Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Health

Terapkan 3 Perilaku Germas, Upaya Cegah Penyakit Tidak Menular

Lebaran yang lalu menyisakan cerita sedih. Hari raya yang biasanya membuat kami bersuka cita kali ini berbeda karena terselip rasa duka. Kondisi kesehatan ibu mertua sedang menurun karena sakit diabetes yang dideritanya. Berat badan beliau terus menurun, luka di lipatan betis juga tak kunjung sembuh, dan rasa nyeri kerap menghinggapi kakinya.

Padahal, saat itu, kakak saya menikahkan putrinya. Sedih banget karena di momen penting pernikahan cucunya, ibu mertua tak bisa menyaksikan seluruh rangkaian acara. Kondisi ini berbeda saat setahun lalu. Beliau masih bisa berkunjung ke Kediri, menyaksikan cucunya yang lain menikah. Tapi tahun ini, untuk jalan pun ibu sudah kepayahan.

Selain ibu mertua, kakak nomer dua dari suami, juga menderita diabetes. Meskipun kondisinya jauh lebih baik dari ibu, tapi tetap saja sakit itu tidak enak karena aktivitas terhambat dan harus bergantung pada obat.

Pengalaman sakit diabetes ibu mertua dan kakak ipar tentu jadi peringatan bagi saya. Apalagi setelah mengetahui data mengenai penyakit tidak menular (PTM).

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit kronis yang tidak disebabkan oleh bakteri dan virus serta tidak ditularkan dari satu orang ke orang lainnya. Penyakit tidak menular kini menjadi ancaman serius. PTM seperti penyakit tekanan darah tinggi, jantung koroner, stroke, kanker, dan diabetes menjadi penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian dan kecacatan di Indonesia.

prevalensi penyakit tidak menular
Terungkap angka pravalensi penyakit tidak menular
Sumber : http://sehatnegriku.kemkes.go.id

Berdasarkan hasil Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018 angka prevalensi PTM meningkat dibanding hasil Riskesdas 2013. Untuk prevalensi penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) naik dari 25,8% menjadi 34,1%. Prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10,9%; diabetes melitus naik dari 6,9% menjadi 8,5% ; sedangkan prevalensi penyakit kanker meningkat dari 1,4 % menjadi 1,8%. Sedihnya, penderita PTM tidak hanya kelompok manula tapi juga kelompok usia produktif.

Menurut informasi yang dirilis Kemenkes, angka penderita PTM semakin meningkat itu disebabkan oleh berubahnya gaya hidup masyarakat. Pola makan tak sehat seperti terlalu banyak mengonsumsi junk food atau minuman beralkohol bisa jadi pemicu PTM. Seperti kita tahu, junk food itu makanan tinggi lemak dan kalori. Jika dikonsumsi berlebihan beresiko terhadap kegemukan yang memicu PTM. Apalagi minuman beralkohol itu bisa merusak ginjal, dan organ tubuh lainnya.

Faktor pemicu lainnya adalah kurangnya aktivitas fisik. Hidup di zaman ini memang penuh kemudahan. Namun, banyak kemudahan ternyata membawa dampak buruk bagi kesehatan. Iya juga sih, sekarang ini banyak aktivitas bisa dilakukan dengan hanya memencet tombol. Beda banget dengan masa saya kecil. Mau mandi harus menimba air dulu. Menimba air di sumur bikin badan berkeringat dan menyehatkan. Saya mengalami menimba air sumur saat SD. Sementara itu sekarang untuk mendapatkan air, tinggal membuka kran saja.

Ibarat kata, orang tua zaman dulu aktivitas fisik itu kebiasaan sehari-hari. Jadi nggak olahraga pun mereka sehat dan bugar meskipun usianya sudah lanjut. Sedangkan kita, aktivitas fisik sehari-hari minim makanya perlu olahraga biar sehat.

Faktor lainnya adalah kebiasaan merokok. Sudah sering dibahas mengenai dampak buruk merokok, tak hanya merugikan si perokok tapi berbahaya pula bagi orang di sekitarnya.

Penyakit Tidak Menular
Dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia Sumber : http://sehatnegeriku.kemkes.go.id

“Seorang perokok mempunyai risiko 2-4 kali lipat untuk terserang penyakit jantung koroner. Ia juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit kanker paru dan PTM lainnya,” tutur Menkes Nila F. Moeloek pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), di kantor Kemenkes (11/7).

Masih ingat kan, Indonesia baru saja kehilangan salah satu sosok panutan yaitu Sutopo Purwonugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, karena kanker paru-paru yang dideritanya. Padahal beliau bukan seorang perokok.

Selain itu riwayat kesehatan keluarga juga ditandai sebagai pemicu penyakit tidak menular. Contohnya ibu mertua dan kakak ipar saya yang sama-sama menderita diabetes.

