Motherhood

Bebaskan Anak-anak Bermain

Bermain bagi anak-anak adalah sesuatu yang amat menyenangkan. Terkadang karena rasa ingin tahunya yang besar, sebagai orangtua kita kawatir anak kita terluka atau sakit karena bermain. Perasaan yang wajar, namun hendaknya kita tidak sering memberikan larangan. Dampingi anak ketika bermain untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan.

Berawal dari kegemaran anak saya Zahira yang suka makan sate, telah membuat cerita ini ada. Zahira memang doyan sama makanan satu ini. Jika disuruh memilih antara bakso,  mie ayam atau sate maka sate lah yang menjadi pilihannya. Sore itu, Zahira lagi ingin sekali makan sate. Maka ditunggunya, Mbak penjual sate dari Madura langganannya itu.

Seperti biasa, satu porsi sate dilahapnya dengan sepiring nasi hangat. Dia terlihat amat menikmatinya. Setusuk demi setusuk sate dimakannya hingga mulutnya pun belepotan saus kacang. Semua terlihat sama, memang begitulah yang biasa terjadi ketika Zahira sedang melahap makanan kesukaannya itu.

Tadinya saya pikir tidak sesuatu yang terjadi setelah itu. Namun ternyata dugaanku salah. Setelah sate ludes dilahapnya, tusuk satenya yang biasanya dicuekin, kali ini dibuatnya sesuatu. Awalnya tidak terbayang dia mau buat apa. Saya biarkan saja dia asyik dengan tusuk sate, sambil sesekali meliriknya. Memastikan saja bahwa dia sedang tidak bermain-main dengan bahaya. He,he,he, takutnya kan tertusuk, karena ujungnya runcing. Bisa berbahaya jika tak hati-hati. Saya juga tidak melarangnya, cukup mengingatkan agar dia berhati-hati.

Sesaat kemudian, dia berteriak, “Hore, rumahku sudah jadi!”. Wow, dia bilang dia buat rumah? dari tusuk sate?.  Segera, saya pun melihatnya, benar saja tusuk sate itu telah disusunnya menjadi sebuah rumah, dengan jendela mungil. Entah darimana dia belajar tentang hal ini. Seingatku, belum pernah hal satu ini saya ajarkan.

rumah tusuk sate foto: dokumen pribadi

rumah tusuk sate
foto: dokumen pribadi

Dua jempol langsung saya berikan kepadanya, sebagai tanda bahwa saya menghargai karyanya. Bagi saya ini adalah sebuah kreatifitas buah dari kesempatan untuk bermain dan bebas berekspresi. Buat saya, ini bukan sekedar karya namun sebuah “mahakarya”, penanda di setiap milestone nya.

Saya tidak sedang mengatakan jika anak saya hebat, tidak demikian. Saya hanya ingin mengatakan bahwa bagi anak-anak, bermain dengan bebas adalah kesempatan emas untuk bisa melejitkan potensi terbaiknya. Bukan melulu soal “menghasilkan sesuatu” yang membuat ibunya tersenyum bangga. Namun, agar senantiasa bisa melihat tawa cerianya ataupun senyum lepasnya sebagai tanda bahwa mereka bahagia. Bukankah itu juga yang membuat kita sebagai ibunya bahagia?

 

 

2 Comments

  1. lita alifah March 23, 2013
    • Ety Abdoel March 23, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.