Health

Festival Isi Piringku, Edukasi Penerapan Gizi Seimbang Sejak Dini

Kondisi kesehatan generasi mendatang dipengaruhi oleh pola konsumsi mereka.

Oleh karena itu, Danone Indonesia terus menerus melakukan edukasi pola makan gizi seimbang. Kali ini menyasar anak usia 4-6, melalui Festival Isi Piringku, 26 Febuari 2021.

Persoalan gizi di indonesia memang masih belum tuntas. Indonesia menjadi negara yang memiliki triple burden of malnutrition.

Persoalan gizi tersebut diantaranya gizi kurang, obesitas, dan kekurangan mikronutrient.

Apalagi pandemi telah membuat kondisi tambah sulit. Banyak rumahtangga mengalami penurunan pendapatan, yang berdampak pada kemampuan pemenuhan gizi seimbang.

Ditambah lagi pembelajaran daring sudah berlangsung selama setahun, dinilai tidak maksimal dalam pembelajaran.

Jika hal itu terus terjadi maka, penurunan kualitas generasi penerus, akan terjadi. Oleh karena itu, diperlukan upaya multi sektor dalam mengatasi persoalan gizi di Indonesia.

Untuk itulah, Danone Indonesia menggelar Festival Isi Piringku Anak Usia 4-6. Ini ada upaya edukasi kepada ribuan guru PAUD dan orangtua agar melek terhadap gizi seimbang. Caranya dengan menerapkan pedoman Isi Piringku.

Festival Isi Piringku berlangsung dalam bentuk Webinar dengan tajuk “Membangun Generasi Sehat Melalui Edukasi Gizi Seimbang Sejak Dini”.
Event tersebut menghadirkan narasumber berikut ini :

1. Dr. Rr. Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA – Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI
2. Ir. Harris Iskandar, Ph.D – Widya Prada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
3. Prof Sri Anna Marliyati – FEMA IPB, Ketua Tim Penyusun Buku Isi Piringku, Dosen Fakultas Ekologi Manusia, IPB
4. Lisnawati, S.Pd – Guru PAUD
5. Vera Galuh Sugijanto – VP General Secretary Danone Indonesia.
6. Karyanto Wibowo – Direktur Sustainable Development, Danone Indonesia.

Edukasi kali ini menyasar anak PAUD karena mereka ini calon generasi masa depan. Sehingga menanamkan pola makan sehat tentu menjadi penting dan lebih mudah.

Apa Saja Sih Penyebab Masalah Gizi Yang Ada Di Indonesia?

Bicara mengenai penyebab masalah gizi, semua diawali kebiasaan ibu hamil. Jadi, asupan gizi sejak dalam kandungan itu bakal berpengaruh pada status gizi di tingkat selanjutnya.

Padahal, kondisi kehamilan terutama trimester pertama itu, kadang menyulitkan ibu. Mual dan muntah saat itu mempengaruhi pola makan ibu hamil.

Saya sendiri mengakuinya, saya sempat kesulitan makan dengan gizi komplit saat trimester pertama kehamilan.
Kondisi ini tentu tak boleh dibiarkan.

Harus ada kesadaran dari ibu hamil untuk mengatasi mual dan muntah tersebut. Harus dilawan dan jangan dibiarkan berlarut-larut.

Bidan atau dokter kandungan biasanya akan memberi resep untuk mengatasi mual dan muntah. Selain itu sejumlah vitamin dan tablet zat besi juga disertakan. Ini penting untuk membackup kondisi ibu hamil dan janin agar tidak kekurangan gizi.

Sayangnya, tidak semua ibu hamil rutin memeriksakan diri.

Dr. Dhian, menambahkan, jika penyebab masalah gizi, diantaranya :

  • 1 dari 4 ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali.
  • 1 dari 3 balita tidak mendapatkan ASI Eksklusif.
  • Hampir 50% anak balita tidak mendapatkan imunisasi lengkap.
    1/2 dari jumlah balita di Indonesia tidak mengecek pertumbuhan secara rutin. Baik ke dokter anak maupun melalui Posyandu di wilayah masing-masing.
  • Asupan sumber protein balita 6-23 bulan tidak terpenuhi. Dampaknya anak-anak dan remaja mengalami anemia.

Pemberian makanan bergizi memang gampang-gampang susah. Ada kalanya, ibu sudah paham mengenai pentingnya makanan bergizi untuk anak. Tapi, sebagian anak suka melakukan GTM alias gerakan tutup mulut.

Butuh ketelatenan, untuk mengatasi anak-anak yang berGTM. Masalah lain ada picky eater. Pemilih dalam hal makan, bahkan hanya mau makan dengan bahan makanan itu-itu saja.

Saya jadi ingat, sepupu saya yang mau makan dengan lauk kulit ayam goreng saja. Tak mau makanan lain.
Hal seperti itu, ternyata membawa akibat buruk pada kondisi kesehatan di masa depan.

