Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Competition

Geliat Mengubah Bulak Menjadi Kampung Hijau Nan Produktif

Hari masih pagi, saat kususuri jalanan pinggiran kota Purwokerto. Belasan tahun berlalu, beton-beton bertumbuh. Perumahan, pertokoan bahkan rumah sakit, kutemui di sepanjang jalan yang dahulu masih sepi. Kotaku makin maju, batinku. Laju motor sepupuku, santai membelah lalu lintas yang lumayan ramai. Obrolan ringan kala itu membuat perjalanan terasa singkat. Tak terasa kami sampai pada sebuah jalan masuk yang lumayan lebar.

Pepohonan tinggi ada di sebelah kanan dan kiri jalan. Sekelompok rumah nampak diselingi pohon dan tanah kosong. Hawa sejuk terasa sejak masuk gang tadi. Udara segar pun mengisi paru-paruku.

Sampailah kami di sebuah tempat dimana buah Durian bergelantungan menunggu masak. Ah, andai saja sudah masak, kami berdua pasti memilih berhenti menikmati durian itu.

Motor kami pun terus melaju. Perjalanan kali ini menuju ke sebuah grumbul di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Bulakan Asri nama grumbulnya.

Awalnya, saya agak ngeri mendengar nama Bulakan. Setahu saya, dalam Bahasa Banyumas, bulak berarti tanah kosong tak berpenghuni. Identik dengan tempat sepi, angker dan tak layak dikunjungi. Kondisi ini dikuatkan dengan profil desa tempat grumbul ini berada.

Desa Langgongsari sebelum tahun 2013 dikenal sebagai desa termiskin di Kabupaten Banyumas.

pekarangan yang asri Foto: dokumen pribadi

Tapi, pandangan saya perlahan berubah ketika memasuki wilayah Proklim Bulakan Asri. Rumah-rumah yang saya temui, memiliki pekarangan yang asri. Ada pohon buah, sayuran dan bunga.

Tak ketinggalan tempat sampah juga nampak di beberapa titik jalan yang saya lalui. Di beberapa bagian tembok pembatas, botol-botol plastik berisi tanaman bertengger manis.

tanaman buah di pekarangan Foto: Dokumen Pribadi

Rupanya, berkubang dengan stigma buruk adalah masa lalu, perlahan desa ini bangkit melalui pengelolaan ketahanan lingkungan berupa pengelolaan sampah, pemanfaatan pekarangan dengan pertanian organik, dan pelestarian sumber air.

Itulah alasan kata Asri yang disematkan di belakang nama Bulakan membuat grumbul Bulakan kini berbeda.

tempat sampah tersedia Foto: Dokumen Pribadi
bantuan dari PT Pama Foto : Dokumen Pribadi

“Nama Asri itu sebuah harapan. Agar Grumbul Bulakan menjadi wilayah aman, sejuk, ramah dan indah”, tutur Taufiqurohman, Ketua Proklim Bulakan Asri.

Kegiatan pengelolaan lingkungan dimulai tahun 2015, melalui Program Kampung Iklim (Proklim). Program Kampung Iklim merupakan kegiatan pengendalian dampak perubahan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca yang berbasis komunitas. Programnya meliputi mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim.

Proklim ini telah menjadi program dari Kementerian Lingkungan Hidup sejak tahun 2012 dan kemudian diperbarui tahun 2016. Dalam hal ini tak hanya melibatkan pemerintah namun membuka ruang bagi swasta untuk terlibat.

pemanfaatan botol bekas untuk menanam Foto : Dokumen Pribadi

Proklim Bulakan Asri, merupakan kampung iklim yang diinisiasi oleh PT. Pamapersada Nusantara, salah satu anak perusahaan Astra Group.

Dengan memberikan bantuan berupa tong sampah, bibit tanaman, dan mesin biomethagreen untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar gas.

Kegiatan Proklim salah satunya diwujudkan melalui Ahad Bersih, program kerja bakti membersihkan lingkungan dari sampah. Sampah-sampah itu kemudian disetor ke Bank Sampah.

Untuk sampah anorganik, seperti botol bekas setelah dibawa ke Bank Sampah, akan ditimbang. Sebagian akan dijual dan hasilnya berupa uang yang dikembalikan lagi kepada penyetor sampah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

menimbang sampah anorganik foto : dokumen pribadi
buku tabungan sampah foto : dokumen pribadi

Masyarakat yang menyetor sampah akan mendapat buku tabungan. “Sampah yang mereka setorkan akan diberi harga, dan ditabung. Tabungan ini biasanya diambil menjelang Hari Raya Idul Fitri”, tutur Mukhoffa, Koordinator Bank Sampah.

