu membuat website sendiri. Bisa untuk toko onlinenya maupun menjadi seorang programer.

Dalam belajar coding, ibu-ibu dipandu oleh seorang mentor utama dan beberapa mentor pendamping. Diakhir pertemuan, ibu-ibu harus mempresentasikan landing page hasil belajar kepada tim penilai yang berjumlah 3 orang. Serius? iyalah, saya tunjukin fotonya, deh.

gambar-presentasi-coding-mum-jogjakarta
versi sederhana yang berhasil saya buat

Kalau mau tahu pengalaman saya bolak-balik Solo-Jogja untuk belajar di Coding Mum Jogjakarta, pernah saya tulis ceritanya. Silahkan dibaca, ya.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, ngapain sih, ibu-ibu belajar coding? Nggak belajar masak aja!

Menurut saya pilihan coding itu bukan sekadar gaya-gayaan, karena selama ini coding diidentikkan dengan sesuatu yang rumit. Ibu-ibu mungkin bakal nggak berminat. Justru ketika ada ibu-ibu yang berhasil belajar Coding. Ini bisa mendobrak stigma yang selama ini ada, bahwa ibu-ibu jauh dari teknologi.

Setidaknya, program ini bisa membuat ibu-ibu dekat dengan teknologi. Supaya bisa mendampingi putra-putrinya dalam memanfaatkan teknologi secara bijak. Okelah, tapi kenapa harus Coding, sih?

Ada banyak pilihan tentunya, tapi menurut Bekraf, Coding Mum ini semacam pintu masuk bagi ibu-ibu untuk terjun di bidang teknologi.

FYI, Coding Mum tingkat dasar itu program dari Bekraf dan diselenggarakan oleh PT. Kolla ini tidak dipungut biaya. Sasarannya adalah para ibu rumahtangga di beberapa kota di Indonesia. Selain itu Coding Mum juga diselenggarakan di luar negeri dengan menyasar para pekerja migran perempuan.

Makanya, negara yang disasar program ini adalah kantong-kantong TKW. Harapannya, mereka bisa kembali ke tanah air dengan bekal keterampilan baru yaitu menjadi seorang programer.

kenalin, teh tita, programer hasil dari coding mum

Buktinya, para alumni Coding Mum ada yang berminat jadi Programer dan sekarang sudah memiliki klien.
Sebut saja Teh Tita Mulyati dari Bandung. Penampilannya kalem, keibuan banget. Tapi, jangan salah, beliau ini salah satu alumni Coding Mum yang akhirnya menggeluti dunia Programer.

Kok bisa? Bisa, dong karena setelah lulus dari Coding Mum dasar, Teh Tita melanjutkan belajar hingga tingkat advance.

Artinya, keberadaan Coding Mum telah membuka jalan bagi ibu-ibu untuk mendapatkan penghasilan dari rumah. Nggak cuma itu, alumni Coding Mum, ada yang akhirnya memiliki start up bahkan menjadi start up terbaik se Sumatera Utara. Adapula yang concern sebagai fasilitator maupun pengajar di dunia coding maupun blog.

See, jangan remehin ibu-ibu, deh. Sekalinya mereka mau belajar, kelar hidup loe!

Terbentuknya Komunitas Alumni Coding Mum Indonesia

Ternyata Bekraf memandang penting keberadaan Coding Mum, makanya perwakilan Coding Mum seluruh Indonesia, diundang dalam Forum Discussion Grup.

Ini adalah meet up pertama alumni Coding Mum, yang dilaksanakan oleh Bekraf bersama PT. Kolla  yang sejak awal menjadi partner pelaksanaan Coding Mum di seluruh Indonesia dan beberapa negara seperti Hongkong, Singapura dan Malaysia.

FGD dilaksanakan selama tiga hari, tanggal 13-15 November 2018 di Hotel Tunjungan, Surabaya. Acara ini dihadiri oleh alumni dari 23 kota, dari Aceh sampai Papua. Saya sendiri mewakili alumni dari Coding Mum Jogjakarta. Meskipun saya tinggal di Solo. Saya beruntung menjadi salah seorang alumni yang mendapat kesempatan mengikuti FGD.

pembukaan-coding-mum
Apa saja yang dikerjakan alumni Coding Mum 2018?

