Featured

Sejumput Asa Bagi Penderes Nira Kelapa

 

Jika ada orang yang memilih keluar dari tempatnya bekerja disaat orang lain amat menginginkannya, ialah Akhmad Sobirin. Pemuda ini menanggalkan kemapanan demi memenuhi panggilan jiwanya. Pulang kampung, membangun desa, dengan memberdayakan penderes nira kelapa yang nasibnya kala itu, tak semanis gula yang dibuatnya.
___________

Matahari belum menampakkan sinarnya ketika saya memulai perjalanan di Kamis, pekan ketiga Desember 2019. Tujuan saya kala itu adalah Desa Semedo, Pekuncen, Banyumas. Semilir angin pagi yang sejuk mengiringi perjalanan saya dari pusat kota Purwokerto, selama kurang lebih satu jam, dengan laju motor yang tak terlampau kencang.

Ketika motor yang saya tumpangi sampai di pertigaan jalan Kebonjambe, yang merupakan akses tercepat menuju Semedo, cahaya matahari mulai memberikan kehangatan. Sehangat sambutan orang-orang yang selalu tersenyum melihat kedatangan saya.

Keramahan mereka bukan basa-basi. Ketika laju motor matic yang saya tumpangi terpaksa berhenti karena medan yang menanjak dan berkelok, seorang warga menawarkan tumpangan pada saya.

Pohon kelapa di semedo

Pohon Kelapa tumbuh subur di Semedo Foto : dokpri

Sejauh mata memandang, nampak pohon kelapa yang menjulang berjejer di sela semak-semak. Tetesan embun yang jatuh di atas dedaunan, suara tongeret yang nyaring, seolah jadi ucapan selamat datang bagi saya yang baru pertama kali menapakkan kaki di desa ini.

Jauh di atas sana, penderes nira kelapa sedang beraktivitas. Ia duduk di antara pelepah kelapa sambil tangannya melepas pongkor yang berisi air nira (badeg), dan memotong manggar untuk menyadap nira. Kemudian kembali memasang pongkor, sebagai wadah nira untuk diambil esok hari.

Aktivitas penderes nira kelapa Foto : dokpri

Segera kakinya sigap menuruni cekungan demi cekungan pohon kelapa untuk mengumpulkan nira di wadah yang telah disiapkan. Air nira dituangnya ke dalam wadah, selanjutnya lelaki tua itupun kembali naik ke pohon kelapa berikutnya. Hanya butuh waktu lima menit untuk bisa sampai di atas pohon kelapa, yang rata-rata tingginya 10-20 meter.

Penderes nira memanjat pohon kelapa

Memanjat tanpa pengaman hal biasa Foto : dokpri

Narso (65 tahun), adalah salah satu penderes nira kelapa di Desa Semedo, yang telah melakoni pekerjaan itu selama lebih dari 30 tahun. Usianya memang sudah renta, tapi fisiknya masih kuat untuk memanjat hingga 15 pohon kelapa. Sebagian pohon itu miliknya, sebagian lagi ia sewa dari tetangganya.

“Waktu masih muda, saya bisa manjat hingga 30 pohon. Sekarang tidak kuat lagi,” tuturnya disela napasnya yang terengah.

Narso, masih aktif menderes di usia senja Foto : dokpri

Narso bersama sekitar 1.000 penderes lainnya di Semedo memang menggantungkan hidupnya pada nira kelapa. Jangan dibayangkan air nira mengalir deras mengisi pongkor demi pongkor penderes. Nira keluar dari manggar itu setetes demi setetes. Butuh waktu sehari semalam untuk menyadapnya.

Pongkor berisi nira

Pongkor berisi nira hasil sadapan Foto : dokpri

Hasilnya belum tentu banyak. Saat musim kemarau, produksi nira kelapa menurun. Imbasnya, hasil sadapan penderes, jadi sedikit. Tak hanya masalah cuaca yang menjadi kendala para penderes. Dimasa lalu, harga jual gula kelapa cetak (gula merah) amat rendah. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja kerap kurang. Apalagi bisa memberikan kesejahteraan.

Padahal pekerjaan turun temurun ini, berisiko tinggi. Memanjat pohon kelapa hingga belasan meter tanpa pengaman sudah jadi kebiasaan.

