Event

Serunya Dee’s Coaching Clinic Solo

ddestageDapat kesempatan bertemu penulis novel best seller itu rasanya senang. Trus, bisa mendapat ilmu dari Dewi Lestari (Dee), penulis Supernova yang fenomenal rasanya senang banget. Eh, masih ditambah ketiban rejeki buat lunch date bareng Dee, rasa senengnya tuh di sini (sambil nunjuk dada), berlipat-lipat. Semua itu saya dapatkan di acara Dee’s Coaching Clinic yang diselenggarakan penerbit Bentang Pustaka, di Sunan Hotel, Solo.

Tiba di Sunan Hotel, saya lihat sudah ada beberapa peserta yang hadir. Masih sepi sih, makanya saya sempatkan jeprat sana-sini, sekaligus selfie. Kalau sudah ramai, malu mau selfie, xixixi. Di meja registrasi ulang nampak dipajang buku-buku Dee Lestari. Ada diskon 20 % membuat saya memutuskan untuk membeli salah satu seri Supernova.

Sambil menunggu acara dimulai saya mengobrol dengan beberapa peserta yang ternyata sudah kenal di dunia maya namun baru kali ini bertemu. Ada Mba Dian Nafi dan Mba Winda Oetomo dari IIDN Semarang. Menyusul kemudian saya juga ngobrol dengan dedengkotnya IIDN Semarang Mba Dewi Rieka.

Puas ngobrol tak lama kemudian acara dimulai. Masuklah sosok yang ditunggu-tunggu, yaitu Dee Lestari. Smart dan humble, itu kesan yang saya tangkap dari sosok perempuan kelahiran Bandung, 20 Januari 1976. Dee ingin suasana diskusi berjalan santai dan cair maka dari itu semua peserta dipersilahkan mengenalkan diri boleh bertanya apa saja.

opening

opening

Peserta Dee’s Coaching Clinic datang dari berbagai kota, seperti Solo, Semarang, Demak, Magelang, Jogya, Bogor dan Bandung. Mereka adalah para reviewer yang dipilih oleh Bentang Pustaka dan para blogger.

Sebagai pembuka Dee mengungkapkan tentang ketertarikannya terhadap tema cinta dan spiritualitas. Alasan ini yang membuat Dee menulis Supernova. Novel ini diniatkan hanya sebagai hadiah ulangtahun yang ke 25 dan diterbitkan secara indie. Ternyata, diluar dugaan, novel Supernova habis dalam waktu dua minggu.

Acara ini memang diformat dengan model tanya jawab. Mengingat acara sejenis biasanya hanya memberi sedikit kesempatan bertanya. Pada kesempatan ini, dua sesi peserta bisa bertanya apa saja. Berikut ini saya tuliskan rangkumannya. Sebelumnya sodorin kopi sama ubi goreng, soalnya pembahasannya bakal panjang.

salah seorang peserta mengenalkan diri

salah seorang peserta mengenalkan diri

Sejak kapan Dee suka menulis?

Dee suka menulis diary sejak kecil. Dia bahkan mengumpulkan buku hariannya hingga satu peti. Dee sempat berkhayal suatu hari nanti akan ada petualang yang menemukan peti bukunya itu dan mendapati cerita-ceritanya tentang banyak hal. Hihihi, keliatan banget ya bakat berimajinasinya sudah tumbuh sejak kecil.

Motivasi Menulis

Beranjak dewasa, Dee memulai perjalanan spiritualnya dan melakukan banyak kotemplasi. Keinginannya untuk bisa menulis novel semakin kuat. Berbagi itulah motivasi Dee menulis. hingga akhirnya terbitlah novel Supernova, Filosofi Kopi, dan lainnya.

Apakah menulis memerlukan bakat?

Menurut Dee menulis itu tak sepenuhnya soal bakat. Menulis itu ketekunan dan jam terbang. Yang dimaksud jam terbang itu bukan banyaknya buku yang sudah ditulis tapi seberapa sering seseorang itu menulis.