Sementara sebagian sampah anargonik lainnya dimanfaatkan sebagai pot tanaman maupun kerajinan tangan seperti vas bunga, tempat pensil dan lainnya. Begitupun dengan sampah kemasan plastik akan dibuat tikar, tas, dan tempat pensil.

Untuk sampah organik nantinya diolah menjadi pupuk cair untuk penghijauan. Maupun diolah menjadi gas metan untuk keperluan memasak skala rumahtangga. Sampah organik yang terkumpul kemudian dimasukan ke dalam mesin methagreen. Setelah dicampur air, sampah tersebut akan difermentasi. Gas methan yang dihasilkan ditampung di bagian atas. Kemudian disalurkan dengan selang untuk bisa digunakan. Gas ini bisa dipakai untuk menyalakan kompor. Hal ini tentu bisa menghemat pengeluaran masyarakat karena tak perlu membeli elpiji.

membuat biogas dengan mesin methagreen Foto : Dokumen Pribadi
biogas untuk menyalakan kompor Foto : Dokumen Pribadi
bertanam dengan cara organik di pekarangan rumah Foto : Dokumen Pribadi

Nah, sisa dari pengolahan sampah organik yang berupa cairan digunakan sebagai pupuk tanaman. Hal ini tentu sejalan dengan kegiatan pertanian organik dalam memanfaatkan pekarangan untuk ketahanan pangan. Masyarakat Bulakan Asri menanam beragam sayuran seperti terong, tomat, seledri, caesim, bayam, kangkung, cabe dan sayuran lainnya secara organik. Tentu sayuran jadi aman dikonsumsi karena bebas pestisida. Tanah pun jadi bebas dari pencemaran akibat pupuk kimia. Manfaat menanam sayuran di pekarangan rumah telah dirasakan oleh masyarakat.

Ini merupakan langkah adaptasi terhadap perubahan iklim. Saat kemarau panjang, produksi sayur ataupun buah akan terpengaruh. Harga beli pun jadi mahal karena sayur dan buah langka di pasaran. Jika warga menanam sendiri, tentu menguntungkan.

Tanaman tomat Foto : Dokumen Pribadi
Seledri Foto : Dokumen Pribadi

“Saat harga sayur mayur mahal, nggak pusing karena nggak perlu beli”, terang Aisyah, salah satu warga yang menanami pekarangan rumahnya dengan tanaman sayur dan buah.

Selain bisa menyetor sampah organik ke Bank Sampah, warga juga bisa mengolah sampah organik sendiri. Tiap tiga rumah, terdapat Komposter atau tong pembuat pupuk cair. Cara mengolah sampah organik seperti sisa sayuran maupun buah mudah sekali. Pertama, sampah dimasukkan ke dalam tong kemudian diberi larutan mikroba dua. Selanjutnya tutup kembali komposter dan tinggal tunggu panen. Setelah panen, pupuk cair yang dihasilkan digunakan untuk memupuk tanaman di pekarangan rumah masing-masing.

masukkan sampah organik Foto : Dokumen Pribadi
semprot dengan larutan mikroba 2 Foto : Dokumen Pribadi
pupuk cair dipanen Foto : Dokumen Pribadi

Selain ditanami sayuran, pekarangan rumah warga juga ditanami pohon buah seperti jeruk, matoa, sirsak dan rambutan. Pohon buah ini juga bantuan dari PT. Pama. Selain bisa dimanfaatkan buahnya. Tumbuhnya pepohonan membuat udara sekitar rumah jadi bersih. Lingkungan rumah jadi hijau dan rindang. Ini salah satu wujud tindakan nyata mengurangi efek emisi gas rumah kaca tingkat lokal.

Sementara untuk masalah perubahan iklim, seperti curah hujan yang tak menentu. Proklim kemudian memiliki program pembuatan sumur resapan dan biopori. Awalnya, dukungan dari masyarakat masih kurang. Keterbatasan pemahaman menjadi penyebabnya.

biopori Foto : Dokumen Pribadi

Dulu, enam bulan kemarau, sumber air di sini baru kering. Sekarang, baru tiga bulan kemarau, kampung ini sudah kekurangan air.

“Dari sinilah saya memberikan pemahaman kepada warga”, lanjut Taufiq.

Dengan adanya sumur resapan wilayah ini akan memiliki cadangan air yang cukup. Sehingga saat musim kemarau, tak kekurangan air lagi. Sementara itu, saat musim hujan tiba air melimpah ruah, lubang biopori bisa mengurangi debit air di permukaan tanah. Sehingga terjadinya banjir bisa dihindari.

Proklim Bulakan Asri Menuju Masyarakat Produktif

membuat kerajinan dari limbah kemasan plastik Foto : Dokumen Pribadi

Satu persatu bungkus kopi sachetan itu dilipatnya. Setelah semua dilipat, saatnya dirangkai satu demi satu menjadi sebuah tas dengan motif yang unik. Tas ini hanya salah satu jenis kerajinan tangan dari limbah kemasan plastik. Jenis limbah yang awalnya menimbulkan pencemaran lingkungan karena tak bisa diurai kini memiliki nilai manfaat secara ekonomi.