“Kalau pas kondisi begini sih nggak takut, wong sudah biasa. Takutnya itu kalau hujan, karena licin dan kadang ada petir,” ungkap Narso sambil tangannya menuang nira ke wadah yang mulai terisi.

Ancaman terpeleset bahkan jatuh tak menyurutkan nyali penderes. Meskipun kejadian kecelakaan yang dialami penderes kerap terjadi. Jika beruntung, penderes bisa sehat dan kembali bekerja. Tapi, tak sedikit dari mereka akhirnya cacat dan tak bisa menderes lagi. Mereka pun harus mencari mata pencaharian baru, yang kerap tak mudah. Lebih mengenaskan lagi jika penderes meninggal dunia. Keluarga pun jadi kehilangan sumber penghidupan.

Kondisi penderes yang berkubang nestapa, adalah kisah sedih masa lalu. Kini, dengan kehadiran Akhmad Sobirin, dengan Kelompok Tani (Poktan) Manggar Jaya, telah memberikan optimisme bahwa harapan meretas jerat kemiskinan dan keterbelakangan mulai nampak nyata.

Mengubur Cerita Kelam Masa Lalu

Desa Semedo hari ini amat berbeda dengan belasan tahun yang lalu. Dulu, desa ini terisolir. Letaknya yang berada di ketinggian, membuat akses masuk menanjak dan berkelok-kelok. Ditambah jalan desa hanya berupa tanah yang diberi pecahan batu. Kondisi ini membuat kemajuan Semedo menjadi lambat. Apalagi jika dibandingkan dengan desa-desa yang terletak di bawahnya.

___________________________
“Kemiskinan dan keterbelakangan menjadi dua hal yang melekat pada Semedo.”
___________________________

Sebenarnya, tanah di sana amat subur. Masyarakatnya pun sebagian besar menggantungkan hidupnya pada pertanian. Hanya saja, ketika menjual hasil panen, mereka harus berjalan berkilo-kilo meter dengan kondisi jalan seperti itu. Wajar jika akhirnya, hidup mereka terjerat sistem ijon para tengkulak, termasuk para penderes nira kelapa.

Tanah Semedo yang subur

Tanahnya subur, tanaman mudah tumbuh Foto : dokpri

Narso dan penderes lainnya di Semedo sempat merasakan getirnya melakoni hidup sebagai penderes. Upayanya lepas subuh, bertaruh nyawa, memanjat pohon demi pohon kelapa mengambil nira, kemudian mengolahnya menjadi gula merah cetak, ternyata tak sebanding dengan hasil yang didapatnya.

____________________________
“Gula merah cetak yang mereka hasilkan dengan penuh peluh, dihargai rendah oleh para tengkulak.”
___________________________

Praktik yang dilakukan tengkulak merugikan penderes nira kelapa, ia seolah-olah baik dengan memberikan utang kebutuhan pokok para penderes. Padahal sebetulnya tengkulak sedang memeras secara halus. Penderes nira kelapa membayar utang mereka dengan menjual gula merah cetak ke tengkulak dengan harga rendah.

Jika utang tak banyak, maka ada uang yang bisa dibawa pulang. Sebaliknya, ketika utang pada tengkulak banyak, maka penderes hanya bisa pasrah. Uang hasil usahanya habis untuk membayar utang. Sulit sekali kala itu, lepas dari jerat tengkulak.

“Sebenarnya, penderes tahu kalau tengkulak itu merugikan mereka. Tapi, saat itu nggak ada pilihan lain,” terang Akhmad Sobirin.

Di sisi lain, tingkat pendidikan anak-anak Semedo juga rendah. Sebelum tahun 2000, pendidikan anak-anak Semedo paling tinggi hanya SMP.

“Itupun tidak banyak. Umumnya selepas lulus SD mereka langsung bekerja,” kenang Sobirin.

Jalan aspal menuju Semedo

Jalan aspal menuju Desa Semedo Foto : dokpri

Angin segar mulai hadir, ketika pemerintah akhirnya mengaspal jalan desa pada tahun 2003. Akses masuk dan keluar Semedo pun makin mudah. Gerak ekonomi masyarakat mulai menggeliat pelan. Masyarakat merasakan kemudahan menjual hasil pertanian maupun peternakan mereka.

