Health

Cegah Anemia Demi Generasi Penerus Yang Sehat

Segelas kopi pahit telah tandas diminum bapak. Dengan nada pelan, bapak akhirnya menyetujui ideku untuk menggelar resepsi pernikahan secara sederhana. Cukup dilaksanakan di rumah. Tak mengundang banyak tetamu. Hanya saudara dan tetangga dekat saja.


Namun, sesederhana apapun resepsi, kesibukan di rumah bapak tak terhindarkan lagi. Suara dentingan alat masak nyaring terdengar di dapur yang mungil. Disertai sendau gurau tetangga yang membantu menyiapkan hidangan untuk tetamu.

Bagian depan rumah bapak mulai dihiasi janur kuning. Pelaminan tempat bersanding pun disiapkan. Saya sebagai calon mempelai sibuk melengkapi syarat administrasi pernikahan. Sesekali mengecek persiapan di sana sini. Sekaligus berkomunikasi dengan calon suami yang masih dalam perjalanan.

Ternyata, persiapan menikah telah menguras energi dan pikiran. Saya yang saat itu sedang menstruasi mulai merasakan sesuatu yang tak enak di badan. Meskipun tak sampai jatuh sakit, usai resepsi saya mengalami kelelahan luar biasa.

Tenggat waktu cuti suami hampir habis. Dalam kondisi yang tak sepenuhnya fit, saya harus diboyong suami ke Palembang. Sesampainya di sana, badan saya berontak. Kepala terasa pusing, badan lemah, lesu dan rasa letih yang tak kunjung hilang meski cukup istirahat.

gejala anemia

Saya pun pergi ke dokter. Setelah diperiksa, dokter mendiagnosa saya terkena anemia defisiensi zat besi. Untungnya belum terlampau parah sehingga dokter cukup memberikan suplemen yang harus rutin diminum. Selain itu, dokter mengharuskan saya rutin mengonsumsi makanan mengandung zat besi dan vitamin C.

Dokter saat itu berpesan, agar saya disiplin minum suplemennya. Sehingga sebelum hamil badan saya sudah sehat.

Jika dipikir ke belakang, menjelang pernikahan memang saya banyak pikiran. Makan yang biasanya teratur jadi ngawur. Boro-boro memperhatikan kecukupan gizi. Saat itu makan hanya menggugurkan kewajiban saja. Asal perut terisi. Padahal saat itu saya sedang menstruasi. Seharusnya asupan zat besi harus tercukupi. Eh, malah luput dari perhatian.

Maklum saja, saat itu saya belum sadar akan bahaya yang mengancam akibat anemia.

Ancaman Tersembunyi Dari Anemia

Anemia adalah penyakit yang diakibatkan oleh rendahnya jumlah sel darah merah yang sehat.

Seperti diketahui fungsi sel darah merah amat vital bagi kita. Jika jumlah sel darah merah di bawah normal maka tubuh kita akan terganggu kesehatannya.
Indikatornya bisa dilihat dari jumlah hemoglobin dan hematokrit.

Hemoglobin merupakan protein zat besi dalam darah yang berfungsi untuk memberi warna merah dan mengikat oksigen dalam darah. Sementara itu hematokrit adalah prosentase sel darah merah per 100 ml volume darah.

Sel darah merah

Normalnya pria sehat memiliki kadar hemoglobin 14-18 g/dL dan hematokritnya 38,5% – 50%. Sementara itu pada wanita sehat, kadar normal hemoglobin adalah 12-16 g/dL. Untuk hematokrit nya sebesar 34,9%-44,5%.

Kondisi anemia adalah ketika jumlah hemoglobin dan hematokrit nya dibawah angka normal tersebut.
Jika menderita anemia maka seseorang tidak mendapatkan sel darah merah yang kaya oksigen.

Akibatnya penderita akan merasakan gejala anemia seperti letih, lemah, lesu, sakit kepala hingga sesak napas. Dengan kondisi seperti itu penderita anemia akan mengalami sulit konsentrasi, kecerdasan menurun bahkan produktivitas pun anjlok.

Anemia bisa menyerang siapa saja. Baik laki-laki maupun wanita dan tak memandang usia. Bahkan bayi, anak-anak maupun remaja berpotensi terkena anemia. Penyakit ini sifatnya bisa sementara dan bisa disembuhkan namun jika tak ditangani secara serius anemia bisa berlangsung lama bahkan mengakibatkan penyakit lain.