Kerajinan tangan dari limbah plastik ini dikerjakan oleh kaum ibu di Bulakan Asri, termasuk istri Taufiq. Selain tas, limbah plastik bisa dibuat tikar, sajadah, dompet, tempat pensil, bunga dan lain-lain. Harga dari masing-masing barang ini bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu, tergantung besar kecilnya barang. Selain itu keindahan motif yang dihasilkan juga berpengaruh.

Hasil kerajinan tangan ini selain dijual langsung ke pembeli, PT Pama juga membantu memasarkan. Mengingat pasar produk kerajinan dari limbah plastik ini terbatas, maka bantuan dari PT Pama tentu amat berarti.

“Kemarin baru saja bawa barang kerajinan 8 buah ke Jakarta dan laku. Lumayan, bisa nambah penghasilan warga”, sambung Taufiq.

Beragam kerajinan tangan limbah plastik Foto : Dokumen Pribadi

Dalam sebulan tiap ibu bisa menghasilkan dua macam barang kerajinan. Namun, ini tergantung pula pada ketersediaan bahan baku, karena untuk satu barang membutuhkan jenis bungkus kemasan yang sama.

Selain memanfaatkan limbah plastik, Proklim Bulakan Asri kini memiliki produk unggulan berupa kopi. Tanaman kopi ternyata banyak terdapat di wilayah ini. Banyaknya tanaman kopi tak serta merta mengangkat perekonomian masyarakat karena terbatasnya pengetahuan tentang kopi. Pohon kopi yang ada dibiarkan tak terawat. Sayang sekali!.

Kopi Bulakan Asri Desa Langgongsari Foto : Dokumen Pribadi

Taufiq kemudian mengandeng teman-teman dari komunitas pecinta kopi di Purwokerto untuk mengedukasi warga. Dari mulai masalah budidaya, produksi maupun pasca produksi. Dari sini warga jadi tahu bagaimana cara mengolah kopi agar memiliki nilai ekonomi tinggi. Misalnya edukasi mengenai cara memetik kopi. Bahwa kopi sebaiknya dipetik dalam kondisi tua atau berwarna merah agar kopi yang dihasilkan berkualitas bagus. Sementara itu untuk proses roasting, Proklim Bulakan Asri bekerjasama dengan komunitas kopi, karena belum memiliki alat sendiri.

Ada dua jenis kopi yang ada di kampung ini yaitu kopi Robusta dan Liberica. Meskipun tak memiliki perkebunan khusus tapi warga banyak yang memiliki tanaman kopi di tanah miliknya. Potensi inilah yang coba diangkat.

Kopi Iklim pun akhirnya diluncurkan pada tanggal 13 Desember 2018 yang lalu. Dengan adanya produk unggulan berupa kopi, diharapkan pendapatan masyarakat pun bisa meningkat.

Mengeksplorasi alam tanpa merusaknya, itulah yang dilakukan Proklim Bulakan Asri, Desa Langgongsari dibawah binaan PT. Pama. Lama berkubang dalam kemiskinan dan keterbelakangan tentu tak enak. Tapi tak serta merta membuat masyarakatnya mengeksplorasi secara membabi buta potensi yang ada. Apalagi saat ini masyarakat hidup dalam situasi perubahan iklim yang tak menentu. Prinsip keseimbangan alam menjadi poin penting untuk dilakukan. Agar terhindar dari berbagai bencana seperti banjir, kekeringan, kekurangan pangan dan lainnya.

Adzan Dzuhur mulai berkumandang saat saya berpamitan. Menyusuri jalan pulang, tak henti saya mengucap syukur, semangat warga Proklim Bulakan Asri memberi saya inspirasi. Bahwa sejatinya, perubahan iklim menjadi persoalan bersama. Jika demikian, setiap kita tentu memiliki tanggungjawab dalam menjaga lingkungan tetap pada keseimbangannya.

Bulakan yang dulu terkesan angker itu kini mulai berbenah menjadi Bulakan Asri yang hijau berseri dan produktif.