Akses yang mudah membuat masyarakat Semedo melek dengan dunia luar. Semakin banyak anak-anak Semedo bisa bersekolah bahkan hingga perguruan tinggi. Salah satunya adalah Akhmad Sobirin, pemuda asli Semedo yang bisa menuntaskan pendidikan D3 Teknik Mesin Universitas Gajah Mada (UGM). Sobirin tak sendirian, beberapa pemuda Semedo bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Bekal pendidikan yang baik membuat generasi muda Semedo memiliki kesempatan memperoleh kehidupan yang baik dengan merantau. Bekerja di kota-kota besar. Sebagian lagi, meskipun tak mengenyam pendidikan tinggi, mereka tetap memilih bekerja di luar kota ketimbang menjadi petani di desa.

______________________________
“Di tengah perubahan positif yang terjadi pada generasi mudanya, Semedo masih dibiarkan tenggelam, padahal memiliki potensi ekonomi pertanian yang besar.”
____________________________

Kondisi ini membuat Sobirin, pemuda kelahiran 29 Januari 1987 ini prihatin. Meskipun, akses jalan sudah beraspal namun masih ada yang belum berubah

__________________________

Nasib penderes nira kelapa belum sejahtera karena masih berhubungan dengan tengkulak.
__________________________

“Harga jual gula merah cetak masih rendah, hanya Rp5.000,00 per kilo,” ujar Sobirin.

Jika dibiarkan terus maka kondisi penderes di Semedo sulit mencapai kesejahteraan.

Akhmad Sobirin, penggerak perubahan

Akhmad Sobirin, pemuda asli Semedo pemberdaya penderes nira kelapa Foto : dokpri

Hati kecil Sobirin terketuk untuk kembali ke Semedo. Padahal kala itu, ia sudah bekerja di perusahaan BUMN yang bergerak dibidang baja. Tekadnya sudah bulat, ia akan membangun Semedo meskipun saat itu ayah tiga anak ini, belum memiliki konsep apa pun.

Langkah Awal Yang Tak Mudah

Febuari 2012 menjadi bukti komitmen Sobirin, ia pulang ke Semedo. Namun, perjuangannya tak mudah, bahkan sempat disesali oleh orangtuanya. Sobirin sadar betul, ia memang belum bisa membuktikan apa pun pada orangtua yang telah membiayainya hingga kuliah.

Ia dibantu Sang Istri bekerja keras untuk menyambung hidup. Pilihannya kala itu adalah melakukan budidaya jamur tiram. Disela-sela waktunya Sobirin mulai membangun komunikasi dengan para penderes di Semedo. Sebagai orang yang telah lama merantau, ia tentu membutuhkan waktu agar kehadirannya bisa diterima dikalangan penderes.

Gayung bersambut, komunikasi yang dibangun Sobirin berbuah manis, Juni 2012 dibentuklah Kelompok Tani (Poktan) Manggar Jaya. Meskipun saat itu, anggotanya belum banyak, baru 25 orang.

Kelompok tani Manggar Jaya

Kelompok tani Manggar Jaya, wadah penderes nira kelapa Foto : dokpri

“Masih banyak penderes yang belum bergabung. Wajar saja, karena saya belum bisa membuktikan apa pun pada mereka,” ungkap Sobirin.

Upaya pemuda yang satu ini memang sempat dicibir oleh masyarakat Semedo. Adanya image negatif mengenai kelompok tani menjadi penyebabnya.

___________________________
“Selama ini masyarakat menganggap, keberadaan kelompok tani itu hanya untuk menurunkan bantuan pemerintah saja. Usai bantuan turun, kelompok pasti bubar,” terangnya.
___________________________

Padahal menurut Sobirin, dengan adanya kelompok, penderes nira kelapa jadi memiliki posisi tawar yang lebih tinggi. Kelompok pun akhirnya berjalan dengan anggota yang ada. Kegiatan awalnya pertemuan rutin yang diisi pembinaan dan arisan.

