Blogging and Social Media Competition

[Mozaik Blog Competition 2014]: Saya dan Menulis

Pernah nggak kalian merasa klik banget ketika melakukan sesuatu?. Merasa nyaman, senang, dan selalu sepenuh hati melakukannya. Kalian juga  tak pernah merasa bosan melakukannya justru ingin lagi, lagi dan lagi.

Hm, inilah yang saya rasakan saat menulis. Enjoy banget, jiwaku berasa menyatu dalam setiap kata yang kutulis. Beda banget saat saya harus beraksi di depan kamera atau bicara di depan umum. Di depan kamera ekspresi saya kaku banget dan selalu ngerasa jelek melulu kalau difoto. Sedangkan kalau bicara di depan umum, ah pasti bakal demam panggung.

Awalnya sih saya hanya berani menulis di blog pribadi. Aktifitas ngeblog dimulai tahun 2009. Menulis apa saja yang ada dalam jangkauan mata dan telinga. Sebagai seorang ibu, duniaku tak jauh dari urusan anak-anak dan keluarga. Topik inilah yang sering saya jadikan bahan tulisan di blog pribadiku.

Keranjingan ngeblog, membuat saya tertarik untuk membuat blog kedua. Ini terjadi setelah saya bergabung di komunitas kepenulis an dan komunitas blogger. Di sini saya jadi tahu bahwa ada juga lho kontes ngeblog. Akhirnya saya pun tertarik untuk ikut lomba blog yang banyak bersliweran maka blog kedua saya menjadi tempat untuk eksis di dunia kontes blog.

Wuih, persaingan dunia kontes blog ternyata ketat sekali. Para jawaranya keren banget tulisannya. Sampai saat ini, saya bahkan hanya berhasil menjadi pemenang hiburan, belum pernah sekalipun jadi jawara.

Apakah saya putus asa dan bosan karena hal itu?. Jawabannya tidak, karena saya merasa menulis adalah dunia saya. Nggak ada rasa bosan, jenuh bahkan pikiran untuk meninggalkan kebiasaan ini.

Bergabung dengan komunitas kepenulisan juga telah memberi saya wawasan lain. Menulis ke media cetak adalah peluang yang bisa digarap oleh seorang yang hobi menulis. Peluang ini langsung saya sambut meskipun untuk merampungkan tulisan pertama ternyata tak mudah.

Apa pasal? Menulis di media cetak ada aturannya, berbeda dengan menulis di blog pribadi yang terserah saya. Aturan ini sempat membuatku harus berusaha keras agar bisa menyelesaikan satu tulisan.

Berhasilkah? Perlu waktu ternyata. Tak hanya itu mengirim tulisan ke media cetak ternyata butuh nyali. Hehehe, nyali untuk siap ditolak. Saya pun untuk mengawalinya di sebuah media lokal. Menurut mereka yang telah berpengalaman, mengirim ke media lokal peluang dimuatnya lebih besar karena saya kan masih pemula.

Akhirnya tulisan pertama saya berhasil dimuat di salah satu media lokal. Ah, senang? Tentu saja senang, pakai banget. Hehehe, akhirnya secuil tulisanku ada yang mau memuatnya. Sst, yang ini nggak ada honornya lho hanya mendapat bukti terbit tapi berhasil membuat motivasiku untuk menulis menyala-nyala.

tulisan pertama yang berhasi dimuat

tulisan pertama yang berhasi dimuat

Orang bilang, melakukan sesuatu untuk pertama kalinya memang sulit. Untuk selanjutnya, akan lebih mudah karena semakin terbiasa. Alah bisa karena biasa, begitu katanya. Memang benar, saya terus menulis dan satu persatu tulisan saya dimuat di beberapa media cetak. Selengkapnya bisa dilihat di sini.

Lalu kapan menulis buku?. Menulis di blog sudah, menulis artikel di media cetak sudah sementara untuk menulis buku, saya baru bisa sebatas menulis keroyokan. Belum satupun buku solo saya hasilkan.

Putus asakah? Ketika banyak teman-teman sudah melahirkan banyak buku bahkan dicetak ulang sementara saya belum mampu mengikuti jejak mereka. Seperti yang saya utarakan di awal, menulis itu jiwa saya, saya nggak pernah bosan melakukannya bahkan ingin lagi, lagi dan lagi.

Saya kira setiap orang memiliki momentumnya sendiri dalam mencapai sesuatu termasuk bisa menulis sebuah buku. Masing-masing penulis memiliki jalan sendiri-sendiri, saya yakin sayapun memilikinya.

Saya merasa tak perlu risau jika saya belum berhasil menulis satu buku pun. Mengapa? Karena saya berada dijalur yang benar untuk bisa mencapai cita-cita menjadi seorang penulis buku. Meski saya belum tahu kapan itu terwujud. Sampai kini outline yang saya susun belum tembus ke penerbit manapun.

Satu hal yang saya yakini bahwa saya akan terus menulis karena ini yang akan memperbesar peluang saya menerbitkan sebuah buku. Jika saya berhenti menulis maka tak satupun buku bisa dihasilkan.

Keep Writing!

 

 

18 Comments

  1. Pakde Cholik February 28, 2014
    • Ety Abdoel February 28, 2014
  2. adib belaria abadi February 28, 2014
    • Ety Abdoel February 28, 2014
  3. rina susanti February 28, 2014
    • Ety Abdoel February 28, 2014
  4. astutiana sugiastuti February 28, 2014
    • Ety Abdoel February 28, 2014
  5. Arifah Abdul Majid February 28, 2014
    • Ety Abdoel February 28, 2014
  6. syafaat r selamet March 1, 2014
    • Ety Abdoel March 1, 2014
  7. Pencerah March 2, 2014
    • Ety Abdoel March 2, 2014
  8. nh18 March 2, 2014
    • Ety Abdoel March 3, 2014
  9. Mugniar March 3, 2014
    • Ety Abdoel March 3, 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.