Parenting Tips

Jalan Panjang Menanamkan Budaya Literasi

“Mi, mau beli buku ya!” pinta Nisrina waktu itu.

“Awal bulan, ya mba.” jawab saya padanya.

“Mba masih punya angpo kok mi. Mau ke toko buku bareng teman-temanku.”

Sepotong percakapan saya dan anak pertama saya tempo hari.

Nisrina, memang gemar membaca buku. Begitu pula dengan adiknya, Zahira. Buku bacaan di rumah sudah lumayan banyak. Meskipun belum ditaruh di satu lemari buku. Kesukaan mereka akan membaca sudah dimulai sejak mereka bisa membaca.

Namun, untuk menumbuhkan minat baca, sudah dimulai saat mereka masih dalam kandungan.

Seperti diketahui, membaca dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan seseorang. Lebih jauh dari itu membaca dapat melatih otak untuk berpikir logis dan sistematis.

Orang yang terbiasa membaca akan mampu memahami, dan menganalisa dengan baik apa yang terjadi dalam kesehariannya. Sehingga jika ada persoalan hadir, ia pun mampu menemukan solusi atas hal itu.

Kemampuan tersebut yang akhir-akhir ini disebut sebagai literasi.

Menurut Wikipedia literasi dimaknai sebagai istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh sederhana saja, ketika seseorang menerima pesan broadcast dari sebuah grup WhatsApp. Mereka yang memiliki literasi yang baik, akan membaca hingga memahami pesan tersebut. Selanjutnya mampu menentukan sikap akan membaginya pada orang lain atau tidak.

Sementara mereka yang kemampuan literasinya rendah, tidak membaca hingga memahami pesannya tapi berani membagikannya ke orang lain. Hal tersebut tentu berbahaya jika isi pesan berisi hal yang tak benar.

Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi ketika ia telah memiliki kemampuan dasar dalam berbahasa seperti membaca, menulis, berhitung dan berbicara. Kemampuan dasar inilah yang menjadi jembatan menuju literasi yang lain.

Di zaman ini literasi tidak sebatas pada kemampuan berbahasa namun berkembang dalam berbagai jenis. Bahkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai implementasi Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2019 tentang Budi Pekerti menyebutkan bahwa literasi kini meliputi literasi baca tulis, literasi digital, literasi keuangan, literasi sains, literasi numerasi dan literasi budaya dan kewarganegaraan.

Dari sini terlihat bahwa peran kemampuan dasar berbahasa amat penting agar budaya literasi tumbuh mengakar di masyarakat Indonesia.

Saya menyadari menanamkan kebiasaan memang tak bisa instant. Semakin dini dilakukan maka akan semakin baik. Pun kebiasaan tersebut harus dilakukan secara konsisten.

Hal Yang Saya Lakukan Dalam Membudayakan Literasi Sejak Dini

1. Menjadi contoh anak-anak dalam kebiasaan membaca dan menulis.

Saya dan suami berusaha jadi role model dalam hal apapun untuk anak-anak saya. Termasuk dalam kebiasaan membaca.

2. Membacakan dongeng sejak mereka di dalam kandungan.

Meskipun saya tak memilliki keterampilan mendongeng layaknya pendongeng yang baik, saya berupa membacakan dongeng buat janin dalam kandungan.

3. Mengenalkan buku sejak mereka masih bayi.

Dulu saya membelikan buku khusus bayi yang terbuat dari kain flanel. Beranjak balita saya sediakan buku-buku hard cover bergambar.

4. Membacakan cerita dari buku meskipun mereka belum bisa membaca.

Buku-buku bergambar dan berwarna menjadi andalan saya.

5. Rutin membelikan buku. Minimal satu bulan satu buku. Bisa lebih jika ada rezeki lain. Tak harus buku baru.

Kebiasaan membaca sedari kecil

6. Membiasakan budaya diskusi. Ini akan melatih kemampuan berbahasa dan kognitifnya.

7. Mendorong anak-anak untuk rutin meminjam buku di perpustakaan sekolah.

Sekarang anak saya yang pertama berusia 14 tahun dan adiknya berusia 10 tahun. Keduanya suka membaca. Tiap kali memiliki uang lebih, maka buku jadi pilihan pertama untuk dibeli tanpa disuruh.