Disaat sinyal positif mulai nampak, ujian justru datang dari usaha jamur tiram putih miliknya. Usaha tersebut bangkrut. Modal 30 juta rupiah hasil pinjaman kepada orangtua, ludes. Menjadi penjual es pun sempat dilakoninya untuk bertahan hidup. Tak ayal cemoohan pun datang kepadanya.

“Ya, saya terima saja, mau bagaimana lagi. Namun, saya tidak patah arang, saya jadikan ini sebagai cambuk untuk maju,” kenang lelaki 32 tahun ini.

Pemberdayaan Penderes Nira Kelapa Melalui Gula Semut

Di tengah upayanya bangkit dari kegagalan, ide mengembangkan gula kelapa muncul. Ia membuat gula semut (gula kristal). Gula semut lebih menguntungkan ketimbang membuat gula merah cetak, yang harga jualnya rendah dan pasarnya terbatas.

______________________
“Saya memilih membuat gula semut karena ada pangsa pasar ekspor. Orang luar negeri ternyata lebih menyukai gula semut karena organik dan indeks glikemiknya rendah,” Sobirin mengemukakan alasannya.
________________________

Ceruk pasar eksporlah yang coba dimanfaatkan oleh Sobirin. Bersama istrinya, Sobirin mulai membuat gula semut. Saat itu proses produksi masih dilakukan sendiri. Ketelatenannya mulai menampakkan hasil ketika mendapat pesanan perdana, 500 kg gula semut. Sobirin yang saat itu belum memiliki karyawan, bergantian dengan istrinya memproduksi gula semut.

“Waktu itu, belum punya dapur. Ngovennya dilakukan di depan rumah,” tutur sang istri.

Pembuatan gula semut pada dasarnya hampir sama dengan membuat gula merah cetak. Proses finishingnya yang berbeda. Jika gula merah cetak, setelah nira sudah matang, maka tahap selanjutnya adalah mencetaknya di bumbung (cetakan bambu) dan dibiarkan mengeras.

Sementara itu, untuk gula semut harus melalui proses lanjutan hingga membentuk kristal. Gula yang telah berbentuk kristal kemudian melalui proses pengeringan hingga kadar airnya memenuhi standar.

Upaya membuat gula semut akhirnya menarik minat anggota Poktan Manggar Jaya. Sobirin pun mengajari mereka cara membuat gula semut.

Narso, termasuk salah satu penderes yang beralih membuat gula semut. Usai menderes, nira yang terkumpul harus segera dibawa pulang dan diolah. Nira harus segera diolah karena jika lebih dari 3 jam, nira akan terfermentasi dan tidak bisa dimasak menjadi gula semut.

Di dapur berlantai keramik istri Narso segera menuang air nira, sambil disaring ke dalam wajan besar. Tungku berbahan bakar kayu pun dinyalakan. Air nira dimasak sambil sesekali diaduk.

Memasak nira kelapa

Memasak air nira hasil sadapan suami Foto : dokpri

Empat jam waktu yang diperlukan untuk mengolah nira menjadi gula semut. Lama memang, namun, perempuan itu telaten melakoninya. Tangannya yang mulai renta ternyata masih mampu untuk mengolah air nira. Setelah tingkat kematangannya cukup, istri Narso mengangkat wajan besar dari tungku dan meletakkannya di sudut dapur.

Nira yang matang

Atas : nira telah matang dan kental Bawah : nira harus terus diaduk hingga membentuk kristal Foto : dokpri

Nira yang mengental harus terus diaduk hingga membentuk kristal. Butuh waktu yang tak sebentar untuk mengaduknya. Setelah kering dan berbentuk kristal, proses selanjutnya adalah menggangsur (mengaduk dengan batok kelapa). Tujuannya agar kristal tidak menggumpal dan semakin kering.

Gula semut diayak

Kiri : kristal sudah terbentuk, gula harus di gilas dengan batok kelapa agar tak menggumpal Kanan : gula semut diayak agar halus Foto : dokpri

Tahap berikutnya, adalah penyaringan. Dengan menggunakan alat sederhana, gula yang telah berbentuk kristal tersebut diayak. Proses ini dilakukan agar gula yang dihasilkan tidak menggumpal. Jika masih ada yang menggumpal maka akan diayak lagi.

