Event

Writingthon Puspiptek 2, Secuil Cerita Hebat Dari Serpong

Bukan, bukan saya yang hebat karena berhasil memenangi kompetisi Anugerah Pewarta Puspiptek. Tapi, mereka para peneliti/perekayasa yang bekerja dalam sunyi itu yang hebat. Dari kawasan seluas 464 ha, kontribusi mereka untuk kemajuan teknologi masih sayup terdengar. Kehadiran kami berdelapan adalah untuk mewartakan pencapaian mereka kepada masyarakat luas.

Malam itu, saya sudah merebahkan badan di atas kasur. Rasa penat dan kantuk memang sudah tak tertahankan. Namun, rasa penasaran menuntun saya untuk membuka laman Bitread. Ternyata, pengumuman itu sudah ada sejak kemarin. Pelan, saya baca isi pengumuman itu. Sampai pada satu baris, ada nama saya tertulis di sana.

Senang, dan haru bercampur jadi satu. Ini bukan kali pertama memenangi lomba, tapi yang satu ini berbeda. Syarat pemenang harus bersedia mengikuti karantina selama tiga hari adalah penyebabnya. Selama ini saya memang masih menghindari aktifitas keluar kota. Meninggalkan keluarga selama beberapa hari. Jujur, karena saya yang belum siap.

Belum siap bukan berarti tak mempersiapkan diri. Secara bertahap, saya menyiapkan anak-anak untuk lebih mandiri. Mereka tetap nyaman dan terjamin kebutuhannya selama saya pergi. Beberapakali mereka saya tinggal ke Jogjakarta. Pergi pagi pulang malam. Awalnya ketar-ketir tapi lama kelamaan terbiasa. Berlanjut ke tahap berikutnya, mereka saya tinggal selama tiga hari dua malam saat menjadi mentor pada acara Workshop Blogger Bank Indonesia. Mereka baik-baik saja.

Melihat fase ini, saya nggak ragu mengikuti Writingthon Puspiptek 2. Anak-anak sudah bisa beraktifitas tanpa saya. Saya pun siap meninggalkan mereka tanpa cemas dan rasa bersalah. Dari sinilah petualangan saya di Writingthon Puspiptek 2 diawali.

Perjalanan Saya Di Writingthon Puspiptek 2  

Writingthon Puspiptek 2 diawali dengan seleksi berupa lomba menulis Anugerah Pewarta Puspiptek. Lomba ini terbagi dalam dua kategori yaitu untuk jurnalis dan blogger. Masing-masing kategori berbeda temanya. Nah, untuk blogger tema yang harus ditulis adalah “Inovasi Pada 8 fokus Bidang Penelitian Menuju Indonesia Jaya”.

Periode lomba dilaksanakan tanggal 17 Juli-11 Agustus 2018. Pemenang diumumkan pada tanggal 18 Agustus 2018. Sedangkan pelaksanaan karantina pada tanggal 24-26 Agustus 2018. Semua jadwal ini dilaksanakan secara tepat. Sesuai dengan yang tercantum di banner pengumuman lomba.

Ini event Writingthon Puspiptek yang kedua. Setelah sebelumnya pernah diselenggarakan tahun kemarin. Tujuannya adalah melakukan sosialisasi perkembangan penelitian dan teknologi Indonesia.

Writingthon merupakan kependekan dari writing marathon. Terinspirasi dari event para progammer yaitu hackathon. Jika di hackathon para programmer ditantang untuk membuat aplikasi berbasis android selama tiga hari.

Writingthon menantang penulis terpilih untuk membuat sebuah tulisan sesuai dengan tema selama tiga hari. Tulisan itu kemudian disatukan dalam sebuah buku.

Saya tidak paham apakah Writingthon Puspiptek akan jadi event tahunan. Buat teman-teman yang tempo hari bertanya, apakah tahun depan ada event seperti ini, silahkan follow media sosial Puspiptek supaya tidak ketinggalan informasi.

Perjalanan saya hingga bisa menjadi salah satu pemenang diawali dari sini. Ketika tahu tema yang harus ditulis ada delapan, saya langsung bisa menjatuhkan pilihan. Ya, teknologi kesehatan dan obat. Alasannya, karena tema ini yang sesuai dengan niche blog ini. Lebih mengerucut lagi, fokus saya pada kesehatan perempuan.

Dari hasil browsing akhirnya ketemu topik yang ingin diangkat. Dan lagi-lagi, ini ada hubungannya dengan beberapa tulisan saya di blog. Yup, saya mengangkat tema inovasi kesehatan tentang metode deteksi dini kanker serviks hasil penelitian ilmuwan LIPI. Ada? Ternyata ada meskipun informasinya masih sedikit.