Jika bicara beban akibat PTM sebenarnya tak hanya dirasakan oleh penderita saja. Bisa merembet kemana-mana. Buat si penderita tentu bebannya adalah rasa sakit. Jika sudah parah, dia tak lagi bisa beraktivitas secara normal. Akibatnya penderita PTM tak mampu bekerja. Bayangkan jika ini menimpa tulang punggung keluarga. Keluarga bisa kehilangan nafkah. Beban hidup makin bertambah berat karena harus menanggung biaya berobat yang tak sedikit. Kualitas hidup pun akan menurun.

“Bukannya sekarang ada BPJS? pengobatan PTM kan, sudah ditanggung.”

Seharusnya kita tidak boleh bersikap abai meskipun ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) . Mengapa? Karena dana BPJS banyak terserap untuk pembiayaan PTM di pelayanan kesehatan tingkat lanjutan dengan biaya amat besar. Contohnya saja biaya pelayanan untuk penyakit hipertensi, tahun 2016 sebesar 2,8 Triliun rupiah, meningkat menjadi 3 Triliun rupiah ditahun 2017 dan tahun 2018. Ini baru satu PTM saja, lho. Kondisi ini dapat berpotensi menjadi beban keuangan negara.

Oleh karena itu mencegah menjadi pilihan yang paling tepat, bukan? Agar beban bersama karena PTM bisa ditekan.

Seperti disinggung di atas bahwa penyakit tidak menular itu disebabkan oleh gaya hidup tak sehat maka hal tersebut bisa dicegah sedini mungkin dengan pola hidup sehat.

Melihat fakta-fakta tersebut, Kementerian Kesehatan melakukan upaya pengendalian penyakit tidak menular (PTM) dengan sejumlah program. Salah satunya Gerakan Masyarakat Sehat (Germas). Germas diluncurkan untuk mengajak masyarakat lebih peduli dengan kesehatannya melalui pembiasaan pola hidup sehat.

Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) diluncurkan pada peringatan Hari Kesehatan Nasional ke 52, pada 12 November 2016. Germas ini bertujuan untuk mencegah penyakit tidak menular dilakukan dengan membangun 3 perilaku yaitu memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, beraktivitas fisik 30 menit sehari dan cek kesehatan secara berkala.

Upayaku Terapkan 3 Perilaku Germas Guna Mencegah Penyakit Tidak Menular

1. Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran

Mengonsumsi makanan sehat dengan menyertakan sayuran dan buah dalam menu makanan sehari hari rutin saya lakukan. Seperti diketahui sayuran dan buah itu mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.

Sayur asem dan sambal serta lalapan

Sayuran yang saya sajikan untuk keluarga bervariasi, seperti kangkung, bayam, kacang panjang, labu siam dan lain-lain. Untungnya, sayuran tersebut mudah ditemui dan harganya murah.

Menu rumahan selalu

Cara memasaknya pun, sederhana saja. Kadang dibikin urap, pecel, sayur asem, sop, sayur bening dan menu sederhana lainnya. Tentu saja dengan membatasi jumlah gula dan garam.

Yang membutuhkan usaha ekstra itu membujuk anak agar mau makan sayuran yang bervariasi.

Selain sayuran, konsumsi buah juga penting. Saya memilih memberikan buah-buahan yang harganya terjangkau dan mudah didapat. Seperti pisang, pepaya, jeruk, semangka, melon dan lainnya. Pilihan buah disesuaikan dengan kondisi kantong saja. Kalau mampunya beli pepaya sebiji 6000 rupiah, ya hari itu makan pepaya.

Buah pepaya biar murah tapi kaya vitamin
Jeruk lokal pun jadi

Kalau di lain waktu ada rezeki lebih untuk membeli buah yang lebih mahal seperti anggur, ya alhamdulilah. Intinya, mengonsumsi buah bisa dilakukan tanpa mengeluarkan banyak uang. Jadi, nggak ada alasan lagi nggak mampu beli buah karena mahal.

2. Melakukan aktivitas fisik 30 menit sehari

Saya perhatian sekali dengan kenaikan berat badan. Bukan untuk urusan estetika sebetulnya. Namun demi kesehatan. Menjaga agar berat badan tetap terkontrol dan lingkar pinggang tidak bertambah melampaui 80 cm.

Membangun kebiasaan gerak fisik dengan olahraga memang butuh komitmen. Selama ini saya melakukan senam dengan panduan video di Youtube. Jika tidak melakukan senam biasanya saya naik sepeda keliling kompleks atau pergi ke pasar.

Efeknya memang terasa banget. Badan bugar, tidak lekas lelah, mood bagus, kulit juga bercahaya dan berat badan jadi terkontrol.

Olahraga 30 menit dengan intensitas sedang itu sudah cukup menjaga kondisi kesehatan.

Sekali naik sepeda bisa belanja dan olahraga

Oh ya, olahraga itu juga bisa melepaskan stres. Tekanan hidup sehari-hari kadang membebani pikiran. Jika berlarut-larut bahkan sampai stres, akan berpengaruh pada imunitas tubuh. Wah, kalau sudah begini segala penyakit bisa mampir. Selain bisa me- release stres, manfaat lain dari olahraga adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Jika daya tubuh kuat, penyakit pun enggan menyerang.

