Competition

Menelisik Jejak Sejarah Melalui Cagar Budaya Indonesia

Langkah kakiku terhenti di depan bangunan teguh yang tampak lusuh. Sebagian dindingnya menghitam sebab debu dan lumut. Cat pembungkus dinding mulai mengelupas. Bahkan di salah satu sudut tembok, semen pelapis batu-bata terlihat rontok. Menambah kesan tua dan kusam bangunan ini. Di sela semilir angin yang berhembus pelan, aroma tak sedap menguar, menelusup dikedua lubang hidungku. Ah, sayang sekali!

 

Adalah Benteng Vastenburg, bangunan yang berdiri atas perintah Gubernur Jenderal Belanda, Baron Van Imhoff, pada 1745 ini masih teguh berdiri di tengah hiruk pikuk zaman yang kerap melupakan keberadaannya.

Cat tembok benteng vastenburg yang mulai mengelupas

Cat tembok nampak mengelupas

Dinding cagar budaya

Pelapis batu-bata mulai hancur

Kemegahan bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya Indonesia ini, tak hanya renta termakan usia. Bahkan terabaikan saat tak dibutuhkan.

Pemandangan yang amat kontras ketika benteng peninggalan Belanda ini sedang menjamu tetamu saat berbagai event digelar di sini. Nampak megah, wah, ditengah hingar bingar suasana aneka rupa.

Sipa 2019

Benteng Vastenburg saat penyelenggaraan SIPA 2019
Foto : sipafestival.com

Sejatinya, lestarinya bangunan dengan konstruksi dinding bata yang dilengkapi dengan lubang tembak ini memiliki arti penting. Ia adalah bukti sejarah perjalanan bangsa ini.

Adanya bangunan yang bagian luarnya dikelilingi parit ini, memudahkan generasi penerus bangsa dalam memahami perjuangan saat merebut kemerdekaan. Tak sekadar cerita dari mulut ke mulut, atau untaian kata dalam literatur sejarah. Bukti itu nyata, sebab ada wujudnya.

Dari literatur kita bisa mengetahui sejarah benteng yang cikal bakalnya dahulu disebut dengan Benteng Grootmoedigheid (kemurahan hati). Bangunan setinggi 6 meter tersebut dibangun melalui dua tahap. Tahap pertama pembangunan pada 1745 dan tahap kedua dibangun berdasarkan Perjanjian Giyanti pada 1756.

Secara keseluruhan benteng ini selesai dibangun tahun 1779. Kemudian mulai beroperasi setahun kemudian yaitu pada 1780, dan diberi nama Vastenburg, yang bermakna teguh.

Sempat mengalami restorasi pada tahun 1832, saat terjadi reorganisasi tentara Belanda usai perang Diponegoro. Bangunan hasil restorasi inilah yang masih bisa kita saksikan hingga saat ini. Meskipun tidak sama persis karena ada bagian yang tak bisa disaksikan lagi. Seperti keberadaan jembatan jungkit (drawbridge) di bagian barat dan timur benteng.

Benteng Vastenburg diketahui menjadi tempat pembantaian para pejuang kemerdekaan. Tak terhitung lagi jumlah mereka yang gugur karena tertangkap dan dihukum di dalam benteng.

Kondisi benteng vastenburg november 2019

Kondisi parit makin dangkal dan banyak sampah berserakan

Literatur telah mencatatnya. Sementara itu, adanya Benteng Vastenburg yang masih berdiri, membuat kita bisa melihat sebagian bukti sejarah itu. Meski hanya saksi bisu.

Benteng Vastenburg memang telah mengalami restorasi. Bahkan ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya Nasional dengan SK Menteri No.111/M/2018 dan nomor registrasi RNCB.20181026.04.001534.

Namun, melihat kontrasnya kondisi Benteng Vastenburg sehari-hari dan pada saat digunakan dalam berbagi event, terbersit kawatir, akankah benteng yang terletak di jantung kota Surakarta ini akan lestari?

Cagar Budaya Indonesia, Terawat Atau Terbengkalai?

Kunjungan saya tempo hari ke Benteng Vastenburg memunculkan pertanyaan di kepala saya. Apakah kondisi yang dialami oleh benteng yang sehari-harinya ditutup itu, juga dialami oleh cagar budaya lainnya?