Setelah melalui proses penyaringan, gula semut kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Jika hari hujan maka pengeringan dilakukan dengan digarang atau disangrai. Namun, proses mengeringkan gula semut dengan cara disangrai harus hati-hati, agar gula semut tidak menjadi gosong saat dikeringkan.

“Saya akhirnya membuat gula semut, karena harga jualnya lebih mahal. Kalau gula cetak paling banter hanya Rp5.000, 00, untuk gula semut ini sekarang dihargai, Rp17.000,00 per kilonya,” tutur Narso dengan mata berbinar.

Jika hasil produksi sedang sedikit, Narso hanya menghasilkan 2 kg gula semut, ia akan memperoleh uang Rp34.000, 00 sehari. Saat produksi bagus, karena air nira berlimpah, gula semut yang dihasilkan bisa mencapai 3 kg. Narso bisa mengantongi Rp51.000, 00 per hari.

Pengepul menjual gula semut

Salah seorang pengepul saat menjual gula semut ke unit produksi Semedo Manise Foto : dokpri

Setelah gula semut kering, petani penderes kemudian menjual ke pengepul sebesar Rp17.000, 00 per kg, kemudian pengepul menjual ke pabrik pengolahan gula semut milik Akhmad Sobirin, seharga Rp18.000, 00. Selanjutnya setelah diolah di pabrik, gula semut akan dijual ke eksportir dengan kisaran harga Rp21.000, 00- Rp21.500, 00.

Standarisasi Produk Gula Semut

Sobirin sadar betul, pasar ekspor memiliki standar keamanan pangan yang ketat. Oleh karena itu, keberadaan pabrik pengolahan gula semut penting agar hasil produksi gula semut bisa sesuai standar ekspor. Untuk itu, Sobirin pun menerapkan standart operasional procedure (SOP) yang ketat meskipun ruangan pabrik berupa bangunan sederhana, berukuran 8×6 meter.

Pabrik harus steril, bebas asap rokok dan selain karyawan tidak boleh masuk. Pengecualian bagi tamu, yang hendak melihat proses produksi. Itupun harus mengikuti aturan yang berlaku.

Gula semut yang disetor pengepul, akan diproses dalam beberapa tahap. Pertama, gula semut diayak di mesin ayakkan basah.

Ayakan basah gula semut

Gula semut diayak di mesin ayakan basah Foto : dokpri

Selanjutnya, gula semut dikeringkan dengan cara dioven selama kurang lebih empat jam, agar kadar airnya tidak lebih dari 2%. Kadar air yang rendah membuat gula semut awet hingga setahun.

Gula semut di oven

Gula semut dioven hingga kadar air tinggal 2% Foto : dokpri

Gula semut di ayak di mesin

Gula semut diayak di mesin ayakan kering
Foto : dokpri

Tahap ketiga, gula semut yang telah dikeringkan akan diayak lagi. Tujuannya agar didapat hasil kristal yang lembut.
Setelah itu gula semut akan melalui proses sortir. Satu persatu, benda yang bukan gula, akan diambil.

Proses sortir gula semut

Kiri : gula semut dipisahkan dari benda bukan gula Kanan atas : benda bukan gula ditaruh di wadah Kanan bawah : gula semut yang sudah disortir dimasukkan ke wadah besar Foto : dokpri

Proses sortir selesai, gula semut harus diayak sekali lagi sebelum dikemas.

Gula semut diayak lagi

Gula semut kering diayak lagi setelah disortir
Foto : dokpri

Diakui oleh Sobirin, proses produksi ditingkat penderes beragam kondisinya, kadang ada kotoran yang terbawa. Meskipun tempat produksi sudah mulai terstandar, seperti lantai dapur keramik, dan penyimpanan kayu bakar harus di luar, agar gula tak terkena serpihan kayu.

Gula semut dijual ke eksportir tiap 3 hingga 4 hari sekali jika produksi sedang bagus. Sekali kirim ke eksportir sebanyak 2,5 ton. Sampai di tingkat eksportir, gula semut akan diproses melalui sensor magnetik dan metal detector untuk memastikan tidak ada kontaminan pada gula semut yang akan dibeli oleh buyer.

