Health

Rokok Harus Mahal, Karena Kelompok Rentan Berhak Sehat Dan Sejahtera

We don’t smoke that s_ _ _. We just sell it. We reserve the right to smoke for the young, the poor, the black and stupid.” (R.J Renold 1992)

Ngeri, ya! Ternyata rokok menyasar kelompok anak-anak dan masyarakat miskin. Ini artinya ada ancaman serius mengenai adiksi dan makin langgengnya kemiskinan. Kita nggak boleh tinggal diam. Wacana rokok harus mahal adalah upaya memberi perlindungan kelompok rentan dari bahaya rokok.

Saya heran, apa sih nikmatnya mengirup asap rokok? Kok, ya, banyak orang suka membakar benda silinder berukuran kecil ini. Saya saja nggak nyaman banget kalau terkena asap rokok. Atau, efek yang dirasakan perokok aktif beda kali ya, sama perokok pasif. Mereka menikmati sekali asap rokok yang diirup. Yup, rokok adalah candu, karena ada Nicotine yang membuat perokok kecanduan. Masuk akal kalau ternyata banyak orang susah melepaskan diri dari kebiasaan merokok.

Selain memberikan efek kecanduan, rokok dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti batuk, sesak napas, stroke, impotensi dan penyakit jantung. Bahkan, kandungan Tar dalam rokok juga bersifat karsinogenik. Perokok beresiko terkena penyakit kanker seperti kanker paru-paru, kanker mulut dan beresiko terkena kanker serviks dan kanker payudara. Sebuah ancaman yang serius.

Namun herannya, perokok sepertinya menganggap sepele terhadap resiko yang mengancam jiwanya. Duh, padahal orang disekitarnya juga bakal terkena dampak negatifnya, kan. Peringatan dibungkus rokok juga nggak memberi efek jera. Buktinya, perokok itu mudah banget ditemui di mana-mana.

Ada data yang memprihatinkan dirilis WHO. Jumlah mayoritas perokok diseluruh dunia ternyata berasal dari negara dengan pendapatan ekonomi rendah dan menengah. Angka perokok dari negara maju justru jauh lebih rendah. Kok bisa ya, padahal logikanya, dengan kondisi ekonomi pas-pasan harusnya tak bisa membeli rokok.

fakta rokok harus mahal

Sebuah studi dari The Guardians menyebutkan penyebab jumlah perokok di negara miskin dan berkembang tinggi. Ada dua penyebab, yaitu:

1. Agresifnya iklan rokok di media   seperti tv, radio dan poster di negara miskin dan berkembang.
2. Akses terhadap rokok amat mudah. Harganya murah dan bisa dibeli secara eceran.

Sebuah data memperlihatkan perbedaan akses terhadap rokok antara negara miskin dan negara maju. Berikut ini datanya :

📍64% toko di negara miskin menjual rokok secara eceran
📍 2,6% toko di negara maju menjual secara eceran

Perbedaan data yang amat jauh, ya. Pantas saja jika perokok justru banyak di negara miskin dan berkembang. Sementara itu menurut rilis WHO yang berjudul The Global Tobacco Crisis, pengeluaran untuk rokok di beberapa negara prosentasenya 10% ke atas. Bisa dilihat di infografis. Indonesia memiliki prosentase 15%, paling tinggi diantara Mesir dan Meksiko. Sebuah kabar buruk bagi kita.

Kemudian jika bicara persebaran jumlah perokok seluruh dunia, 10% nya ada di kawasan Asean. Sayangnya lagi, sebagian besar dari prosentase tersebut, yaitu 52,2% berada di Indonesia. Data dari Tobacco Control Atlas Asean bahkan menyebutkan 30% anak Indonesia merokok sebelum usia 10 tahun.