Memang sih, godaan malas itu besar. Saya juga mengalaminya. Apalagi pasca mudik. Kebiasaan olahraga yang dibangun terganggu karena terjeda mudik. Tapi, jika melihat teman lain kondisi badannya sehat saya jadi semangat lagi.

Renang bikin badan bugar dan otak fresh

Saya pun cerewet mengingatkan anak-anak saya untuk aktif bergerak. Biasanya mereka memilih bersepeda karena mudah dilakukan. Sementara berenang, sesekali saja dilakukan ketika libur sekolah.

3. Memeriksakan Kesehatan Secara Berkala

Kita dianjurkan memeriksakan kesehatan secara rutin minimal 6 bulan sekali. Untuk melakukan ini, terlebih dulu saya mengubah mindset. Ya, maklumlah sejak kecil yang saya pahami, pergi ke fasilitas kesehatan itu untuk berobat karena sakit.

Padahal dengan rutin memeriksakan kesehatan maka kondisi kesehatan terpantau. Penyakit jadi lebih dini terdeteksi. Jika lebih cepat diketahui tentu lebih cepat mendapat penanganan.
Pemeriksaan yang sudah saya lakukan itu pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan melakukan tes pap smear. Dengan memeriksakan secara rutin saya tahu hal-hal yang harus diwaspadai.

germas-cek-kesehatan-secara-berkala
cek kesehatan secara berkala
Sumber :www.sehatnegriku.kemkes.go.id

Seperti kondisi saya yang cenderung memiliki tekanan darah rendah. Biasanya sih tekanan darah saya 110/70, jarang banget mencapai 120/80. Kalau sedang rendah, tekanan darah saya hanya 90/60. Kepala saya akan pusing. Biasanya dokter menganjurkan harus menambah konsumsi air putih, tak mengubah posisi tubuh dengan tiba-tiba dan menambah konsumsi garam karena sodium bisa meningkatkan tekanan darah.

Selain itu kondisi suami yang memiliki riwayat asma juga jadi perhatian saya. Agar sakit asma tak kambuh maka suami harus menghindari kelelahan dan faktor pemicu asma seperti debu, stres dan lainnya.

Begitu pun dengan kondisi kesehatan kedua anak saya. Masing-masing memiliki poin perhatian yang berbeda. Dengan mengetahui kondisi kesehatan masing-masing anggota keluarga, jadi memudahkan dalam treatment nya.

Semoga dengan menerapkan tiga perilaku Germas saya sekeluarga bisa terhindar dari penyakit diabetes maupun penyakit tidak menular lainnya. Meskipun memiliki riwayat keluarga menderita PTM.

Terkait Gerakan Masyarakat Sehat, Menteri Kesehatan menyatakan harapannya saat peluncuran Germas. Beliau berharap, Germas bisa meningkatkan rasa tanggungjawab tiap orang bahwa sehat itu harus diawali dari diri sendiri.

Yup, tepat apa yang disampaikan Bu Menkes, kebiasaan sehat bisa diawali dari diri sendiri. Bahkan bisa dilakukan dengan cara murah dan sederhana seperti yang saya lakukan.

Agar bisa berhasil sesuai dengan target yang diinginkan, Germas harus semakin luas disosialisasikan kepada masyarakat. Bisa melalui tenaga kesehatan di Puskesmas maupun para Bidan Desa.

sosialisasikan germas
Sosialisasi germas
Sumber : http://sehatnegeriku.kemkes.go.id

Meskipun sebetulnya, di era informasi seperti sekarang ini masyarakat bisa pro aktif mencari informasi mengenai Germas di web sehatnegeriku . Pokoknya nggak boleh kudet, deh. Tapi ingat, nggak boleh juga termakan hoaks kesehatan yang banyak bersliweran.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya kali ini. Semoga bermanfaat, ya.

Sumber informasi dan foto dari web sehatnegeriku.kemkes.go.id

2 Comments

  • CREAMENO

    Wah terima kasih banyak infonya mba, sangat jelas. Kebetulan ayah saya ada penyakit darah tinggi, jadi saya lebih hati-hati dalam memberi asupan makanan pada tubuh juga sebisa mungkin tetap fit dengan berolah raga seminggu tiga kali~ semoga kebiasaan hidup sehat yang dianjurkan pada tulisan mba kali ini bisa diikuti oleh banyak pembaca mba agar semakin banyak yang lebih care terhadap kesehatannya 🙂

    • Ety Abdoel

      Sama-sama mba.
      Memang harus hati-hati kalau sudah mengidap PTM. Biasanya bakal tergantung pada obat terus. Harus diawasi juga agar tetap disiplin minum obat.
      Iya mba aktivitas fisik kan bisa juga dengan jalan sehat. Yang mudah aja, biar bisa konsisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.