Gula semut siap kirim

Rampung dikemas, gula semut siap dikirim ke eksportir Foto : dokpri

Butuh waktu berbulan-bulan, hingga usaha gula semut yang dirintis Sobirin bertemu dengan eksportir, di 2013. Produksi saat itu baru sekitar 0,5 kuintal dalam 3-4 bulan. Seiring waktu, produksi gula semut meningkat menjadi 1 ton per bulan. Sekarang kapasitas produksi bisa mencapai 1- 1,5 ton per hari.

Produksi gula semut Semedo, 95% dikirim ke pasar Eropa dan Amerika. Sementara sisanya untuk memenuhi kebutuhan pasar retail dalam negeri dengan mengusung merek “Semedo Manise” .

Nama tersebut diambil agar Semedo dikenal oleh masyarakat luas dan bisa memberikan kebanggaan bagi anak mudanya. Dulu, anak Semedo tak mau mengakui kalau asalnya dari Semedo, karena malu dikenal sebagai penduduk desa terisolir.

Gula semut Semedo Manise

Gula Semut Semedo Manise Foto : dokpri

Gula semut herbal

Gula semut herbal Semedo Manise
Foto : dokpri

Gula semut produksi Semedo Manise, bisa dibeli di beberapa marketplace, seperti Tokopedia, Shopee dan lainnya. Selain gula semut original, Semedo Manise membuat variasi rasa lain, seperti gula rempah, gula daun sirsak, gula temulawak dan lainnya. Gula semut original dijual dalam kemasan 500 gram dan kemasan stik. Sementara itu untuk gula semut variasi rasa lain dijual dalam kemasan 225 gram.

Peralatan Food Grade Untuk Penderes Nira Kelapa

Kiprah Sobirin dalam memberdayakan penderes nira kelapa, mulai dilirik banyak pihak, baik instansi pemerintah maupun swasta. Salah satunya pada 2016, pihak PT Astra Internasional menganugerahkan Satu Indonesia Award (SIA) bidang kewirausahaan kepada Akhmad Sobirin.

Dua tahun kemudian, PT Astra International yang rutin melakukan program corporate social rensponsibility (CSR), menggandeng Akhmad Sobirin dalam program bertajuk Kampung Berseri Astra Desa Sejahtera.

Kampung Berseri Astra Desa Sejahtera

Kampung Berseri Astra Desa Sejahtera Foto : dokpri

Wilayah binaan kemudian diperluas, tak hanya Desa Semedo saja, merambah hingga Desa Petahunan dan Desa Karangkemiri agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas lagi. Jika dulu anggota kelompok taninya hanya 25 orang, sekarang telah mencapai 400 orang lebih. Anggotanya terbagi dalam 7 kelompok yang tersebar di tiga desa binaan.

Dari program ini, Sobirin dan kelompok binaannya mendapatkan bantuan permodalan. Bantuan ini diwujudkan dalam bentuk peralatan produksi gula semut untuk petani penderes, seperti wajan, loyang, saringan, ayakan, pongkor dan tungku.

Dapur bersih

Dapur bersih untuk produksi gula semut Foto : dokpri

Untuk meningkatkan higienitas hasil produksi gula semut di tingkat petani, Sobirin juga mewajibkan tungku dapur bersih dengan lantai keramik.

_____________________________
“Berkat program CSR Astra, kini hampir semua peralatan produksi gula semut di petani penderes sudah food grade,” terang Sobirin.
____________________________

Para penderes menyambut gembira bantuan peralatan produksi gula semut dari Astra, karena dengan peralatan tersebut kualitas produksi gula semut mereka makin baik.

Sebelum ada bantuan dari Astra, dapur untuk membuat gula semut masih berlantai tanah bahkan menyatu dengan dapur rumahtangga. Ditambah dengan kebiasaan penderes menyimpan kayu bakar di dapur, membuat dapur jadi kurang higienis.

Sekarang, dapur untuk membuat gula semut dipisah dari dapur rumahtangga. Lantai dapur produksi sudah dikeramik. Kayu bakar juga sudah disimpan terpisah sehingga tidak mengotori dapur untuk produksi gula semut.