Menulis juga gabungan antara teknik dan intuisi. Memang menulis itu bukan semata soal teknik tapi juga perlu intuisi. Namun, intuisi pun memerlukan teknik agar bisa menjadi sebuah tulisan yang menarik.

dee class 3

foto milik pribadi

Struktur Cerita

Dee menuturkan jika pada prisipnya sebuah cerita baik cerpen, cerbung atau novel memiliki struktur yang sama. Ada tiga struktur cerita yaitu :

  • Bagian pertama, bagian ini adalah bagian pengenalan tokoh, setting, karakter dan menanam bibit konflik. Bagian ini sedang saja panjangnya, tidak boleh lebih panjang dari bagian 2.
  • Bagian kedua, adalah bagian dimana konflik mulai tumbuh, karakter juga mulai berkembang. Nah, bagian kedua ini harus menjadi bagian yang paling panjang.
  • Bagian ketiga, ini adalah bagian penutup, tidak perlu panjang, dan kisah selesai.

Agar memudahkan berpindah dari bagian 1 ke bagian 2 maka beri batasan berupa katalisator. Sesuatu yang membuat tokoh tersebut berubah atau melakukan sesuatu. Untuk tokoh utama, dia haruslah yang mendrive cerita atau yang mengambil tindakan bukan korban dari reaksi.

Bagaimana membuat bagian kedua itu paling panjang?

Harus ada pertumbuhan karakter yang menyebabkan pembaca kemudian berkata “Oh, ternyata Si A kok begitu ya!. Keluarkan sisi antagonis . Menurut Dee, yang dimaksud dengan antagonis bukan hanya tokoh, bisa keadaan, musibah atau apa saja yang menghalangi tokoh utama mencapai tujuannya.

Gampangnya gini deh: jika tokoh utama mau mencapai tujuan, halangi. Mau mencapai lagi, halangi lagi, mau tercapai lagi, halangi lagi, sudah dekat dengan tujuan halangi lagi. Begitu terus sampai si tokoh merasa nggak kuat, barulah si tokoh dibiarkan mencapai tujuannya.

Tentang Klimaks

Seorang peserta menanyakan tentang adakah dua klimaks dalam satu cerita. Menurut Dee, klimaks itu ada satu, karena strukturnya seperti kurva, terus naik sampai puncak dan kemudian turun.

Klimaks yang menarik itu yang langsung menyentuh naluri primal need manusia, contohnya yaitu kehilangan nyawa. Ini pasti bisa kena di hati pembaca.

dee class

foto milik pribadi

Soal pemilihan nama tokoh

Dee berpendapat bahwa dalam memilih nama tokoh tidak boleh asal-asalan, harus dengan riset. Dee sendiri menyukai nama-nama yang unik dan memiliki makna secara literal. Kalaupun tidak memiliki makna literal maka ada makna tersembunyi yang hanya Dee seoranglah yang tahu. Coba deh amati nama tokoh novel Dee Lestari, unik-unik bukan?. Ada Alfa, Bodhi, Elektra, dan lainnya.

Soal karakter

Menarik nih apa yang disampaikan Dee, karakter itu keseimbangan antara yang biasa dengan yang tidak biasa atau antara 90% kebaikan dan 10% keburukan. Tidak ada yang 100% baik atau sebaliknya 100% jahat.

Agar karakter yang dibangun itu hidup maka padukan antara karakter real dan karakter fantasi. Intinya karakter itu gabungan antara “ini gue banget deh” dan “wah, gue pengin kayak loe”. Nah, karakter yang begini ini yang bisa mengikat pembaca.

Jika bertemu dengan karakter yang unik, misal kita sedang jalan-jalan, kejar dan gali informasi sebanyak banyaknya. Masukkan karakter ini ke bank data.

Soal Penulis

Kata Dee, penulis itu adalah pengamat yang baik. Seolah-olah penulis itu punya kamera. Jika bukan penulis, orang akan melihat apa yang ada dihadapannya itu selewat doang sedangkan penulis, kameranya akan ngezoom. Sehingga penulis mampu melihat secara detil apa yang dilihatnya dan memasukkannya ke bank data. Bank data inilah yang kemudian dijadikan bahan tulisan.

