Health

Cara Menurunkan Resiko Alergi Pada Anak

Saya punya riwayat alergi telur saat kecil. Nah, riwayat ini ternyata menurun ke anak kedua saya. Dia beberapakali mengalami gatal-gatal, yang berakibat kemerahan pada kulitnya.

Sayangnya saat itu pengetahuan saya mengenai alergi masih terbatas banget. Efeknya, saya sempat dalam situasi bingung harus ngapain. Ternyata alergi pada anak itu bisa dicegah sedini mungkin lho.

Nah, pengetahuan yang saya dapat dari Webinar Bicara Gizi dengan tema “Menekan Potensi Alergi Si Kecil dengan Deteksi Alergi dan Pemberian Nutrisi yang Tepat Sejak Dini”, tempo hari, bakal saya share di tulisan ini.

Hal ini penting untuk diketahui para orangtua maupun calon orangtua, karena ada tren peningkatan angka kejadian alergi anak di Indonesia. Harapannya, mereka bisa lebih aware mengenai alergi, dampaknya, cara mengatasi bahkan bisa menekan potensi alergi pada anak maupun calon anak mereka.

Dalam dua dekade terakhir, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat adanya peningkatan angka kejadian alergi pada anak di Indonesia, bahkan alergi susu sapi pada dermatitis atopik ditemukan hingga 60%.

Apa Saja Dampak Alergi?

Seperti kita ketahui, alergi pastinya akan berdampak pada kondisi anak. Mereka yang terkena alergi akan mengalami gejala seperti ruam, gatal, bahkan sesak nafas. Ternyata, selain memiliki dampak pada penderita, alergi juga berdampak pada keluarga dan masyarakat.

1. Kesehatan

Anak yang menderita alergi, berpotensi menderita penyakit degeratif atau penyakit yang umumnya terjadi karena memburuknya suatu jaringan atau organ seiring waktu. Penyakit degeratif tersebut adalah obesitas, jantung dan hipertensi.

2. Psikologis
Anak yang menderita alergi akan mengalami gangguan psikologis seperti merasa minder, stres karena harus mengalami kondisi tidak nyaman dan lainnya.

Gangguan psikologis karena alergi tak hanya dialami oleh anak, orangtua juga bisa terganggu psikologisnya. Kondisi yang kerap terjadi adalah stres pada orangtua karena harus menghadapi anak yang rewel karena kambuh alerginya. Bisa juga karena harus super hati-hati menghindari pencetus alergi.

3. Ekonomi
Meningkatnya biaya hidup seperti biaya untuk pengobatan, biaya transportasi ke fasilitas kesehatan, biaya membeli bahan makanan yang aman dan lainnya.

Apalagi jika kambuh, orangtua harus bolos kerja dan mengantar anak berobat. Kondisi ini tentu bisa menganggu pendapatan orangtua.

4. Tumbuh Kembang
Alergi yang kerap kambuh tentu akan mengganggu tumbuh kembang anak. Hal ini terkait dengan jenis dan durasi pantang makanan tertentu. Jika tidak ditangani secara tepat, anak bisa kekurangan nutrisi.

Saat terjadi alergi anak cenderung rewel, susah minum ASI maupun makan. Jika dibiarkan, lambat laun anak bisa kekurangan gizi. Tumbuh kembangnya pun jadi terhambat.

Kenali Faktor Resiko Alergi

Faktor resiko alergi pada anak ada tiga :
1. Riwayat Alergi
Seorang anak memiliki potensi tinggi menderita alergi jika ada riwayat alergi di keluarganya.
2. Persalinan sesar
Persalinan dengan operasi sesar menyebabkan tertundanya kerja bakteri baik dalam usus. Kondisi ini membuat kondiis imunitas anak terganggu.
3. Lingkungan
Faktor terakhir adalah lingkungan yang tak sehat seperti terjadi polusi, maupun paparan asap rokok.

Cara Menurunkan Resiko Alergi Pada Anak Dengan Deteksi Dini

Deteksi dini alergi penting untuk dilakukan sebagai tindakan menekan resiko kejadian alergi pada anak. Sekarang ini, deteksi dini alergi bisa dilakukan sendiri secara mudah.
Sekarang orangtua bisa melakukan deteksi dini alergi menggunakan Allergy Risk Screener by Nutriclub. Risk Screener ini diluncurkan Maret 2020 dan telah diakses sebanyak 20.000 kali oleh para orangtua.

Deteksi dini alergi

Manfaat dari tools ini, membantu orangtua mendeteksi dini alergi dan mempersingkat waktu konsultasi.
Alergi memang bisa berkurang seiring dengan pertambahan usia. Namun sebaiknya orangtua bisa melakukan langkah pencegahan.

Pemberian Nutrisi Yang Tepat

Salah satu kejadian alergi yang umum diderita anak adalah alergi susu sapi. Diketahui prevalensi alergi susu sapi antara 2 – 7,5%.

Kasein dan Whey adalah penyebab alergi susu sapi pada anak. Kejadian alergi susu sapi kebanyakan menyebabkan dermatitis atopik (35%).

Untuk anak-anak yang mengalami alergi susu sapi, tentu membutuhkan tatalaksana yang tepat. Mengingat pertumbuhan dan perkembangan anak membutuhkan protein.
Tatalaksana Alergi Susu Sapi sesuai rekomendasi IDAI:
1. Menghindari susu sapi dan produk turunan.
2. Pemberian obat sesuai indikasi
3. Tetap diberikan ASI dengan ibu berpantang susu sapi dan produk olahannya.
4. Berikan suss formula terhidrolisis eksternal, formula asam amino atau formula kedelai.

Cara Cegah Alergi

Pencegahan primer:
1. Menghitung resiko alergi
Identifikasi riwayat alergi seperti asma, dermatitis atopik, pilek alergi dan lainnya pada kedua orangtua maupun saudara kandung.
2. Saat kehamilan, tak ada pantangan makanan tertentu agar janin tak kekurangan nutrisi.
3. Hindari paparan asap rokok aktif maupun pasif.
4.Pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan. Zat dalam ASI bagus untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Sehingga alergi bisa dicegah.
5. Bila pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan tak memungkinkan maka diberikan formula hidrolisat.
6. Makanan padat diberikan secara bertahap di usia 6 bulan.
Pencegahan Sekunder dan Tersier
1. Hindari pencetus alergi
2. Jika alergi makanan tertentu, maka yang harus dilakukan adalah menggantinya dengan makanan yang memiliki nutrisi sama.
3. Sedia obat yang dianjurkan dokter.

Nah, sebelum semuanya terlambat, teman-teman bisa akses Allergy Risk Screener by Nutriclub, ya. Jadi bisa menghitung besarnya resiko alergi keturunannya kelak. Yang paling penting bisa melalukan pencegahan alergi sejak dini.

2 Comments

  1. Indri Ariadna August 2, 2020
    • Ety Abdoel August 11, 2020

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.