Blogging and Social Media

Ibu, Andai Waktu Bisa Diputar Kembali

Kasih Sayang Seorang Ibu

sumber gambar :gambarunik.co

Palembang 5 September 2005

Aduh, semakin sakit saja pinggang hingga perut padahal perkiraan lahir masih empat minggu lagi. Suntikan penghilang rasa sakit yang diberikan bidan kemarin pun tak mampu mengurangi rasa sakit ini. 

Ya Alloh tolong aku, kurangilah rasa sakit ini, akupun mengharap pertolongan Nya. Aku tidak mungkin menelepon suamiku lagi. Setelah kemarin dia harus ijin pulang lebih awal karena sakitku ini.

Obat pemberian bidan itu sudah kuminum tapi rasa sakit tak kunjung berkurang. Kata bidan, janinku memang sudah terlalu turun posisinya hingga membuat pinggang, punggung dan perutku terasa sakit, amat sakit bahkan. Namun  janin itu masih terlalu dini untuk dilahirkan karena belum matang.

Sendirian dan menahan sakit tapi aku tahu Alloh tak pernah tidur, kusandarkan harapanku pada Alloh semata, semoga Ia akan mengurangkan rasa sakit ini.

Palembang 6 September 2005

Wajahnya nampak lelah sekali, shift malam memang selalu menguras energi. Tak tega aku menceritakan keadaan ini pada suamiku. Kubiarkan dia beristirahat, melepas lelah setelah semalaman harus berjibaku dengan pekerjaannya.

Sore menjelang, rasa sakit tak kunjung menghilang. Ya Alloh, ini saaakiiiiit sekali. Bibirku bergetar menahan sakit. Suamiku pun nampak kawatir, dia membawaku pergi ke dokter kandungan.

Alhamdulilah, aku pasien pertama hingga tak perlu lama menunggu. Setelah beberapa saat memeriksa, dokter pun berkata jika air ketuban telah berkurang dan janin harus segera dilahirkan. Tadi diperjalanan, memang ada cairan yang keluar, rupanya itu air ketuban yang dimaksud oleh dokter.

Tiba di rumah sakit, aku langsung diinduksi. Kupikir proses akan cepat berlangsung, ternyata tidak. Meski telah diinduksi, rasa mulas dan pembukaan yang dibutuhkan janin untuk bisa keluar dari rahimku tak kunjung lengkap.

Palembang 7 September 2005

Hari yang sangat panjang buatku. Menunggu rasa yang tak kusuka namun justru inilah yang akan membantuku mengakhiri proses panjang ini.

Berangsur-angsur rasa sakit itu melilitku, rasa sakit yang amat sangat, menggigit serasa meremukkan seluruh sendiku. Tiba-tiba aku tak kuasa menahan air mata. Air mata ini bukan semata karena rasa sakit itu namun aku teringat akan dirimu, Ibu. Beginikah sakit yang kau rasakan saat melahirkanku dulu?.

Ingin rasanya berteriak memanggilmu namun lidahku kelu. Membayangkan perjuanganmu menahan rasa sakit ketika melahirkanku, ingin rasanya bersimpuh dikakimu, memohon ampun atas semua salahku padamu. 

Ibu, sungguh saat itu aku berharap bisa mewarisi kekuatanmu. Kekuatan untuk mengatasi rasa sakit karena tugas mulia ini. Aku tahu, diseberang sana engkau sedang khusyu mendoakanku. Doa yang memberiku kekuatan. Kukumpulkan sisa-sisa tenaga, terus berjuang menahan rasa sakit agar buah hatiku bisa menyapa dunia.

Tepat pukul 14.55 WIB, suara tangis itu memecah kegalauanku. Ibuuuuu, anakku telah lahir, cucumu perempuan. Akupun kembali menangis tapi kali ini tangis bahagia. Akhirnya aku menjadi seorang Ibu.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Terlambat aku menyadari betapa berartinya perjuangan seorang Ibu. Aku benar-benar merasakannya ketika aku melahirkan anakku. Dulu, semua yang Ibu lakukan, hanya kupikir sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Ibu.

