Food

Segarnya Dawet Selasih Bu Watik Pasar Gede Solo

SEGARNYA (1)

 

“Yang hujan turun lagi, di bawah payung hitam kuberlindung”

Jiaah, nyanyi ni yee, ketahuan pula tuh umurnya kalau lagu model begitu. Hehehe, maaf kebawa suasana musim hujan. Bulan Desember itu bulannya  hujan ya. Meskipun begitu  tak menyurutkan semangat saya untuk  menjelajahi kuliner Solo. Maklum, sebagai pendatang yang belum terlalu lama tinggal disini, banyak hal tentang kota ini yang ingin saya ketahui termasuk kulinernya. Cerita saya kali ini masih seputar kuliner Solo yang saya temui di Pasar Gede yaitu Dawet Selasih.

Dawet? Nggak salah nih. Minuman satu inikan di daerah lain juga ada. Dulu saya juga sempat berpikir demikian.Setelah mendengar sekilas tentang Dawet Selasih dari seorang kawan pikiran saya mulai berubah. Barangkali memang berbeda, dan untuk membuktikannya saya harus mencobanya dong. Makanya hari itu  sepulangnya  dari toko kain saya  mampir ke Pasar Gede.

Suasana siang itu masih ramai, terlihat kerumunan pembeli di beberapa kios. Saya melangkahkan kaki menuju los makanan matang. Menurut informasi, penjual Dawet Selasih berada diantara los pedagang makanan matang yang berada di sebelah barat.Tujuan saya adalah kedai Dawet Selasih Bu Watik.

Saya masuk lewat pintu utama pasar dan ternyata agak muter-muter buat orang yang belum hafal Pasar Gede. Sebetulnya sih, dari pintu utama tinggal lurus saja, belok kiri, kemudian belok kanan, tapi saya nggak apal belok kiri dan kananya di lorong ke berapa, jadilah saya hanya menuruti langkah kaki saja. Alhamdullilah, nyampe juga di kedai itu.

ini dia kedainya

ini dia kedainya

Ternyata, lebih mudah lewat pintu samping yang ada di sebelah barat pasar.Masuk lewat pintu samping, lurus melewati penjual dawet lain terus belok kiri. Kedai Bu Watik ada didekat penjual ayam bakar dan goreng. Jangan kawatir, nama Bu Watik tertulis di gerobak jadi mudah dikenali.

Kedainya kecil, hanya menempati satu los yang tidak luas.Tapi tenang ada satu bangku panjang di depan dan bangku pendek di bagian samping. Jadi jika makan di tempat masih bisa duduk. Dengan catatan saat itu sedang tak ramai pengunjung. Jika ramai maka harus rela mengantri tempat duduk.

Saya sempat bertanya tentang nama Bu Watik, apakah  itu ibu penjual yang saat itu melayani saya. Beliau menjawab, jika Bu Watik itu nama Ibunya. Beliau itu meneruskan usaha dawet selasih yang telah dirintisi bunya. Jadi usaha ini berada ditangan generasi kedua. Saya semakinpenasaran dengan rasanya.

Dawet Selasih itu terdiri dari dawet yang berwarna hijau pupus, tape ketan ,bubur sumsum, selasih, irisan kecil buah nangka, air gula es batu dan santan. Jika melihat komposisinya, Dawet Selasih berbeda dengan dawet di daerah asal saya. Dinamakan selasih karena ada biji selasih dalam dawetnya.

ini dia yang namanya dawet selasih

ini dia yang namanya dawet selasih

Yang pertama saya ingat adalah aroma wangi dari semangkok Dawet Selasih.Wangi yang lembut dari  paduan daun pandan, nangka dan santan. Dawet Selasih Bu Watik ini menggunakan gula pasir jadi tidak kelihatan warna coklat dari gula jawa seperti dawet pada umumnya.

Dawetnya terlihat hijau pupus, agak pucat memang karena menggunakan pewarna alami dari daun suji dan daun pandan. Pantas saja wanginya lembut banget. Hal lain yang saya suka, santan yang digunakan di sini adalah santan yang sudah dimasak alias santan matang. Buat saya ini lebih ramah di lambung.

Bagaimana dengan rasanya?

Manis, gurih harum dan segar, begitulah kesan saya terhadap dawet Selasih Bu Watik. Manis tentu berasal dari air gula, tapi tenang saja manisnya tidak sampai legit menggigit kok. Gurihnya berasal dari santan yang ada di bubur sumsum maupun kuahnya. Gurihnya santan pas, tidak membuat enek. Dawet Selasih terasa segar karena disajikan dengan es batu. Dan yang membuat berselera adalah wangi pandan dan nangkanya itu lho sedeeep banget.

Bagi saya semangkok Dawet Selasih cukup untuk menghapus rasa dahaga. Porsinya kelihatan kecil, ya mangkoknya memang kecil tapi isinya kan ada bubur sumsumnya ditambah kuah yang manis dan gurih tadi, pas jika menyantapnya semangkok saja. Cukup dengan Rp. 8000,00 kita sudah bisa menikmati Dawet Selasih yang khas dari kota Solo.

bisa dibungkus juga

bisa dibungkus juga

Seperti  yang  saya bilang sebelumnya, jika kuliner Solo boleh jadi nama dan wujudnya sama dengan kuliner di daerah lain tapi soal citarasa bisa saja berbeda. Hari itu saya membuktikannya lagi, bahwa citarasa Dawet Selasih berbeda dengan citarasa dawet di daerah asal saya, Banyumas.

Di Pasar Gede, saya melihat ada beberapa penjual Dawet Selasih, saya sudah mencoba merasakan dawet di dua penjual yang berbeda. Untuk rasa, saya lebih cocok dengan Dawet Selasih Bu Watik.

Jalan-jalan kemudian diakhiri dengan icip-icip kuliner memang menyenangkan. Kalau saja tak ingat dengan garis pinggang, ingin rasanya hari itu juga mencoba semua kuliner di Pasar Gede. Masih banyak yang khas belum sempat saya kupas. Lain waktu saya akan berbagi cerita lagi.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

33 Comments

  1. Elisa December 29, 2015
    • Ety Abdoel December 30, 2015
  2. D Sukmana Adi December 30, 2015
    • Ety Abdoel December 30, 2015
  3. ADE ANITA December 30, 2015
    • Ety Abdoel December 30, 2015
  4. fitri anita December 30, 2015
    • Ety Abdoel December 30, 2015
  5. Vhoy Syazwana December 30, 2015
    • Ety Abdoel December 30, 2015
  6. momtraveler December 30, 2015
    • Ety Abdoel December 30, 2015
  7. Gustyanita Pratiwi December 30, 2015
    • Ety Abdoel December 30, 2015
  8. adi pradana December 30, 2015
    • Ety Abdoel December 30, 2015
  9. innnayah December 30, 2015
    • Ety Abdoel December 31, 2015
  10. Aprie December 31, 2015
    • Ety Abdoel January 1, 2016
  11. @nurulrahma December 31, 2015
    • Ety Abdoel January 1, 2016
  12. rahmiaziza December 31, 2015
    • Ety Abdoel January 1, 2016
  13. Dedew January 1, 2016
    • Ety Abdoel January 3, 2016
  14. cumilebay maztoro January 3, 2016
    • Ety Abdoel January 3, 2016
  15. Ana Ike December 4, 2016
  16. luckman December 4, 2016
  17. Wiwied Widya December 4, 2016
  18. Anrio Sonri August 23, 2017
    • Ety Abdoel September 3, 2017

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.