Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Event

Workshop Menulis Esai dan Membuat Film, Sapa Sahabat Keluarga Jogyakarta 2018

Sempat maju mundur ikutan Workshop Content Creator Sapa Sahabat Keluarga Jogyakarta. Pasalnya, rencana awal acara ini adalah event untuk ibu dan anak. Eh, ternyata hanya untuk ibu saja. Huhuhu, sempat galau tapi akhirnya ikutan juga.
Siang itu pukul 11.30 WIB tanggal 18 Desember 2018, saya bergegas menuju Stasiun Balapan. Jadwal kereta Prameks yang dituju sebetulnya pukul 14.00 WIB tapi masa liburan tiket kerap habis. Jadi, harus lebih awal datang biar bisa dapat tiket. Sesampainya di stasiun ternyata Mak Ana sudah tiba lebih dulu dengan tiga tiket di tangan. Yeaay, legaa gak kehabisan tiket.

Menunggu Mak Wiwid datang, kami berdua ngobrol ngalor-ngidul sambil minum es teh favorit. Biasalah selain ngobrol, foto-foto selfie menyenangkan untuk dilakukan. Sampai akhirnya, Mak Widya datang obrolan dan foto-foto terus berlanjut.

Tiba saatnya berangkat, peron penuh dengan penumpang Prameks. Segera saja kami menyelinap diantara jejeran penumpang lain sambil menenteng koper. Huft, dapat juga tempat duduk meskipun kereta amat sesak.

Tak sampai 1 jam, perjalanan kami berhenti di Stasiun Maguwo. Jarak hotel tempat workshop diselenggarakan tak jauh jadi kami putuskan naik bus Trans Jogya. Benar saja perjalanan menuju hotel lebih singkat ketimbang waktu menunggu bus datang.

Sesampainya di hotel, kami bertiga langsung check in dan registrasi peserta. Kelar urusan administrasi, akhirnya bisa rebahan bentar di kamar. Lumayan masih ada waktu longgar sebelum acara pembukaan workshop.

Pembukaan Workshop Sapa Sahabat Keluarga Jogyakarta

Awalnya saya masih bingung arah Workshop Content Creator ini arahnya kemana. Kok Kemdikbud, sampai concern dengan hal ini. Dalam pembukaan workshop yang digabung dengab Workshop Evaluasi Pendidikan Keluarga yang dihadiri oleh para penggiat pendidikan keluarga baru terungkap.pembukaan-workshop-sapa-sahabat-keluarga-jogyakarta

Ternyata Blogger dan para Content Creator lainnya diharapkan bisa berkontribusi dalam upaya mendidik generasi Indonesia yang hebat. Mendidik generasi itu bukan peran orangtua saja. Dibutuhkan pula peran lingkungan.
Blogger dan content creator lainnya tentu bisa memainkan perannya dalam menyebarluaskan informasi seputar pola pengasuhan anak yang hidup di masyarakat melalui tulisan maupun video.

Nah, Sapa Sahabat Keluarga menjadi wadah bagi para Blogger dan Content Creator untuk berkarya.

Workshop Menulis Esai Bersama Gol A Gong

Pagi yang mendung mengiringi aktivitas kami di hari kedua. Meski mendung, kubulatkan langkah menuju pinggiran kolam renang untuk mengikuti Yoga. Kesempatan langka, maka tak kulewatkan. Yah, meskipun hanya mencicipi sedikit gerakan Yoga, lumayan lah untuk meregangkan otot-otot yang kaku. Agar ilmu workshop terserap maksimal maka sarapan tak boleh dilewatkan.

yoga

Usai mandi dan memantaskan diri, segera ku bergegas menuju ruangan Wibisono. Hotel tempat menginap lift nya rusak jadi lumayan, habis sarapan langsung deh bakar kalori. Di dalam ruangan ternyata sudah ada beberapa blogger. Seperti biasa ritual foto-foto itu sayang untuk dilewatkan. Hahaha.

Waktu menunjukkan pukul 09.00, perwakilan dari Kemdikbud memberikan brief acara hari pertama. Ada perubahan yang bikin senang, karena usai materi menulis esai bersama Gol A Gong maka peserta diajak ke Tebing Breksi, yang fenomenal itu.