Akibat Buruk Masalah Gizi

Jika kondisi di atas tidak diatasi maka, akibat buruk akan timbul, diantaranya :

1. Imunitas tubuh rendah
Anak yang mengalami kekurangan gizi akan memiliki imunitas yang rendah. Anak jadi gampang sakit.
2. Meningkatkan risiko penyakit infeksi dan kronik
Jika anak sering sakit, bisa merembet ke hal yang lebih buruk, yaitu terkena penyakit pencernaan dan penyakit infeksi lainnya.
3.Tumbuh kembang anak tidak optimal
Jika anak kerap sakit maka pertumbuhan badan jadi tidak optimal. Disaat anak lain sudah bertambah tinggi, anak ini masih berjuang dengan sakitnya.

Kemampuan kognitif juga tidak berkembang maksimal karena kekurangan gizi. Saat yang lain sudah lancar bicara dan responsif saat ditanya. Anak dengan masalah gizi respon ya lambat.

4. Daya saing rendah
Anak-anak dengan masalah gizi menjadi tidak bersemangat, dan lesu. Seolah tidak punya semangat untuk belajar seperti yang lain karena memang kondisi tubuhnya tidak memungkinkan.

5. Produktivitas rendah
Kondisi tubuh yang tidak prima tentu membuat produktivitas rendah.

Menanamkan Pola Makan Gizi Seimbang Sejak Dini Adalah Kunci

Ada 4 pilar dalam penerapan gizi seimbang, yaitu :

Pilar 1: Mengonsumsi pangan beraneka ragam (mengandung Karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral). Jenis bahan pangan pun harus beragam. Tidak boleh itu-itu saja.

Pilar 2: Membiasakan perilaku hidup sehat dan bersih. Teladan orang tua sangat penting di sini, sebab anak melihatnya sebagai kebiasaan. Untuk itu sejak dini anak sudah harus dibiasakan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar.

Pilar 3: Melakukan aktivitas fisik seperti bermain dan berolahraga. Bermain bagi anak usia dibawah 6 tahun merupakan kebutuhan. Biarkan mereka mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Pilar 4: Mempertahankan dan memantau berat badan normal. Tak hanya memantau berat badan kurang tapi juga obesitas.

Terkait dengan pilar 1, Ir. Harris Iskandar, Ph.D – Widya Prada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyebutkan jika konsep Isi Piringku bisa jadi panduan makan sehat anak. Baik mengenai porsi maupun jenis bahan makanan yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang yang optimal.

Isi Piringku adalah panduan gizi seimbang anak untuk sekali makan. Separuh piring berisi karbohidrat dan protein, separuh piring lagi berisi sayur dan buah-buahan.

Manfaat dari menerapkan isi piringku, ada di gambar berikut ini :

Manfaat penerapan isi piringku

Melihat pentingnya penerapan isi piringku dalam keseharian maka, peran keluarga dan guru menjadi penting.
Untuk itulah Prof Sri Anna Marliyati – FEMA IPB, Ketua Tim Penyusun Buku Isi Piringku, Dosen Fakultas Ekologi Manusia, IPB menyusun modul pegangan untuk guru, berbagai media permainan seperti puzzle untuk anak PAUD.

 

Hal ini dimaksudkan agar guru bisa memberikan edukasi gizi seimbang dengan cara yang menyenangkan.
Seperti yang dilakukan oleh Lisnawati, S.Pd, Guru PAUD. Beliau mengedukasi anak-anak melalui cara yang kreatif.

Contohnya, mengenalkan aneka bahan pangan melalui slempang gizi maupun dengan menggunakan bahan pangan asli.

Lisnawati Spd, Guru PAUD

Secara rutin juga diadakan makan sehat bersama. Tujuannya agar anak tidak lagi pilih-pilih makanan.

Selain itu anak-anak PAUD juga dikenalkan mengenai Isi Piringku melalui lagu. Harapannya agar lebih mudah diterima dan dipahami.

Dalam event online ini, Karyanto Wibowo, Direktur Sustainable Development Danone Indonesia menyebutkan, Danone Indonesia sebagai mitra pemerintah dalam program penanggulangan stunting, konsisten memberikan edukasi mendalam tentang kebiasaan makan dan minum bergizi seimbang melalui pembuatan buku panduan, pelatihan guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan orang tua, dan kegiatan edukatif untuk anak.

Seperti Lomba Foto Kreasi Menu Anak, Lomba Kreativitas Guru saat Belajar Daring, hingga Lomba Gerak dan Lagu Isi Piringku.

Sebagai produsen makanan spesial nutrisi, Danone Indonesia juga menyediakan produk khusus untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak.

Antara lain, SGM Eksplor Pro-gress Maxx yang dilengkapi dengan mikronutrien zat besi dan Vitamin C maupun Omega 3 & 6, Kalsium, Vitamin D, Vitamin B, dan lainnya,” terangnya.

Membangun kebiasaan baik memang memerlukan proses dan waktu. Untuk itu tepat, jika penerapan gizi seimbang juga sudah dikenalkan sedini mungkin. Sehingga loss generation tidak akan dialami oleh Indonesia meskipun masih dalam masa pandemi.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.