Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Featured

Melibas Sikap Apatis Dalam Berbahasa

Buku bersampul tebal itu menarik perhatianku. Bukan hanya warna sampul bukunya yang memikat mata. Namun, judul buku itu sungguh menjanjikan sesuatu yang kuinginkan.
Kubuka pelan lembar halaman yang masih rapi. Seperti biasa, halaman kata pengantar menjadi hal yang kubaca pertama kali. Untuk apa? Supaya bisa mendapatkan gambaran singkat tentang isi buku yang dibaca.

Sejurus kemudian dahiku mengernyit. Kubaca kata per kata dengan hati-hati. Bahkan kadang kuulang-ulang. Mengapa? Bukan karena pilihan diksi yang asing di telinga. Melainkan kutemukan sesuatu yang tak lazim. Ya, banyak kesalahan tata bahasa di sana. Di sebuah buku yang sudah dicetak? Sayangnya, demikianlah faktanya.

Rasa penasaran menyelimuti pikiranku. Lekas kubaca daftar isi, dari bab satu hingga bab akhir. Kondisinya masih tetap sama. Serius? Iya, aku juga diliputi keheranan. Sebuah buku yang sudah dicetak tapi penulisannya jauh dari kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

Saya masih berharap bahwa penulisan di bab isi akan lebih baik. Ternyata, harapan saya semu belaka. Kenyataannya, banyak kesalahan dasar terus terjadi. Misalnya, penggunaan huruf kapital yang keliru, kalimat yang terlalu panjang, kesalahan penggunaan tanda baca, penggunaan kata nonbaku, penempatan kata hubung yang tak tepat dan masih banyak lagi. Bahkan kesalahan ketik pun terjadi di sana.

Aku segera menghubungi penulis buku itu. Beliau adalah kenalanku. Padanya aku bertanya mengenai bukunya, apakah tidak disunting terlebih dulu. Jawabannya sungguh membuat hatiku teriris. Menurut penuturannya, buku sudah disunting namun beliau yakin banyak yang terlewat.

Aku seperti ditampar oleh kenyataan itu.

Sebagai seorang bloger, aku kerap menulis. Tapi, aku pun kerap masa bodoh dengan tata bahasa. Enggan untuk membuka EBI saat menyunting. Aku yakin tulisanku pun masih perlu perbaikkan. Ah, kalau dikoreksi, mungkin tulisanku juga banyak kelirunya.

Kemudian aku berpikir, kalau banyak orang menulis sepertiku dan kawanku, bagaimana nasib bahasa Indonesia nanti?

Sikap masa bodohku memang sudah menahun. Pelajaran tata bahasa di kelas menjadi momok. Selain membosankan, aku yang saat itu masih remaja, tak menganggap penting hal tersebut. Sayangnya hal ini terus berlanjut hingga sekarang. Kepedulianku tipis sekali terhadap penggunaan kaidah bahasa Indonesia.

Aku jadi malu. Tapi, mulai saat ini, niat berbenah bersemi di lubuk hati. Cie, sok puitis, ya? Tak apa lah sesekali puitis.
Niat itu kemudian kuwujudkan dalam beberapa langkah kecil:

1. Lebih teliti dalam membaca.
Jujur, selama ini ketika membaca, aku hanya berupaya memahami isinya. Tanpa peduli mengenai penulisannya tepat atau tidak. Aku pun mulai lebih teliti dalam membaca tulisan.

Aku mulai memperhatikan apakah penulisannya sudah tepat atau belum. Ini bukan tindakan sok-sokan. Tapi, ini caraku belajar memahami lebih jauh tentang tata bahasa Indonesia. Belajar dari tulisan orang lain. Sehingga ketika aku menulis, tak melakukan kesalahan yang sama.

2. Lebih telaten menyunting tulisan sendiri
Aku ingin tobat. Serius? Iya lah, malu sama mereka yang lebih muda tapi kepeduliannya terhadap bahasa Indonesia sangat tinggi.

Jika selama ini aku abai membuka EBI maka untuk selanjutnya, tak akan terjadi lagi. Aku ingin, tulisanku sesuai dengan kaidah EBI meskipun bergenre populer.

3. Belajar menyunting
Buku temanku jadi bahan belajar dalam menyunting naskah. Aku dipaksa membuka kembali daftar aturan dalam EBI.

Aku yakin jika dilakukan secara konsisten maka tulisanku akan makin rapi tata bahasanya.

Pepatah tua mengatakan Alah bisa karena biasa. Maknanya kemampuan kita akan terbentuk dari kebiasaan.

Aku pun yakin tiga langkah kecil yang dilakukan secara rutin akan membawa perubahan dalam tulisanku.

Semoga apa yang kulakukan juga bisa dilakukan oleh setiap orang. Sehingga keberadaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bisa lestari.

*************

Halo teman-teman! Apa kabarnya?

