Blogging and Social Media Competition

Sesal

“Tunggu Rin, dengarkan penjelasanku dulu”!, aku tak menggubris teriakanmu.

“Rin, perempuan itu bukan…,”! Kau pun berhasil menghadang langkahku.

“Aku nggak butuh penjelasanmu Roy, minggir “! Hatiku terlanjur panas melihat semua itu.

Dengan berat kuseret kakiku yang terasa kaku. Kaku karena menahan pilu. Aku tak ingin lagi melihatmu dengan perempuan itu, gumamku dalam hati. Aku terus bergegas, menjauh darimu, hingga suaramu tak terdengar lagi.

“Maaf bu, tiketnya?” Sapaan petugas pemeriksa tiket itu membuyarkan lamunanku.

Arrg, kenapa setiap kali melintas di kota ini peristiwa 20 tahun itu selalu melintas dilamunanku. Luka itu terlalu dalam dan parah. Obat antibiotik yang paling paten sekalipun tak sanggup mengeringkan lukaku.

Dan sekarang Aku tak sanggup menolak tugas ini. Mengunjungi kotamu dan menyelesaikan tender yang nilainya bisa membuatku terbang kemanapun Aku mau. Tapi tetap saja itu tak cukup membuatku senang.

Syukurlah, urusan bisnis ini tak menahanku lama-lama di kotamu. Aku bisa segera pergi dari sini. Tapi entah kenapa Aku justru ingin sejenak menikmati kota ini, secangkir kopi dan sepotong eclair coklat bertabur almond menemani menyusuri kenanganku di kota ini.

“Ariiiin, !”

Suara itu? tidak, ini tidak mungkin. Ya Tuhan, aku tidak ingin bertemu dia lagi. Ingin kuberlari secepat-cepatnya, menghindari suara itu. Entah, kenapa aku justru menoleh.

” Arin, apa kabar? lama sekali tak terdengar kabarmu.” Suara bariton itu terdengar merdu sekali di telingaku.

“Ba, baiik, Roy. ” Sekuat tenaga aku berusaha tidak gugup.

“Kamu sendirian? Suamimu tidak ikut?”, pertanyaanmu membuatku salah tingkah.

“Tidak, aku kesini untuk urusan bisnis! ” suaraku bergetar. Oh Ya, mana istrimu, kamu sendirian juga?”

“Aku belum menikah, Aku cuma mencintaimu, Rin, bahkan hingga kini.”

Kerongkonanku tiba-tiba tercekat, setelah mendengar kata-katamu.

“Tapi, aku senang bisa melihatmu lagi Rin, walaupun tak mungkin lagi memilikimu.” Kau tertunduk lesu.

“Huuft, Aku harus pergi Rin, selamat tinggal.”

Kaupun berlalu dari hadapanku, meninggalkan seribu sesal dan Aku pun tak lagi mampu membendung air mata ini.

Solo, 20 September 2015

IIDN Solo Tiada Henti Berprestasi

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

22 Comments

  1. Susindra September 20, 2015
    • Ety Abdoel September 20, 2015
  2. evrinasp September 21, 2015
    • Ety Abdoel September 22, 2015
  3. Lidya September 21, 2015
    • Ety Abdoel September 22, 2015
  4. Lianny Hendrawati September 21, 2015
    • Ety Abdoel September 22, 2015
  5. Bloggerpreneur Indonesia September 21, 2015
    • Ety Abdoel September 22, 2015
  6. sri wahyuni September 21, 2015
    • Ety Abdoel September 22, 2015
  7. Astin Astanti September 21, 2015
    • Ety Abdoel September 22, 2015
  8. Pakde Cholik September 22, 2015
    • Ety Abdoel September 22, 2015
  9. andriani santoso September 22, 2015
    • Ety Abdoel September 22, 2015
  10. rinasusanti September 23, 2015
  11. ririe September 23, 2015
  12. Ila Rizky October 11, 2015
    • Ety Abdoel October 11, 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.