Kalau mengacu pada temuan The Guardians, faktanya di Indonesia, baliho iklan rokok segede gaban terpampang di jalan-jalan, jadi sponsorhip acara musik dan olahraga dimana banyak penggemarnya, ditambah lagi rokok senantiasa dicitrakan baik, lambang kesuksesan, dan kejantanan. Iklan seperti ini bisa mempengaruhi anak-anak muda untuk merokok.

rokok harus mahal

uang yang terbuang sia-sia

Selanjutnya soal harga rokok murah dan bisa dibeli eceran juga ditemui di sekitar kita, bukan. Harga sebatang rokok bisa dibeli dengan harga di bawah seribu rupiah. Wajar, jika masyarakat miskin pun sanggup untuk membelinya. Meskipun mereka harus mengabaikan kebutuhan yang lebih penting seperti makanan bergizi, pendidikan dan kesehatan. Bahkan pengeluaran mereka untuk rokok cukup besar.

Fakta Rokok dan Kelompok Rentan di Indonesia

Siapa saja sih, yang termasuk kelompok rentan itu? Yang dimaksud kelompok rentan ada dua golongan. Golongan pertama adalah bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan orang sakit. Sementara itu, golongan kedua adalah masyarakat miskin dan kelompok marjinal di daerah terpencil.

Bicara soal golongan pertama kaitannya dengan wacana rokok harus mahal yang menjadi sasaran adalah kelompok anak-anak. Ada fenomena mengerikan saat satu persatu perokok anak muncul ke publik. Ya, jumlah kasus anak merokok ternyata mencapai 267 ribu.

Fakta ini menunjukkan keberhasilan produsen rokok dalam menjaring konsumen masa depan. Mereka sadar akan efek candu rokok, makanya anak-anak semuda mungkin masuk menjadi target pemasaran rokok.

Mengapa anak-anak bisa menjadi perokok aktif? Biasanya faktor lingkungan memiliki pengaruh besar. Anak-anak terbiasa melihat orang dewasa di sekitarnya merokok. Mereka pun kerap disuruh membelikan rokok di warung. Jadi, keberadaan rokok bukan hal asing. Parahnya, jika kemudian mereka ikut merokok tidak dilarang oleh orangtuanya.

Pada kasus balita perokok bernama AS yang heboh beberapa waktu lalu, diketahui bahwa orang tua tidak tegas menolak permintaan anaknya. Sehingga menyebabkan anak tersebut kecanduan rokok dan terbiasa menghabiskan 40 batang rokok sehari. Mengerikan! Jika tak ada upaya menyembuhkan kecanduannya, anak-anak bisa langgeng menjadi perokok.

Selanjutnya, jika bicara golongan kedua yaitu masyarakat miskin, secara angka juga mengerikan. Rokok sudah terlalu jauh menjerat masyarakat miskin. Harus ada upaya memutus rantai adiksi dan langgengnya kemiskinan.

Dalam gelar wicara Ruang Publik KBR serial #RokokHarusMahal, terungkap pengeluaran konsumsi rokok masyarakat miskin amat besar, data yang dihimpun BPS ini, konsisten dari tahun 2014-2018. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Arum Atmawikarta, MPH, Manajer Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas. Selengkapnya lihat infografis.

konsumsi rokok masyarakat miskin

Menurut Arum Atmawikarta, pengeluaran untuk rokok pada masyarakat miskin menempati posisi kedua setelah beras, sebesar 12-17%. Lebih tinggi daripada pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan. Menurut survei, masyarakat miskin bisa mengonsumsi hingga 11 batang rokok dalam sehari. Coba dihitung berapa banyak uang yang terbuang sia-sia perharinya.

Padahal jika pengeluaran untuk rokok dialihkan untuk menyajikan makanan bergizi, atau biaya pendidikan anak-anak tentu akan mempengaruhi kesejahteraan mereka.

Seorang profesor dan direktur kesehatan mental di Stanford University, Keith Humphreys pernah menulis artikel di washingtonpost.com yang menyebutkan ketiadaan dukungan lingkungan membuat kecanduan rokok di kalangan penduduk miskin susah dihentikan. Akses mereka ke fasilitas pengobatan mental sulit sehingga tak ada bantuan untuk mengobati kecanduannya.