Semoga sehat dan tetap semangat ya, menjalankan puasa.

O ya, tulisan di atas itu dibuat dalam rangka memenuhi tugas kelas menulis Ublik 2.0.

Ide dari tulisan di atas datang dari pengalaman membaca buku baru-baru ini. Sebuah buku yang telah dicetak namun terdapat banyak kesalahan tata bahasa. Dari buku inilah aku merenung. Berapa banyak diantara kita yang memiliki sikap apatis dalam berbahasa?

Padahal aturan tata bahasa Indonesia sudah dipelajari sejak bangku sekolah. Tapi, seolah tak berbekas. Kuakui, memahami aturan tata bahasa Indonesia memang butuh ketelatenan. Mengingat aturannya banyak.

Tapi, mau tidak mau harus terus dipelajari. Apalagi jika ingin berkecimpung di dunia kepenulisan. Ini juga nasihat buatku agar segera melibas sikap apatis dalam berbahasa.

FYI, kelas menulis ini diselenggarakan oleh Ublik. id. Sebuah web yang dibuat untuk menginspirasi anak muda Indonesia agar selalu optimis menyongsong masa depan.

Kelas menulis Ublik 2.0 yang kuikuti, menghadirkan empat mentor dengan tema berbeda. Senang banget karena dapat ilmu dan wawasan baru mengenai menulis esai, skenario, blog dan buku.

Nggak menyesal ikutan kelas menulis di Ublik. Meskipun waktunya terbatas. Medianya pun hanya lewat grup WA. Tapi, kalau memang serius dan tekun, dampaknya akan terasa, kok.

Menulis kan, memang butuh banyak latihan. Ini amat tergantung pada kemampuan diri dalam mengalahkan rasa malas, hehehe. Itu saya!

Selain mendapatkan materi, peserta kelas menulis Ublik 2.0 diberi kesampatan untuk bertanya pada narasumber. Mereka ini adalah para penulis yang mumpuni dibidangnya masing-masing.

Ada Esti Dyah Imaniar, dara ayu yang tulisannya bisa dinikmati di banyak media. Masih muda namun punya segudang talenta. Keahliannya dalam meramu kata sudah terbukti. Tulisan-tulisan esainya telah dimuat di Solopos, Jawapos, Republika, mojok.co, Voxpop Indonesia dan The Geotimes.

Tak hanya itu, kemampuannya dalam menjalin kata demi kata juga tertuang dalam sebuah buku berjudul Rule Of Love (Metagraf 2018) dan Wanita Yang Merindukan Surga (Buku Mojok, 2019).

Mentor kedua adalah Farah Frastia seorang penulis skenario dengan segudang prestasi. Pernah menjuarai beberapa kompetisi menulis. Karya skenarionya juga tayang di salah satu stasiun televisi.

Mentor lainnya adalah Adhi Nugroho, seorang blogger yang tulisan dan infografisnya selalu ciamik. Soal prestasi, luar biasa. Banyak banget prestasi menulis yang sudah berhasil ditorehkan.

Mentor keempat adalah Restia Ningrum seorang content writer dan pimred Ublik.id. Perempuan berkacamata ini mempunyai prestasi yang tak kalah keren. Beberapa kali menjuarai kompetisi menulis esai dan karya tulis ilmiah semasa kuliah. Karyanya yang lain bisa dinikmati dalam beberapa buku seperti Metafora Matematika (UB Press 2014), Langit Lazuardi (UB Press 2015) dan beberapa buku lainnya.

Tuh, kan mentornya keren-keren. Nggak hanya itu, lho. Para peserta kelas menulis Ublik 2.0 juga mendapatkan sebuah buku karya para finalis kompetisi menulis artikel 2018 di Ublik berjudul “Inspirasi Untuk Indonesia”.

Buku inspirasi untuk Indonesia
Dokumen pribadi

Asyik, kan.Tertarik juga untuk ikut kelas menulis di Ublik.id?

Pantengin aja informasinya di akun Instagram @Ublik_id, ya.

O ya, buat temen-temen yang suka menulis esai, ada tawaran menarik, tuh.

Saat ini Ublik sedang mengadakan kompetisi menulis esai bertema “Impianku Untuk Indonesia”. Hadiah utamanya jalan-jalan ke Singapura, lho.Wow nya lagi, untuk juara pertama dapat uang saku.

Bagaimana ketentuan penulisan secara lengkap? Silahkan kunjungi web atau akun media sosial Ublik ya, teman-teman.

One Comment

  • Ranny

    Menyunting tulisan sendiri ini sering banget dilewati stepnya oleh para blogger juga yang nulis di website UGC. Padahal penting banget, agar tulisan kita lebih runut, enak dibaca nggak sekedar menghindari typo doang.
    Bagus banget ada kelas kayak gini mbak, bikin kita jadi semangat nulis dan meningkatkan kualitas juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.