WHO (World Health Organization) telah memberikan isyarat bahwa anemia merupakan masalah besar yang harus segera diatasi. WHO mencatat secara global ada 2,3 milyar orang menderita anemia.

Berdasarkan data Anemia Convention 2017, angka tertinggi penderita anemia sebesar 85% terdapat di Asia Tenggara dan Afrika. Mayoritas penderitanya adalah wanita dan anak-anak. Sementara itu di Asia Tenggara terdapat 202 juta wanita menderita anemia.

Jika dikerucutkan lagi, di Indonesia penderita anemia wanita di usia 15-49 tahun cukup besar. Bahkan berada di peringkat 5 dunia. Lebih memprihatinkan lagi 1 dari 3 ibu hamil menderita anemia.

Fakta ini tentu berbahaya karena menyangkut generasi penerus yang lahir dari para wanita tersebut.

Bahaya Anemia Pada Ibu Hamil

Wanita memang lebih rentan terkena anemia dibanding pria karena secara alamiah kadar normal hemoglobinnya lebih rendah dari pria.

Padahal pada saat menstruasi, hamil, menyusui dan menopause, wanita justru membutuhkan zat besi lebih banyak.

Anemia pada ibu hamil

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sekitar 48,9% ibu hamil di Indonesia menderita anemia.

Artinya hampir separuh dari ibu hamil di Indonesia menderita anemia. Bukan angka yang menggembirakan.

Jika dibiarkan anemia bisa membahayakan kesehatan ibu dan janin. Anemia yang terjadi pada trimester pertama kehamilan bisa meningkatkan resiko janin gagal tumbuh, lahir prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) bahkan beresiko memiliki nilai APGAR yang rendah.

Sementara bagi ibu, ada resiko rusaknya organ vital seperti otak dan jantung. Jika anemia makin parah, saat melahirkan ibu beresiko mengalami pendarahan. Kondisi ini bisa mengancam jiwa ibu maka cegah anemia adalah pilihan terbaik.

Cegah Anemia Saat Hamil

Saat hamil kebutuhan zat besi meningkat karena harus berbagi dengan janin. Oleh karenanya ibu hamil idealnya banyak mengonsumsi zat besi. Baik dari makanan maupun suplemen zat besi.

Menurut pengalaman saya, saat hamil dulu, bidan maupun dokter kandungan akan memberikan suplemen zat besi dan asam folat. Ini nggak hanya dialami saya saja. Tiap ibu hamil pasti akan mendapat suplemen seperti itu. Mengingat pentingnya asupan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembang janin. Janin yang tumbuh dengan baik adalah calon generasi penerus yang sehat dan cerdas.

Pemerintah tentu tak menghendaki hal buruk terjadi akibat banyaknya ibu hamil yang menderita anemia. Berbagai langkah dilakukan. Selain pemberian suplemen zat besi dan asam folat, pemerintah mengambil langkah preventif.

Melalui program 1000 hari pertama kehidupan diharapkan akan lahir generasi yang berkualitas.

1000 hari pertama kehidupan dikenal dengan konsep scalling up nutrition. Artinya bahwa pemenuhan nutrisi anak itu dilakukan sejak 1000 hari pertama kehidupannya.

1000 hari pertama itu dihitung dari hari pertama konsepsi, terbentuk embrio hingga anak berusia 2 tahun.

Masa inilah disebut sebagai masa emas pertumbuhan anak. Saat itulah terjadi pembentukan seluruh organ tubuh, salah satunya adalah otak. Sistem imun pun mulai terbentuk. Di sini peran nutrisi seperti zat besi, asam folat, berbagai vitamin dan mineral menjadi amat penting agar organ tumbuh sempurna dan anak memiliki imunitas yang baik.

Jalan Panjang Cegah Anemia Demi Generasi Penerus Yang Sehat

Mencegah anemia seharusnya dilakukan sejak dini. Jika bicara mempersiapkan generasi penerus maka kita harus mempersiapkan calon orangtua yang sehat. Urusan yang satu ini tidak cukup dilakukan sebulan dua bulan menjelang pernikahan. Namun, jauh sebelum itu.

Calon orangtua bebas anemia

Kondisi kesehatan yang baik, nggak hanya bikin hari pernikahan sesuai harapan dan membahagiakan. Lebih jauh dari itu kesehatan yang baik adalah awal yang baik terjadinya konsepsi.

Ibaratnya, benih yang baik disemai di lahan yang subur dan dipupuk secara teratur maka benih akan tumbuh dengan baik.