Selanjutnya saya berusaha mencari informasi mengenai penelitinya. Akhirnya dapat kontak beliau. Saya bersyukur karena beliau bersedia saya wawancarai mengenai hasil temuannya. Jadi, ini semacam jodoh, serba klik dan dimudahkan prosesnya.

Langkah selanjutnya, saya menulis outline. Untuk materi yang serius, informatif dan baru seperti ini, saya nggak ingin main-main. Singkat cerita, proses menulisnya bisa lebih cepat dari biasanya. Meskipun, saya menulisnya via hape karena laptop layarnya rusak, jadi, nggak bisa dipakai.

Alhamdulilah, rezeki itu milik saya, menjadi salah satu blogger yang akan menulis buku tentang kehebatan para ilmuwan negeri ini. I am so lucky.

Writingthon Puspiptek 2, Tantangan Menulis Populer Untuk Hasil Karya Peneliti/Perekayasa

23 Agustus 2018 malam, saya sampai di Wisma Tamu Puspiptek. Gelap, dan saya nggak paham apa saja yang ada di kawasan ini. Tapi, saya masih ingat kalimat yang keluar dari sopir Grab, pelosok banget ya, bu. Malam itu saya belum sepenuhnya menyadari kalimat tersebut. Perjalanan dari bandara ke wisma sekitar 1 jam lebih sedikit. Berasa tak jauh dari ibukota.

Sesampainya di Wisma saya disambut ramah bapak resepsionis. Setelah mendapat kunci kamar, saya langsung dipersilahkan makan malam. Di ujung meja nampak seorang perempuan muda berkerudung, Widjatnika Ika namanya. Kami makan malam berdua, sambil ngobrol kesana kemari. Sampai akhirnya kami masuk ke kamar masing-masing.

Malam pertama di Puspiptek, tidur saya nyenyak, suasananya tenang. Saat bangun di waktu subuh, terdengar suara cicitan burung. Nampak dekat sekali. Ketika saya buka kain pelapis jendela, terbuktilah apa yang dikatakan sopir Grab semalam.

Saya merasa seperti tak berada di pinggiran ibukota. Tempat ini sungguh damai, hamparan pepohonan nampak di depan mata. Udara segar bisa saya rasakan. Suara-suara alam, nyaring terdengar. Ini bukan suara bising khas metropolitan.

*****

Tiba saatnya Writingthon Puspiptek 2, dimulai dengan berkunjung pusat-pusat penelitian/teknologi yang ada di kawasan Puspitek. Saya dan Pak Nono, blogger dari Mojokerto berkunjung ke Pusat Teknologi dan Rekayasa Industri Maritim (PTRIM).

Di sini, kami disambut oleh Bapak Taufik, Direktur PTRIM dan Bapak Iskendar, Koordinator Program Industri Perkapalan. Kami terlibat obrolan serius tentang kemajuan teknologi perkapalan dan apa yang mereka kerjakan di BPPT.

Kalau di foto kami nampak sangat serius, karena kami nggak mungkin bercanda ketika mendengarkan paparan beliau-beliau itu. Apalagi menyangkut sesuatu yang baru bagi saya. Banyak istilah teknis yang kemudian memaksa saya untuk mencari tahu lebih jauh. Tapi, di sesi foto bersama beliau ramah banget. Ini pengalaman yang berharga buat saya.

Usai Sholat Jumat, rombongan blogger diajak untuk menemui Kepala Puspiptek, Sri Setiawati. Perempuan hebat yang memimpin sebuah lembaga bergengsi. Dimana terdapat 53 laboratorium, 5000 orang peneliti, dan 500 orang bergelar doktor. Hebat!

Beliau menjelaskan alasan mengandeng para Blogger untuk sosialisasi hasil penelitian di Puspiptek. Menurut perempuan berperawakan tinggi besar ini, sekarang orang lebih suka mencari informasi melalui internet. Perubahan ini harus digunakan juga untuk sosialisasi pencapaian para ilmuwan. Blogger di mata beliau adalah orang yang memiliki kompetensi untuk melakukannya. Waduuh, jadi  bangga karena menjadi bagian dari proyek ini.

Ada suntikan semangat yang diberikan beliau pada sambutannya. Intinya, perubahan harus disikapi secara positif. Pilihannya dua, adaptasi atau tertinggal.

Malam harinya, kami mendapatkan materi cara menulis features yang diisi oleh Iis Zatnika, Redaktur di mediaindonesia.com, edisi weekend. Beliau menjelaskan, bahwa tulisan features berbeda dengan tulisan straight news.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis features adalah judul yang menarik dan lead membuat penasaran. Dalam kesempatan itu, Iis memberikan contoh tulisannya, yang juga menjadi salah satu pemenang kategori Jurnalis. Ini adalah bekal untuk kami memulai writingthon esok hari.