Tulisan ini diikutsertakan dalam anugerah Pewarta Astra 2018

29 Comments

  • aji sukma

    Huwaaaa keren kampungnya. Coba semua kampung bisa kyk gini ya bun.
    Suka bagian “Saat harga sayur mahal, gak pusing krn ga perlu beli” wkwkwk emak2 banget.

    kalau aku suka nanem cabe “saat hujan atau tukang sayur lewat, gak pusing tinggal petik” ehehe

  • D Sukmana Adi

    mak..rumahku di palur kering kerontang dan tak ada tanaman karena sering ditinggal2 hehehe
    malah sekarang sibuk nyiramin tanaman di rumah mertua heheh
    ini mirip desa mertua..jadi kampung percontohan

  • ipeh alena

    Sebenernya daku cukup lama juga memendam keinginan untuk belajar bercocok tanam. Tapi, belum terealisasi. Pas baca tulisan Mak Ety, daku jadi kepengen banget membulatkan tekad. Untuk pemisahan sampah, sedang saya terapkan di rumah baru-baru ini.

  • Mugniar

    Mbaak, keren banget desanya. MAndiri dan visioner dalam hal pengelolaan lingkungan. Semoga makin tersebar luas infonya dan menjadi contoh bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Oiya, grumbul itu apa?

  • Adhi Nugroho

    Baca artikel dan melihat foto-fotonya Mba Ety, jadi kebayang bagaimana asrinya Kampung Bulakan Asri.

    Terima kasih atas kisah inspiratifnya, Mba. Sukses untuk lombanya dan salam hangat.

  • Agi Tiara

    keren deh, simpel tapi program program di desa ini sebenernya bagus kalo terus dijalankan. Baca postingan Mba Ety jadi pengen bikin biopori di rumah, karena tempatku cepet banget kering sekarang huhuhu

  • Damar Aisyah

    Konsep kampung proklim mulai merebak di berbagai daerah di penjuru negeri. Ini berarti kabar baik, bahwa harapan untuk memiliki lingkungan yang tetap asri dengan udara sejuk dan bebas polusi hingga di masa depan nanti mulai diupayakan oleh warga sejak hari ini.

  • lendyagasshi

    Aku punya buku tabungan Bank Sampah kaya gituu…
    Tapi lama kelamaan, sampah anorganikku aku kasihkan ke Bibi yang suka ngambilin sampah tiap hari. Jadi tabunganku gak aad kemajuan.
    Heehehe….semoga tabungan lain yang terisi yaa…

    Aamiin~

  • Sandra Nova

    Wow hebat ya! Liatnya adem banget, kalau banyak perusahaan yg melakukan CSR kayak gini bisa membantu memberdayakan warga sekitarnya banget. Kl aku blm sanggup less sampah or mengelola sampah dgn baik huhuhuhu.. 🙁

  • Wian

    Warga kampungnya hebat nih. Mau menerima perubahan dan mau belajar. Katena biasanya orang-orang yang udah kadung nyaman shn lingkungannya, agak susah diajak berubah ke arah lbh baik.

  • Yoanna Fayza

    warganya hebat yaa mak, mampu mandiri dan berdaya buat kesejahteraan bersama. Andai makin banyak warga desa yang seperti warga bulakan asri desa langgongsari ini, pasti Indonesia lebih cepat maju yaa 🙂

  • Sulis

    Keren banget kampungnya ya! Klo saja semakin banyak kampung di Indonesia yang seperti ini, negara kita cepet maju nya ya pasti. Sampah yang biasanya cuma dibuang saja, bisa dimanfaatkan kembali…dan bahkan bisa memiliki nilai ekonomi yang lumayan tinggi

  • Juliastri Sn

    Salut banget. Iklim tak menentu bukan Alasan dan hambatan untuk tidak berbuat apa-apa. Tapi justru jadi mood booster untuk mencari solusi demi perubahan yang lebih baik dan produktif. Keren..

  • Arsen Story

    Jadi dulu Bulakan itu artinya tanah yang kosong. Wargany Kompak yaaa… Kini baru masuk kawasan bulakan asri saja sudah mendapat pemandangan hijau seperti itu. Kampung saya kapan yaaa?

  • Dzulkhulaifah

    Melihat Bulakan Asri jadi ingat sama kampung halaman ketika saya kecil. Rumahnya masih jarang, banyak pepohonan, tanaman sayuran dan buah-buahan. Kangen sekali rasanya. Sekarang sudah jadi pemukiman pada penduduk. Tapi menurut saya seharusnya pemukiman yang pada penduduk bisa mencontoh Bulakan Asri yang memiliki bank sampah. Karena semakin banyak penduduk, maka semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Kalau masuk ke bank sampah kan jadi bisa diolah kembali menjadi barang-barang bernilai ekonomis yaaa.

  • Lisdha

    waaah…kereeen mbak ety. tempo hari saya pulkam ke temanggung. dan di desa kakak saya insyaallah juga sedang otw ke kondisi spt bulak asri ini. kakak saya bidan desa di situ jadi dia merasakan betul perjuangan untuk mengampanyekan pola seperti itu. karena bides kan pasti termasuk pihak yg dilibatkan utk menggerakkan masyarakat. semoga makin banyak desa yg seperti itu ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.