Lalu Apa Saja Yang Bisa Dilakukan Untuk Cegah Anemia? Berikut Ini, langkah-langkahnya :

1. Mengonsumsi makanan kaya zat besi, asam folat, Vitamin B12, Vitamin C. Agar kebutuhan zat besi dan zat gizi lain bisa tercukupi. Selain itu cukup Vitamin C akan membantu penyerapan zat besi ke dalam tubuh. Makanan tersebut antara lain daging merah, kerang-kerangan, sayuran hijau, kacang-kacangan, buah-buahan dan masih banyak lainnya. Tinggal divariasikan saja.

2. Hindari konsumsi kopi, teh saat makan karena zat tannin di minuman tersebut bisa menghambat penyerapan zat besi.

3. Istirahat yang cukup. Penuhi kebutuhan tubuh untuk tidur selama 7 hingga 8 jam sehari. Istirahat yang cukup menghindarkan diri dari kelelahan.

4. Olahraga rutin bermanfaat buat tubuh. Selain bisa membantu memperlancar peredaran darah, olahraga bermanfaat pula dalam meregenerasi sel darah merah.

5. Jika mulai terkena gejala anemia, apalagi bagi wanita hamil segeralah berobat ke dokter agar segera mendapatkan penanganan yang tepat. Jangan sepelekan gejala anemia.

6. Minum suplemen penambah darah bisa dilakukan untuk cegah anemia. Pemerintah rutin membagikan TTD (tablet tambah darah) untuk remaja putri. Hendaknya tablet tersebut diminum. Anak perempuan saya yang duduk di bangku SMP sudah 5 kali mendapat TTD.

Ibu-ibu yang memiliki remaja putri bisa mengawasi apakah TTD tersebut diminum atau tidak. Saya pernah mendapati TTD putri saya malah dibuat mainan karena dia belum paham maksudnya. Di sinilah pentingnya edukasi kepada anak-anak kita.

7. Minum suplemen zat besi bagi ibu hamil. Kebutuhan zat besi pada ibu hamil meningkat karena harus berbagi dengan janin. Oleh karenanya ibu hamil pasti akan mendapat suplemen zat besi dan asam folat. Ini diminum ya, bu! Agar janin dalam kandungan sehat dan ibunya juga sehat.

Ternyata tingginya anemia pada ibu hamil disebabkan oleh ketidakdisplinan ibu hamil dalam mengonsumsi suplemen yang diberikan bidan maupun dokter kandungan.

Saya paham, perubahan hormon yang dialami ibu hamil memang membuat morning sickness dan lain-lain. Ini jangan dijadikan alasan. Masa depan anak-anak kita tergantung cara kita menjalani kehamilan.

Akhirnya, pola hidup sehat menjadi kunci cegah anemia.

Persiapan pernikahan boleh dipikirkan sedetil mungkin. Bahkan dipersiapkan dalam hitungan bulan. Meskipun pestanya hanya berlangsung seharian. Sah-sah saja, untuk momen yang diharapkan sekali seumur hidup dirancang sedemikian rupa agar berkesan. Asal, jangan abai bahwa ada hal di luar urusan seremoni yang lebih penting diperhatikan.

Iya, karena urusan menikah itu tak sekadar mengakhiri status lajang menjadi berpasangan. Melainkan memikul tanggungjawab setelah akad dilafalkan.

Tiap pasangan bisa saja memiliki tujuan yang berbeda. Tapi umumnya, salah satu tujuan menikah adalah memperoleh keturunan. Nah, untuk bisa mencapai tujuan tersebut, perlu persiapan matang. Demi keturunan yang sehat dan generasi penerus yang berkualitas.

Kondisi kesehatan calon orangtua akan mempengaruhi kondisi kesehatan keturunannya kelak.

Sumber Data :

https://m.antaranews.com/berita/764584/hampir-separuh-ibu-hamil-di-indonesia-alami-anemia

https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1031041-1-dari-5-orang-indonesia-derita-anemia

https://www.bumrungrad.com/indonesia-healthpoint/August-2017/anemia-hilangnya-sel-darah-merah

https://cantik.tempo.co/read/1109549/kebanyakan-penderita-anemia-wanita-dan-anak-kenali-gejalanya

https://www.liputan6.com/health/read/3912251/penyakit-anemia-penyebab-dan-cara-mencegahnya-yang-perlu-kamu-ketahui

One Response

  1. Barracuda August 14, 2019

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.