Hari Pertama

Suasana ceria nampak di pertemuan pertama ini (13/11/2018). Ibu-ibu dari seluruh Indonesia yang biasanya hanya bisa saling menyapa lewat WA kini bisa bertatap muka, menyenangkan. Ramainya lagi, dan ini menjadi khasnya Coding Mum adalah ada anak-anak balita yang dibawa serta. Beginilah, cara kami, para ibu belajar.

Sambil bersantap siang, kami pun mengobrol dengan akrab. Bercerita tentang perjalanan menuju Surabaya dengan segala perjuangannya. Seru!

Setelah makan siang, acara pun berlanjut pada sesi perkenalan. Meskipun sebagian telah saling mengenal, namun mendengar penuturan langsung itu berbeda rasanya.

Dalam pembukaan FGD Alumni Coding Mum 2018, Ibu Poppy Savitri, Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif, beliau menyampaikan tujuan dari Coding Mum itu selain mengajak ibu-ibu melek teknologi digital juga mengajak agar ibu-ibu bisa produktif dari rumah.

Lebih jauh lagi, beliau menekankan peran ibu sebagai pendidik generasi penerus bangsa. Dengan kemampuan yang dimiliki para ibu tersebut diharapkan akan mampu melahirkan generasi penerus yang tak hanya cakap namun juga bijak dalam menggunakan teknologi digital.

Usai pembukaan, para alumni langsung mendapat materi tentang Design Sprint dengan metode Boardgame. Materi dipandu oleh Adhicipta R Wirawan, seorang pembuat aplikasi, boardgamers, digital entrepreneur dan Dosen Jurusan Akutansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Universitas Surabaya (Ubaya).

Dengan Design Sprint, alumni Coding Mum diajak untuk merumuskan tujuan dan cara pencapaiannya melalui program kerja yang sesuai dengan kebutuhan anggota.

pak dosen lagi ngajar ibu-ibu

Design Sprint ini merupakan metode yang digagas oleh Jake Knapp, pada tahun 2010 dari Google Venture. Metode ini biasanya diterapkan dalam bisnis.

Design Sprint merupakan build product concept dan prototype melalui lima tahapan yang dilakukan secara interaktif dalam waktu yang singkat.

Di sini, semua diberi kesempatan untuk mengeluarkan ide, masalah termasuk solusinya. Dimana semuanya prototype yang dihasilkan harus di cross check ke calon user (pengguna).

Seru banget, kami semua dibagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan minat masing-masing, yaitu :

  1. Programming (Research And Development)
  2. Edukasi
  3. Konten

Nah, kira-kira saya masuk kelompok mana ya? Hahaha,seratus! Ya, begitulah, saya masuk kelompok konten sesuai dengan backgroud, kan, ya, sebagai Blogger.

Metode boardgame yang diterapkan Pak Adhicipta sungguh membuat hal yang serius jadi mudah untuk dilakukan. Semua berjalan serius tapi santai. Bahkan beberapa kali harus tertawa terpingkal-pingkal melihat presentasi para alumni.

sst, lagi serius kite

Hari Kedua

Dari design sprint yang dilaksanakan selama kemarin, didapat rumusan mengenai divisi Komunitas Coding Mum  yaitu departemen riset dan pengembangan, departemen kreatif dan departemen partnership.

proses design sprint

Nah, kemudian bagian pokoknya nih, pembentukkan kepengurusan. Setelah melalui pemilihan yang lancar tanpa hambatan, Presiden KCMI terpilih adalah Heni Prasetyorini pejuang Coding Mum militan dari Surabaya.

Secara lengkap, inilah susunan pengurus Komunitas Coding Mum Indonesia:

  1. Ketua KCMI (President)     : Heni Prasetyorini (Surabaya)
  2. Vice President                       : Inne Ria Abidin (Jakarta)
  3. Director of R&D                    : Farida W (Jakarta)
  4. Vice Director of R&D           : Jelita Citrawati (Surabaya)
  5. Director of Education          : Indra  (Bali)
  6. Vice Director of Education : Patrice Sagay (Manado)
  7. Director Of Creative             : Tika Yulia (Surabaya)
  8. Vice Director Of Creative    : Ety Handayaningsih S (Solo)

Dengan adanya KCMI, diharapkan Coding Mum akan terus diselenggarakan dan makin luas jangkauannya. Semoga, makin banyak ibu-ibu melek teknologi dan bisa berdaya dari rumah. KCMI juga menjadi wadah para alumni Coding Mum, untuk bersilahturahmi dan saling berbagi motivasi dan ilmu.

