Event

Pelatihan Barista Inklusif : Mengikis Stigma, Meracik Masa Depan

Senyumnya mengembang saat saya bertanya, tentang keterlibatannya dalam pelatihan Barista Inklusif. Sebuah upaya pemberdayaan kaum marjinal, dengan memberikan keterampilan sebagai seorang peracik dan penyaji kopi.

Cerita pun mengalir, diawali saat Eko Sugeng bekerja sebagai resepsionis shift sore di Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Tiap malam, dia suka minum kopi di Cupable Coffee yang letaknya sekomplek dengan tempatnya bekerja.

Atas inisiatif Pak Banu, owner Cupable Coffee, Eko kemudian belajar membuat dan menyajikan kopi. Cupable Coffee adalah sebuah kedai kopi yang mengusung tagline Cups for Emporwering of Difable People. Ia yang awalnya hanya sebagai penikmat kopi, perlahan berubah menjadi seorang Barista.

Eko sugeng barista difabel

Eko Sugeng, seorang Barista penyandang disabilitas Foto : Opicq

Eko Sugeng, adalah seorang difabel, salah satu dari 8 orang peserta Pelatihan Barista Inklusif. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Program Peduli bekerjasama dengan Pusat Rehabilitasi YAKKUM, dan Cupable Coffee.

Bersama 7 orang kawannya, Eko belajar selama 1 bulan. Ia dan teman-teman dibekali pengetahuan tentang kopi, dari benih, proses menanam, memanen hingga menyajikan secangkir kopi. Selain itu, para peserta juga dibekali dengan kemampuan bussiness plan. Meliputi permodalan, biaya produksi, strategi marketing dan lainnya. Ada harapan bahwa setelah pelatihan para peserta bisa bekerja sebagai Barista maupun memiliki usaha coffee shop.

Eko menjadi seorang difabel karena mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia harus merelakan kedua tangannya diamputasi. Sejak saat itu untuk memegang sesuatu, ia menggunakan kedua lengannya. Sebuah keterbatasan namun tak membuat dirinya patah arang. Ketekunan dan semangat belajar yang tinggi telah membuatnya memiliki keterampilan meracik kopi.

Eko bahkan telah melalui proses magang sebagai Barista di 4 coffee shop di kota Jogjakarta. Ini, modal yang baik baginya untuk bisa meracik masa depan yang cerah.

Potret Kaum Marjinal Indonesia

Selain para difabel, orang-orang penghayat kepercayaan juga masuk dalam kelompok minoritas. Meskipun undang-undang menjamin hak-hak mereka sebagai warga negara namun faktanya mereka kerap diperlakukan secara diskriminatif.

Dalam interaksi sehari-hari, contohnya para difabel, mereka kerap menerima stigma negatif. Dianggap tak berdaya dan jadi beban lingkungan. Mereka juga kerap kesulitan mengakses hasil pembangunan, tak seperti masyarakat pada umumnya.
Sebagai contoh, kemajuan suatu kota tak sepenuhnya bisa dinikmati para difabel. Aksesibilitas difabel terhambat oleh fasilitas umum yang belum memahami kebutuhan mereka.

aksesibilitas difabel

Ketersediaan ramp, guiding block (blind track), angkutan umum yang mudah diakses, dan toilet khusus masih terbatas. Fakta ini tentu menyulitkan aktivitas para difabel.
Kesulitan lain yang dihadapi oleh kaum difabel adalah akses ekonomi. Mereka kerap tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Persyaratan sehat jasmani dan rohani untuk melamar pekerjaan, nyata-nyata telah membatasi kesempatan bersaing dalam bursa kerja.

Kondisi ini menyebabkan kaum difabel termasuk dalam golongan masyarakat miskin. Mereka paling banyak bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang tidak memadai. Sementara sektor formal belum banyak diakses para difabel.

Padahal negara telah memberikan payung hukum melalui UU No 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, dalam Pasal 53 disebutkan,

1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit 2% (dua persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.
(2) Perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% (satu persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.

Menurut Ranie Ayu Hapsari, Project Manager Program Peduli, ada sekitar 1,6 juta kaum difabel kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ini baru satu kelompok kaum marjinal. Padahal ada 5 kelompok marjinal lainnya yang juga membutuhkan perhatian. Informasi ini diambil dari laman Program Peduli.

pelatihan barista inklusif untuk kaum marjinal

Dibutuhkan beberapa upaya agar kaum marjinal seperti para difabel ini bisa mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Program-program pemberdayaan kaum marjinal harus dilakukan secara lebih variatif. Contohnya, pelatihan Barista Inklusif yang diikuti oleh penyandang disabilitas dan penghayat kepercayaan.