*****

Hari Kedua

Writingthon dimulai dengan mewawancarai para peneliti/perekayasa terpilih. Saya mendapat bagian untuk membahas mengenai kontribusi PTIPK (Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan) BPPT. Hahaha, sangar ya.

Topik yang diangkat adalah mengenai Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR-60). Ini adalah kapal kombatan (kapal tempur) buatan PT. PAL Indonesia yang desainnya disempurnakan oleh Tim Inovasi dan Layanan Teknologi Kapal Perang Nasional yang dikepalai oleh Ir. Suwahyu Msc.

bersama perekayasa bppt

Nah, beliaulah yang menjelaskan panjang lebar tentang kegiatan review desain dan penyusunan desain standar KCR-60. Mata saya terbuka akan satu hal. Ternyata ahli perkapalan negeri ini, hebat.

Kemudian ada tantangan yang harus saya taklukan. Memahami penjelasan beliau yang sarat dengan istilah teknis perkapalan. Kemudian menyusunnya ke dalam sebuah naskah populer. Maaf, kalau lagi-lagi ekspresi saya serius banget. Itu mah, tim Bitread nya aja yang dapat momennya pas serius, qeqeqe.

Momen lembur pun dimulai. Usai wawancara berlanjut melengkapi informasi yang dibutuhkan untuk menyusun outline dan tulisan. Inilah momen-momen perjuangan menahan lelah dan kantuk. Sementara otak harus terus berpikir untuk meramu data dan kata agar enak dibaca. Mudah dipahami awam dan tidak njlimet.

Momen yang sulit dilupakan. Jadi kalau sesekali, keluar celetukan ataupun aksi stand up, itu semata-mata untuk rehat sejenak. Agar otak cukup istirahat untuk kemudian kembali giat berpikir. Untung saja suplai logistik dari Puspiptek berlimpah. Jadi ngemil, ngopi dan ngeteh berulang-ulang adalah hal biasa. Ya, kan Heni Prasetyorini, Lingga Utami, Widjatnika Ika, Jelita Citrawati, Desi Namora, Adhi Nugroho dan Nono Purnomo? Kalian luwar biyasaa, pren.

Hari ketiga

Saatnya presentasi hasil dari olah data di hari kedua. Bertempat di kebun Provinsi, masing-masing dari kami mempresentasikan hasil lembur. Ruang terbuka cukup membuat saya lebih segar. Suasana juga amat cair.

Bahkan, mba Rani, bisa menangkap momen saat saya tertawa lepas. Makasih mba Rani, saya suka foto itu,qeqeqe. Dengan didampingi peneliti, naskah kami dikoreksi dan diberi tambahan di sana-sini.

Hari itu adalah hari terakhir, kami pun bertemu kembali dengan Kepala Puspiptek. Seperti biasa, sambutannya yang penuh semangat membuat saya yakin dengan pilihan ini. Di era yang penuh dengan disruption, kerja nggak harus ke kantor. Kalau memang bisa dilakukan dari rumah, why not. Toh, teknologi memberi ruang untuk itu.

Akhirnya, hari itu ditutup dengan happy meskipun harus membawa PR perbaikan di sana-sini. Inilah bedanya dengan writingthon 1. Di writingthon 2 tulisan harus melalui approval dari peneliti/perekayasa terkait. Jadi, ada proses layaknya skripsi.

Seminggu ini konsentrasi mengejar naskah buku Writingthon Puspiptek 2 agar bisa terbit tepat waktu.

Sekali lagi, bagi saya Writingthon Puspiptek 2 bukan sekadar tantangan menulis. Tapi tantangan menaklukan pikiran negatif tentang diri sendiri atas ketidakmampuan, ketidakmandirian, dan ketidakberdayaan. Tawa lepas saya di hari ketiga adalah bukti ketika saya bisa menyingkirkan pikiran negatif maka kebaikan demi kebaikan datang. Satu kata untuk Writingthon: Seru!

 

14 Comments

  1. Desi September 2, 2018
    • Ety Abdoel September 13, 2018
  2. Wiwied Widya September 2, 2018
    • Ety Abdoel September 12, 2018
  3. Ipeh Alena September 2, 2018
    • Ety Abdoel September 12, 2018
  4. Yenny Susanty September 3, 2018
    • Ety Abdoel September 12, 2018
  5. Juliastri Sn September 7, 2018
    • Ety Abdoel September 12, 2018
  6. Jalan-Jalan KeNai September 11, 2018
    • Ety Abdoel September 12, 2018
  7. Ranny September 12, 2018
    • Ety Abdoel September 16, 2018

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.