Belajar Optimasi SEO

belajar seo dari cak budi

Nggak cuma itu sih, kami juga mendapat materi tentang Optimasi SEO dari Cak Budiono, seorang food blogger dan vlogger kenamaan dari Surabaya.

Lumayan ini, penyegaran sekaligus pendalaman materi SEO. Maklum, bolak-balik belajar SEO ternyata belum khatam jua. Makanya, kesempatan tersebut, saya pakai untuk bertanya hal-hal yang menganggu pikiran, qeqeqe.

Menghadiri Pembukaan Bekraf Festival 

Malam harinya, alumni Coding Mum, diajak mengikuti pembukaan Acara Bekraf Festival di Grand City, Surabaya. Acara yang dibuka oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dan dihadiri jajaran pimpinan Bekraf seperti Kepala Bekraf,  Triawan Munaf berlangsung semarak.

Bu Risma dalam kesempatan ini, mengajak seluruh anak muda Surabaya untuk meningkatkan produk lokal agar bisa masuk dan bersaing di pasar internasional. Maka dari itu, ruang kreatif seperti Bekraf Festival ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Pak Triawan dalam sambutannya menuturkan bahwa sumbangan industri ekonomi kreatif pada tahun 2018, telah mencapai angka yang menggembirakan. Sumbangsih itu berasal dari sektor film, musik, fashion, kuliner, dan lainnya.

Setelah sambutan usai, maka secara resmi Bekraf Festival 2018 dibuka. Ada berbagai atraksi seperti Reog Ponorogo menghibur para penonton yang memadati area di depan Grand City Convention Hall, Surabaya. Saya dan beberapa teman memilih mlipir menonton Andra And Backbound, qeqeqe. Ramai tapi tertib. Jadi, saya merasa aman. Lumayan lah, bisa nggreneng-nggreneng, ikutan nyanyi walau sumbang.

habis nonton andra and the backbound

Hari Ketiga (15/8/2018)

Hari terakhir ini para alumni diajak untuk menyaksikan Talkshow Coding Mum di acara Bekraf Festival. Acara ini menghadirkan Ibu Poppy Savitri sebagai Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif, Ellen Xie dari PT Kolla sebagai mitra Bekraf dan Heni Prasetyorini (Presiden KCMI).

apresiasi dari Kepala Bekraf

From Cooking to Coding menjadi tagline yang mengemuka. Banyak hadirin yang terheran heran dan tidak percaya jika para iburumahtangga bisa membuat website sendiri.

Kini, program Coding Mum bahkan telah menyentuh kaum Disabilitas. Pelatihannya telah diselenggarakan di beberapa kota seperti Jakarta dan Surabaya.

Menurut Ellen Xie, coding itu tidak rumit ketika disampaikan dengan cara yang sederhana dan sesuai dengan keseharian ibu-ibu. Virus Coding Mum rupanya telah makin meluas. Beberapa peserta talkshow, senagaja datang untuk mengetahui lebih jauh tentang Coding Mum.

Oh ya, dari sekian banyak alumni, Bekraf memberikan penghargaan kepada tiga alumni terbaik. Masing-masing adalah Tita Mulyati sebagai peraih penghargaan Best Service. Inne Ria Abidin sebagai Best of Education dan Haertauli Roslinda Harianja sebagai Best Of Bussiness.

Semoga kehadiran KCMI tak hanya mewarnai ranah pemberdayaan perempuan dibidang teknologi namun benar-benar memberi manfaat pada perempuan Indonesia.

Well, bagi teman-teman yang ingin tahu perkembangan Coding Mum, bisa pantau akun IG Coding Mum, ya. Semua informasi terkait Coding Mum bakal diinformasikan di sana.

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.