Rokok Harus Mahal Solusi Memutus Rantai Adiksi dan Kemiskinan

Masih menurut Arum Atmawikarta, selama ini harga rokok di Indonesia terlalu murah karena bisa dibeli secara eceran. Kondisi ini membuat anak-anak yang belum punya penghasilan bisa membeli dengan uang jajan mereka. Sementara masyarakat miskin, meskipun uangnya minim juga sanggup untuk membelinya.

Selain itu akses membeli rokok amat mudah ditemui di warung-warung kecil bahkan di kampung-kampung. Berbeda kondisinya di negara maju, rokok hanya dijual ditempat tertentu dan bisa dibeli oleh usia tertentu pula.

Kemudian muncul pertanyaan apakah kebijakan ini akan efektif?

Menurut Arum, kebijakan ini sudah dilakukan dibeberapa negara. Menaikkan 10% harga rokok bisa mengurangi jumlah perokok hingga 16%. Jadi menurutnya rokok harus mahal adalah salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengendalikan konsumsi rokok.

Sementara itu menurut pembicara yang lain yaitu Dr. Abdillah Ahsan, Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI menyatakan bahwa secara hukum, usulan mengenai rokok harus mahal ada landasannya, yaitu:

📍UUD 1945 menyebutkan ada hak sehat sebagai salah satu hak asasi yang harus dipenuhi.
📍UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 Pasal 113 ayat 2 menyebutkan bahwa tembakau dan produk tembakau seperti rokok bersifat adiksi. Oleh karena itu harus dikendalikan konsumsinya.
📍UU No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai juga menyebutkan bahwa cukai dikenakan dalam rangka mengendalikan konsumsi, termasuk konsumsi rokok.

Jadi kalau diterapkan maka sudah ada pijakan hukumnya.

Kita harus mengingatkan pemerintah agar tak menyerahkan pertumbuhan ekonomi pada industri rokok. Pemerintah harus berprinsip bahwa tanpa rokok masyarakat lebih sehat dan produktif. Logikanya kan dengan kondisi kesehatan yang baik, masyarakat akan lebih produktif berkarya. Ekonomi pun akan terus bergerak.

Sementara itu, rokok berpotensi menyebabkan sakit, jika ini terjadi para pekerja tentu tak bisa bekerja karena harus libur dan menyembuhkan sakitnya. Hal tersebut tentu menghambat produktivitas kerja.

Dari gelar wicara tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kebijakan rokok harus mahal tak bisa berdiri sendiri. Harus diikuti dengan upaya yang lain. Upaya pengendalian konsumsi rokok bisa dilakukan dengan cara:

📍Edukasi terus menerus kepada masyarakat tentang bahaya rokok.
📍Menaikkan harga rokok
📍Membatasi akses rokok, jadi rokok hanya dijual di tempat tertentu, bisa dibeli dengan syarat usia tertentu dan tidak dijual secara eceran.
📍Menyelenggarakan tempat rehabilitasi kecanduan rokok yang bisa diakses masyarakat miskin.

Penting untuk diingat bahwa menjauhkan anak-anak dari rokok adalah sebuah investasi. Hal ini untuk mencegah adiksi dini terhadap rokok. Selanjutnya, masyarakat miskin diajak untuk lebih fokus pada upaya mengentaskan dirinya dari kesulitan ekonomi. Jika anggaran untuk beli rokok dialihkan untuk kebutuhan akan makanan bergizi, kesehatan dan pendidikan maka peluang mereka lepas dari jerat kemiskinan makin besar. Ayo kita dukung bersama rokok harus mahal agar masyarakat sehat dan produktif.

6 Comments

  1. Bella August 21, 2018
    • Ety Abdoel September 12, 2018
  2. Sandra Hamidah August 21, 2018
    • Ety Abdoel September 12, 2018
  3. Witri Prasetyo Aji August 22, 2018
    • Ety Abdoel September 12, 2018