Selain edukasi peningkatan kualitas produk gula semut, Sobirin saat ini berupaya meningkatkan standar produksi dan mendapatkan sertifikasi organik internasional karena selama ini yang memiliki sertifikasi tersebut adalah eksportir. Adanya sertifikasi organik internasional bisa menaikkan harga gula semut yang diproduksinya.

Keselamatan dan Regenerasi Penderes Nira Kelapa

Ditengah upaya pemberdayaan yang makin terarah, Sobirin menghadapi beberapa persoalan yang harus dicari jalan keluarnya. Pertama adalah persoalan kecelakaan yang menghantui para penderes.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, upaya yang dilakukan adalah mengikutsertakan para penderes dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Sehingga, ketika terjadi kecelakaan, ada yang menanggung biaya pengobatan. Ketika ada penderes meninggal dunia, istri dan anak-anaknya mendapatkan santunan. Artinya, ada modal untuk menyambung hidup sepeninggal kepala keluarganya.

Pohon kelapa dalam

Memanjat pohon kelapa setinggi ini amat berisiko Foto : dokpri

Sementara itu, untuk upaya pencegahan dari kecelakaan kerja, Sobirin masih menunggu bantuan safety belt dari pemerintah daerah. Pemda Banyumas memang memiliki program pembagian safety belt untuk penderes nira kelapa dan baru sampai ke kecamatan sebelah. Meskipun, penderes merasa, jika memakai sabuk pengaman itu ribet dan memperlambat gerak mereka.

Tanpa sabuk pengaman, Narso bisa memanjat dalam waktu lima menit, ketika memakai sabuk pengaman butuh waktu hingga 10 menit. Alasan itulah yang membuat penderes enggan memakai sabuk pengaman.

“Walaupun ribet tapi, kalau bantuannya sudah sampai ke sini, Saya akan tetap mewajibkan untuk memakainya. Akan saya edukasi terus, karena dulu mengenalkan gula semut juga pelan-pelan, hingga akhirnya mereka beralih membuat gula semut, ” ujar Sobirin.
Selain itu, Sobirin menghadapi kenyataan bahwa usia penderes itu kebanyakan sudah tua, 50 tahunan. Mereka yang usianya 30 tahunan jadi penderes biasanya karena kepepet tidak punya pekerjaan.

Tak banyak generasi muda Semedo memiliki keahlian memanjat pohon kelapa. Mereka juga takut, harus menanggung resiko terjatuh dari pohon.

Kelapa genjah

Kiri : Kelapa Genjah untuk mengurangi risiko jatuh para penderes Kanan : Kelapa Genjah sudah keluar nira Foto : dokpri

Sobirin mencari solusi jangka panjang dengan memberikan bibit kelapa pendek yaitu kelapa genjah, yang tingginya hanya 2-5 meter. Sudah ada 1500 bibit kelapa genjah ditanam, di 2014. Setelah 4 tahun, kelapa genjah bisa diambil air niranya meskipun kualitas niranya masih kalah bagus dari jenis kelapa dalam.

Hanya saja, ada persoalan lain, bahwa tidak semua penderes itu memiliki kebun kelapa yang luas, sebagian adalah kebun sewa. Nah, jika kebun sewa maka tidak bisa ditanami kelapa genjah.
Namun, setidaknya sudah ada upaya memperkecil resiko kecelakaan dengan adanya jenis kelapa genjah yang ditanam.

Diversifikasi Usaha Bekal Masa Paceklik dan Pensiun

Sobirin masih memiliki cita-cita, membuat program pemberdayaan pertanian terpadu dengan peternakan. Jadi, dari usaha peternakan, kotoran ternaknya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman diversifikasi pertanian yang mulai dirintis, seperti kapulaga, kunyit, maupun jahe.

Kebun kunyit

Menanam kunyit, meraih peluang baru Foto : dokpri

Untuk langkah awal, Koptan telah beternak kambing kemudian berkembang menjadi dua ekor sapi yang dipelihara di wilayah grumbul Gunung Cau RW 1. Pada Desember 2019 ini, program CSR Astra kembali memberikan bantuan permodalan. Kali ini bantuan tersebut rencananya untuk peternakan kelinci yang akan dipelihara di wilayah grumbul Kalimanggis RW 5. Saat ini baru tahap pembuatan kandang. Peternakan dikelola oleh kelompok dan hasil dari usaha ini akan dibagikan kepada semua anggota.