Cagar budaya yang lusuh

Ingatan saya pun kembali ke beberapa tahun lalu, saat saya mengunjungi beberapa candi seperti Candi Sukuh dan Candi Cetho. Kedua candi itu memang relatif terawat. Bahkan menjadi tujuan wisata. Namun tak dimungkiri ada beberapa bagian relief dan patung di sana, tak utuh lagi.

Saya menyadari, tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk cagar budaya. Ia pun secara alamiah akan musnah. Cagar budaya itu bersifat rapuh, unik, langka dan tidak bisa diperbarui.

Satu persatu bagian bangunan bisa hilang. Bisa karena lapuk, tak terawat, dirusak, mungkin pula karena ulah tangan serakah yang merampasnya demi segepok materi.

Tapi, mengingat keberadaan cagar budaya yang penting bagi generasi penerus agar mengenali sejarah, dan budaya di masa lalu maka kita harus berupaya memperpanjang usianya.

Salah satu teras Candi Cetho

Sayangnya, kesadaran kita dalam memperpanjang keberadaan cagar budaya, masih apa adanya. Hal ini tentu memperburuk kondisi cagar budaya yang ada.

Benteng Vastenburg tak sendirian, karena yang disebut sebagai cagar budaya tak hanya soal bangunan semata.
Menurut Pasal 1 UU No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, yang disebut sebagai cagar budaya adalah

Warisan budaya bersifat kebendaan (benda, bangunan, struktur, situs, atau kawasan) yang penting untuk dilestarikan karena punya nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan melalui penetapan.

Proses penetapan cagar budaya memang harus melalui beberapa tahapan. Tentu ada kajian yang melibatkan tim ahli cagar budaya. Ada kriteria yang harus dipenuhi untuk bisa ditetapkan sebagai cagar budaya menurut Pasal 5 UU No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, antara lain :

1. Berusia 50 tahun atau lebih;
2. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun;
3. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan;
4. Memiliki nilai budaya bagi penguat kepribadian bangsa.

Menurut data yang dilansir situs cagarbudaya.kemdikbud.go.id saat ini terdapat 1.512 cagar budaya. Dari jumlah tersebut sebanyak 63 berupa benda, 988 berwujud bangunan, 109 struktur, 327 situs dan 25 kawasan. Semua ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Saat ini ada sekitar 96.358 yang terdaftar sebagai cagar budaya, 48.957 diantaranya telah berhasil diverifikasi. Sementara itu sebanyak 1. 619 berstatus rekomendasi cagat budaya.

Bagaimanakah kondisi cagar budaya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia?

Dari informasi yang tersebar di banyak media, rerata senada. Banyak cagar budaya Indonesia dalam kondisi tak terawat.

Seperti dilansir AntaraNews, ratusan cagar budaya di Indramayu, rata-rata kondisinya tak terurus.

Salah satu cagar budaya di Semarang kondisinya lebih buruk lagi,  seperti dilansir Liputan6, sebuah bangunan cagar budaya bahkan roboh setelah dibiarkan kosong dan terbengkalai. Sayang sekali!

Alasan klasik dari abainya kita dalam menjaga cagar budaya adalah minimnya dana perawatan. Tak disangkal, merawat cagar budaya dalam jumlah banyak tentu membutuhkan biaya yang besar pula.

Merawat Cagar Budaya, Upaya Memperpanjang Usianya

Upaya pelestarian cagar budaya tersebut dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Upaya tersebut dilakukan dengan mencegah terjadinya kerusakan, pencurian, diperjualbelikan tanpa izin, mengubah dan memanfaatkan cagar budaya tanpa memperhatikan aturan yang berlaku.

Terkait dengan ketiga upaya pelestarian ada paradigma ekonomi terkait cagar budaya yang harus diubah. Hal ini dimaksudkan agar usia cagar budaya bisa diperpanjang. Selama ini ada pandangan bahwa cagar budaya bernilai ekonomi ketika diperjualbelikan. Padahal jika dikembangkan, nilai ekonomi cagar budaya bisa lebih awet (sustainable / berkelanjutan) sehingga bisa dinikmati hingga beberapa generasi.

Seperti yang terjadi pada bekas Pabrik Gula Colomadu. Puluhan tahun terbengkalai, bangunan yang berdiri pada 1861 ini, kemudian direvitalisasi menjadi destinasi wisata dan kawasan bisnis. Bangunan bekas pabrik seluas 1,3 ha itu direvitalisasi dengan tetap mempertahankan mesin-mesin giling raksasa yang nampak berkarat dibeberapa bagian.