Memang tepat jika dikatakan melahirkan adalah perjuangan hidup dan mati seorang Ibu, aku telah merasakannya. Kala itu ada cemas, ada takut, ada sakit dan lelah yang luar biasa. Sempat terlintas di pikiran, aku tidak akan kuat melaluinya.

Alhamdulilah, Alloh masih memberi kesempatan padaku menjadi seorang Ibu hingga akupun mampu melewati proses melahirkan secara normal dan selamat.

Kini, akupun bisa merasakan menjadi seorang Ibu itu, tidak selamanya mudah. Seringkali ada kondisi tertentu yang membuatku berjuang keras menjadi Ibu yang baik. Berjibaku sepanjang hari dengan pekerjaan rumah yang tak kunjung usai telah menguras energiku.

Kesabaranku benar-benar diuji, ketika capek sementara anak-anak menunjukkan “kebolehannya”, mainan yang berserakkan, susah makan, merengek, berebut mainan bahkan berebut perhatian.

Akupun teringat kembali dengan Ibuku, beginikah yang dulu kaurasakan ketika aku masih kecil?. Oh Ibu, betapa dulu aku pasti menguras energi dan kesabaranmu hingga engkau bahkan tak punya waktu untuk dirimu sendiri.

Akupun tahu, kebahagiaan seorang Ibu itu adalah anak-anaknya. Ketika melihat anak-anak sehat, tumbuh dengan baik dan bahkan hal-hal kecil pun mampu membuat hati seorang Ibu bahagia. Seperti sebait puisi dari putriku ini.

sebait puisi dari putriku

sebait puisi dari putriku

Ibu, aku tahu, cintamu padaku memang tiada akhir, tak berujung bahkan hingga kini. Ketika aku sudah menjadi Ibu, cinta dan perhatianmu tetap aku peroleh.

Ibu, seberapa pun besar perhatian dan kasih sayangku padamu itu tak kan pernah sebanding dengan apa yang telah kau lakukan untukku. Aku tahu, betapa banyak dosaku kepadamu. Aku percaya, hatimu sungguh seluas samudera. Engkau akan memaafkanku bahkan selalu mendoakanku.

Ibu, mungkin aku tak pernah benar-benar bisa memuliakan dirimu dengan materi. Aku hanya punya doa bu, doa yang akan senantiasa kupanjatkan disetiap sujud-sujudku. Semoga engkau senantiasa sehat dan senantiasa dalam keimanan kepada Alloh SWT.

Ibu, andai waktu bisa diputar kembali, aku tak ingin melakukan kesalahan yang pernah kulakukan padamu. Namun aku menyadari itu tak mungkin terjadi maka ijinkan aku memperbaikinya sekarang.

Ibu, terimakasih untuk semua cintamu, terimakasih untuk semua pengorbananmu, terimakasih untuk semua perjuanganmu untukku. Semoga Alloh mengijinkanku bisa membahagiakanmu hingga akhir waktu. Membuatmu tersenyum manis, senyum yang tak berkabut.

Ibu, lagu ini kupersembahkan untukmu. Lagu ini mewakili perasaan yang belum sempat kuungkapkan kepadamu. Ibu, You Are Number One For Me.

Untuk Ibuku dan untuk semua Ibu, Selamat Hari Ibu.

 1510538_10202773805089696_1785165238_n

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18 Comments

  1. Moch.Mochklisin December 22, 2013
    • Ety Abdoel December 22, 2013
  2. vizon December 22, 2013
    • Ety Abdoel December 22, 2013
  3. alaika December 22, 2013
    • Ety Abdoel December 22, 2013
  4. ndop December 22, 2013
    • Ety Abdoel December 22, 2013
  5. ndop December 22, 2013
  6. Nchie Hanie December 22, 2013
    • Ety Abdoel December 23, 2013
  7. D Sukmana Adi December 23, 2013
    • Ety Abdoel December 23, 2013
  8. Sukadi December 23, 2013
    • Ety Abdoel December 24, 2013
  9. Mira Sahid | @mirasahid December 23, 2013
    • Ety Abdoel December 24, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.