Menurutnya, diversifikasi usaha diperlukan untuk mengantisipasi musim kemarau, saat air nira sedikit dan produksi gula semut turun. Harapannya, penderes tetap bisa memiliki penghasilan saat produksi gula semut turun, tanpa harus menjadi buruh musiman di kota-kota besar.

Diversifikasi usaha juga dimaksudkan sebagai sumber pendapatan penderes nira kelapa ketika pensiun. Saat fisik tak lagi mampu memanjat pohon kelapa, mereka tetap bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.

Program pemberdayaan yang digagas pemuda yang gigih ini juga menyentuh kaum perempuan. Sebagian besar pekerja di pabrik pengolahan gula semut miliknya adalah perempuan. Tugas mereka adalah memastikan kualitas gula semut yang akan dijual ke eksportir memenuhi standar. Pekerjaan yang mereka lakukan meliputi pengayakkan, pengovenan, proses sortir hingga pengemasan. Mereka mendapat upah Rp40.000, 00 per hari.

Diversifikasi produk

VCO, diversifikasi produk Semedo Manise Foto : dokpri

Tak hanya itu, Sobirin juga memberikan pelatihan keterampilan pada istri-istri petani, seperti membuat piring lidi, produksi VCO, dan kerajinan lainnya. Tujuannya, agar mereka memiliki penghasilan tambahan.

Demi memaksimalkan potensi pertanian yang ada, Sobirin pun membuat program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Program ini pun melibatkan istri-istri penderes, mereka diajak untuk menanami halaman rumah menggunakan polibag berbagai jenis tanaman seperti cabe, kapulaga, jahe dan kunyit.

Menanam di polibag

Memanfaatkan ruang kosong untuk bertanam Foto : dokpri

Polibag berisi tanaman

Pemandangan di tiap rumah Foto : dokpri

“Tempo hari ada permintaan kunyit dari Slovakia, 1 ton, belum bisa kami penuhi. Ke depan niatnya, mau menggarap pasar kunyit juga,” terang Sobirin bersemangat.

Harapannya, agar tak hanya gula semut saja yang bisa menembus pasar ekspor. Hasil pertanian seperti kapulaga dan kunyit mulai disiapkan untuk bisa memenuhi permintaan pasar luar negeri.

Mari Pulang Kampung, Membangun Desa

__________________________
” Pemuda selalu menjadi ujung tombak perubahan.”
________________________

Akhmad Sobirin pun, pelan-pelan telah membuktikan bahwa upaya memberdayakan penderes nira kelapa membawa perubahan manis, kehidupan mereka mulai terangkat.

Semua tak lepas dari partisipasi aktif penderes nira kelapa, dan bantuan dari pemerintah maupun swasta, seperti program CSR dari PT Astra Internasional. Program kemitraan PT. Astra memang telah menyentuh satu pilar yaitu kewirausahaan.

Masyarakat tentu menantikan, Astra akan memberikan pembinaan di ketiga pilar lainnya, yaitu pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Tujuannya, selain menjadi masyarakat produktif yang mandiri secara ekonomi, bisa pula terwujud masyarakat yang cerdas, sehat serta lingkungan yang bersih.

Akhmad Sobirin

Optimis menatap masa depan bersama gula semut Semedo Manise Foto : dokpri

Pemuda bercita-cita mulia ini masih menyimpan harapan, pemuda desa yang berpendidikan tinggi seperti dirinya bersedia bersama-sama membangun Semedo, karena lahan pertanian organik di sana menyimpan potensi besar untuk memenuhi pasar ekspor.

Jalan masih panjang, tapi sejumput demi sejumput gula semut yang manis, telah memberikan harapan pada penderes nira kelapa, untuk meraih kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik berkat gigih dan uletnya pemuda asli Semedo, Akhmad Sobirin.

#IndonesiaBicaraBaik #KitaSatuIndonesia

2 Comments

  1. Eko Nurhuda January 4, 2020
    • Ety Abdoel January 5, 2020

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.