Oh, ya, bicara tentang Gol A Gong satu artikel nggak akan cukup. Kerap kudengar namanya tapi belum sekalipun bertemu. Nama besarnya memang sering disebut banyak kawanku. Penulis cerpen, novelis, penulis esai, skenario adalah sederat keahlian narsumber yang satu ini. Bisa menimba ilmu menulis kepada Gol A Gong tentu sebuah kesempatan berharga.pepotoan-sebelum-workshop

Sesaat kemudian seorang lelaki berambut sebahu memasuki ruangan. Sarung yang dipakainya mencerminkan kepribadiannya yang sederhana. Penampilan boleh sederhana tapi visi nya tentang dunia pendidikan literasi patut diacungi jempol. Empat jempol bahkan. Bersama Sang Istri, Tias Tantaka, lelaki kelahiran Purwakarta ini mendirikan Rumah Dunia. Rumah tempat anak-anak bisa belajar menulis. Ada banyak inspirasi dari sosok ayah empat orang anak ini. Bakal ditulis terpisah aja karena panjang banget kalau ditulis sekaligus di sini.

Materi Menulis Esai

Apa Sih Tulisan Esai Itu?

Esai itu sebetulnya tulisan kek mana, sih? Adakah yang bertanya-tanya? Dulu sih, saya nggak ngeh bedanya tulisan esai dengan tulisan jenis lain. Penjelasan Gol A Gong tempo hari, sungguh sebuah pencerahan.

Tulisan esai itu salah satu jenis tulisan jurnalistik yang berisi pendapat pribadi penulis, didukung dengan data dan fakta yang disajikan dengan gaya sastra.
Jika diuraikan, tulisan esai itu mengandung beberapa unsur, diantaranya:

  • Mengandung 5W 1H

Seperti kita ketahui tulisan jenis jurnalistik itu mengandung What, Why, Where, When, Who dan How. Begitupula dengan tulisan esai. Jadi esai itu ditulisan berdasarkan fakta yang mendahului bukan karangan.workshop-menulis-esai

  • Berupa opini

Tulisan esai memang berupa opini atau pendapat pribadi penulis jadi unsur subyektif pasti dominan. Tapi, tetap ya ada pagarnya yaitu data dan fakta. Opini disusun berdasarkan fakta terjadi dan data yang ada di lapangan. Inilah yang membuat tulisan esai meskipun berupa opini tapi bukan asal bunyi, ada dasarnya.

  • Mengandung kritik sosial

Tulisan esai biasanya berupa kritik sosial.Tulisan ini lahir dari keresahan yang dirasakan penulis. Iya, pastinya kan banyak hal terjadi di sekitar kita dan kadang tak sesuai. Misalnya, jalan berlubang yang tak kunjung diperbaiki, fenomena komisi penerbit buku untuk Kepala Sekolah dan lain-lain.
Tinggal kepekaan penulis aja yang harus diasah agar bisa menemukan fakta sosial untuk dibahas.

  • Memberi solusi

jika tadi bicara soal kritik yang ada dalam tulisan esai. Sekarang bicara soal solusi. Meskipun tulisan esai berisi kritik tapi disajikan dengan cara tanpa menyakiti. Selain itu tulisan esai juga kaya akan gagasan baru. Diantaranya memberikan solusi atas persoalan yang diangkat.

  • Bergaya sastra

Jadi bedanya dengan tulisan ilmiah meskipun sama-sama menyajikan fakta dan data, menulis esai itu dilakukan dengan gaya fiksi atau lebih tepatnya sastra. Coba deh baca tulisan esai nya Emha Ainun Najib, terasa banget kan sastranya.

Nah, itu dia teman-teman, yang dimaksud dengan tulisan esai. Dari semua poin di atas, cara penyajian dengan gaya sastra ini, saya lumayan tidak terbiasa.

Tahapan Menulis Esai

  • Riset

Ada dua riset yang bisa dilakukan yaitu riset lapangan dan riset pustaka. Riset lapangan dilakukan dengan survey dan observasi. Sedangan riset pustaka dilakukan dengan membaca referensi bisa buku, ataupun artikel.

  • Menulis

Setelah mendapat semua data dan fakta yang dibutuhkan serta memahami persoalan maka langkah selanjutnya adalah menentukan tema, membuat outline dan mulai menulis.

Sudut pandang penulisan bisa memakai sudut pandang orang pertama ataupun orang ketiga, dengan menyebut nama yang fiktif. Hal ini dilakukan oleh Emha Ainun Najib, memakai nama Markesot untuk tokoh dalam tulisannya.

  • Revisi

Tak ada tulisan yang bagus tanpa melalui tahap ini. Setelah selesai menulis, baca lagi tulisan kita. Sehingga kesalahan yang ada bisa dibetulkan. Kalau memiliki banyak waktu, tulisan bisa diendapkan dulu.

Namun jika waktu terbatas, mau tidak mau harus langsung diedit. Kemampuan edit mandiri menjadi penting, meskipun jika tulisan dikirim ke media massa ada editor yang bakal menyuntingnya.

Selain ketiga hal di atas, Gol A Gong juga menekankan soal pemilihan judul tulisan esai yang menarik. Untuk tulisan esai, judul nggak boleh lebih dari 4 kata. Wow, beda sama yang saya lakukan selama ini. Selain itu judul tidak boleh menjelaskan, harus imajinatif dan bikin penasaran.