Soal fiksi yang terasa nyata

Pernah nggak kawan-kawan membaca novel dan kemudian terhanyut dalam cerita atau merasa cerita itu nyata?. Fiksi yang terasa nyata atau mampu membawa pembaca dalam cerita itu disebut verisimilitude. Caranya gimana ya membuat fiksi yang ditulis bisa sampai tahap verisimilitude tadi?. Jawabannya adalah penulis harus yakin dalam menulis. Agar yakin dengan apa yang ditulisnya maka penulis perlu riset secara detil dan mendalam.

Bareng IIDN Semarang foto pinjem mba Dedew

foto pinjem mba Dedew

 Soal Riset

Riset bisa dilakukan dengan 4 cara, yaitu :

    • studi pustaka, dengan membaca buku-buku yang dibutuhkan referensi dalam menyusun cerita.
    • riset cyber, mencari di web, namun hati-hati, jangan percaya pada satu sumber. Dee jika sedang riset bisa membuka 50 window untuk meyakinkan bahwa data yang diperoleh itu valid
    • Wawancara, bisa dengan orang yang karakternya dibutuhkan dalam cerita maupun dengan orang yang tahu mengenai hal yang diperlukan dalam novel. Dee pernah bertanya pada kawannya yang seorang pramugari mengenai layanan di kelas bisnis karena Dee belum pernah naik pesawat kelas bisnis.
    • Riset lokasi, ini berguna dalam menggambarkan setting meskipun untuk mendapat setting yang pas tidak harus mengunjungi sebuah tempat. penulis bisa meminjam kamera orang. Artinya bisa bertanya pada orang yang pernah tinggal atau berkunjung ke tempat itu. Percaya tidak, jika Dee ternyata belum pernah ke Tibet tapi sanggup membuat setting Tibet secara menyakinkan. Catatan penting, perhatikan hal kecil seperti kelembaban,tekstur tanah, vegetasi dan lainnya, agar setting yang kita buat meyakinkan.

Dee memberikan catatan, dalam riset dibutuhkan panca indera. Aktifkan kelima panca indera untuk bisa menyerap objek riset secara dalam, terutama indera penciuman karena indera penciuman banyak memberi sugesti dan bisa meningkatkan verisimilitude cerita. Penulis Indonesia, menurutnya jarang yang memakai aroma dalam menggambarkan sesuatu. Kebanyakan mereka memakai deskripsi visual.

Contoh, rasakan aroma lemari kayu jati dan deskripsikan baunya juga teksturnya. Latih terus terhadap obyek yang berbeda.

antrian book signing dan foto bareng foto koleksi pribadi

antrian book signing dan foto bareng

Soal tulisan yang akusentris

Untuk karya pertama, tidak mengapa jika bertema akusentris. Selanjutnya carilah ide lain. Bagaimana kalau tidak ada ide?. Menurut Dee bukan tidak ada ide tapi mampet. Kalau mampet gimana? ya tendang agar bisa keluar. Contoh novel yang akusentris itu fiksi autobiografi seperti “9 Summer 10 Autumn”.

Soal tulisan yang tidak selesai-selesai

Tulis sampai akhir dan jangan takut salah. Dee dulu juga sering melakukan kesalahan termasuk EYD. Buku Supernova cetakan pertama bahkan banyak sekali kesalahan EYD hingga tokoh sekaliber Fuad Hassan turut memberi masukan. Disinilah diperlukan peran editor sebagai pemeriksa ejaan dan sebagai mata yang segar dalam mengoreksi keseluruhan cerita.

Jangan pula takut jelek, kata Dee, orang masih bisa memperbaiki halaman yang buruk tapi tidak bisa memperbaiki halaman yang kosong. Jadi tulis, tulis dan tulis sampai selesai.