Semua diperoleh tidak dalam waktu singkat. Meskipun membaca sudah menjadi kebiasaan mereka, upaya memelihara kebiasaan baik ini harus terus dilakukan.

Upaya tersebut bahkan seharusnya tidak hanya dilakukan di dalam keluarga. Masyarakat pun seharusnya memiliki kesadaran dan upaya yang sama dalam membudayakan literasi.

Peran Masyarakat Dalam Membudayakan Literasi

Akses terhadap buku bacaan kerap dituding menjadi salah satu penyebab rendahnya minat baca. Jadi mempermudah akses bacaan harus dilakukan agar makin banyak lapisan masyarakat yang terjangkau oleh bahan bacaan.

Upaya ini tentu memerlukan peran segenap masyarakat.
Hal itu bisa dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:

1. Menyediakan tempat dan bahan bacaan melalui taman bacaan.

Bisa diterapkan secara sederhana. Misalnya di tiap satu RW ada satu taman bacaan. Pengelolanya bisa diserahkan ke ibu-ibu PKK, majelis taklim maupun karang taruna.

Taman-bacaan-di-rw-XVII

Taman bacaan warga RW XVII Jaten karanganyar

Taman bacaan di wilayah RW XVII Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah adalah salah satu peran yang bisa dilakukan masyarakat dalam membudayakan literasi.

2. Menyediakan bahan bacaan di perkantoran baik swasta maupun pemerintah. Bahan bacaan bisa berupa majalah, koran maupun buku.

3. Memperkaya bahan bacaan perpustakaan sekolah.

Agar para siswa tertarik untuk membaca. Tema bacaan juga diperluas. Jangan hanya buku yang menunjang bahan ajar. Tapi yang sifatnya menghibur sekaligus mengedukasi agar menarik minat siswa untuk membaca.

4. Membuat perpustakaan keliling. Tujuannya agar masyarakat lebih mudah mengakses bahan bacaan. Medianya bisa bermacam-macam. Bisa mobil, kuda maupun perahu. Disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing wilayah.

5. Merevitalisasi perpustakaan yang sudah ada. Meliputi perpustakaan daerah, perustakaan kampus dan lainnya. Perpustakaan harus mampu mengubah imej nya sebagai tempat kuno dan tak menarik untuk dikunjungi.

Budaya Literasi di Era Digital

Kehadiran internet telah membuat disruption di banyak bidang kehidupan. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri ketika kebiasaan memakai gawai bahkan sudah menjangkiti anak-anak kita.

Melarang tentu bukan pilihan tepat karena mereka hidup di zaman yang segala sesuatunya bisa dikendalikan dengan sentuhan jari.

Apa yang bisa dilakukan untuk menjawab tantangan zaman terkait dengan budaya literasi?

Kita bisa memanfaatkan gawai untuk menumbuhkan budaya literasi, diantaranya dilakukan dengan memanfaatkan bahan bacaan digital seperti ebook, website, blog untuk menumbuhkan minat baca.

Tak harus membaca buku secara fisik seperti yang kita kenal selama ini. Bahan bacaan digital bisa juga digunakan.

Sebagai orang tua wajar kita kawatir jika anak-anak gemar bermain gawai. Asal dibatasi waktu dan aksesnya tentu bisa bermanfaat ketika digunakan untuk membaca bahan bacaan digital. Adaptif, menjadi salah satu kunci dalam menumbuhkan budaya literasi.

Apa yang dikatakan oleh Gita Romadhona, Pemimpin Redaksi Penerbit Kata Depan tepat adanya bahwa mencintai tumbuh dari kebiasaan bukan dipaksakan.

Saya sudah membuktikan sendiri kalimat tersebut. Kecintaan anak-anak saya pada buku telah melalui proses penanaman kebiasaan sejak dini, dilakukan terus menerus, diikuti dengan contoh dan tanpa dipaksa.

#LiterasiKeluarga

#SahabatKeluarga

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.