Pelatihan Barista Inklusif Wujudkan Kesetaraan Kaum Marjinal

Saya baru menyadari, bicara soal kopi ternyata banyak hal menarik yang baru saya ketahui. Semua terungkap di acara Kopi Brewbagi, #KarenaKopiKitaSetara, ngobrol santai bareng Bernard Batubara (Penulis dan Penyeduh Kopi Rumahan), Frischa Aswarini (Penulis dan salah satu penulis ide cerita Film Filosofi Kopi 2), Ranie Ayu Hapsari (Project Manager Program Peduli Pilar Disabilitas) dan Eko Sugeng (Peserta Barista Inklusif) yang bertempat di Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Jogjakarta (29/7/2018).

Jujur, saya bukan penikmat kopi. Hanya dua macam kopi yang saya kenal dalam hidup saya. Pertama, kopi tubruk buatan Simbah. Kedua, kopi sachet di warung kelontong ibu saya. Jadi, wajar ya, jika banyak hal yang tak saya ketahui soal kopi.

ngobrol santai bareng bernard batubara tentang pelatihan barista inklusif

Berbeda dengan Bernard Batubara yang mengenal kopi karena sering nongkrong di coffee shop untuk menulis. Berawal dari obrolan ringan dengan Barista, Bernard kemudian tertarik belajar meracik kopi sendiri. Baginya membuat kopi itu tak semudah dalam bayangannya. Ada resep, dan takaran yang berbeda untuk tiap jenis penyajian.

Saya pun sempat bertanya-tanya, mengapa kopi dijadikan sebagai media untuk menyosialisasikan isu inklusif. Ternyata, dari ngobrol santai tempo hari, terkuak mengenai sifat kopi yang inklusif. Bisa diracik, diseduh dan dinikmati oleh semua kalangan dengan beragam versi.

Lihatlah, suasana warung kopi yang selalu hangat dan penuh keakraban. Pengunjung yang datang, tak hanya menikmati kopi, tapi juga mengobrol. Tak peduli latar belakangnya, mereka bisa ngobrol ngalor ngidul tanpa canggung. Kopi, memang bisa mendekatkan dan mengakrabkan satu sama lain.

Aspek tersebut dinilai akan mampu mendekatkan kaum marjinal dengan masyarakat luas. Ibaratnya nih, jika selama ini ada stigma negatif tentang kaum marjinal, bisa dijembatani lewat ngopi bareng. Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Nah, mengobrol bisa membuat orang saling kenal satu sama lain. Apalagi, kalau ngobrolnya sambil ngopi, bakal lebih cair kan, suasananya.

Frischa Swarini juga bertutur, bicara kopi itu bukan hanya bicara dari benih menjadi secangkir kopi. Kopi memang menjadi oase bagi orang-orang untuk berkumpul. Namun, kopi juga bisa jadi pemantik kepedulian lain, seperti mengangkat suara kaum minoritas.

Ngobrol tentang pelatihan barista inklusif

Lebih jauh dari itu Ranie Ayu Hapsari sebagai Project Manager Program Peduli menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pengamatan, pertumbuhan coffee shop makin banyak. Di kota Jogjakarta saja tumbuh ratusan coffee shop. Ngopi sudah menjadi gaya hidup. Ini sebuah peluang bagi kaum marjinal untuk bisa terlibat. Bukankah kaum marjinal juga punya hak untuk bisa menikmati kopi di kafe-kafe?

Berbicara mengenai hak kaum marjinal itu harus melibatkan mereka. Artinya ketika memenuhi hak mereka harus disesuikan dengan kebutuhan masing-masing. Nothing without us, begitu imbuh Ranie. Memenuhi hak mereka tanpa melihat kondisi tiap individu akan sia-sia saja.