Soal metode menulis

Dee kadang menulis menggunakan timeline untuk tulisan pendek. Sementara untuk tulisan seberat novel biasanya menggunakan peta yaah, semacam outline sih kalau menurut saya. Tiap penulis sepertinya punya cara berbeda, pilih saja yang paling cocok dengan kita.

Soal analogi

Buat analogi yang simpel dan tidak kontradiktif. Contoh nih analogi yang nggak pas menggambarkan kabut sebagai selendang sutra dari India. Pembaca akan sulit memahami, kecuali dia pernah tahu seperti apa itu selendang sutra dari India.

Soal Editing 

Penulis harus tega naskahnya dikuliti habis-habisan. Juga harus tega ketika ada bagian yang disayang ternyata menjadi penghambat cerita, cut saja. Bisa jadi bagian yang dibuang itu justru membuat cerita menjadi mengalir dan menarik.

Soal deadline

Jangan jadikan dl sebagai momok. DL justru yang membuat penulis bergerak. Caranya ya tinggal hitung mundur terus bagi dengan target halaman. Disitu kita tahu sehari kita harus menulis berapa halaman agar target tercapai.

grogi bo xixixi

akhirnya bisa sedekat ini

Diskusi kemarin itu seru banget. Waktu 2 jam setengah tuh terasa cepat sekali. Setelah diskusi usai maka acara dilanjutkan dengan book signing dan foto bareng Dee. Tak hanya peserta lho yang bisa minta book signing, fans Dee yang nggak bisa ikutan acara juga diberi kesempatan kok.

Disela-sela book signing, kuis pun berlangsung. Teman-teman yang beruntung, mendapat buku-buku terbitan Bentang Pustaka. Nah, pengumuman selanjutnya adalah pemenang live tweet, yang mendapat kaos bergambar logo Gelombang (seri Supernova kelima) adalah Mba Dewi Rieka, suit-suit, selamat Mba Dedew.

Tibalah giliran peserta yang mendapat hadiah lunch date bareng Dee. Mba Intan (MC) bikin deg-degan nih, katanya susah nih saya sebut namanya. Kirain ejaan namanya susah, kalau itu berarti bukan sayah. Eh, ternyata kemudian yang disebut adalah nama sayah teman-teman. Kaget dan speechless, nggak nyangka banget. Sejatinya saya minder berada diantara die hard fans nya Dee, lha saya mah apa atuh.

Huwaaa, panjang banget. Sudah habis kopi berapa cangkir teman? hehehe. Cukup segini dulu deh cerita tentang keseruan Dee’s Coching Clinic di Solo. Cerita tentang lunch date saya dengan Dee, nanti saya tulis terpisah.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

46 Comments

  1. Euisry Noor March 17, 2015
    • Ety Abdoel March 17, 2015
  2. Prima Hapsari March 17, 2015
    • Ety Abdoel March 17, 2015
  3. arinta adiningtyas March 17, 2015
    • Ety Abdoel March 17, 2015
  4. Lidya March 17, 2015
    • Ety Abdoel March 17, 2015
  5. Ika Puspitasari March 17, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  6. diba March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  7. zakiah wulandari March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  8. Vhoy Syazwana March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  9. inge March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  10. rizka March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  11. Indah Juli March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  12. Fauziah Nur March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  13. Nurul Fitri Fatkhani March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  14. @nurulrahma March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 18, 2015
  15. Fardelyn Hacky March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 19, 2015
  16. windi teguh March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 19, 2015
  17. Dewi Sri March 18, 2015
    • Ety Abdoel March 19, 2015
  18. adi March 19, 2015
    • Ety Abdoel March 19, 2015
  19. Edi Padmono March 19, 2015
    • Ety Abdoel March 19, 2015
  20. Indah Nuria Savitri March 19, 2015
    • Ety Abdoel March 19, 2015
  21. arif wibowo March 19, 2015
    • Ety Abdoel March 19, 2015
  22. Anisah Zuhriyati March 21, 2015
    • Ety Abdoel March 23, 2015
  23. Winda Oetomo March 25, 2015
    • Ety Abdoel March 26, 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.