Motherhood

Agar Kakak Tak Cemburu

Kehadiran seorang Adik membawa kebahagiaan tak hanya bagi orangtua namun juga buat Sang Kakak. Disisi lain Kakak bisa saja merasa cemburu sehingga ia merasa perlu bersaing dengan Adiknya. Merebut perhatian dengan caranya sendiri, tak jarang cara yang ditempuh secara agresif. Diperlukan kesabaran dan kejelian orangtua agar rasa cemburu tak berlarut-larut sehingga mengganggu hubungan persaudaraan.

Kecemburuan, persaingan antar saudara (sibling rivalry) juga dialami anak-anak Saya. Sebelum hamil anak kedua, Saya sudah menyiapkan mental Kakak agar siap menerima kehadiran Adik. Saya mengajaknya mengenal siapa itu Adik dan harus bagaimana bersikap. Ketika hamil, Kakak juga Saya ajak untuk berinteraksi dengan Adik, seperti mengajaknya bicara sambil mengelus-elus perut Saya.

Kakak juga selalu menemani Saya ketika jalan pagi. Menjelang kelahiran, Kakak ikut menyiapkan segala kebutuhan Adik seperti membantu memilih kelambu, selimut, baju, dan lain-lain. Setelah Adik lahir, persiapan yang Saya anggap cukup ternyata, tak serta merta membuat Kakak tak cemburu.

Awalnya Kakak memang bahagia dengan kehadiran Adiknya tapi lama-kelamaan api kecemburuan mulai muncul. Kakak suka ngambek jika dia minta sesuatu sementara Saya belum selesai mengurus Adik, Kakak juga tidak mau makan kalau bukan Saya yang nyuapin padahal sebelumnya dia terbiasa makan sendiri, Kakak juga sering tantrum.

Pusing dan capek menghadapi Kakak, untungnya segera menyadari kondisi ini. Kami berdua mencari sumber masalah ini. Ternyata sumber ya Saya, ibunya. Apa sebab? energi Saya yang terkuras habis untuk mengurus Adik membuat  porsi waktu dan perhatian untuk Kakak berkurang banyak. Saat itu, Saya harus merelakan ART mengikuti suaminya pindah ke kota lain. Sementara itu, mencari gantinya tak kunjung dapat. Semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri, begitu setiap hari.

Badan Saya butuh waktu menyesuaikan dengan ritme kerja yang baru. Saya pun mengatur ulang semua jadwal pekerjaan dan mengurus anak-anak. Mana yang harus diprioritaskan dan mana yang bisa ditunda. Suami pun ikut turun tangan, pagi-pagi dia akan membantu Saya mencuci baju, saat libur suami belanja ke pasar dan dia pun membantu menyetrika baju.

Kebersamaan Saya dan Kakak juga mulai seperti dulu lagi. Menghabiskan waktu berdua seperti jalan-jalan, pergi ke tempat bermain berdua saja, ke salon berdua, atau makan di luar berdua membuat sikap Kakak lambat laun mulai berubah. Dia ceria seperti dulu, tantrum semakin berkurang, kemandirian yang selama telah dicapainya pun dilakukan kembali.

Sekarang saat Kakak berusia 9 tahun dan Adik 5, mereka kompak, setiap hari mereka selalu pergi main berdua. Bertengkar, sesekali masih terjadi tapi hal itu tidak lama. Mereka cepat baikan dan main bersama lagi.

Sibling rivalry memang biasa terjadi ketika Adik hadir dalam keluarga. Kakak yang cemburu dan berebut perhatian dengan Adik yang masih bayi harus jadi perhatian orangtua. Penting untuk mencari akar masalah dan mencari solusinya. Seperti apa yang Saya alami dulu. Menata kembali jadwal pekerjaan, meminta bantuan dalam menyelesaikan beberapa pekerjaan hingga menghabiskan waktu berdua dengan Kakak. Kecemburuan Kakak teratasi maka kebahagiaanpun semakin lengkap.

 

8 Comments

  1. nurul fitri fatkhani October 11, 2014
    • Ety Abdoel October 16, 2014
  2. Ika Koentjoro October 14, 2014
    • Ety Abdoel October 16, 2014
  3. rinasusanti October 14, 2014
    • Ety Abdoel October 16, 2014
  4. Bibi Titi Teliti October 16, 2014
    • Ety Abdoel October 16, 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.