Duh, PR banget ini kalau bikin judul tulisan esai. Beberapa contoh judul esai yang menarik.

  • Judul Satu Kata, salah satu penulis esai yang kerap menggunakan judul dengan satu kata saja adalah Goenawan Muhammad seperti Minyak, Togog, Skandal dan lain-lain.
  • Judul Imajinatif, contohnya esai milik Emha Ainun Najib, Tuhan Pun Berpuasa, Harga Diri Ayam dan lainnya.

Berat sih kalau kelasnya Emha ataupun Goenawan Muhammad. Tapi, setidaknya jadi tahu kan macam-macam judul yang menarik. Menurut Gol A Gong judul harus menarik karena merupakan daya tarik pertama.

Dalam workshop tempo hari, para peserta dilepas untuk melakukan riset di Transmart. Belajar menangkap fenomena yang terjadi di sana. Untuk kemudian memilih hal yang menarik untuk angkat menjadi tema tulisan esai.
Begitulah langkah menulis esai yang saya pelajari dari Gol A Gong.

Workshop Membuat Film

Usai materi menulis esai, semua peserta diajak ke Tebing Breksi. Bukan untuk benar-benar menikmati gugusan tebing yang dipahat cantik itu sih. Tapi untuk belajar materi selanjutnya yaitu How To Make A Movie.

Hari sudah sore ketika berangkat ke Breksi. Di sana pun belum puas foto-foto sebetulnya, hehehe. Lagi pula Breksi sore itu amat ramai dengan pengunjung. Jadi foto di manapun susah untuk gak bocor, wkwkwk.

Setelah dikasih kesempatan berfoto-foto, kami dikumpulkan di pendopo. Di sana pemateri yaitu M. Iqbal dari Film Maker Muslim memberi challenge untuk membuat video berdurasi satu menit dengan tema “bebas”. Padahal belum dikasih materi, hehehe. Saya sekompok dengan Mak Lusi Trisnasari, Dian Ismyana dan Irfa Hudaya.

Bagian paling susah itu menerjemahkan tema bebas itu sendiri. Sementara waktu yang dikasih hanya 10 menit untuk mikir. Meskipun sempat bingung akhirnya ketemu ide juga. Akhirnya ketemu ide itu dari sosok Mak Irfa. Kami menangkap sisi feminim tapi tangguh. Penampilannya feminim tapi tak menghalangi beliau melakukan aktivitas menantang. Tiap hari beliau mengantar anaknya sekolah melalui jalur yang naik turun dan berkelok-kelok. Luar biasa kan.

Salah satu pelajaran dari mendapat ide membuat video adalah ide bisa didapat dari sekitar kita. Tak perlu terlalu jauh atau tinggi mencari.

Foto : Fuji Rachman Nugroho

Nah, hasil video kami seperti apa? Silahkan dinikmati. Meskipun kalah karena kami semua memang pemula tapi puas sih dengan hasil kreativitas kami. Meskipun dari sisi pembuatan video dan penyuntingan masih banyak yang harus diperbaiki. Ini baru membuat video satu menit ya. Tentu bakal lebih banyak tahap jika mau membuat sebuah film.

Oh ya, Film Maker Muslim, salah satu filmnya yang banyak ditonton itu Pejuang Subuh, cek aja di akun You Tube mereka, ya.

M. Iqbal Film Maker Muslim Foto : Fuji Rachman Nugroho

Dalam membuat film tidak bisa sendirian. Harus ada team karena pekerjaan membuat film itu banyak. Dari mulai pra produksi, produksi dan pasca produksi. Film sebagai media penyampai pesan harus dikemas secara ringan, dan tidak menggurui. Film seperti ini biasanya bakal menarik untuk ditonton.

Nah buat kita-kita yang waktunya terbatas membuat vlog itu lebih cocok. Selain lebih sederhana, membuat vlog bisa dilakukan sendiri, begitu tutur M. Iqbal.

Memahami materi membuat film membutuhkan waktu lebih panjang ketimbang menulis esai. Banyak istilah baru terutama dalam pengambilan gambar. Kapan-kapan saya tulis terpisah ya, biar tulisan ini nggak terlampau panjang.

Foto : Fuji Rachman Nugroho

Secara keseluruhan, saya amat bersyukur akhirnya memutuskan berangkat ke Jogya mengikuti Workshop Content Creator Sapa Sahabat Keluarga Kemdikbud 18-20 Desember 2018. Ada banyak hal saya dapat, termasuk keberanian membuat video.

Oke teman-teman sekian dulu ya sharing bagaimana menulis esai dan membuat film. Semoga bermanfaat.

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.