Selain museum, bangunan yang berganti nama menjadi The Tjolomadoe ini, memiliki area seperti Food and Beverages, Arcade, Art and Craft, dan multifunction hall. The Tjolomadoe pun menjelma menjadi destinasi wisata kekinian yang populer.

De Tjolomadoe

Disulap menjadi destinasi wisata kekinian
Sumber :@de_tjolomadoe

Apa yang dilakukan terhadap bekas bangunan Pabrik Gula Colomadu bisa diduplikasi di cagar budaya yang lain.

Pelestarian cagar budaya menjadi tanggungjawab semua pemangku kepentingan. Ada pemerintah, akademisi, swasta dan masyarakat umum.

Pemerintah berperan dalam membuat regulasi terkait perlindungan cagar budaya dan aturan pelaksanaannya. Pun dengan menyediakan tenaga ahli cagar budaya agar proses penetapan cagar budaya terlaksana secara benar. Selain itu pemerintah hendaknya mampu mengalokasikan dana yang lebih besar untuk perawatan cagar budaya.

Pihak akademisi bisa terlibat secara aktif dalam tim ahli cagar budaya. Dibutuhkan pula saat suatu cagar budaya akan direvitalisasi maupun diadaptasi. Proses ini tentu harus melibatkan para ahli agar tak menghilangkan unsur sejarahnya.

Selain itu pihak swasta bisa turut aktif dalam mengelola cagar budaya agar memiliki manfaat jangka panjang. Mengingat belum semua cagar budaya Indonesia terawat dengan baik.

Terakhir, upaya pelestarian cagar budaya juga membutuhkan peran masyarakat umum. Kita hendaknya menjunjung etika dan aturan yang ada, antara lain :

1. Tidak melakukan aksi yang bisa merusak cagar budaya seperti mencorat coret, merusak, menaiki cagar budaya, mengotori cagar budaya.

Menaiki cagar budaya

Seharusnya tak boleh menaiki cagar budaya
Sumber : @di2t_setya dimuat di Solopos.com

2. Turut mendokumentasikan dan menyebarkan informasi mengenai cagar budaya, melalui foto maupun tulisan.

3. Mengedukasi tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap cagar budaya. Bisa melalui foto, infografis maupun tulisan.

4. Turut serta membersihkan cagar budaya yang ada.

Rawat Atau Musnah, Semua Tergantung Kita

Melihat perbedaan tata kelola Benteng Vastenburg dan The Tjolomadoe, wajar jika muncul kekhawatiran. Keduanya kerap menjadi tempat penyelenggaraan berbagai event. Namun memiliki kondisi fisik yang berbeda.

Benteng Vastenburg dengan fisik yang makin menua. Sementara The Tjolomadoe, fisiknya muda kembali karena revitalisasi.
Jika berbagai event digelar di Benteng Vastenburg secara rutin, namun mengabaikan unsur perawatan maka dikawatirkan, kondisi fisik bangunan akan makin buruk. Bukan tidak mungkin jika bangunan makin rusak bahkan tak bisa dikunjungi atau digunakan lagi.

Ya, membutuhkan kesadaran semua pihak dalam merawat cagar budaya Indonesia agar lestari sepanjang masa.

Oleh karenanya, melalui tulisan ini, saya mengajak teman-teman untuk turut merawat cagar budaya dari hal yang paling sederhana.

Lestarinya cagar budaya Indonesia akan mempermudah generasi penerus untuk menelisik sejarah bangsa ini.

Kalian juga bisa turut serta mengedukasi tentang cagar budaya dalam lomba “Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!”
Sst, tinggal beberapa jam lagi. Jadi, buruan ya!

Sumber

https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/
UU No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya

https://travel.kompas.com/read/2018/03/24/230500527/de-tjolomadoe-pabrik-gula-itu-kini-menjadi-destinasi-wisata
https://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Vastenburg

https://m.solopos.com/penonton-konser-didi-kempot-panjat-tembok-benteng-vastenburg-solo-1023377

https://m.antaranews.com/berita/988384/bangunan-cagar-budaya-di-indramayu-tak-terawat

https://www.liputan6.com/news/read/486514/tak-terawat-bangunan-cagar-budaya-di-semarang-roboh

One Response

  1. Wiwied Widya November 20, 2019

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.