Dalam pelatihan Barista Inklusif juga demikian. Barista inklusif dalam memberikan pelatihan teknik brewing dan bussiness plan menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta. 8 peserta memiliki kondisi yang beragam, ada yang tidak punya tangan seperti Eko Sugeng, ada yang memakai kursi roda, ada pula seorang ODGJ (orang dengan gangguan jiwa). Untuk peserta ODGJ agar bisa mengikuti materi dan tidak kambuh harus selalu meminum obat. Nah, ketersediaan obat yang konsisten tentu harus dipenuhi agar ODGJ bisa beraktivitas. Hal-hal khusus seperti inilah yang harus dipahami.

Dengan memiliki kemampuan sebagai Barista, mereka diharapkan bisa mandiri secara ekonomi dan percaya diri dalam bersosialisasi.

Bisakah Pelatihan Barista Inklusif Menjadi Solusi?

Parameter keberhasilan program Pelatihan Barista Inklusif tak bisa diukur hanya dari kemahiran peserta dalam meracik kopi. Tapi, setelah pelatihan usai, apakah mereka bisa bekerja sebagai Barista atau memiliki kedai kopi sendiri.

fun-battle-brewing-kopi-barista-inklusif

fun battle brewing kopi antara barista dan peserta barista inklusif

Untuk itulah dibutuhkan komitmen dari para pelaku usaha coffee shop. Komitmen untuk bisa menerima alumni Barista Inklusif bekerja di tempatnya karena ini solusi yang paling cepat. Sementara untuk berwirausaha sendiri, tidak semua peserta memiliki minat dan tentu membutuhkan proses yang lebih panjang untuk bisa terwujud.

Alhamdulilah dalam acara Kopi Brewbagi tempo hari, sudah ada komitmen lisan dari para pemilik coffee shop di kota Jogjakarta untuk mengakomodir lulusan Barista Inklusif. Sebuah kabar yang membahagiakan.
Saya membayangkan betapa indahnya, jika kita semua bisa hidup berdampingan secara harmonis. Terlepas dari apapun perbedaan yang melekat pada masing-masing individu.

Kuncinya, adalah masyarakat inklusif.

Sebuah lingkungan yang saling menghormati, menghargai dan menerima perbedaan yang ada. Satu sama lain saling memberikan kemudahan dalam semua aspek kehidupan.

Menuju ke arah sana memang butuh proses. Setidaknya, proses ini harus kita lakukan sekarang. Kita mulai membuka diri dengan banyak hal di luar diri kita seperti kepada kaum marjinal.

Saya jadi ingat dengan perkataan Bernard Batubara dalam acara tempo hari, bahwa sejatinya tiap kita akan menjadi difabel karena usia yang makin menua. Selain itu, bencana alam maupun kecelakaan merupakan ancaman yang bisa membuat seseorang menjadi difabel. Eko Sugeng adalah salah satu contohnya.

Jika demikian adanya, pantaskah kita jumawa? Merasa lebih tinggi martabatnya, padahal sejatinya setara. Melalui Pelatihan Barista Inklusif, kaum marjinal menjadi berdaya dan setara.
Semoga, mereka pun bisa mandiri dan menggapai masa depan yang cerah seperti kelompok masyarakat yang lain.

 

#KarenaKopiKitaBisa #KarenaKopiKitaSetara

30 Comments

  1. Sara Neyrhiza August 5, 2018
    • Ety Abdoel August 8, 2018
  2. Intan August 8, 2018
    • Ety Abdoel August 8, 2018
  3. Wiwied Widya August 8, 2018
    • Ety Abdoel August 8, 2018
  4. Mugniar August 8, 2018
    • Ety Abdoel August 8, 2018
  5. Ipeh Alena August 8, 2018
    • Ety Abdoel August 8, 2018
  6. Charis August 9, 2018
    • Ety Abdoel August 10, 2018
  7. Rohyati Sofjan August 9, 2018
    • Ety Abdoel August 10, 2018
  8. riza firli August 9, 2018
    • Ety Abdoel August 10, 2018
  9. Hastira August 10, 2018
    • Ety Abdoel August 10, 2018
  10. Dara August 12, 2018
    • Ety Abdoel August 13, 2018
  11. Beautyasti1 August 12, 2018
    • Ety Abdoel August 13, 2018
  12. Khairiah August 14, 2018
    • Ety Abdoel August 14, 2018
  13. Faridilla Ainun August 15, 2018
    • Ety Abdoel August 16, 2018
  14. rizka edmanda August 15, 2018
    • Ety Abdoel August 16, 2018
  15. Adhi Nugroho August 19, 2018
    • Ety Abdoel September 5, 2018

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.