Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Tips and Tutorial

Tip Pengelolaan Keuangan UMKM

Hai, teman-teman apa kabarnya nih?
Moga pada sehat semua, bahagia semuanya karena kondisi kantong lagi tebal-tebalnya. Kan tanggal muda, ye kan. Ngomongin duit emang suka ngeri-ngeri sedap. 

Iya, kalau yang terjadi adalah besar pasak daripada tiang. Gaji lima juta, pengeluaran enam juta, nombok lah. Trus, nombokinnya dari mana? Biasanya sih dari pinjam. Kalau tiap bulan begitu, ya ambyar kondisinya.

Tapi, emang mengendalikan gaya hidup itu tak semudah bicara. Praktiknya itu butuh komitmen. Tapi, sebelum praktik kan harus paham ilmunya. Nah, soal ini saya harus banyak belajar.

Makanya meskipun masih lelah jiwa raga karena malamnya baru balik dari Bali tetap dijabanin. Hadir diacara yang diinisiasi oleh Visa yaitu Ibu Berbagi Bijak. Demi apa coba? Tentu demi sebongkah ilmu pengelolaan keuangan UMKM dari ahlinya. Biar kondisi keuangan usaha nggak ambyar, man teman.

Ilmu yang dibagi maha penting demi kondisi keuangan yang lancar dan bisnis yang mendatangkan profit. Weh, bahasanya. Iya lah, karena peserta yang hadir itu rata-rata UMKM yang dijalankan oleh para ibu. Supaya aktivitas yang dilakukan nggak sia-sia ye, kan karena ada angka survey yang harus jadi perhatian.

Pentingnya Mencatat Keuangan Keluarga dan Usaha

Dibagian awal acara, Riko Abdurrahman, Presiden Direktur PT. Visa Indonesia World Wide, mengatakan jika tingkat literasi keuangan dikalangan ibu-ibu itu sebesar 25%. Masih lebih rendah dibandingkan dengan literasi dikalangan laki-laki sebesar 35%. Padahal peran perempuan, apalagi seorang istri kan mengatur keuangan keluarga, ya.

Atas dasar itulah Visa Indonesia mengedukasi literasi keuangan kepada para ibu. Nah, pada kesempatan ini, pihak yang diedukasi adalah para ibu wirausahawati yang tergabung dalam Dekranasda DIY.

Visa Indonesia melihat bahwa sekarang ini, banyak ibu yang terjun ke dunia usaha karena dirasa lebih fleksibel dari sisi waktu.

Keinginan yang mulia itu tentu harus didukung oleh kemampuan mengelola keuangan usaha. Agar usaha yang dikelola mendatangkan profit, ye kan. Sehingga kesejahteraan keluarga akan meningkat tentunya.

Menurut Prita Ghozie, semua harus diawali dengan mencatat tiap pemasukan dan pengeluaran. Ya, gimana bisa tahu kalau usahanya itu untung atau rugi kalau tak ada catatan keuangan. Jangan diawang-awang nyatetnya, bakal pusing deh mengingatnya.

Apalagi pakai perasaan. Berhentilah jadi Certified Feeling Analyst. Perasaan untung, deh. Bekal liat ada saldo di rekening. Sementara catatan keuangan nggak ada.

Tip Pengelolaan Keuangan UMKM

Memulai usaha itu butuh perencanaan. Mau usaha apa atau modal dari mana menjadi salah dua tantangan pemilik usaha.

Pertanyaan seputar jenis usaha itu banyak poinnya. Contohnya nih, memilih usaha berdasarkan hobi atau kebutuhan pasar? Duh, kalau ditanya begitu, saya pasti menjawab usaha yang saya sukai sekaligus banyak dicari orang. Kalau banyak orang yang mencari berarti ini peluang, kan. Meskipun kerap kali kedua hal itu tak selamanya linear.

Nah, agar usahanya bisa sukses, ibu harus menyiapkan beberapa hal:

1. Membuat Rencana Usaha

Pertama ibu harus paham dulu kebutuhan dasar dan modal. Apa sih yang dibutuhkan dalam menjalankan jenis usaha yang kita pilih? Setidaknya ada tiga hal yaitu investasi awal, modal kerja operasional dan biaya tetap.

Nah, untuk urusan modal memang ada beberapa alternatif sumber yang bisa diambil. Tapi tetap harus diperhitungankam secara cermat. Namun menurut Prita Ghozie, untuk usaha yang belum satu tahun, disarankan memakai modal sendiri dulu. Biasanya setahun pertama itu usaha belum stabil. Jangan sampai, usaha berhenti dan terlilit utang.

Jika ingin mengambil pinjaman untuk modal, harus dihitung kebutuhan pendanaan, tambahkan perhitungan 10% dan mempertimbangkan sumber pendanaan.

Saat ini selain bank, lembaga multifinance adapula P2P lending, yang memberikan syarat lebih longgar ketimbang meminjam di bank. Namun, harus tetap hati-hati karena tak semua P2P lending terdaftar di OJK.

2. Manajemen Keuangan

Untuk mengetahui posisi keuangan usaha maka kita harus mencatat arus kas usaha. Dari sinilah bakal ketahuan usaha yang dijalankan untung, impas atau rugi.

Laporan keuangan harus dibuat secara rutin meliputi neraca, laporan laba rugi dan catatan atas laporan keuangan. Huwaa, banyak ya ternyata. Emang bener, menjadi wirausahawati itu nggak semudah balikin telapak tangan.

3. Pisahkan uang pribadi dan Usaha

Jadi, kita harus pakai sistem gaji meskipun usaha yang dijalankan itu milik sendiri. Ini menghindari tercampurnya uang pribadi dan usaha.

Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Pengelolaan Keuangan UMKM

Pertama, hindari utang konsumtif karena ini awal mula kehancuran yang bikin ambyar masa depan. Ya ampun, maaf ya, saya lagi suka ndengerin lagunya Didi Kempot soalnya.
Kalau pengin beli barang konsumtif mending nabung dulu beli kemudian. Karena kredit itu berat cicilannya, teman. Apalagi jika ada bunga.

Kedua, harus ada dana darurat
Kondisi darurat tak pernah diharapkan oleh siapapun. Namun, menyiapkan dana darurat sebaiknya jadi prioritas. Saat kondisi yang tak diinginkan datang, ada dana yang bisa digunakan. Sehingga kondisi keuangan tetap terkendali.

Ketiga memiliki asuransi jiwa atau kesehatan. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan kesejahteraan meskipun berada dalam kondisi sakit. Jika meninggal dunia, ahli waris seperti anak, tetap bisa terjamin kesejahteraannya.

Wuih, apa yang disampaikan Prita Ghozie tempo hari, benar-benar dibutuhkan oleh wirausahawati pemula sepertiku. Tapi dari semua hal yang telah disampaikan rasanya soal mencatat keuangan ini saya banyak lowongnya.

Padahal udah tahu tuh dari dulu. Tetap saja praktiknya emang nggak mudah. Yang ini jangan dicontoh ya, teman-teman.

Moga setelah ini saya insaf deh. Jadi rajin mencatat tiap pemasukkan maupun pengeluaran. Pengelolaan keuangan usaha pun makin lengkap. Sehingga tiap cita-cita bisa diwujudkan.

21 Comments

  • lianny hendrawati

    Tips ini perlu banget nih diketahui oleh pelaku UMKM ya dan juga yang baru akan menjalankannya. Aku pribadi masih belum punya usaha, sekarang masih belajar disiplin mencatat keuangan keluarga, masih banyak bolong2nya gegara males 🙂

  • Faridilla Ainun

    Melakukan pencatatan keuangan keluarga gitu ya harus andil gak cuma istri aja ya, suami juga…penting banget soalnya buat ngeliat seberapa besar pengeluaran dan menyiasatinya.
    Yang keluarga aja penting, apalagi kalau bikin usaha, harus lebih teliti dan rajin urusan pencatatan demi manajemen keuangan yang baik

  • Suciarti Wahyuningtyas

    Kalau aku memang selalu mencatat semua pengeluaran anggaran belanja rumah tangga, apalagi semuanya diserahkan ke aku sebagai menteri keuangan. Nah, aku juga awalnya belajar dari mbak Prita loh, mulai sadar deh untuk melakukan post-post yang sempat terabaikan.

  • Eri Udiyawati

    Emak-emak ya memang susah banget kalau mesti ngepos-poskan keuangan. Dulu saya pernah mencatat seluruh penghasilan dan pengeluaran, terus saya analisa, mana yang paling boros, harus saya kurangi. Tapi lama-lama,lah malas, lah gak sempet, dll. Jadi ya, gitu memang saya akui, literasi keuangannya kurang. Nampaknya saya perlu melakukan lagi semua pemasukan dan pengeluaran uang saya buat apa aja nih.

    Dan terlebih lagi yang punya usaha, yang belum besar. Uang pribadi sama uang usaha sukanya nyampur-nyampur kagak jelas. 😀

  • Ria Fasha

    Dulu sempat punya usaha dan betul tips dari mbak kalo duit usaha ama pribadi jangan sampe kecampur. Nanti tuh kepikir eh banyak nih uang padahal uang usaha harus diputar untuk kelanjutan usaha

  • Ria Fasha

    Dulu sempat punya usaha dan betul tips dari mbak kalo duit usaha ama pribadi jangan sampe kecampur. Nanti tuh kepikir eh banyak nih uang padahal uang usaha harus diputar untuk kelanjutan usaha

  • Hidayah Sulistyowati

    Sebenarnya pencatatan keuangan itu juga bisa dijadikan semangat, kalo nyatatnya bener sih. Kayak ada laporan nerasa, R/L, arus kas, dan lainnya. Butuh telaten dan konsisten juga sih, terutama urusan pemisahan rekening pribadi dan usaha ya mba

  • Lidhamaul

    moon maap, saya baca ini pas tanggal tua 😀
    Sepakat sama mba Ety, segala pemasukan dan perencanaan kudu ada pencatatannya yang pro, termasuk perencanaannya. Nah, saya pernah nemuin kegagalan perusahaan (pribadi) karena ketidakmampuannya memisahkan dana pribadi dan dana usaha. Dikira karena perusahaannya, ya semua uang adalah miliknya.

  • Nunung yuni

    Ibu ibu emang harus punya financial planner yang baik ya mbak apalagi buat pengusaha. Sebesar apapun pendapatan kalau tidak dikelola dengan baik pasti akan minus. Apalagi mencampur pendapatan dengan uang pribadi. Sungguh sangat tidak disarankan

  • Dedew

    Bener banget mbak, kalau berbisnis ngga hanya urusan produksi dan menjual ya tapi pengelolaan keuangan juga penting banget buat pengusaha agar tidak tercampur dengan duit pribadi..

    • Khoirur Rohmah

      Asyiknya bisa ikutan workshop yg ada Mbak Prita Ghozie, nih hehee. Aku suka nyatat pengeluaran keuangan di Excel Mbak. Tapi kadang ya nulis manual di buku sih,
      Oh ya pernah sih ngalamin bingung gimana pencatatan keuangan pribadi sama bisnis yg aku jalani Kapan hari mbak.
      Artikelnya membantu banget untuk manajemen keuangan antara pribadi sama bisnis buat UMKM nya nih Mbak.
      TFs ya mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.