Blogging and Social Media

Teller Juga Manusia

gambar uang lucu

gambar diambil dari sini

Kejadian ini sudah setahun lebih sebenarnya. Saat itu saya berhadapan dengan teller sebuah bank yang entah kenapa kok ya sama saya jutek. Dalam hati saya bertanya-tanya.

Apa teller tadi  sedang punya masalah pribadi yang pelik  atau karena lelah menghadapi antrian nasabah yang panjang ya?. Entahlah, sampai sekarang saya juga tidak tahu dan tidak penting lagi.

Cuma, kok ada rasa ngganjel dihati, gara-gara diperlakukan tidak enak sama teller tersebut. Ceritanya, saya mau transfer uang tunai, jumlahnya memang lumayan. Seperti biasa, saya ambil nomor antrian, mengisi slip dan menunggu.

Giliran dipanggil cukup lama kerena antrian panjang. Waktu itu saya berdua sama Zahira. Kelamaan nunggu kali ya jadi Zahira tertidur. Giliran dipanggil Zahira masih tidur jadilah saya gendong dia menuju ke tempat teller tersebut dan menyerahkan uang.

Eh, tiba-tiba si teller bilang, lain kali uangnya ditata dulu yang rapi, jangan kebolak-balik. Saya nggak tahu tuh kalau mau setor uang harus begitu, perasaan selama ini nggak beraturan, saya nggak dibetein sama teller.

Demi kelancaran proses, saya iyakan saja apa yang teller katakan. Setelah selesai menghitung, teller tersebut segera memproses transaksi. Saya pikir akan baik-baik saja tapi ternyata teller bilang kalau nomor rekening salah karena tidak sesuai.

Masa sih? dalam hati saya tidak percaya. Akhirnya saya buka slip transfer ke rekening yang sama yang tersimpan di dalam dompet. Agak repot nih, sambil mengendong (tanpa kain gendongan lho ya) Zahira yang tidur. Ah, ternyata sama kok, kenapa teller bilang nomornya salah.

Saya bilang sama tellernya kalau nomornya betul kok. Eh, bukannya percaya si teller malah berkata dengan nada tinggi dan cepat. Salah bu nomornya! seolah ingin saya secepatnya pergi.

Melihat antrian yang masih panjang, saya pun mengakhiri perdebatan dengan teller tersebut. Saya sendiri tidak ingin dipermalukan lebih jauh dan tidak berminat pula untuk mempermalukan teller itu.

Dengan mengendong Zahira, sayapun melangkah keluar bank tersebut. Saat itu juga saya memutuskan untuk  ke kantor bank unit lain meskipun jaraknya lebih jauh. Sampai di bank yang saya tuju, sayapun melalui tahapan transfer tunai dari awal lagi.

Untungnya, antrian di kantor unit yang ini tidak panjang. Jadi saya bisa cepat dipanggil. Seraya menyerahkan uang, sayapun bertanya kepada tellernya, bisa nggak? soalnya tadi di unit yang lain katanya nomor rekeningnya salah.

Dengan tersenyum manis teller tersebut bertanya, tadi di unit B ya Bu. Saya jawab iya, memang begitulah faktanya. Tak berapa lama, mas teller tadi bilang bisa dan plonglah hati saya. Nomor rekeningnya ternyata tidak salah kok karena saya juga menulis nomor rekening sama seperti di unit B tadi.

Nah lho, jadi apa sebab teller yang sebelumnya bilang nomor rekening salah?. Ya, sudahlah teller juga manusia, kadang bisa salah dan kadang bisa jutek. Maklumi saja, pekerjaan teller memang bukan pekerjaan mudah.

Harus ready to smile kepada nasabah, yang kadang juga menyebalkan dan merepotkan, hihihi. Saya berharap, kejadiaan seperti ini jangan sering-sering terjadi. Teller apapun kondisinya harus tetap profesioanal bukan?.

16 Comments

  1. Susanti Dewi November 9, 2013
    • Ety Abdoel November 9, 2013
  2. belalang cerewet November 9, 2013
    • Ety Abdoel November 9, 2013
  3. bunda aisykha November 9, 2013
    • Ety Abdoel November 9, 2013
  4. nh18 November 9, 2013
    • Ety Abdoel November 9, 2013
  5. diba November 9, 2013
    • Ety Abdoel November 9, 2013
  6. Ade Anita November 9, 2013
    • Ety Abdoel November 9, 2013
  7. Ida nur Laila November 9, 2013
    • Ety Abdoel November 9, 2013
  8. Sabrina Ayunani February 20, 2015
    • Ety Abdoel February 20, 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.